
Sesampai di kamar kia, surya langsung memeluk putrinya yang sedang berbaring. Nisa terkejut dengan sikap suaminya itu, kenapa suaminya tiba tiba langsung memeluk putrinya setelah mengetahui hasil lap dari dokter. Dengan wajah bahagia surya menatap putrinya dan mencium kening putrinya itu.
"Mama, sinta sini. Ada kabar baik." Ucap surya.
"Kabar baik apa pah ? " Tanya Nisa.
"Iya kabar baik apa sih pah ? Bikin penasaran. " Kata Sinta.
"Sayang ( sambil mengelus elus kepala kia ), ayah bahagia sekali."
"Ada apa sih pah ? " Tanya Kia dengan lirih.
"Selamat, kamu akan menjadi seorang ibu nak."
Setelah mendengar apa yang di ucapkan Surya, seisi ruangan melonggo terkejut mendengar kabar bahagia itu. Nisa langsung mengecup kening putrinya, dan sinta juga memeluknya adiknya itu. Mereka mengucapkan selamat kepada Kia atas kehamilannya. Namun, setelah mendengar kabar dari Surya entah bagaimana dengan perasaan yang kia rasakan saat itu, ia binggung apakah ia harus bahagia atau ia harus bersedih.
Ia bahagia sangat bahagia dengan kabar kehamilannya, tetapi ia juga merasa sedih setelah mendengarkan kabar ini, karena di saat ia sedang berbadan dua suaminya justru meninggalkan dirinya. Dan entah di mana keberadaan suaminya itu sekarang. Ia juga memikirkan, apakah ia akan melahirkan sendirian tanpa seorang suami. Dan apakah anak ini yang tidak bersalah harus juga merasakan kesedihan yang di alami bundanya, karena ayahnya yang tidak ada di sampingnya saat anak ini sudah keluar nanti.
Tanpa ia sadari air matanya menetes perlahan lahan, dengan hati yang bercampur aduk. Papa mama dan juga kakaknya binggung karena melihat kia justru menanggis setelah mendengarkan kabar bahagia ini.
"Putriku sayang, kenapa kamu menanggis ? Bukan kah ini kabar yang kamu dan suamimu tunggu tunggu ? " Tanya Nisa sambil memeluk dan menghapus air matanya yang membasahi pipi kia.
"Hiks, hiks, ( sambil bercucuran air mata ). Kia, bahagia mah, pah, sampai sampai kia tidak bisa berkata apa apa. " Kata kia sambil tangannya mengelus elus perutnya, dan membohongi keluarganya.
Padahal air mata yang ia keluarkan saat itu adalah air mata kesedihan yang bercampur kebahagian dengan kondisi yang saat ini ia hadapi.
"Yea, akhirnya bella mau punya adik baru. " Ujar sinta memberikan semangat untuk adiknya.
"Doa kan kia dan baby sehat ya mah, pah, kak."
"Pastinya dong sayang, sekarang kamu gak boleh nanggis lagi. Sekarang telphone akbar kasih tahu suamimu kalau kamu sedang hamil. Supaya akbar juga bahagia." Ucap surya sambil menghapus air mata kia.
"Ehm, nanti saja pah biar kia kasih kejutan untuk mas akbar setelah ia pulang kerja."
__ADS_1
Berulang ulang kali kia berbohong dan berbohong kepada keluarganya. Ia berfikir saat pulang dari rumah sakit nanti ia akan menemui ibu mertuanya dan akan memberikan kabar kehamilannya supaya terdengar oleh akbar, dan akbar bisa berubah fikiran untuk meninggalkan kia setelah mendengarkan bahwa dirinya hamil.
"Kalau begitu mama akan menghubungi mertua kamu, dengan kabar bahagia ini."
"Jangan, jangan mah! " Sambil menarik tangan nisa yang akan menelphone dewi.
"Loh kenapa ki ?" Tanya Nisa.
"Mah kalau mama kasih tau mertua ku sekarang sama saja kan nanti ujung ujungnya mas akbar di kasih tahu duluan sama ibu mertua. Jadinya bukan kejutan lagi deh. Biar kia saja yang memberikan kabar bahagia ini kepada ibu dan juga mas akbar ya mah." Ucap kia dengan wajah melasnya.
"Iya bener mah apak kata kia, biarkan kia saja yang memberi tahu kabar bahagia ini kepada keluarganya. " Ujar sinta.
"Ya udah deh mamah enggak jadi."
"Makasih ya mah ." Kata kia .
------
"Suami mu mana nak ? Kok mama belum lihat. Dia udah kamu kasih kabar kan kalau kamu lagi di rumah sakit? " Tanya mama kia.
"Tapikan seharunya dia datang sebentar saat jam istrirahat, lihat kondisi kamu."
"Udah, enggak apa apa kok mah kia. Mungkin mas akbar benar benar sedang tidak bisa di ganggu mah." Kata kia.
"Tapi dia tahu kan, besok kamu udah pulang dari Rumah sakit?" Tanya nisa.
"Iya mah, mas akbar tahu kalau aku di sini."
"Maaf kan aku ya mah, aku berbohong tentang mas Akbar, aku tidak ingin melihat dan membuat hati kalian sedih atau kecewa dengan ke adaan ku sekarang. " Kata kia dari dalam hatinya dengan wajah yang menghadap jendela.
Keesokan harinya.
Dokter yang didampingi suster datang untuk memeriksa kondisi tubuh kia. Dan setelah di periksa dokter , kia memperbolehkan untuk pulang hari ini. Karena kondisi badan kia saat itu sadah membaik. Kia hanya di tunggu oleh Nisa, karena ayah dan juga kakaknya pulang ke rumah. Surya pulang untuk mengambil sejumlah pakaian pakaiannya untuk berganti saat akan menginap di rumah kia nanti. Dan sinta pulang untuk menyiapkan atau mengurusi semua keperluan keperluan anaknya, karena anaknya masih sekolah.
__ADS_1
"Selamat pagi ibu kia, " ucap dokter ana.
"Pagi dok, " kata kia sambil mengubah posisinya yang awalnya tiduran sekarang duduk bersandar di bahu hospital badnya.
"Gimana, sudah enakan badannya ?"
"Alhamdhulillh dok. Sudah enak badan saya."
"Baik, berhubung semua nya sudah normal kondisi tubuh ibu kia, hari ini di perbolehkan pulang, karena ibu kia sudah sehat."
"Owwhh, iya dok, terimakasih ya dok. "
"Ingat di jaga ya janinnya, jangan kelelahan, makan makanan yang bergizi, istirahat yang cukup, minum teratur vitamin yang saya berikan, dan yang terutama jangan setres karena ketika kita setress bayi yang ada di dalam kandungan juga ikut setres, kasihan kan. Jadi harus di jaga benar ya ibu kia."
"Iya dok, saya mengerti, terimakasih ya dok." Kata kia.
"Terimakasih ya dokter Ana." Ucap Nisa.
"Sama sama ibu, kalau begitu saya permisi mau cek pasien yang lain. "
"Iya, silahkan dokter."
Pergilah dokter Ana untuk memeriksa pasien yang lain. Saat itu Nisa berfikir kenapa ia tidak melihat sedikit pun besannya untuk menenggok kia. Padahal, Nisa sudah menunggu kia sejak kemarin siang, namun ia tidak melihat sedikitpun besannya datang melihat keadaan kia.
Saat di dalam mobil, Nisa bertanya kepada kia.
"Kia, kemarin kamu sudah memberikan kabar belum kepada mertuamu kalau kamu di rawat di rumah sakit?" Tanya Nisa.
"Kia, memang sengaja tidak memberi tahukan kepada ibu mah, karena kia takut merepotkan beliau. "
"Owh, ya sudah. Iya mama tahu maksud kamu nak. Nanti biar mama sama papa menginap di rumah kamu ya sampai kamu benar benar pulih."
Ketika kia mendengar bahwa orang tuanya akan menginap di rumah, kia berfikir orang tuanya pasti akan curiga dengan kebohongan yang kia buat. Kia harus mempersiapkan jawaban jawaban yang tepat ketika orang tuanya bertanya tentang akbar agar mereka tidak mencirigai apa yang sedang di alami kia di dalam rumah tangganya itu.
__ADS_1
Bersambung...
❇️❇️❇️❇️❇️