
Setelah itu nindi dan dion datang ke rumah sakit. Mereka menemui akbar dan juga Eva yang sedang duduk menunggu brayen.
“Hallo paman. Bibi”
“Hallo juga dion.”
“Gimana ke adaan brayen kak?” tanya Nindi.
“Dia sudah sadarkan diri kok, selesai aku menelfon kamu tadi malam, dia terus sudah sadarkan diri.”
“Syukurlah kalau begitu.”
“dion, kamu baik – baik saja kan nak?”
“Baik kok paman.”
“Ya cuman kemarin aku bertemu dengan alex saat aku menjemput dion kak.”
“Jadi dion sudah tahu alex?”
“Sudah, pokonya semua itu di luar pemikiran kita kak. Dion bekerja di rumah teman alex, nah terus saat aku akan menjemput dion, alex tiba – tiba datang ke rumah temannya itu.”
“Tapi kalian tidak kenapa – kenapa kan? Kalian tidak di sakiti oleh dia kan?” tanya akbar.
“Tidak kok paman.” Ucap Dion.
“Enggak kok kak, dion yang membela aku.” kata nindi
“Syukur kalau dia tidak macam – macam dengan kamu lagi. begitulah nak Dion, ayah kamu. dia sudah menyakiti mama kamu berulang – ulang kali. Paman harap, kamu bisa menjaga dan melindungi mama kamu ya nak. jangan contoh sifat licik seperti ayah kamu.”
“Iya paman.”
“Maaf ya kak, aku baru bisa dateng ke sini. Karena terlalu fokus sama masalahku, aku jadi lupa kalau brayen ada di rumah sakit.” Ucap Nindi kepada kakaknya itu.
“Iya enggak apa – apa kok nin. Yang penting urus dulu urusan mu. Lagian juga sudah ada aku dan mas akbar yang menjaganya” Ucap eva.
Setelah beberapa jam di sana, brayen bangun dari tidurnya. Akbar kemudian mendekati anaknya yang masih terbaring di hospital bed. Dion juga mendekati brayen dengan berdiri di samping pamannya itu.
“hay bang.” Sapa dion kepada brayen.
Akan tetapi brayen hanya tersenyum kepada dion. ketika Akbar mengambilkan minum dan menawarkan kepada anaknya, anaknya pun langsung menangkis tangan akbar. akbar binggung dengan sikap brayen kepadanya yang seakan – akan tidak ingin di perhatikan kepada ayahnya. Akbar pun hanya menarik nafas dalam – dalam karena di perlakukan seperti itu oleh anaknya.
“Brayen, nih ayah ambilkan minum. Minumlah sedikit nak.”
“Aku sedang tidak ingin minum. Singkirkan itu.” ucap brayen sambil menangkis tangan akbar yang sedang membawakan secangkir minuman.
“Owh, ya sudah kalau begitu ayah letakan kembali di meja. Nanti kalau kamu membutuhkan apa – apa panggil ayah ya nak.”
Brayen pun hanya terdiam tanpa menjawab apapun kepada Akbar.
“ada apa dengan brayen, kenapa brayen seperti tidak menginginkan perhatian dari aku. atau ini hanya firasatku.”Gumam Akbar
Akbar pun kemudian berjalan mundur. Sedangkan brayen dan dion mereka saling bercakap – cakapan.
“Kak, aku mau pulang dulu ya, soalnya ada kerjaan yang harus aku kerjakan.”
“Iya, pergilah. Hati – hati di jalan ya.”
“Iya kak. Dion, kamu mau pulang sama mama apa mau masih di sini? Biar nanti mama yang jemput kamu kalau urusan mama sudah selesai.”
“Emm, aku ikut mama pulang saja. soalnya aku juga sudah ada janji sama teman dion.”
“kalau gitu, pamit dulu sama paman, bibi dan bang brayen nak.”
Akhirnya nindi dan dion pun pergi meninggalkan rumah sakit. Setelah nindi dan dion pergi, brayen memanggil – manggil eva.
“Ibu, bu”
“Iya nak.” kata Eva sambil berjalan menuju ke arah brayen.
Begitu pula dengan akbar yang mengikuti eva berjalan mendekati anaknya itu.
“Brayen ingin minum, tolong ambilkan minuman untuk brayen bu.”
“Iya nak, ini ibu ambilkan. Kamu pelan – pelan ya nak.”
Selesai meneguk minumannya, brayen bertanya sesuatu kepada Akbar.
“Emm, ayah. Brayen mau tanya sesuatu.”
“Tanya apa nak?”
“Siapa kia?”
“Kia?” ucap Eva yang mendengarkan apa yang brayen katakan.
Akbar pun kaget karena brayen bertanya tentang Kia.
“Dia...”
__ADS_1
“Dia siapa yah?”
“Kenapa kamu tanya tentang Kia? kamu kenal sama dia?”
“Memang siapa Kia itu mas?” tanya eva, karena ia melihat akbar yang berbelit – belit menjelaskan kepada dirinya dan juga anaknya itu.
“sudah lah, aku akan ceritakan nanti kalau brayen sudah sembuh total. Aku tidak mau membahas dia lagi. sekarang yang terpenting kita fokus sama kesembuhan brayen. Karena itu sangat penting untuk aku?” cakap Akbar yang mengalihkan perkataanya.
“Kenapa? Ayah takut kalau ibu tahu?”
“Brayen, ayah mohon ya. Sekarang kamu fokus sama kesehatanmu saja, supaya kamu cepat pulih nak. dan bisa beraktifitas seperti biasanya.
“Memang siapa kia mas? Apa kamu ada hubungan gelap dengan dia? Kenapa kamu seperti membunyikan sesuatu dari aku dan brayen?”
“Kan sudah aku bilang kalau itu....”
“Kenpa yah, kalau itu apa? Kalau itu mantan istri ayah? Iya?”
“Maksud kamu nak? ibu enggak tahu maksud kamu. ada apa sebenarnya sih yah, coba sekarang ceritakan kepada kita yah.
Akbar pun hanya terdiam, ia juga tidak menjawab sama sekali apa yang eva tanyakan kepada dirinya.
“ternyata Brayen sudah tahu semuanya? Kenapa bisa dia tahu ya? Bagaimana ini? Apa aku harus menceritakan yang sebenarnya kepada mereka, atau aku tunda dulu dan menunggu sampai brayen sembuh?” gumam Akbar yang binggung harus bagaimana.
Karena eva semakin penasaran dengan orang yang bernama Kia, eva pun terus menanyakan siapa sebenarnya Kia itu kepada suaminya. Ia ingin akbar bisa menjelaskan dengan detai siapa Kia dan kenapa brayen bisa bertanya seperti itu. karena akbar sama sekali tidak mau menjelaskan dan dia hanya diam saja, eva pun kemudian marah lalu mencurigai suaminya yang bukan – bukan. Lalu eva bertanya kepada brayen dan meminta brayen untuk menjelaskan apa yang sebenarnya dia ketahui tenang ayahnya dan juga orang yang bernama Kia.
“Brayen, apa yang kamu ketahui tentang Kia itu nak? jelaskan sama ibu? Dia selingkuhannya ayah?”
Brayen pun hanya terdiam dan melihat ke arah Akbar.
“siapa nak? jelaskan sama ibu.” Ucap Eva dengan tegasnya kepada anaknya itu.
“Kia itu adalah istri pertama ayah bu.”
“Maksudnya?”
“Iya, ayah pernah menikah dengan wanita bernama Kia. dan memiliki satu orang anak perempuan.”
“apa?” tanya Eva.
Sedangkan akbar tidak menyangka kalau brayen sudah mengetahui semuanya.
“Brayen sudah tahu semuanya? Apa Kia yang memberi tahu Brayen ya? Padahal aku sudah berniat akan memberitahukan atau menceritakan semuanya kepada Eva nanti, ketika brayen sudah sembuh total.” Gumam akbar dari dalam hatinya.
“kalau kamu enggak mau menjelaskan dan masih mau menyembunyikan dari kita, lebih baik sekarang kamu keluar dari sini mas. Aku enggak mau lihat kamu.”
“Keluar aku bilang! Keluar kamu mas! Selama ini kamu pandai sekali menyembunyikan itu semua dari aku. kamu bilang kalau kayla adalah istri pertamamu. Tapi nyatanya apa? Kamu msih menyembunyikan sesuatu dari aku kan mas. Apa lagi ternyata kamu pernah mempunyai anak!”
“Baik, aku akan ceritakan semuanya. Aku memang mengenal Kia, dia dulu adalah mantan istriku pertama, dan pernikahan kami memiliki satu orang anak. Aku sengaja tidak menceritakan itu semua kepada kalian, awalnya aku pikir aku hidup menjauh dari kota ini karena aku ingin melupakan semua kisah – kisah ku di kota ini. Aku berniat ingin membangun rumah tangga dan hidup bahagia bersama anak dan juga istriku, hingga akhirnya aku bertemu kamu lalu kita mempunyai anak. Aku merasa aku tidak perlu menceritakan masa laluku itu kepadamu. Karena aku sudah bahagia memilik kamu dan juga brayen. Tapi ternyata tuhan berkata lain, aku kembali di ingatkan olehnya kalau aku masih mempunyai anak di kota ini melalui brayen yang sangat ingin sekali melanjutkan sekolahnya di sini. Hingga akhirnya dia bertemu dengan kia, dan entah bagaimana cerita awal mula brayen bisa tahu semuanya.”
“Ayah, ayah tahu, kenapa aku kecelakaan? Aku kecelakaan karena aku suka sama pelangi dan aku cinta sama dia ayah. Tapi setelah aku mengetahui kalau pelangi itu ternyata adalah kakak tiri aku. perasaan ku seakan – akan hancur yah. Aku belum bisa menerima semua itu, sampai akhirnya, aku menabrakan diri ku sendiri sama mobil yah. Ayah enggak tahu kan apa yang aku rasakan? Hem? Aku sangat kaget setelah tante Kia memberi tahu aku yang sebenarnya. Sakit yah hati brayen.”
“Apa nak?”
“Astaga brayen. Memang segitu besarnya cinta kamu ke pelangi? apa kamu tidak sayang dengan diri kamu sendiri?” tanya eva.
“untuk apa aku hidup jika aku harus melupakan dan mengahapus rasa cinta ku kepada wanita yang benar – benar aku sayang bu.”
“tapi nak, walau pun kamu sudah mengetahui kalau pelangi adalah kakak tiri kamu, seharusnya kamu jangan seperti ini dong sayang. kamu harus bisa bersikap dan berpikir dewasa. Masih banyak wanita yang baik di luar sana kan?”
“Enggak bu, buat aku dia paling berbeda dengan wanita – wanita lain bu.”
“Tapi brayen, bisa tidak bisa dan mau tidak mau, kamu memang harus melupakan rasa cinta kamu ke kakak tiri kamu nak. ayah juga tidak menyangka kalau ternyata kalian bisa bertemu di satu kampus dan fakultas. Kalau ayah tahu, ayah pun juga akan melarang kamu. jangan memaksakan cinta nak, karena cinta itu tidak harus bisa memiliki.”
“Benar brayen. Coba lah perlahan – lahan mengiklaskan segala sesuatu yang mungkin memang tidak bisa menjadi milikmu nak. ibu, sedih kalau kamu menyakiti diri kamu sendiri. Ibu sudah susah payah melahirkan kamu, hingga menaruhkan nyawa ibu supaya kamu bisa hidup di dunia ini. Ibu hanya ingin melihat anak ibu ini, bisa hidup bahagia.”
Brayen hanya terdiam.
“bun, ayah minta maaf ya. Ayah tidak jujur sama bunda.”
“ibu masih butuh waktu yah. Sulit bagi ibu untuk bisa langsung menerima semuanya itu dengan mudah yah. Tapi, ibu juga tidak mempunyai hak untuk melarang ayah bertemu dengan anak ayah. Karena bagaimana pun, yang namanya anak tetap anak.”
“Maksud ibu? Ibu mengizinkan ayah untuk bertemu dengan anak ayah?”
“Silahkan, kalau ayah mau bertemu dengan pelangi. ibu akan izinkan. Walau bagaimana pun pelangi adalah darah daging ayah sendiri.” Kata Eva dengan sedikit kecewa.
Eva memang sangat merasa kecewa dengan akbar, tapi ia juga harus bisa menerima semua itu. ia berpikir kalau ia tidak mau memisahkan ikatan antara anak dan juga ayahnya. Walaupun di hatinya sangat kesal dengan suaminya itu. akan tetapi hal yang lebih penting masih ada, ia harus membuat anaknya bisa melupakan perasaan cinta itu kepada pelangi. karena ia tidak ingin anaknya lebih dalam lagi merasakan sakit hati dan kekecewaan setelah melihat kenyataan yang ada.
**
Sore harinya , pelangi datang ke rumah sakit untuk bertemu dengan akbar dan melihat kondisi brayen. Namun, pelangi saat itu tidak bertemu dengan akbar. ia hanya bertemu dengan eva yang sedang duduk di samping brayen.
“Sore tante.”
“Eh kamu. sore juga.”
“Hay brayen.”
“Hem..” jawab pelangi.
__ADS_1
Brayen menjawab sapaan pelangi dengan membuang mukanya.
“Tante, saya bawakan kue dan sedikit buah – buahan.” Kata Pelangi sambil memberikan kue dan buah kepada eva.
“Owh ya terimakasih ya.” Ucap Eva sembari menerima pemberian dari pelangi
“bu, aku ingin berbicara berdua sama dia. Jadi ibu tolong keluar sebentar ya.” Pinta brayen dengan lirih kepada eva.
Ketika itu pelangi hanya binggung karena apa yang akan brayen katakan kepada dirinya, hingga meminta ibunya untuk keluar dari ruangan.
“Iya nak.” ucap eva yang kemudian berjalan keluar dari kamar Brayen.
Setelah itu di ruangan hanya ada brayen dan Pelangi. pelangi pun kemudian berjalan mendekati brayen.
“kamu mau ngomong apa sama aku.”
“kamu tahu kan kalau aku cinta banget sama kamu.”
Pelangi pun mengangguk anggukan kepalanya.
“Terus?”
“aku ingin menghapus perasaan ini sama kamu. jadi mulai sekarang, kamu tidak usah datang ke sini lagi. dan jangan sok perhatian sama aku. Kalau kamu ingin bertemu dengan ayah, silahkan. Akan sulit bagiku jika kamu selalu ada di hadpanku.”
“kenapa sih kamu ini masih seperti anak kecil? Memang kamu pikir, cuman kamu saja yang kecewa dengan ini semua? aku juga brayen, aku juga kecewa tapi berusaha menghilangkan perasaan ini brayen. Aku pikir, dengan kita yang sudah sama – sama tahu kalau kita ini sebenarnya adalah kakak adik, kita akan lebih mudah bisa menghapus perasaan itu.”
“tapi tidak semudah itu. semua itu sangat sulit buat aku pelangi. kenapa sih, harus kamu yang aku cintai!” kata brayen.
“sekarang cobalah kamu bisa menerima kenyataan ini brayen. Aku yakin sedikit demi sedikit, kita pasti bisa. Aku yakin itu. dan aku berharap kamu segera menemukan wanita lain yang bisa membuat mu nyaman selain aku.”
“Agh! Aku enggak mau lihat kamu. pokoknya, aku ingin kamu jangan pernah lagi datang di hadapanku.”
“Kamu ini gimana sih? Kita itu satu fakultas loh, satu kampus. Kenapa kamu bilang seperti itu? walaupun kamu tidak mau bertemu dengan aku, kita pasti tetap akan bertemu di kampus brayen.”
“Enggak, aku akan mengajukan cuti sampai aku sembuh.”
“Apa? Cuti?”
Brayen pun hanya terdian dengan membuang mukanya tanpa melihat pelangi sedikit pun.
“Terserah kamu lah brayen. Capek aku ngasih tahu sama kamu dan kasih pandangan sama kamu. Aku hanya akan mengatakan sama kamu, bersikap dan berpikirlah yang lebih dewasa lagi. Jangan seperti anak kecil. Dan yang harus perlu kamu inggat inggat betul kita ini satu ayah tapi berbeda ibu. Permisi.” Ucap pelangi kepada Brayen sembari berjalan akan keluar dari kamar brayen.
Akan tetapi brayen memanggil pelangi sehingga langkah kaki pelangi pun terhenti seketika tanpa menenggok ke arah brayen.
“Pelangi, tunggu.”
“Hem, apa lagi?” kata pelangi sambil menartik napas yang dalam – dalam.
“terimakasih, karena kamu sudah pernah mau menemani aku.” ucap brayen.
Namun, pelangi sama sekali tidak menjawab apa yang brayen katakan. ia kemudian melanjutkan langkah kakinya untuk berjalan keluar. Akan tetapi di saat dirinya akan berpamitan kepada eva, eva pun juga mengatakan sesuatu kepada dirinya.
“Tante, saya pulang dulu ya.”
“Em, sebentar. Tante ingin bicara sama kamu.”
“Ada apa ya tante?” tanya pelangi.
“tante sudah tahu siapa kamu sebenarnya. Ayah kamu yang menceritakan semuanya dan memberitahukan siapa kamu sebenarnya sama tante.”
“jadi tante sudah tahu nama saya?”
Nindi kemudian mengangguk anggukan kepalanya.
“tante minta tolong sama kamu, jangan lagi kamu menemui brayen dulu. Sebab dia masih belum bisa menerima semua ini. Berikan dia waktu supaya dia bisa menerima semua kenyataan ini. Tante tahu, kalian berdua sama – sama kecewa. Tapi tante yakin kekecewaan itu akan tergantikan kalau kalian iklas menerimanya. Tante juga enggak tahu ternyata kamu ini adalah anaknya akbar. sebab ayahmu sama sekali tidak memberitahukan kepada tante dan brayen kalau ternyata di kota ini dia pernah mempunyai anak dari mantan istri pertamanya. Sedangkan yang tante tahu ayah kamu hanya pernah menikah dengan seorang wanita yang bernama kayla, tapi wanita itu sudah meninggal dunia karena penyakit yang di deritanya.”
“Iya tante, pelangi juga mengerti kok.”
“jadi tante sarankan, lebih baik kalian tidak usah saling bertemu untuk beberapa bulan ke depan. Supaya kalian bisa lebih cepat melupakan rasa cinta yang pernah tumbuh di hati kalian. Ya mungkin memang sulit buat kalian, tapi walau sesulit apapun itu, kalian memang harus tidak boleh ada rasa cinta antara saudara. Kamu mengertikan maksud tante?”
“Iya tante. Aku paham. Aku juga sadar kalau brayen masih belum menerima dengan iklas. Tapi aku percaya kita pasti bisa. Dan terimakasih tante sudah memberikan saran kepada pelangi.”
“owh, iya nak. satu lagi.”
Nindi kemudian memegang pundak pelangi dengan lembut.
“jadi kalau kamu ingin bertemu dengan ayah kamu. silahkan, tante tidak akan pernah melarang kamu atau pun ayah kamu untuk saling bertemu. Karena tante tidak mempunyai hak untuk melarang kalian. Sebab bagaimana pun juga, kamu adalah darah daging akbar. tante hanya takut dosa jika melarang kamu. tapi tante minta tolong sama kamu, untuk tidak lagi menemui ataupun bertemu dengn brayen ya nak. karena tante tahu, bagaimana sifat brayen, sebab brayen adalah tipe anak yang tidak bisa atau tidak mudah melupakan seseorang begitu saja. dia itu keras kepala dengan apa yang sudah menjadi pilihannya.” Ucap Nindi.
“Iya tante. Terimakasih banyak karena tante sudah memperbolehkan saya untuk bertemu dengan ayah.”
“iya nak, silahkan kalau kamu mau pulang.”
“kalau begitu pelangi permisi dulu ya tan.”
Pelangi pun kemudian pergi meninggalkan Eva. Dia senang karena eva begitu baik dengan dirinya, sebab eva memperbolehkan akbar dan juga pelangi untuk saling bertemu. Eva juga mengizinkan akbar supaya dirinya bisa dekat lagi dengan putrinya yang dulu pernah terpisah beberapa tahun yang lalu.
bersambung...
⭐⭐⭐⭐⭐
__ADS_1