
Siang harinya, di mana mata kuliah Pelangi sudah selesai. Ia kemudian bergegas pergi dan meninggalkan kampus, sebab ia ingin sekali melihat keadaan brayen waktu itu. cici yang saat itu melihat pelangi seperti sedang terburu – buru langsung mengikuti pelangi. ia bertanya sambil berjalan menuju ke parkir mobilnya.
“Lo mau ke mana sih beb? Kok keburu – buru gini.”
“Hem... cici, sory ya gue sampai lupa mau kasih kabar ke lo. Kalau brayen saat ini sedang koma dan kritis di rumah sakit.”
“What? Lo serius?”
“Iya, makannya gue pengen menjenguk dia di rumah sakit. Semoga saja dia sudah sadar dari komanya.”
“Memang, dia kenapa sih?”
“Dia kecelakaan tunggal cik. Kemarin malam.”
“Kok bisa sih? Gue ikut lo ya beb. Gue juga pengen lihat kondisi brayen”
“oke, kalau gitu kita pergi sekarang ya, ntar gue ceritain di mobil. Sekarang kalau lo mau ikut, kita balikin dulu vespa lo ya ke kos – kosan lo.”
“Oke. Oke beb.”
Setelah pelangi mengantarkan cici ke kos kosannya untuk menaruh vespanya, mereka kemudian melanjutkan perjalanannya menuju ke rumah sakit. Dan di dalam mobil pelangi menceritakan semuanya kepada cici. Pelangi juga menceritakan kepada cici kalau dia telah bertemu dengan ayah kandungnya di rumah sakit.
“Jadi brayen sudah mengetahui semuanya?”
“Hu.um, dia seperti belum bisa menerima apa yang dijelaskan kepada bundaku. Hingga akhirnya dia mencelakai dirinya sendiri ci. Gue takut kalau dia kenapa – kenapa.”
“Maksud lo beb? Lo masih ada rasa sama dia?”
“Ya.. namanya sudah berkurang sih, tidak seperti dulu. Aku hanya khawatir kalau dia tidak bisa tertolong ci.”
“Sudah. Lo mending berdoa saja supaya dia berikan kekuatan dan dia cepat pulih kembali. Ya, jujur sih, gue juga enggak sanggup jika harus ada di posisi kalian berdua. Tapi gue akui lo hebat beb, lo masih bisa mengontrol perasaan mu dan pikiranmu. Lo hebat pokoknya deh.”
“Ya iya lah beb. Kalau gue, masih terhanyut dalam perasaan cinta yang terlarang ini, gue enggak bakalan bisa bangkit. Gue cuman berpikir kalau masa depan gue masih panjang. Dan ini lah jalan hidup yang harus gue jalanin sekarang. mau tidak mau, suka tidak suka, gue kan juga tetep harus melewati ini semua beb.”
“Bener banget. Gue acungin jempol ke lo dua deh. Eh tiga. Eh empat aja sama jempol kaki gue. Ha.. ha.. ha..”
“Lo ma, bisa saja. tapi ci, gue mau cerita satu lagi nih sama lo.”
“Apa beb? Cerita saja, kita kan sahabat. He.. he.. he..”
“Gue sudah bertemu dengan ayah kandung gue cik.”
“Terus, terus gimana?”
“Ya, gimana ya, antara senang, sedih dan juga susah.”
“Ha? Ceritain deh gimana lo bisa sampai bertemu dengan ayah kandung lo?”
“Jadi, kemarin tante Brayen datang ke rumah dan memberikan kabar kalau brayen kecelakaan dan koma di rumah sakit, dengan kondisinya kritis. Nah, terus nih ya beb, gue sama nyokap langsung tuh pergi ke rumah sakit untuk melihat kondisi brayen. Tapi Nyokap gue kan ninggalin gue di rumah sakit sendirian, soalnya nyokap mau jemput amel. nah, waktu itu,setelah beberapa jam gue nunggu di rumah sakit, gue lihat ada dua pasangan suami istri paruh baya gitu deh. Mencari pasien bernama brayen. Mereka menangis setelah melihat kondisinya brayen di jendela ruang ICU itu. terus gue deketin mereka. gue memperkenalkan diri gue ini, kalau gue teman satu kampus dan satu fakultasnya brayen.”
“Lo gila? Ngapain lo enggak ngomong langsung kalau lo ini anak kandungnya dia?”
“Ya, waktunya belum tepat ci. Masak iya gue egois banget. Gue senang – senang diatas penderitaan yang sedang menimpa brayen? Nggak etis kan? Ya udah gue enggak memperkenalkan dan tidak mengatakan yang sebenarnya kalau gue ini anak kandungnya. Gue ingin bertemu dengan ayah gue tuh, tanpa ada masalah. Apa lagi melihat kondisi brayen yang sedang kritis seperti kemarin. Mana mungkin kan gue harus langsung bilang ke ayah kandung gue kalau gue ini pelangi anak kandungnya.”
“lo itu ya, bijak banget dan baik banget tau nggak jadi orang. Di saat diri lo sendiri sedang ke susahan menghilangkan perasaan cinta lo sama brayen, tapi lo masih aja mikirin hati orang lain. Emang hebat lo beb.”
“udah deh, enggak usah muji – muji terus. Gue lanjutin ceritanya ya.”
“Iya beb, sorry, habisnya antara senang, kesal dan sedih deh dengernya.”
“gue juga sengaja nggak menceritakan ini semua kepada nyokap gue. Gue takut nyokap akan khawatir berlebihan seperti kemarin ci.”
“Iya sih ya. Tapi beb, kalau sampai nyokap lo tahu, lo sudah bertemu dengan ayah kandung lo itu, dia pasti akan ngelarang – ngelarang lo untuk bertemu dengan ayah lo lagi.”
“Iya itu yang gue takuti ci. Makannya gue nggak mau menceritakan sama bunda kalau gue baru saja bertemu dengan ayah kandung gue.”
“emm, tapi lo mau sampai kapan menyembunyikan ini semua? Apa lo nggak ingin bisa memeluk ayah lo, atau dekat dengan ayah lo?”
“Ya jelas gue ke pingin seperti itu lah ci. Tapi gue mau menunggu brayen sampai sadar. Kalau dia sudah sadar, atau sedikit membaik, gue baru akan mengaku kalau gue anak kandungnya.”
“terserah lo deh, bener – bener rumit hidup lo.”
“Gue minta doanya saja ya beb, biar gue bisa lewatin ini semua.”
“Pasti, gue percaya lo pasti bisa.”
“Makasih ya bab, lo emang sahabat paling baik di dunia. Em,, beb tapi, entar kalau sudah sampai di rumah sakit, lo jangan bilang atau ngomong nama gue pelangi ya.”
“terus?”
“Ya, lo panggil gue... apa ya? Fira ya. Please.” Pinta pelangi kepada sahabatnya itu.
“Iya – iya deh.”
Mereka pun kemudian sampai di rumah sakit. Setelah itu mereka berjalan menuju ruang ICU yang di mana Brayen sedang berbaring lemah.
“kenapa gue yang deg – deg kan ya beb?”
Pelangi hanya tersenyum saja sembari berjalan.
“Rasanya setelah dengar dari cerita lo, kenapa malah gue ya yang ke pingin sekali lihat wajah bokap lo beb. Bukannya pingin melihat kondisi brayen, nah ini malah ke pengin cepat – cepat lihat wahah bokap lo.” Kata cici sambil tertawa.
Setelah itu, mereka sampai di depan ruang ICU dan cici pun menoleh ke kanan dan ke kiri karena ia mencari – cari ayah pelangi.
“Mana beb? Kok kita nggak bertemu dengan ayah kamu?”
“aku juga nggak tahu. Mungkin mereka sedang cari makan.”
“terus kalau lihat kondisi brayen dari mana? Bukannya kita nggak diperbolehkan masuk ke ruangan ICU ya?”
“Kita bisa lihat brayen cuman dari jendela samping sana. Sekarang kita lihat brayen yuk.” Ucap pelangi sembari menuding ke arah jendela itu dan mengajak cici
Mereka berdua kemudian mendekati jendela itu. cici sangat kaget melihat kondisi brayen yang sangat parah.
__ADS_1
“ya ampun beb. Kasihan banget brayen ya. Dia patah tulang di tangannya beb?
“Iya, dia patah tulang di tangan, dan dia juga cedera di leher. Aku nggak tahu, mau sampai kapan dia seperti ini. Yang aku harapkan dari dia itu, dia segera pulih dan membaik. Kasihan aku sama dia.
“sabar ya beb. Dia pasti bisa kok melewati masa kritisnya.”
“hu.. um..”
Stelah melihat kondisi Brayen dari jendela, mereka kemudian duduk di kursi tunggu pasien. Dan tiba tiba datanglah dua orang yang mendekati cici dan pelangi.
“Selamat siang nak.”
“Eh, om dan tante.”
“siang juga om tante.” Kata pelangi dengan tersenyum.
“Sudah dari tadi di sini?”
“Belum sih om, ya mungkin 15 menit. Dari mana om sama tante?”
“Kita tadi lagi nyari makan sebentar di luar.”
“Owh. Iya om kemarin sampai lupa, tidak tanya nama adik. Kalau boleh tahu siapa nama adik?”
“Saya juga lupa mau memperkenalkan diri om, saya fira dan ini teman saya cicik.”
“Hallo om, hallo tante.” Kata cici sambil berjabat tangan kepada akbar dan eva.
“Owh, fira dan cici. Saya om akbar dan ini istri om, namanya tante eva.”
“Iya om. Salam kenal.”
Beberapa menit kemudian setelah mereka saling berkenalan, dokter keluar dari ruangan ICU itu karena selesai memeriksa Brayen. Eva lalu mendekati dokter tersebut dan menanyakan kondisi anaknya.
“Ayah, itu dokternya baru saja keluar dari ruangan brayen. Ibu, akan tanyakan kondisi brayen ya yah.
“Iya bu, kita tanya kan saja kondisi brayen sekarang.”
**
“Siang dokter. Saya mau tanya, bagaimana kondisi pasien atas nama brayen dok?”
“Ibu ini orang tua pasien?”
“Iya dok. Kami orang tua pasien. Bagaimana ke adaan anak saya dok?”
“banyak – banyak bersyukur ya bu, karena kondisi brayen sudah lewat dari masa kritisnya. Kita tinggal menunggu dia siuman atau sadarkan diri.”
“alhamdulillah kalau begitu, seneng ibu dengarnya yah.”
“tapi dok, apakah kita sudah boleh masuk ke dalam dok?”
“Silahkan, tapi hanya satu orang saja yang diperbolehkan masuk ke dalam untuk melihat kondisi pasien.”
“beneran dok? Terimakasih banyak ya dok.”
“iya dokter. Silahkan.”
“ayah, biar ibu saja yang masuk ya yah.”
“iya bu. Ayah tunggu ibu di sini saja menemani fera dan cici.
Eva kemudian masuk ke dalam ruangan brayen. Sedangkan akbar, pelangi dan cici duduk diruang tunggu. Cici nggak menyangka kalau ternyata Pelangi hampir mirip dengan Akbar.
“Ini beneran ayah kandung pelangi? pelangi mirip juga sih sama ayahnya. Kalau mereka tahu yang sebenarnya bagaimana ya. Aduh.. aku nggak bisa bayangin.” Gumam cici dari dalam hatinya.
Akan tetapi tiba – tiba hp pelangi berdering. Ia kemudian mengambil hpnya yang ada di dalam tas selempangnya lalu mengangkat panggilan masuk itu.
“sebentar ya om, em, saya angkat telpon dulu.” Ucap pelangi.
Pelangi pun kemudian menjauh dari cici dan akbar untuk mengangkat telepon dari Kia.
“Iya bun?”
“Kamu di mana?”
“Aku di rumah sakit bun, lagi nemenin cici menengok brayen.”
“Owh, masih lama tidak pulangnya?”
“Enggak tahu nih.”
“Gimana bun ada apa?”
“Enggak apa – apa sih. Ya sudah kalau begitu. Kamu pulangnya hati – hati ya.”
Kia sengaja menelpon pelangi sebab dirinya hanya memastikan kalau Pelangi masih ada di rumah sakit atau sudah pulang. Sebab, Kia juga ingin sekalian akan ke rumah sakit. Karena waktu itu, kia sedang keluar tak jauh dari rumah sakit Brayen. Ia juga mempunyai niat kalau akan membelikan beberapa kue dan buah – buahan untuk brayen.
“ah, aku akan ke rumah sakit saja kalau begitu. Lagian jarak sini sampai rumah sakit cuman lima belas menit. Dan pelangi juga sekarang sedang ada di sana. Habis ini aku akan membelikan kue dan buah – buahan untuk aku bawa ke rumah sakit. Biar bagaimanapun juga, pelangi dan brayen adalah saudara tiri. Apa lagi brayen dulu pernah menolong pelangi karena preman – preman itu.” gumam Kia sambil mengemudikan mobilnya.
Beberapa menit kemudian, Kia sampai di rumah sakit. Ia juga sesegera mungkin ingin bertemu dengan Pelangi. Kia berjalan dari arah belakang tubuh akbar yang sedang duduk berhadapan dengan anaknya itu. cici yang mengetahui kalau kia sudah datang di rumah sakit langsung menyenggol kaki pelangi. ia memberikan isyarat kepada pelangi kalau bundanya sudah ada di sana dan sedang berjalan menuju ke arah mereka. pelangi pun kemudian terkejut bukan main melihat bundanya sedang berjalan ke arahnya.
“beb, nyokap lo.” Kata cici.
“Bunda.” Kata Pelangi dengan spontan dan begitu terkejutnya.
Akbar pun lalu menoleh ke belakang tubuhnya itu karena cici dan pelangi terlihat seperti kaget.
“Kalian lihat apa sih?” tanya akbar yang menoleh ke belakang.
Akbar pun sangat – sangat kaget karena melihat Kia yang berjalan mendekati dirinya. Begitu pula dengan kia yang juga sangat terkejut bertemu dengan akbar.
“Kia?” ucap Akbar.
__ADS_1
“Akbar?” ujar Kia.
Mereka berdua pun saling bertatap – tatapan setelah kia sudah berdiri tepat di hadapan akbar.
“Kenapa kamu ada di...”
“nih, aku bawakan buah dan kue untuk anakmu.” Kata Kia.
“Kamu tahu kalau anakku...” tanya Akbar dengan sangat bingung.
“Pelangi kita pulang sekarang yuk.” Kata Kia sambil menarik tangan pelangi.
“Pelangi? ucap akbar dengan suara lirih dan melihat ke arah pelangi.
“tapi bun.”
“tunggu – tunggu, bukannya ini fira?” kata akbar.
Pelangi pun hanya menundukan kepalanya karena telah berbohong kepada akbar.
“pelangi ayuk kita pulang sekarang. bunda bilang pulang sekarang.”
“tapi bun, pelangi masih ingin dekat dengan ayah.”
“Tunggu – tunggu kia. tolong jelaskan siapa dia?” tanya Akbar sambil menuding ke arah pelangi.
“Enggak perlu aku jelasin.”
“Tapi bun. Ayah, ini aku pelangi.”
“Pelangi anakku? Putri kecil ayah?”
“Iya ayah. Maaf pelangi sudah berbohong sama ayah.”
“Kia ijinkan aku memeluk sebentar anakku ini.”
“tidak usah! Ayo pelangi kita pulang sekarang. berikan kunci mobilmu kepada cici. Biar cici yang membawa mobilmu.”
“tapi bun?”
“bunda bilang pulang. Pulang.” Ucap Kia dengan sedikit marah.
Dirinya tidak menyangka pelangi akan bertemu dengan Akbar. ia tidak mau akbar akan kembali mengganggu kehidupannya lagi. apa lagi ketika akbar sudah melihat Pelangi tumbuh menjadi gadis dewasa pasti akbar sangat senang melihatnya. Kia takut kalau akbar nekat melakukan hal seperti yang dulu lagi. Kepanikan itu muncul lagi dan lagi. sehingga membuat pelangi kesal kepada Kia.
“Kia. Kia. tunggu.” Panggil akbar.
Namun, kia masih tetap pergi sambil menarik tangan pelangi. sedangkan cici juga ikut pergi lalu berjalan di belakang kia dan pelangi. saat itu akbar memang tidak ingin mengejar pelangi dan kia, sebab dirinya takut kalau eva tahu semuanya. Dia menyadari kalau dirinya sama sekali tidak menceritakan masa lalunya itu kepada istrinya.
“Pelangi, kamu ternyata sudah tumbuh cantik secantik ibu kamu nak. selama ini ayah sengaja menghilang dari kehidupan kamu dan ibumu, karena ayah tidak ingin membuat kamu menderita lagi. maafkan ayah, karena ayah, kamu harus hidup jauh dari ayah nak. tapi, kamu akan terus di hati ayah putri kecilku yang cantik. Ternyata selama ini Kia sudah merawat dan membesarkan anakku dengan sangat baik. Terimakasih Kia.” gumam Akbar.
Akan tetapi di dalam mobil pelangi pun menangis karena sikap Kia tadi.
“Pelangi, bunda minta maaf ya.”
Pelangi hanya terdiam sambil membuang muka kepada kia.
“Sayang, kamu marah sama bunda?”
Pelangi masih terdiam tanpa melihat dan menjawab sama sekali pertanyaan Kia.
“pelangi.” kata Kia sambil menggoyang – goyangkan pundak pelangi. namun, pelangi sama sekali tidak melihat wajah Kia atau pun merespon Kia. hingga akhirnya kia menghentikan mobilnya di pinggir jalan supaya ia dapat berbicara dengan Pelangi dengan kepala dingin. Ia tidak mau kalau mereka terjadi sesuatu di jalan karena mereka sedang sama – sama naik darah.
“Oke. Baik. Apa mau kamu nak. jangan cuman diam saja!”
“Bun, bunda masih tanya, apa mau aku?”
“oke nak. maaf. Bunda minta maaf sama kamu. kamu kecewa karena bunda mengajak kamu pulang iya kan?”
“Kenapa sih, bunda selalu berlebihan seperti ini? Kenapa bunda tidak pernah bisa tau gimana perasaan aku sekarang? kenapa bunda? Pelangi ini sudah dewasa bun. Pelangi tahu apa yang sebaiknya pelangi lakukan. Pelangi hanya ingin bisa dekat dengan ayah kandung pelangi.”
“Tapi pelangi. bunda...”
“Kenapa? Bunda takut kalau aku jauh dari hidup bunda? Bunda takut kalau ayah akan mengambil aku? bun. Sudah cukup. Tolong hilangkan rasa khawatir bunda yang berlebihan. Aku juga berhak tinggal dengan ayah ku. Dekat juga dengan ayahku. Aku mohon sama bunda. Berikan aku waktu untuk bisa bersama ayah kandung ku. Hisk.. hisk.. hisk...” ucap pelangi dengan menangis.
“Ta.. pi..”
“Sekarang bunda lihat pelangi. apa pernah pelangi menentang semua yang bunda perintah untuk pelangi? apa pernah bunda mendengar pelangi membantah selama ini? Pelangi rasa, pelangi tidak pernah membantah ataupun menentang semua apa yang bunda mau. Pelangi hanya minta sekali ini saja sama bunda. Tolong ijinkan pelangi merasakan kasih sayang dari ayah akbar bun. Mungkin memang pelangi ini merasakan keluarga yang utuh selama ini, tapi, ada satu hal yang membuat pelangi ingin sekali merasakan bagaimana kasih sayang dari ayah kandung sendiri bun.”
Kia hanya terdiam ketika mendengarkan apa yang pelangi katakan. setelah itu pelangi pun kemudian turun dari mobil dan pergi ke mobilnya yang sedang cici kemudikan sekarang. kia hanya menoleh le belakang dan memastikan kalau pelangi tidak ke mana – mana. Ia lalu menangis di dalam mobil sendirian.
“Apa aku keterlaluan ya? Hisk.. hisk.. hisk... kenapa sih semua tidak pernah paham dengan apa yang aku takutkan? Mereka bilang aku terlalu melebih – lebihi semua ini. Padahal aku benar – benar sangat takut kehilangan putriku. Aaaggghhh! Kenapa akbar datang lagi di kehidupan aku!” teriak Kia dari dalam mobilnya sendiri.
Pelangi dan cici pun kemudian melajukan mobilnya dan pergi meninggalkan Kia.
“Jalan ci.”
“Beb,” kata Cici sambil mengusap – usap pundak pelangi lalu menjalankan mobilnya.
“Agh, kenapa sih bunda seperti itu sama aku. hisk.. hisk.. hisk..”
“sabar beb.”
“Sekarang aku tanya sama kamu ci. Kalau kamu di posisiku pasti kamu juga akan sama merasakan seperti apa yang aku rasakan kan? Iya kan cik.”
“Hu.. um..”
“Apa aku salah, kalau aku ingin dekat juga dengan ayah kandungku? Hisk.. hisk.. hisk..”
“beb, coba besok kamu bicara pelan pelan ya sama bunda kia. dia pasti akan mengijinkan kamu beb.”
“Agh! Entah lah ci.” Kata Pelangi sambil menghapus air matanya dan sedikit senggakkan suaranya.
Cici merasa kasihan melihat pelangi yang sedang sangat bersedih itu.
__ADS_1
Bersambung....
⭐⭐⭐⭐⭐