
Mungkin, karena tidak bisa jauh dan di tinggal oleh Kia, Pelangi menjadi sedih karena ke rinduannya ingin bertemu dengan bundanya. Akibat ke rinduan dan harapan yang begitu sangat ia rasakan, Pelangi mulai enggan atau susah makan dan minum dalam beberapa hari ini setelah pulang dari rumah sakit. Ia juga tidak mau di tinggal Dewi, sebab Pelangi merasa nyaman hanya bersama Dewi saja. Berulang ulang kali Akbar meminta maaf dan berusaha untuk mendekati Pelang dengan berbagai cara, tetapi Pelangi sama sekali benar - benar tidak mau dekat atau bermain bersama dengan Akbar semenjak Akbar membentak Pelangi saat di rumah sakit itu.
Ketika dirinya sedang tinggal di rumah Dewi, Pelangi sama sekali tidak ingin jauh dari Dewi. Dimana pun Dewi berada di situ pasti selalu ada Pelangi. Karena Pelangi tidak ingin Dewi jauh meninggalkan dirinya. Mulai dari Dewi pergi ke swalayannya, berbelanja, arisan, dan lain – lain Pelangi selalu ikut dengannya. Dan disaat itulah Dewi menghabiskan waktunya untuk menemani dan juga merawat Pelangi. Dewi begitu sangat menyayangi cucunya itu.
Di suatu malam yang terasa dingin Pelangi mengigau memanggil – manggil nama Kia dengan sebutan bunda berulang - ulang kali, karena sudah beberapa hari ini Pelangi meminta untuk tidur bersama Dewi di kamarnya. Dewi mendengar Pelangi berulang – ulang kali memanggil Kia, di hatinya dia tidak tega melihat Pelangi harus seperti ini.
Frekuensi kerinduan kepada Kia membuat Pelangi sampai demam. Ya, walau demamnya tidak tinggi, namun Dewi tetap juga merasa khawatir dengan keadaanya. Ia berpikir untuk mengajak Pelangi pergi bersenang – senang di mall. Dewi meminta Pelangi untuk bermain sepuasnya di Funworld, akan tetapi Pelangi juga tidak mau bermain apapun di sana. Kemudian Dewi membawanya ke toko maianan, Dewi meminta Pelangi untuk mengambil mainan apa saja yang dia sukai di sana, tetapi Pelangi lagi – lagi menolak dan tidak menginginkan salah satu mainan yang ada di hadapannya saat itu. Ia meminta kepada Dewi untuk di gendong. Lalu Dewi berjalan menuju ke restaurant - restaurant sampai ke food court yang ada di mall itu. Tetapi Pelangi juga enggan mau makan dan minum, memilih makanan saja dia tidak mau. Sehingga mereka berhenti di sebuah kedai roti favorit Pelangi, sebab biasannya Pelangi sangat menyukai makan di salah satu kedai roti yang banyak menyajikan roti berisi marshmallow di mall itu, tetapi usahanya sia – sia. Pelangi tetap saja masih loyo dan tidak bersemangat atau sama sekali tidak ingin memilih makanan. Dewi masih sangat sabar menghadapi sikap cucunya yang mogok makan itu.
Hingga akhirnya Dewi mengajak Pelangi di sebuah taman yang tak jauh dari mall itu. ia meminta Pelangi untuk bermain sepuasnya di sana dengan di tunggu Dewi di samping taman itu. Taman itu menyediakan banyak mainan - mainan untuk anak - anak kecil seusia Pelangi. Kemudian saat di taman itu Pelangi sudah mau bermain dengan beberapa mainan yang ada di taman itu. Tiba - tiba matannya melihat di ujung taman, dirinya berlari mendekati seseorang yang sedang berjalan membelakangi Pelangi. Pelangi mengejar seseorang wanita itu dan berteriak memanggil – mamanggil dengan sebutan “bunda” lalu memeluk wanita itu dari belakang. Lalu wanita yang di peluk Pelangi dari belakang itu menoleh kebelang dan melihat ke arah Pelangi.
“Adik, Adik ini siapa?”
“Aku Pelangi. Maaf ya tante, aku kira tante bunda ku." ucapnya dengan mata melihat ke bawah tanah dan alis yang di kerutkan di tengah jidat.
“Tidak apa – apa sayang. Adik di sini bersama siapa? Mana orang tuanya.”
“Itu, aku sedang bersama nenek.” Kata Pelangi lagim sambil menunjuk ke arah Dewi yang sedang berlari menuju Pelangi.
“Owh, ini nenek Pelangi.” dengan mata yang melihat ke arah Dewi.
“Iya tante.”
“Maaf kan cucu saya ya mbak.” Ucapnya sambil terengap - engap karena berlari mengejar Pelangi.
“Tidak apa – apa kok nek. Saya hanya binggung saja. Karena Pelangi tiba – tiba memeluk saya dari belakang. Saya kira siapa.”
“Iya mbak. Sekali lagi saya minta maaf ya mbak.”
“Iya, iya nek. Kalau begitu saya permisi dulu ya nek. Pelangi tante pergi dulu ya.”
“Iya tante.
__ADS_1
Kemudian wanita itu melanjukan langkah kakinya dan pergi meninggalkan mereka. Dewi merasa heran dengan sikap Pelangi saat itu. ia lupa kalau cucunya pernah mengigau memanggil – manggil nama Kia. Lalu ia bersibuh melihat Pelangi. Ia melontarkan pertanyaan kepada cucunya itu.
“Pelangi sayang, kenapa Pelangi memeluk tante itu tadi? Apa yang sedang Pelangi inginkan sayang?”
“Nenek, Pelangi sangat merindukan bunda nek. Pelangi ingin sekali bertemu dengan bunda nek.” Ucapnya sambil menangis meraung – raung dan memeluk neneknya menumpahkan rasa rindu pada ibundanya.
Entah betapa malangnya anak seusia Pelangi harus menahan kerinduan yang besar itu terhadap ibunya. Sedangkan anak seusia Pelangi masih harus selalu bersama ibundanya.
“Pelangi sayang, kamu nenek antar Pelangi ke tempat bunda ya sayang. Pelangi jangan nangis lagi ya. Nenek janji besok Pelangi akan bertemu dengan bunda.” Ucap dewi sambil menggenggam ke dua pipi cabi Pelangi.
“Sungguh nek? Apakah nenek benar – benar akan mengajak aku untuk bertemu dengan bunda?”
“Iya sayang, nenek janji. Tetapi Pelangi juga harus janji kepada nenek untuk tidak menceritakan kepada siapapun. Terutama kepada om Akbar. Janji ya.” Tutur Dewi sambil mengajukan jari kelingkingnya kepada Pelangi.
“Iya nek. Pelangi janji.”
“Kalau begitu sekarang kita Pelang ya nak. Ini sudah sore.”
Lantas Dewi berdiri dan menggandeng tangan mungil milik Pelangi lalu berjalan menuju arah sebuah taksi. Dalam perjalanan saat akan Pulang ke rumah, pelangi bersandar di tubuh Dewi, terus ia mengusap usap kepala Pelangi dengan sangat lembut. Dirinya sangat tidak tega melihat Pelangi bisa berbicara seperti itu.
“Aku tak kuasa melihat kerinduannya yang sangat besar terhadap bundanya. Kasihan kamu nak, di usia kamu saat ini kamu sudah harus merasakan seperti ini. Tersiksa berpisah dengan ibumu sendiri. Nenek janji akan menemukan kamu dengan ibumu nak. Kia sangat pintar telah mendidik dan merawat anak sepintar Pelangi. Aku tidak menduga, karena ke egoisan ku aku membuat semuanya menjadi menderita. Mulai dari mantan menantuku, anakku sendiri, dan sekarang aku harus menyaksikan bagaimana penderitaan yang di alami oleh cucuku sendiri. Aku benar – benar sangat bodoh. Aku lebih mementingkan omongan orang lain dari pada masa depan anakku. Coba kalau dulu aku tidak ikut campur dalam rumah tangga Akbar semua pasti sudah hidup bahagia. Dan tidak ada namanya Persidangan. Maafkan nenek ya sayang.” Gumamnya dari dalam hati sambil mengecup kening cucunya yang saat itu sudah tertidur dalam pelukan neneknya itu.
Sesampai di rumah, Dewi membuatkan secangkir susu hangat, supaya di minum oleh Pelangi. Ia juga memandikan Pelangi, lalu menggucir rambut Pelangi. Selesai itu dirinya mengambil handponennya untuk segera menghubungi Kia di saat Akbar dan juga Nindi belum kembali pulang.
“Hallo.”
“Kia,”
“Iya. Ada apa ya?”
“Pelangi ingin berbicara kepadamu.”
__ADS_1
“Pelangi? Mana buk, aku sangat merindukan dia.”
“Iya ini. Sebentar ya.”
Kemudian diberikanlah handpone Dewi itun kepada Pelangi yang sedang duduk di sampingnya.
“Bunda.”
“Sayang,”
“Bunda kenapa tidak jadi menjemput Pelangi sampai sekarang?”
“Iya sayang, maafkan bunda ya. Sebab bunda sedang sibuk dan banyak keperluan yang harus bunda urus dulu. Bagaimana ke adaan Pelangi sekarang? Putri kecil bunda sehatkan?”
“Iya bunda, Pelangi sehat kok. Bunda, bunda masih sayangkan sama Pelangi.”
“Iya pasti nak, sayang bunda kepada Pelangi tidak akan pernah hilang di dalam hidup bunda. Kenapa Pelangi bertanya seperti itu?”
“Pelangi takut kalau bunda sudah tidak sayang lagi kepada Pelangi, karena bunda tidak menjemput Pelangi untuk pulang dan tinggal bersama bunda.”
“Sayang dengerin bunda. Pelangi akan terus selalu di hati bunda sampai bunda tiada. Ya sudah kalau begitu, bunda akan berbicara dengan nenek nak.”
“Iya bun,” ucap Pelangi sambil memberikan kepada Dewi.
“Ini nek.”
Pelangi memberikan handpone itu kepada Dewi.
Bersambung..
❇️❇️❇️❇️❇️
__ADS_1