Senyuman Sang Buah Hati

Senyuman Sang Buah Hati
Masih sama ²


__ADS_3

Kemudian Dewi bergegas untuk segera pulang. Karena waktu sudah malam dirinya bergegas untuk pergi dan meninggalkan Ida yang duduk sendiri di depan kamar Kayla.


Tak lama Dewi sampai di rumah nya. Ia melihat Nindi sedang duduk di depan meja Tv  dengan tubuhnya yang sedang berbaring memenuhi sofa panjang yang ada di sana lalu memainkan handponenya.


“Kamu di rumah Nin?”


“Iya  buk?”


“Ibuk kira kamu pergi.”


“Enggak, dari tadi Nindi hanya di rumah saja. Ibuk dari mana sih?”


“Eh Nin, ibuk mau cerita sama kamu. Kamu duduk dulu deh.”


Nindi kemudian duduk dan  Dewi juga ikut duduk di samping putrinya itu,


“Cerita apa sih buk?” tanya Nindi dengan penuh rasa penasaran.


“Ibuk tadi itu habis pergi dari rumah sakit.”


“Rumah sakit? Ibuk sakit?” tanya Nindi lagi dengan wajahnya yang penuh rasa penasaran.


“Eh, bukan ibuk yang sakit. Tapi ibuk tadi menjenguk sesorang di sana.”


“Owh, temen ibuk yang sakit. Syukurlah. Nindi kira ibuk yang sakit.”


“Enggak nak. Yang sakit itu Kayla.”


“Haa? Ibuk menemui wanita itu? Kenapa sih ibuk itu membela ******* macam dia! Aku tuh males tau dengerin ceria tenatang dia.” Kata Nindi dengan wajah yang murung.


“Eeh, dengerin ibu dulu ah. ( kata dewi sambil meyibaskan tangan anaknya itu )


“Heem.. Nindi udah dengerin. Sekarang ibuk mau cerita apa tentang dia?


“Kayla ternyata sedang mengalami penyakit yang amat sangat serius Nin. Jadi saat itu sejak Akbar mentalak Kyala beberapa waktu lalu. Kemudian kondisi Kayla saat itu langsung jatuh sakit, dan saat dokter memeriksa tubuhnya ternyata Kayla di dianoksa dia punya kanker serviks. Dan kanker itu ternyata sudah lama menyarang di tubuhnya. Apa lagi kankernya sudah stadium lanjut.”


“Ha? Serius buk? Aku enggak salah denger ini berita tentang dia?”


“Iya Nin, tadi sore ibuk menemui Ida, terus ida cerita banyak sekali mengenai anaknya itu.”


“Kenapa enggak sekalian mati saja tuh *******!” cakap Nindi dengan penuh kebencian.

__ADS_1


“Huustt. Kamu ini jangan bicara seperti itu ah. Dosa.”


“Loh lebih dosa mana aku atau dia buk? Aku sih akan sangat senang jika mendengar kabar tentang dia kalau dia sudah mau di makamkan.”


“Astaga, anak ibuk ini ya. Jahat bener. Eh, tapi diem dulu. Ibuk belum selesai cerita. Dan yang paling parahnya lagi. Kayla sekarang seperti orang Gila. Dia sering uring – uringan dan menyebut – nyebut nama kakamu. Ya sepertinya dia masih sangat mencintai kakak mu itu deh Nin.”


“Kakak?”


“Iya dia panggil – panggil nama Akbar. Tapi nin. Ibuk jadi merasa kasihan setelah melihat kondisinya.”


“Apakah separah itu buk?”


“Iya Nin. Coba bayangin deh. Dahulu sebelum dia sakit seperti ini, tubuhnya yang begitu langsing, yang kata Kakakmu Tubuh Kayla bagaikan gitar sepanyol. Tetapi sekarang Tubuhnya begitu kurus, ya bisa di bilang seperti tengkorak. Lalu kulitnya yang putih mulus, yang dulu pernah di sanjung – sanjung oleh kakak mu itu, sekarang hanyalah seperti sobekan plastik yang di panaskan oleh bara api, ya bisa di bilang kulitnya sudah mulai mengkerut dan tidak lagi mulus. Tapi masih putih sih. Yang lebih parahnya lagi, rambutnya Nin, itu yang membuat ibuk semakin tidak tega melihatnya.”


“Kenapa buk?” tanya Nindi dengan penuh rasa penasaran.


“Rambutnya habis Nin. Kepalanya terlihat berpetak – petak. Yah pokonya gitulah.”


“Ya, biarin saja dia seprti itu. Biar tahu akibatnya kalau suka gonta ganti pasangan.”


“Jangan Gitu ah nak. Kasihan.”


“Ibuk itu kasihan, kasihan saja dari tadi! Lebih kasihan mana kisah cintaku atau kasihan dia yang sedang sakit parah ini buk?”


“Bodo amat buk. Aku mah enggak mau melihat dia. Jijik. Sebelum dia sakit saja aku udah jijik. Apa lagi saat dia sakit seperti sekarang. Aku bisa muntah di hadapannya.”


“Terserahlah kamu mau bilang apa. Rencananya besok ibuk mau ke tempat kakak mu itu.”


“mau apa ibuk ke sana?”


“ya nenggokin kakak kamu lah.”


“Pasti juga Sama mau menceritakan tentang Kayla ya?” tanya Nindi dengan wajahnya yang begitu membenci Kayla.


“Iya, rencana ibuk juga mau membujuk kakak kamu supaya dia tidak jadi menceraikan Kayla. “


“Ibuk ini gimana sih. Aku sudah susah payah loh ini buk, mengerjakan apa yang di perintahkan kakak kepadku untuk memproses gugatan cerai ini. Ah, gak mau Ah.”


“Nindi. Kita itu tidak boleh egois, walau pun dia sudah menyakiti hati kita, tetapi kita enggak boleh balas dendam nak. Biar bagaimana pun Kyala dan juga ibunya sudah pernah menjadi bagian dari keluarga kita. Apa lagi ini adlah saat saat terakhirnya. Biarkan dia merasakan hangat cintanya nak.”


“Terserah ibuk lah. Aku mau tidur dulu.”

__ADS_1


“ya sudah kalau begitu kamu tidur dan ibuk juga mau tidur.”


“Iya buk.”


Selesai mendengarkan cerita dari Dewi, Nindi meraskan begitu bahagiannya, sebab orang yang dia benci ternyata mendapatkan hukuman yang setimpal dari Allah.


“Ngapain dia tidak sekalian mati saja ya? Kenapa harus sakit dulu. Ya aku sih seneng banget mendengarkan ibuk cerita tentang dia , biar dia rasakan sendiri akibat dari perbuatannya.tinggal menunggu hari saja kan. Dan sebentar lagi dia sudah mati.” Gumam Nindi dari dalam hati dengan rasa senang karena mendengarkan kabar atau cerita dari Dewi tadi.


Begitulah dengan Dewi yang juga berguman sendirian di kamarnya setelah berbicara dengan Nindi di ruang tv tadi.


“bener deh aku enggak habis pikir, Nindi sekarang kejam sekali. dia bukannya merasa kasihan kepada kondisi Kayla saat ini tetapi justru malah senang dengan ceritaku tadi mengenai kondisi Kayla. Dasar anak itu, dari dulu sifatnya tidak pernah bisa berubah. Tapi di pikir – pikir jika aku menjadi Ida saat ini, aku juga tidak akan kuat melihat anakku seperti itu. Tapi amit – amit lah jangan sampai anak – anakku seperti itu. Menjadi Piala bergilir para lelaki.” Uacap dewi dari dalam hati sambil duduk miring di sudut ranjang tempat tidurnya.


Ke esokan harinya, Dewi akan pergi untuk menjenguk akbar yang masih mendekam di sel penjara. Dewi mempunyai niat untuk membujuk Akbar supaya membatalkan gugatan cerai yang di tunjukan kepada Kayla itu. Dewi juga akan menceritakan kondisi Kayla kepada Akbar. Supaya Akbar tahu kalau kondisi Kayla sudah sangat memburuk di rumah sakit.


Namun, di saat Dewi akan pergi, Nindi berteriak kepada ibuknya kalu dirinya ingin ikut untuk mengunjungi kakaknya itu. Dia ingin tahu reaksi apa yang akan di keluarkan oleh kakaknya itu. Entah akan melanjutkan gugatan cerainya dengan Kayla atau akan memaafkan Kayla karena ini adalah masa – masa terakhir hidup Kayla.


Tidak butuh waktu lama  untuk mereka sampai di sel tahanan itu. Namun, sebelum mereka sampai di sana, mereka mampir ke sebuah toko buah dewi membelikan beberapa buah – buahan untuk anak tercintanya itu. Sedangkan Nindi menemani ibunya untuk memilih – milih buah yang terlihat segar yang akan di bawak ke lapas untuk di berikan kepada Akbar. Di saat dirinya tengah asik dan sibuk memilih – milih buah, tiba – tiba ada seorang laki – laki yang tidak sengaja memilih buah yang sama dan sepontan menyentuh tangan Nindi.


Kemudian Nindi melihat laki – laki dengan tubuh yang kekar nan tampan itu dengan mengunakan topi dan kaca mata hitam.


“Kamu!” ucap Nindi dengan tangkas, sambil melihat ke arah laki – laki itu.


“Nindi?” balas laki – laki itu kepada Nindi.


Kemudian Nindi bergegas pergi meninggalkan orang itu. Dan berjalan ke arah mobilnya.


“Nindi, Nindi tunggu.”


“Stop, don’t touch me! Apa lagi sih!” jawabnya dengan membentak laki – laki itu


“Okey, okey aku tidak akan menyentuhmu. Tapi tunggu sebentar. Aku ingin bicara kepadamu.” Ucap laki – laki itu.”


“kamu mau ngomong apa lagi? Mau ngomong kalau wanita yang sering kamu tiduri itu sekarang sedang di rawat di ruamah sakit? Terus kamu juga mau bilang ke aku kalau ******* itu sedang sakit parah dan kondisinya memburuk gitu?”


“maksud kamu Kayla ? dia memang sakit apa?” tanya Alex.


Entah dari mana datangnya Alex yang tidak sengaja bertemu dengan Nindi, di toko buah itu.


“Hah! Basi! Udah ah males aku sama kamu! Apa lagi melihat kamu!”


“Nindi, Nindi tunggu Nin. Aku ingin minta maaf sama kamu. Karena aku sudah terlalu banyak menyakiti hati kamu Nin.” Cakap Alex.

__ADS_1


Bersambung..


❇️❇️❇️❇️❇️


__ADS_2