
“Kia, ini mama bawakan kamu makan sama susu hangat nak.” ucap Nisa sambil membawa piring yang berisi makanan untuk Kia.
“Iya mah, taruh di atas meja saja mah. Kia sedang tidak ingin makan. Nanti kalau lapar biar Kia makan mah." Jawab Kia dengan suara lirih.
Kemudian Nisa meletakan piring dan juga gelas yang berisi susu hangat.
“Kamu dari kemarin sama sekali tidak makan loh nak.”
“Kia enggak lapar mah. Selera makan Kia hilang mah." Ucapnya.
“Kia, mama tahu bagaimana hati dan perasaan kamu saat ini. Tetapi jika kamu seperti ini terus, bagaimana dengan Pelangi. Mama, yakin Pelangi pasti akan merasa sedih karena bundanya tidak makan sama sekali.”
Kia terus meneteskan air matanya dengan tubuh yang sedang berbaring miring membelakangi Nisa, saat Nisa duduk di samping Kia. Seketika Kia beranjak dan memeluk Nisa sambil menanggis dan memekik keras – keras meluapkan isi hatinya yang sedang kacau balau.
“Mah, aku sungguh – sungguh merindukan putri kecil ku. Mama tahukan bagaimana perasaan ku saat ini. Hancur, kecewa, sedih, dan ingin sekali meluapkan amarahku karena putri kecilku direbut sama mereka. Mama tahu kan bagaimana perasaan seorang ibu ketika kehilangan anaknya? Mah Kia seperti sudah tidak sanggup lagi melewati takdir ini. Kia sudah merasa lelah. Kia ingin hilang dari dunia ini.” ucapnya sambil sesenggukan.
“Putriku, lihat mama. Hidup yang sedang kita jalani ini memang sangatlah keras nak, maka kamu harus bisa jauh lebih keras dan kuat untuk bisa menaklukkannya. Jangan pernah menyerah hanya karena berjuang melawan kerasnya kehidupan nak. Hidup itu terus berputar. Dan apa pun yang sedang di hadapan kita. Mau tidak mau, suka tidak suka kita harus bisa melawan dan melewati kerasnya kehidupan yang sudah di gariskan nak. Ingat biarkan hidup mengalir secara alami sesuai dengan realita.”
“Apakah aku bisa melewati ini semua mah?” ujarnya sambil bersandar di pundak Nisa.
“Bisa, mamah yakin. Kamu adalah wanita kuat. Kamu juga seorang ibu yang sangat kuat. Wanita itu kuat dan tangguh. Wanita itu tidak lembek. Buktikan kepada mereka yang sudah menghina kita, hingga suatu saat orang yang menghina kita itu sadar dan berkata “kamu adalah wanita yang terhebat”. Buktikan kamu bisa nak.” ucapnya sambil menelus - elus rambut Kia.
“Terimakasih ya mah.”
“Kia, kamu tidak sendiri. Ada kak Sinta, mama, papa dan juga Cleo yang akan terus selalu ada untuk kamu dan kami akan terus membantu kamu sampai kapan pun. Hapus air mata kamu ini. Jangan biarkan air mata ini keluar hanya untuk membasahi pipi manis kamu. Mama selalu ada untuk putri mamah ini apapun yang terjadi. Jadi tersenyumlah apa pun yang sedang kamu hadapi. Cinta dan kebahagiaan kamu sudah ada di depan mata. Tinggal satu langkah lagi kebahagiaan kamu akan menghampiri nak.” Ucap Nisa sambil mengusap air mata Kia dan mengelus – elus rambut Kia.
Sedikit perasaan Kia mulai tenang setelah Nisa memberikan semangat untuk Kia. Kemudian Kia mau untuk makan, makanan yang telah di siapkan oleh Nisa untuknya.
“Mah, apakah Pelangi di sana sudah makan ya mah?”
“Pastinya nak, dia tinggal bersama ayah kandungnya. Mama yakin pasti Pelangi akan di rawat dengan baik, walaupun mereka jahat kepada kamu. Tapi mama yakin mereka tidak akan memperlakuan Pelangi seperti mereka memperlakukan kamu. Sebab bagaimanapun Pelangi adalah bagian dari keluarga mereka darah daging Akbar. Jadi jangan terlalu menghawatirkan Pelangi.”
“Tapi, apakah Pelangi bisa tidur nyenyak ya mah tanpa aku?”
“Bisa kenapa tidak? Pelangi bisa tidur bukan karena tanpa kamu, tetapi karena doa dari kamu. Sebab doa seorang ibu akan selalu di kabulkan oleh – Nya. Doakan Pelangi di setiap langkah kamu nak. Agar Pelangi selalu selamat dan di jauhkan oleh orang – orang jahat.”
__ADS_1
“Mah terimakasih sudah membuat jiwaku menjadi sedikit tenang.”
“Iya sayang. Putri kecil mama. Habiskan makanannya ya. Biar kamu bisa memikirkan langkah selanjutnya untuk persidangan terakhir besok. Doa mama selalu meyertai setiap langkah kamu nak. Mama selalu berdoa agar anak, cucu, menantu dan juga ayah kamu selalu di berikan kebhagiaan di kehidupan yang kalian jalani.”
“Aku akan terus memperjuangkan Pelangi mah.
“Harus itu nak. Ingat nak, teruslah berdoa karena setiap doa itu selalu ada titik terang dimana kita menghadapi masalah yang sedang ada di hadapan kita.”
“Iya mah, aku ingin belajar seperti mama,”
“Belajar apa nak?”
“Ingin menjadi seorang wanita yang bisa selalu tenang setiap menghadapi semua masalah yang sedang di hadapi seperti mama.”
“Berfikir positif dan juga berdoa itu adalah kunci utamanya nak. Coba sekarang kamu pikir, mulai dari kamu berpisah dengan Akbar.”
“Maksud mama?”
“Iya pikirkan saja jika kamu masih terus hidup bersama dia, mungkin hati kamu akan terus menerus merasakan sakit hati ketika hidup bersama dia. Nyatanya Tuhan masih sayang sama kamu kan? Dengan cara membuat kamu berpisah dengan Akbar, kamu menjadi tahu bagaimana sifat asli dari mereka kan? Kemudian masalah yang kamu hadapi saat ini untuk memperjuangkan hak asuh anak. Kamu diberikan laki – laki yang sungguh sungguh sayang kepadamu dan dia mau menerima anakmu. Apa lagi dirinya begitu menyayangi Pelangi dengan tulus dan iklas. Ya walaupun kalian belum mempunyai setatus resmi. Kamu juga bisa tahu dan melihatnya sendiri bagaimana perjuangan Cleo selama ini kepada kamu? Mama yakin jika Cleo itu sungguh - sungguh menyayangimu.”
“Saran mama, coba kamu hubungi ibu Dewi. Dia sepertinya sudah benar – benar merasa bersalah atas perbuatannya yang pernah dia lakukan kepadamu dulu.”
“Mengapa mama bisa yakin seperti itu?”
“Karena, selama mama ikut di pengadilan, mama tidak melihat sedikitpun wajah ibu Dewi. Entah dia tidak ingin menghadiri atau melihat proses persidangan atau dia sedang sakit, mama tidak tahu. Tapi firasat mama mengatakan dia sudah sungguh – sungguh sudah sadar dengan perbuatannya.”
“Tapi mah? Aku tidak ingin menambahkan luka di hati ini jika nantinya ibu Dewi masih seprti dulu memperlakukan aku semena - mena mah. Semoga aku bisa bertemu dengan anak aku ya mah. Entah bagaimana caranya. Dan semoga Pelangi di sana dalam ke adaan baik – baik saja ya mah.”
“Aamiin. Kamu harus semangat ya putriku.”
“iya mah Kia harus bangkit demi Pelangi.”
“Bagus.”
Kemudian setelah itu Kia mau memakan makanan yang telah disiapkan oleh Nisa walaupun hanya beberapa suap.
__ADS_1
"Nak, habiskan makanannya."
"Sudah mah, Kia sudah kenyang."
"Kamu kan hanya memakan beberapa suap nak.”
“Iya mah, tetapi Kia benar – benar sudah sangat kenyang mah.”
“Ya, sudah tidak apa - apa yang penting perut kamu sudah terisi. Mama akan keluar ya nak."
"Iya mah, terimakasih sudah menemani Kia ya mah."
"Sama - sama nak."
Lalu Nisa pergi keluar dari kamar Pelangi. Kia selalu tidur di kamar Pelangi semenjak ia pergi bersama Nindi.
Bersambung....
❇️❇️❇️❇️❇️
__ADS_1