
Tak lama mereka sampai di rumah Kia. Cleo keluar dari mobilnya pertama kali dan bergegas membukakan pintu mobil untuk Kia.
"Terimakasih mas, saya bisa buka sendiri kok mas,"
"Tak apa mbak Kia, mari saya bantu berjalan masuk ke dalam rumah."
"Tidak usah mas, saya bisa kok."
Kia berjalan dengan perlahan - lahan untuk masuk ke dalam rumah. Ia membukakan pintu gerbang lalu masuk.
"Mbak Kia, bisakah saya menemui suamimu. Supaya saya bisa menjelaskan kepada suamimu karena saya sudah mengantarmu pulang. Takutnya nanti salah paham."
"Kebetulan suami saya tidak ada di rumah mas. Biar nanti saya saja yang menjelaskan kepadanya kalau saya di antar pulang sama mas Cleo." Kata Kia dengan lirih dan alis yang mengerut keatas menandakan wajahnya seperti sedang berbohong.
"Ya sudah kalau begitu."
"Mari saya buatkan minum dulu mas. "
"Saya mau langsung pamit pulang saja mbak, enggak enak nanti dengan suami mbak Kia. Lagian saya juga sedang ada keperluan. Lain kali saja saya main mbak."
"Owh, begitu mas. Ya silahkan. Saya mengucapkab banyak terimakasih ya mas, sudah sering merepotkan mas Cleo."
"Santai saja mbak Kia. Permisi."
Selesai berpamitan Cleo kembali berjalan ke arah mobilnya dan masuk mobil. Ia mulai menghidupkan mesin mobilnya itu dan mengklakson Kia menandakan sapaannya.
Kia berjalan masuk ke dalam rumah setelah menutup pintu gerbangnya. Namun, di depan rumahnya ada beberapa ibu - ibu yang sedang berbelanja sayuran di sebuah warung kecil. Di sana Kia menjadi bahan pembicaraan para ibu - ibu yang sedang asik berbelanja.
"Jeng, jeng noh liat tetangga kita. Kemarin suaminya yang pulang sama cewek lain. Sekarang istrinya yang pulang bersama laki - laki lain."
"Apa iya jeng? Kemarin Akbar pulang dengan wanita lain?"
__ADS_1
"Iya benar, tanya tu sama bu Sulis yang tahu Akbar pulang sama wanita lain."
"Iya jeng, aku kemarin lihat suami bu Kia itu pulang ke rumah sama wanita lain. Tapi setelah aku tanya bu Kia, dia seperti kaget mendengar kabar dari ak jeng."
"Eh tapi, ngomong - ngomong saya udah lama tidak melihat Akbar ya jeng pulang ke rumahnya.".
"Iya jeng saya juga, "
"Hu,um, saya juga tidak pernah tuh bertemu Akbar,padahal dia sering loh nongkrong sama suamiku jeng."
"Iya bener,"
"Iya bener,"
Begitulah warga yang menilai rumah tangga Kia.
Sinta telah sampai di rumah Kia. Ia masuk dan duduk di ruang tamu. Dia menanyakan kepada Kia ada apa dirinya di suruh datang dan akan membicarakan hal penting apa.
"Kak, Kia akan bicara jujur kepada kakak, dan Kia minta tolong jangan beri tahu papa dan mama perihal semua ini."
"Apa sih dek?"
"Jadi kak, sebenarnya saat Kia masuk rumah sakut waktu itu, Kia sudah di talak oleh mas Akbar."
"Apa?! Kamu jangan bercanda Kia."
"Kia serius kak, hari ini sidang pertama Kia. Kia sudah datang ke pengadilan tadi pagi."
"Sebentar, kamu diam dulu. Kakak benar - benar tidak tahu mau ngomong apa."
"Kia tahu, kakak akan terkejut mendengar semua ini. Maka dari itu Kia ingin meminta tolong kepada kakak untuk menjadi saksi di persidangan ke dua besok kak."
__ADS_1
"Sebentar. Sekarang kakak mau ketemu suami kamu. Di mana dia sekarang?"
"Dia sudah meninggalkan ku beberapa hari yang lalu kak. Kia sudah mencari di kantornya, ternyata dia sudah di mutasi ke daerah lain kak. Kia tidak sanggup jika harus mencarinya sampai jauh. "
"Lalu mertua kamu? Dia mengetahui semua ini?"
"Iya kak, beliau sudah nengetahuinya."
"Lalu apa yang dia perbuat dengan kondisi rumah tangga anaknya yang sedang di ambang kehancuran ini?"
"Kak, sudahalah kak, Kia tidak bisa menjelaskan sedetail mungkin kepada kakak. Jika Kia menjelaskan semuanya kepada kakak, hati Kia kembali sakit kak mengingat ingat kelakuan yang mereka lakukan kepada Kia."
"Tapi dek, kakak benar - benar syok mendengar ucapan mu tadi. Kamu ini sedang hamil loh dek!" Ucap Sinta dengan sedikit keras, karena ia tidan menerima jika adiknya harus berpisah dengan suaminya di saat Kia sedang berbadan dua.
"Kia binggung harus bagaimana kak, Kia sudah menggambil keputusan akan merelakan mas Akbar pergi dan hidup bahagia setelah meninggalkan Kia."
"Ya ampun dek... Yang kakak enggak habis pikir kenapa kamu memikirkan kebahagian orang lain sedangkan kamu saja merasakan ke sengsaraan seorang diri. Apa kamu tidak memikirkan anakmu nanti akan lahir?"
"Kia sudah memikirkan semuanya dengan matang - matang kak, Kia akan berjuang sendiri untuk kehidupan di masa depan anak Kia nanti."
"Dek, enggak mudah loh jadi orang tua. Apa lagi kamu akan berpisah dengan Akbar. Dan kamu akan menghidupi anakmu seorang diri. Kakak yang sudah merasakan semuanya dek."
"Kak, tolong sudah kak. Kia akan pikirkan setelah sah berpisah dengan mas Akbar."
"Sekarang kakak tanya, alasan apa kalian ingin berpisah? "
"Eeemmmm,,,,?" Ujar Kia, tanpa memberikan penjelasan kepada Sinta.
"Katakanlah dek. Atau salah satu di antara kalian ada yang sudah mempunyai pasangan lain?"
Bersambung..
__ADS_1
❇️❇️❇️❇️❇️