
Matahari mulai terlihat sinarnya. Seperti biasa setiap pagi Kia selalu disibukkan untuk menyiapkan semua keperluan Pelangi. Terdengar di luar rumah suara klakson mobil. Akan tetapi Kia masih sibuk mengurus keperluan Pelangi. Sebab dirinya tidak tega jika langsung pergi bekerja meninggalkan Pelangi tanpa mempersiapkan apa saja yang dibutuhkan anaknya di saat sedang berada di rumah utinya nanti. Cleo yang baru saja turun dari mobil di sambut oleh Pelangi.
"Ayah." Sambutan hangat di pagi hari dari Pelangi sambil berlari kecil dengan memeluk Cleo yang baru saja datang itu.
"Hallo anakku sayang. Sini ayah cium.
Cleo mencium kening Pelangi dan membalas pelukan pelangi. Kemudian Pelangi menyeret tangan Cleo dan mengajaknya berjalan ke arah meja makannya.
"Ayah Cleo, sarapan dulu ya. Bunda masak kesukaan ayah."
"Baiklah cantik. Tapi temenin ayah makan ya nak."
"Tadi Pelangi sudah sarapan yah. Tinggal ayah saja yang belum. "
"Loh bunda mana? Kalau bunda sudah sarapan atau belum?"
"Aku sudah mas, tadi nemenin Pelangi makan. Kamu sarapan dulu gih."
"Temenin ya." Pinta Cleo untuk menemaninya makan.
"Biar Pelangi yang menemani ayah sarapan ya." Ucap Pelangi.
__ADS_1
"Pintarnya anak bunda. Tuh udah ditemenin Pelangi sarapan mas."
"Dasar Pelangi putri kecil ayah yang sangat pintar kalau disuruh nyari hati orang. "
Selesai mengantarkan Pelangi ke rumah Nisa, mereka lalu melanjutkan perjalanannya menuju kantor. Di dalam perjalanan, Cleo melontarkan beberapa pertanyaan kepada Kia.
“emm, Kia aku mau tanya kepadamu.”
“Tanya apa mas?”
“Sebenarnya apa sih arti cinta untuk kamu?”
“Kenapa kamu bertanya seperti itu?”
“Lantas, apakah aku termasuk di dalamnya?”
“Mulai.”
“Serius?”
“Iya mas.”
“Jadi aku sudah bisa menghidupkan lampu hijau di hati kamu ya?” ucapnya sambil tersenyum kepada Kia.
__ADS_1
Kia pun membalas perkataan dari Cleo hanya dengan senyuman manisnya. Sementara itu hubungan mereka saat ini sudah semakin dekat. Kia semakin lama semakin melihat ketulusan hati dari Cleo.
“Kia, sampai kapanpun hati ini tidak akan berubah untuk selalu menunggu kamu bisa membuka hati.”
“Mas kenapa kamu begitu yakin kepadaku? Apakah kamu tidak malu dengan statusku ini? Dan jika kita menjalani hubungan serius apakah keluargamu akan menerimaku apa adanya?”
“Mengapa kamu bisa berfikir sejauh itu? Sedangkan bunda ku saja selalu menerima kehadiranmu di rumahku dengan sangat baik.”
“iya aku tahu. Kalau bunda memang sangat baik kepadaku dan juga Pelangi. Tetapi jika bunda tahu kita mempunyai hubungan, apakah beliau bisa menerimaku apa adanya seperti kamu menerimaku? Sedangkan saat ini yang bunda tahu adalah kita hanyalah sebagai seorang teman.”
“Tenanglah Kia, aku yakin semuanya akan baik – baik saja. Lalu apakah kita bisa menjalin hubungan lebih serius lagi? Bukan karena sahabat.”
“Maafkan aku mas, aku masih belum siap. Tetapi aku tidak akan mengecewakanmu.”
“Baiklah, aku mengerti apa yang kamu rasakan. Aku akan terus menunggumu Kia."
“Jujur hati ini sudah mulai merasa berdetak hebat setiap kali aku berada di dekat mas Cleo. Entah apa aku sudah mulai merasakan jatuh cinta kepadanya? Tetapi aku hanyalah wanita biasa dari kalangan keluarga biasa. Sedangkan mas Cleo, dia dari kalangan keluarga yang mempunyai garis keturunan darah biru. Dia juga dari keluarga yang berada itu pun sangat jauh sekali dengan kondisi keuangan di keluargaku. Ya memang walaupun keluargaku keluarga yang tergolong mampu. Akan tetapi, aku minder dengan dirinya. Apa lagi statusku sekarang ini adalah seorang janda yang sudah mempunyai anak. Yang selalu aku takutkan adalah apakah keluarga mas Cleo benar – benar bisa menerimaku beserta statusku yang seperti ini? Mungkin doa ku hanyalah ( jika memang dia benar – benar yang Tuhan kirimkan untukku pasti aku dan mas Cleo akan bersatu apa pun yang terjadi ). Ya aku sih percaya dengan mas Cleo yang setia atau menerimaku apa adanya, tapi aku masih belum siap untuk menghadapi keluarga mas Cleo. Aku hanya takut mereka akan menolakku.” Ucapnya dari dalam hati.
Memang sudah beberapa minggu belakangan ini Kia selalu merespon hati Cleo. Namun, dirinya masih belum siap jika menghadapi langsung dengan keluarga Cleo. Sedangkan Cleo mempunyai garis keturunan darah biru, perusahaan keluarga besarnya yang ada di mana – mana, dia juga anak tunggal yang mempunyai hak waris atas semua harta kekayaan turun temurun dari orang tuanya, ya bisa dibilang tujuh keturunan hartanya tidak akan bisa habis dengan mudah. Jika itu semua dibandingkan dengan kondisi Kia saat ini. Kia yang hanya bekerja sebagai karyawan di kantor Cleo apalagi Kia hanyalah dari keluarga biasa – biasa saja dan ditambah statusnya sebagai seorang janda yang sudah mempunyai anak perempuan. Tidak semudah itu bagi Kia untuk menerima Cleo, sebab dirinya harus benar - benar siap dengan apa yang akan terjadi nanti ketika dirinya sudah menjadi pacar ataupun istri Cleo. Dia juga harus menahan perasaanya itu diam - diam.
Bersambung...
❇️❇️❇️❇️❇️
__ADS_1