Senyuman Sang Buah Hati

Senyuman Sang Buah Hati
#Persidangan ke 3


__ADS_3

Persidangan itu dimulai. Majelis hakim meminta kuasa hukum dari pihak tergugat untuk memberikan bukti yang bisa membela dirinya. Kuasa hukum dari pihak Kia lalu memberikan beberapa bukti. Kemudian majelis hakim juga meminta kuasa hukum dari pihat pengugat untuk memberikan kesaksian yang telah di laporkan.


Persidangan itu berlangsung sangat sengit. Berbeda dengan persidangan waktu lalu. Kelicikan Akbar mulai terlihat. Mereka membayar orang untuk memberikan kesaksian kesaksian palsu yang bisa membuat hakim menjadi percaya denga semua ucapan Akbar dan juga Nindi.


Hatinya yang panas mulai merasuki semua pikiran orang yang ada di dalam ruangan itu. Sehingga Sinta tak kuasa menahan amarahnya yang mendengarkan Akbar berbicara dengan kebohongan dan fitnahan yang di tunjukan kepada Kia. Sehingga beberapa bukti –bukti yang telah Kia ajukan kepada majelis hakim semua hanya sia – sia. Sinta sudah tidak bisa mengontrol emoasinya. Dirinya  berdiri dari tempat duduknya dan mengatakan kepada majelis hakim bahwa semua yang di katakan Akbar hanyalah sandiwara belakang. Semua bukti itu tidak akurat 100% bukti itu telah Akbar edit sedemikian rupa sehingga dirinya mempunyai pembelaan untuk di berikan kepada majelis hakim.


Akan tetapi majelis hakim meminta agar semua para saksi untuk tetap tenang. Majelis hakim meminta kepada Sinta untuk tidak ikut campur selama proses persidangan ini berlanjut dan dirinya di peringatkan oleh petugas jika amsih seperti itu Sinta di minta untuk keluar dari ruangan dan tidak memperbolehkan masuk ke dalam ruang persidangan itu. Akhirnya Sinta duduk, dengan kekesalan yang di pendam, amarah yang di simpan.


Kia binggung apa yang harus dia lakukan. Pencara Kia pun juga sudah berusaha untuk membela Kia. Akan tetapi bukti – bukti yang Akbar berikan itu sangat kuat. Enatah apa yang merasuki pikiran Akbar saat itu, dirinya begitu licik dan picik dalam persidangan itu.


Perdebatan yang sangat sengit dari kedua belah pihak membuat majelis hakim memutuskan untuk berhenti beberapa menit atau beristirahat sejenak untuk menenangkan masing masing kedua belah pihak. Sebab perdebatan itu membuat semuanya menjadi tak terkendalikan amarahnya.


Kemudia mereka masing – masing keluar ruangan dan menyusun siasat untuk pembelaan di depan majelis hakim. Kia sungguh – sungguh binggung harus berbuat apa lagi. Karena menurutnya Akbar, Nindi dan juga pengacaranya sudah berbuat sangat licik. Cleo berusaha berfikir untuk bisa menjatuhkan Akbar dalam persidangan ini. Berbagai cara sudah mereka lakukan, akan tetapi Akbar memiliki sifat yang sangat licik dan picik untuk membuat hakim mempercayainya.


Waktu istirahat yang di berikan majelis hakim sudah habis, dan di harapkan semua bisa masuk ke ruang persidangan tanpa berbicara apapun. Di mulailah persidangan sengit itu, seperti awal tadi, Akbar tetap masih kekeh dengan kebohongan yang dia ucapkan kepada hakim. Sementara para saksi yang menghadiri persidangan itu ramai ramai saling adu mulut membela keluarganya masing – masing. Begitu pula dengan Sinta yang tidak tega harus melihat adik kesayanganya itu menenlan kopi pahin untuk kesekian kalinya. Cleo pun demi kian, dirinya tidak ingin melihat Kia harus menderita lagi.


Karena semakin lama – suasan di dalam ruangan itu semakin tidak bisa di kendalikan. Majelis hakim meminta untuk sementara waktu dirinya memberikan waktu untuk hak asuh kepada mantan suami Kia atau ayah kandung dari anak yang bernama Pelangi. Keputusan ini menimbulkan perdebatan karena umumnya hak asuh anak diberikan kepada mantan istrinya atau ibu kandung dari anak Pelangi. Apa lagi usia Pelangi saat ini masih di bawah umur.


 


Akan tetapi majelis hakim mempertimbangkan jaminan keselamatan jasmani dan rohani si anak, lalu majelis hakim memberikan waktu minimal tiga bulan dan lamanya enam bulan untuk mengasuh putri kecilnya itu. Jika dalam waktu yang sudah di tentukan si anak tidak di rawat atau di perlakukan dengan baik. Maka majelis hakim akan memutuskan hak asuh anak akan jatuh kepada ibu kandungnya untuk selama - lamanya. Dan ketentuan atau keputusan itu tidak bisa di ganggu gugat sebab semua sudah menurut dengan undang undang yang berlaku. 


 


Sebagaimana diatur dalam "UU Perkawinan" perceraian tidak menghapus kewajiban ayah dan ibu untuk memelihara dan mendidik anak-anaknya. Dalam pasal terebut juga dikatakan bahwa jika ada perselisihan mengenai penguasaan anak - anak, pengadilan yang akan memberi keputusan. Dan lagi mengenai hak asuh anak, jika tidak ditemui kata sepakat antara suami dan istri, maka diselesaikan melalui jalur pengadilan atau hukum yang sudah di tetapkan oleh negara.


 


Sebab pihak dari Akbar berhasil meyakinkan kepada hakim bahwa ibunya tidak akan bisa memberikan jaminan karena kesibukan dan gaya hidupnya. Hakim juga melihat kemungkinan pemegang hadhanah jatuh kepada ayah dari si anak untuk sementara waktu, sebab ibunya tak bisa memberikan jaminan itu pada tahap perkembangan si anak. Dalam proses persidangan itu, Akbar meminta kepada majelis hakim untuk memberikan hak asuh anak kepadanya. Akan tetapi Hakim belum bisa memutuskan dan masih mempertimbangan keputusan agar si anak bisa hidup layak, bahagia dan mempunyai jaminan pendidikan yang layak untuk masa depannya nanti.


 


Mereka saling beradu kata, dan juga Sebagai ibu dari anak semata wayang, Kia merasa lebih berhak mengasuh buah hatinya ketimbang mantan suami itu. Karena  sejak lahir Pelangi hidup hanya bersama dengan dirinya. Sedangan di saat dirinya sedang hamil, suaminya justru meminta untuk berpisah dengan dirinya itu. Sedangkan Akbar membantah yang telah Kia ucapkan kepada hakim. Akbar mengatakan bahwa diriny tidak mengetahui bahwa Kia hamil saat itu.

__ADS_1


 


“Tapi bapak Hakim, saya yang sudah mengandung dari umur sembilan bulan hingga sampai saat ini, tetapi dia ( sambil menuding ke arah Akbar ) yang sudah menceraikan aku di saat aku sedang hamil. Dia juga sudah aku berikan beberapa bukti atas kehamilanku, namun dia tidak percaya sama sekali. Dia masih saja melanjutkan niatnya untuk meminta berpisah kepadaku pak. Aku mohon kepada majelis hakim yang terhormat, tolong jangan pisahkan aku dengan putri kecil ku. Aku mohon. Hiks.. hiks.. hiks..” Kata Kia membela dirinya di depan hakim dengan meneteskan air matanya yang tak bisa di bendung.


 


“Keberatan bapak hakim yang terhormat, dia berbohong. Saat itu saya meminta berpisah dengannya karena saya sudah muak dengan gaya hidupnya yang sering berfoya – foya itu. Suami susah payah mencari nafkah dia justru pergi bersenang senang dengan teman – temannya. Dan di saat saya mengajukan gugatan cerai dia tidak pernah memberi tahu kepadaku bahwa dirinya sedang mengandung. Lalu setelah anak itu lahir dia memberikan test DNA kepada saya supaya saya bisa di jadi alat baginya untuk memberikan uang untuk dirinya dengan alasan anak yang selama ini dia kandung adalah anak saya bapak hakim. Saya meminta dengan sangat hormat bapak hakim dan para petugas yang berada di ruangan ini untuk memberikan keadilan untuk saya, agar saya bisa bertemu dan membesarkan anak saya atau darah daging saya sendiri tanpa harus terhalang dengan keegoisan dia. Saya sangat berharap anak saya bisa tumbuh besar dengan baik dan menjadi anak yang sholihah, bukan seperti ibunya yang hanya bisa memikirkan duniawi dan uang saja.”


 


 


Hati Kia mulai tidak bisa tenang, sebab hakim seperti mempercayai semua kebohongan yang Akbar keluarkan. Apa yang telah terjadi membuat semua orang yang berada dinpersidangan itu terkecoh dengan pembelaan yang di katakan oleh Akbar.


 


 


 


Sesaat setelah mendengarkan majelis hakim mengatakan seperti itu, sonta air mata Kia tak tertahankan lagi. Dirinya menangis berderu – deru karena tidak ingin jauh dari Pelangi. Kemudian Kia berjalan mendekati Akbar lalu memukulinya dengan lemah mengunakan tangan kosongnya.


“Kamu.”


“Apa?”


“Kamu jahat, kamu jahat. Aku sangat membencimu Akbar!”


“Silahkan kamu berkata apa saja. Yang terpenting aku sudah bisa mengambil Pelangi dari kamu dan juga laki – lakimu itu yang tidak tahu diri.”


“Ya ampun aku kasihan banget lihat kamu menanggis seprti ini. Kia, Kia ngenes banget ya hidup kamu ini. Sudah di tinggal suami, sekarang anak juga akan pergi dari kehidupan kamu.”


Cleo melihat Kia yang saat itu sedang berhadapan dengan Akbar, lalu dirinya mendatangi Kia dan berdiri di samping Kia dengan memeluknya.

__ADS_1


“Cukup. Kalian diam! Jangan hina Kia, ini semua belum berakhir. Keputusan yang sah belum di putuskan oleh majelis hakim, jadi kalian jangan terlalu bersenang – senag dulu dengan keputusan yang di tentukan oleh hakim nanti.” Ucap Cleo membela Kia yang saat itu sedang menanggis meronta – ronta karena tidak ingin melepaskan Pelangi dari genggamannya.


“Cleo, Cleo, kamu ini mau jadi pahlawan kesiangan dia? Kasihan sekali sih, di perbudak oleh wanita ini. Semua sudah terlihatkan. Bahwa hakim sudah mengabulkan permintaanku. Kita lihat nanti di persidangan terakhir. Aku akan pastikan Pelangi tidak akan pernah bisa kembali kepada kalian.”


“Renungin saja terus nasip kamu sampai tua tanpa melihat Pelangi. Yuk mas kita ambil pelangi sekarang. Males berlama – lama dengan wanita bodoh seperti dia.” Ucap Kayla sambil mengandeng tangan Akbar dan berjalan meninggalkan Kia dan Cleo.


“Tolong jangan ambil anakku. Jangan ambil putri kecilku. Hiks... hiks... hiks...” teriak Kia sambil menanggis terisak – isak.


Mata Kia yang sembab akibat keluarnya air mata yang sangat banyak itu, pandanganya melihat dan mengarah kepada mata Nindi yang saat itu sedang berdiri di hadapannya. Kemudian Nindi membuang muka tanpa melihat Kia sedikit pun. Akan tetapi Kia masih merasa hancur hatinya, lalu dirinya mengatakan kepada Nindi bahwa yang di inginkannya semua sudah dia dapatkan. Menyatukan Pelangi dengan Akbar dan harus mengorbankan perasaan Kia.


“Puas kamu! Puas! Sudah membuat hidup aku menderita lagi?! Kamu sama saja dengan kakakmu itu tidak mempunyai hati nurani sama sekali. Kalian semua brengsek.”


Kemudian Nindi melepas genggaman tangan Kia.


“Aku hanya mencari keadilan untuk kakak ku. Jadi aku mohon hentikan tangismu itu apa lagi merengek – rengek seperti ini. Permisi.” Ucapnya dan pergi meninggalkan Kia.


Selanjutnya Kia hanya bisa menangis merenungi semuanya. Lalu dirinya mengingat Pelangi sedang berada di rumah sendiri. Kia pun bergegas pergi meninggalkan ruang sidang itu tanpa melihat Cleo yang sedang bersamanya dan menemaninya.


Bersambung..


❇️❇️❇️❇️❇️


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2