
“Aku tidak kuat melihat semua ini. Aku tidak bisa melihat anakku seperti itu. apakah Tuhan benar – benar akan mengambilnya dariku? Aku sangat berharap putriku bisa tenang di sana nanti. Hisk .. hisk.. hisk..” ucapnya dari dalam hati sembari berjalan menuju pintu keluar ruang ICU dan menatap belang melirik ke arah Kayla.
Ketika ida keluar dari ruang ICU itu terlihat Kia, suaminya dan juga ibu mertuanya itu berjalan menuju ke arah Ida. Mereka mendekati Ida, Kia langsung memeluk Ida begitu saja. Ida tak kuasa menahan tangisannya. Berulang ulang kali dirinya mengeluarkan air mata dengan sesenggukan. Kia pun hanya bisa mengusap – usap dada bagian belakang.
“Tante.” Ucap Kia dengan wajahnya yang merasa kasihan dengan Ida waktu itu.
“Kia. Kayla nak. Hisk.. hisk.. hisk..”
“Tante yang sabar ya tan, yang kuat.”
“Tuhan akan mengambil anakku. Kayla akan pergi meninggalkanku. Sungguh, berat hati ini. Aku harus hidup seorang diri tanpa senyuman dari putri ku. Aku... hisk.. hisk.. hisk..”
Riri yang tidak tega melihat Ida sedang menangis dengan meronta – ronta itu juga langsung memeluk Ida. Akn tetapi tiba – tiba Ida jatuh pingsan. ia kemudian langsung di bantu oleh para medis dan orang – orang yang ada di sana.
“Kasihan tante Ida.” Ucap Kia
“Semoga dia bisa menerima semua takdir yang ada.” Kata Cleo
Riri hanya menghela nafas saja. sebab dia merasakan apa yang di rasakan oleh ida saat ini yang harus kehilangan anak semata wayang, anak yang sungguh – sungguh sangat dia cintai.
Sedangkan Akbar hanya menyandarkan tubuhnya di tiang depan ruang ICU. Kia, Cleo, dan Riri mereka menunggu dengan duduk di depan ruang Icu itu juga. Begitu pula sanak saudara dari pihak keluarga Kayla, yang juga masih menunggu dengan membacakan doa – doa.
Dewi pun terlihat juga sedang berjalan menuju Ruang ICU itu, ia lalu berjabat tangan dengan mereka semua yang sedang menunggu Kayla di depan ruang ICU. Dewi lalu mendekati Akbar yang masih bersandar di tiang itu, ia juga menanyakan ke adaan Ida, sebab dewi sama sekali tidak melihat Ida. Akbar pun menjelaskan kepada ibunya itu kalau Ida saat itu sedang pingsan, tak sadarkan diri, karena sebentar lagi dia akan kehilangan anak semata wayangnya itu.
“Di mana tante Ida nak? Kok ibuk tidak melihatnya?” tanya Dewi Kepada Akbar.
“tante ida sedang di tangani oleh dokter buk.” Ucap Akbar
“Tangani dokter? Memang ada apa dengan dia?” tanya Dewi lagi
“Tadi tante Pingsan buk.”
“kasihan dia.”
“Dia seperti belum bisa menerima kenyataan kalau akan kehilangan anaknya.”
“Pasti. Semua ibu akan merasakan apa yang Ida rasakan.”
“Semoga saja dia bisa menerima dan Ikhlas menerima semua yang sudah menjadi kehendak-Nya.”
Akbar hanya terdiam mendengarkan ibunya berkata seperti itu. Beberapa jam kemudian. Ida sudah tersadarkan dari pingsannya. Ia kemudian kembali berjalan menuju ke arah Ruang ICU lagi.
__ADS_1
Ketika itu, Kayla ingin sekali pergi ke taman yang ada di rumah sakit itu. Kemudian Kayla meminta izin kepada dokter, supaya dirinya bisa keluar sebentar di taman untuk menghirup udara segar. Akan tetapi dokter tidak bisa mengabulkan permintaan Kayla, sebab dokter tidak mau mengambil resiko dengan melihat kondisi Kayla yang masih lemah dan belum stabil itu, saat ia harus mengabulkan permintaan pasien tersebut. Apa lagi keadaan Kayla masih kritis dan belum stabil. Namun Kayla tetap memaksa dan meminta kepada dokter untuk mengijinkannya. Kayla mulai mencopoti sendiri satu persatu selang dan kabel – kabel itu sendirian.
Dokter lalu keluar dan memanggil salah satu keluarga Kayla, supaya Kayla bisa dikendalikan. Akbar pun masuk dan langsung memeluk tubuh Kayla. Kayla menangis karena dokter tidak mau mengabulkan permintaanya.
“Kayla, Kayla sudah, sudah, kamu yang tenang ya.”
“Hisk.. hisk.. hisk.. aku hanya ingin keluar mas, aku ingin menghirup udara segar. Bawa aku ke taman mas. Aku mohon.” Ucap Kayla sambil mencopoti kabel – kabel yang berada di dadanya itu.
“Hust.. hust.. kamu tenang dulu. Biar aku yang minta ijin sama dokter ya. Jangan lepaskan semua ini sendiri. Biar dokter yang melepaskannya. Kamu tenang dulu ya Kay,”
Kayla pun menuruti semua apa yang Akbar katakan. Kayla lantas terdiam dan membaringkan lagi tubuhnya. Akbar kemudian pergi untuk menemui dokter, agar dokter mau memberikan waktu sedikit untuk Kayla untuk pergi ke taman.
“Dokter, saya mohon, berikan sedikit waktu untuk Kayla.”
Dokter itu hanya terdiam sambil berdiri dari luar jendela Kayla.
“Tapi pak, jika ini dipaksakan, semua akan berakibat fatal pada pasien. Kami pihak rumah sakit tidak bisa melakukannya. Resikonya sangat besar.”
“Biar saya yang bertanggung jawab dok. Saya mohon. Saya tidak tega kalau harus melihat dia seperti itu.”
Dokter itu hanya terdiam, ia berpikir kalau dirinya memberikan keputusan yang salah kondisi pasien akan mengalami drop.
“Dok. Saya yang akan bertanggung jawab dok.”
“Baik dokter. Terima Kasih.” Ucap Akbar.
Dokter itu kemudian memerintahkan kepada beberapa perawat untuk melepaskan alat rumah sakit semua yang menempel di tubuh Kayla. kemudian Kayla dibantu untuk duduk di kursi rodanya.
Kayla dan Akbar kemudian keluar dari Ruang ICU itu. Lalu mereka berjalan menuju ke arah taman. Ida ingin sekali mendekati putrinya itu, tetapi ia tidak bisa menahan air matanya yang telah keluar banyak.
Beberapa menit mereka sampai di taman. Kayla meminta kepada Akbar untuk di bantu duduk di kursi yang tersedia di taman itu. dengan wajahnya yang masih sangat pucat, bibir putih dan juga mata yang terlihat cekung.
“Idah ya mas. Banyak kupu – kupu yang berterbangan di bunga – bunga itu mas.”
“Hemm.. iya Kay..”
“Mas, makasih ya kamu sudah banyak membantu aku.”
“Sama – sama Kay.”
“Ini mungkin terakhir kali aku bisa menghirup udara yang sangat segar.”
__ADS_1
“Ah, jangan bilang begitu ya. Kamu masih bisa kok merasakan segarnya udara ini.”
“Semoga saja. mas, aku boleh tidak meminta satu permintaan kepadamu lagi?”
“Apa Kay.”
“Aku ingin bersandar di bahumu lima menit saja mas.”
“Iya Kay,”
“Aku.. mencintai.. mu..” ucap Kayla dengan sangat lirih.
Akbar pun kemudian memeluk Kayla dengan sangat erat, dan ia juga tak terasa meneteskan air matanya saat memeluk Kayla. setelah beberapa menit kemudian Akbar mulai curiga, sebab Kayla tidak bergerak sama sekali saat di pelukannya, ia kemudian mendorong dengan perlahan – lahan tubuh Kayla.
“Kay, kamu tidur?” ucap Akbar sambil menggoyang – goyangkan tubuh Kayla.
“Kay, Kayla bangun. Kayla.”
Akan tetapi Kayla tidak merespon sama sekali waktu itu. Akbar kemudian langsung mengangkat tubuh Kayla lalu membopongnya dan ia langsung berlari ke arah ruang ICU. Dokter kemudian langsung menangani Kayla dan memasang alat – alat medis di tubuh Kayla. dokter lalu bergerak cepat untuk memancing detak jantung Kayla yang terhenti.
Semua menangis, terutama Ida yang terlihat begitu sangat khawatir dan cemas dengan kondisi Kayla. Akbar hanya terdiam dan ia juga ikut menangis. Mereka pun sama – sama mendoakan Kayla. Semua keluarga dan juga kerabat menunggu kabar dari dokter. Mereka berharap Kayla bisa membaik.
Sedangkan di dalam ruang ICU itu dokter berusaha semaksimal mungkin bagaimana caranya untuk dapat memacu detak jantung Kayla kembali. Namun takdir berkata lain, ternyata semua itu adalah waktu terakhir bagi Kayla.
Dokter pun keluar dari ruang ICU itu. kemudian Ida langsung berlari mendekati dan bertanya kepada dokter tentang kondisi Kayla waktu itu
“Dokter, bagaimana kondisi anakku?” tanya Ida sambil memegang tangan dokter yang penuh dengan harapan kalau Kayla akan baik – baik saja.
“Maafkan kami. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi Tuhan sudah berkata lain.”
“Maksud dokter? Anakku...”
“Pasien tidak bisa kami tolong. Ikhlaskan saja kepergiannya.”
“Enggak mungkin, enggak dok, enggak mungkin.”
Ida kemudian menangis menjerit – jerit. Ia tidak sanggup untuk menerima kenyataan pahit untuk kehilangan anak semata wayangnya.
Bersambung...
__ADS_1
❇️❇️❇️❇️❇️