
Pagi harinya, ketika mereka sedang sarapan pagi di meja makan, Amel memang tidak mau sarapan waktu itu dirinya masih ngambek dengan Kia. Namun riri memaksa amel untuk sarapan dulu sebelum berangkat ke sekolah.
“Mel, sini sarapan dulu sayang. Nih bunda Kia sudah menyiapkan menu ke sukaan kamu.”
“Amel enggak mau nek.”
“Amel makan dulu sini.”
Ketika Cleo dan riri meminta amel untuk sarapan terlebih dahulu, Kia waktu itu hanya diam dan melirik ke Amel. Ia sengaja tidak tidak memanggil amel karena ia tahu kalau putrinya itu pasti masih ngambek sama dirinya.
“Ayuk yah, ini sudah siang. Nanti amel terlambat ke sekolah.”
“Bik, bik.”ucap Kia memanggil – manggil asisten rumah tangganya.
“Iya nyonya. Ada yang bisa saya bantu nyonya?” tanya asisten rumah tangga itu.
“Bik tolong siapkan bekal untuk amel. Bik, lauk dan sayurnya ambil di sini saja ya. Karena ini makanan kesukaanya. Biar nanti dia sarapan di sekolahan.” Pinta Kia kepada asisten rumah tangganya.
“Baik nyonya.”
Asisten rumah tangga itu langsung melaksanakan perintah dari Kia. Sedangkan amel duduk di depan ruang tamu menunggu ayahnya. Ketika bekal amel sudah siap, Cleo kemudian memanggil Amel.
“mel. Amel sayang.”
“Iya yah, amel di sini.”
“Sini dulu nak, ini bekal kamu di ambil dulu.”
“Iya yah.”
Amel pun berjalan mendekati meja makan dan kemudian ia mengambil bekal lalu di masukan ke dalam tasnya.
“Yuk yah berangkat sekarang.”
“Amel, pamitan dulu dong sama nenek dan bunda.” Perintah cCleo kepada amel.
Amel kemudian berjalan menuju nenek dan terakhir Kia. Ia bersalaman dengan Kia. Akan tetapi Kia tidak melepas tangan amel. Kia meminta suaminya untuk segera berangkat kerja.
“Mas, kamu berangkat kerja sekarang saja. Biar amel, aku yang antar dia berangkat sekolah. Lagian nanti aku mau menemui guru amel di sekolahan.”
“enggak mau bun, amel ingin ayah saja yang mengantarkan amel sekolah.”
“Hust! Diem.” Ucap Kia kepada Amel, kemudian Kia meminta suaminya untuk segera berangkat ke kantor.
“Mel, kamu biar di antar sama bunda saja ya.”
“Tapi yah....”
“Sudah, ayah ke buru – buru, ayah baru ingat kalau ada meeting di kantor pagi ini.”
“Ayah...” kata amel dengan merengek.
“Kalau begitu saya pergi dulu ya bun, sayang. Amel kamu baik – baik di sekolahan ya, enggak boleh nakal.”
“Iya mas, kamu hati – hati ya berangkat kerjanya.”
“ayah...”
“Hati – hati ya nak.”
Cleo pun kemudian pergi untuk bekerja. Sedangkan Kia langsung mengambil tas lalu pergi untuk mengantarkan Amel berangkat ke sekolah. Sesampai di sekolah amel kia kemudian menghadap wali kelas dan juga security untuk mempertanyakan jadwal pulang sekolah amel. Wali kelas dan juga security mengatakan kalau hari itu jam pulang amel tidak berubah. jam pulang sekolah masih sama seperti jadwal yang sudah di tentukan dari sekolah. Kia pun kembali pulang ke rumah.
__ADS_1
Sesampai di rumah Kia melihat pelangi duduk merenung di gasebo yang ada di halaman depan. Kia lalu mendekati Pelangi. Kia berharap Pelangi sudah tidak marah lagi kepadanya.
“Sayang, kamu enggak pergi kuliah?”
“hari ini tidak ada mata kuliah bun.”
Saat Kia mendengarkan Pelangi mau berbicara kepada dirinya. Kia berpikir kalau pelangi sudah tidak lagi marah kepada dirinya.
“Owh, kamu sudah sarapan? Bunda tadi masak makanan ke sukaan kamu sama adik kamu.”
“Pelangi belum lapar bun.”
“emm.. mending sekarang kamu sarapan dulu saja pelangi.”
“Iya bun.”
“Kalau begitu, bunda masuk ke dalam ya sayang.” Ucap Kia.
Akan tetapi Pelangi tidak menjawab lagi perkataan bundanya itu. Kia merasa Pelangi masih sedikit dingin kepada dirinya. Ketika kia sudah berjalan menjauh beberapa langkah dari pelangi, pelangi kemudian memanggil – manggil Kia.
“Bun, tunggu.”
Langkah kia terhenti saat mendengar Pelangi memanggil – manggil dirinya. Ia pun langsung menoleh ke belakang dan melihat ke arah pelangi.
“Iya sayang, ada apa?”
“Emm.. apa bunda tidak ingin membicarakan sesuatu kepada?”
“Soal?”
“Baik, kalau begitu pelangi ingin bertanya kepada bunda, siapa nama ayah kandung pelangi?” tanya Pelangi kepada bundanya.
“emm... pelangi. bunda masuk dulu ya.”
Kia hanya diam saja dan ia sama sekali tidak mengatakan apapun kepada Pelangi. dirinya masih belum siap untuk memberi tahu siapa nama ayah pelangi. sebab setiap kali kia akan menceritakan atau memberitahukan ayah kandung Pelangi, ia masih kepikiran dengan masa lalunya yang pernah membuat dirinya menderita. Rasa trauma itu seakan – akan kembali di ingatannya. Apa lagi waktu Kia di pisahkan oleh pelangi.
“Emm, pelangi...”
“Jawab bun, siapa nama ayah kandung Pelangi?”
Kia pun masih berdiri terdiam dan kaku di hadapan putrinya itu.
“Baik, kalau bunda hanya diam saja. biar Pelangi cari tahu sendiri siapa nama ayah kandung Pelangi yang sebenarnya. Dan jangan salahkan Pelangi, jika pelangi sudah bertemu dengan ayah kandung pelangi, pelangi akan tinggal bersama dengan ayah. Jadi jangan salahkan pelangin kalau pelangi akan pergi dari rumah ini bun.” Gretak Pelangi kepada Kia, selepas itu pelangi pergi masuk ke dalam rumah.
Kia tidak bisa mengatakan apa – apa lagi. Ketakutan kehilangan pelangi pun semakin ia rasakan setelah mendengar gertakan dari putrinya itu. Air matanya pun tanpa ia sadari keluar dengan sendirinya. Ia merasa dirinya seperti hidup dengan banyak tekanan. Di sisi lain, ia belum bisa menceritakan yang sebenarnya kepada pelangi, dan di sisi lain ia tidak ingin ke hilangan anaknya untuk ke dua kalinya.
Kia kemudian berjalan masuk ke dalam rumah dengan tubuh lunglai atau lesu. Ia kemudian duduk di sofa tengah. Ia kembali berpikir panjang lagi tentang permasalahannya dengan pelangi.
“Kenapa, kenapa semua ini menyudutkan aku. Pelangi, bunda takut kehilangan mu, tapi bunda juga belum siap untuk memberitahu atau menceritakan yang sebenarnya sama kamu nak. Kenapa kamu mengancam bunda seperti ini nak. Apa aku memang salah? Hisk.. hisk.. hisk...” gumam Kia sendirian di ruang tengah yang tengah duduk menyandarkan kepalanya disofa tebal.
Beberapa jam kemudian, waktu menujukan jam pulang sekolah amel sudah dekat. Ia juga sudah siap – siap untuk pergi menjemput amel di sekolahannya. Sebab dirinya akan mengajak amel pergi ke rumah dion. Satu jam sebelum Amel keluar dari kelas atau loncen sekolah di bunyikan, Kia sengaja untuk datang lebih awal dan menunggu amel duluan. Dirinya menunggu amel di dalam mobil sambil memikirkan kata – kata pelangi tadi pagi.
“Apa ancaman pelangi benar – benar akan dia lakukan? Kenapa aku seakan – akan seperti orang jahat ya kepada anakku sendiri. Aku takut kalau Pelangi akan melakukannya setelah dia menemukan Akbar. Pelangi berat hati bunda ini nak, jika harus menceritakan kembali masa lalu suram yang pernah kita hadapi dulu. Tapi aku juga tidak bisa egois, pelangi juga berhak tahu yang sebenarnya. Nanti aku akan menceritakan dan memberi tahu kepada Pelangi siapa ayah kandungnya. Aku yakin pelangi akan paham dengan ceritaku, karena pelangi sekarang sudah dewasa, dia pasti bisa memahami semuanya.” Gumam Kia sambil melamun menatap pintu gerbang sekolahan amel.
Tak lama bel tanda pelajaran telah usai, para siswa sudah keluar dari kelasnya masing – masing. Kia kemudian keluar dari mobilnya, dan ia menunggu Amel di pinggir pintu gerbang. Terlihat dari kejauhan wajah amel yang masih cemberut kepada bundanya. Kia melambai – lambaikan tangannya sambil tersenyum ke pada Amel.
“amel, bunda di sini.” Ucap Kia.
Amel pun semakin lama langkah kakinya semakin mendekati Kia.
“Bunda dari tadi?”
__ADS_1
“Iya ding sayang. Bunda enggak mau kamu ngilang lagi. Pokoknya selama bunda yang mengantar jemput kamu sekolah, kamu bakal aman.”
“Iya, iya amel percaya.”
“Ya sudah, kalau begitu mari kita pulang.”
“Iya bun.”
Amel dan kia pun langsung berjalan menuju mobilnya dan merekapun pergi meninggalkan sekolahan. Di jalan Kia mengajak Amel untuk makan siang di luar, ia sengaja tidak langsung pergi ke rumah dion, sebab dirinya tahu kalau orang tua dion sedang tidak ada di rumah saat jam – jam sibuk seperti itu.
“Amel, kita mampir ke mall dulu yuk, sudah lama kita tidak pergi bersama ya kan?”
“Iya bun, tumben bun?”
“ya, enggak apa – apa kan bunda ajak putri bunda ke mall dulu.”
“Tapi nanti Amel beliin tas ya bun.”
“Iya, amel boleh milih tas mana saja yang amel suka. Anggap saja itu adalah permintaan maaf bunda ke kamu ya sayang.”
“Beneran bun?”
“Iya.”
“makasih ya bun.”
“sama sama sayang.”
Kia dan amel menghabiskan waktunya untuk makan dan berbelanja di mall itu. Setelah Kia melihat jam di tanganya, ia kemudian mengajak Amel untuk pulang. Akan tetapi, Kia tidak memberi tahukan kepada amel kalau sebelum pulang ke rumah mereka datang ke rumah Dion terlebih dahulu.
Karena Amel sering di ajak dion ke rumahnya dan waktu itu Kia melintasi jalan menuju rumah dion, amel pun binggung karena bunda masuk ke perumahan elit di mana di situ adalah rumah dion.
“Bun, kita mau ke mana? Katanya mau pulang?”
“Iya, kita mampir di rumah temannya bunda dulu ya.”
“Owh, rumah temannya bunda di sini?”
“Iya.”
“Owh,”
“Kenapa? Kamu punya teman di sini juga?”
Saat Kia bertanya seperti itu kepada Amel, amel pun di buat gugup oleh bundanya. Ia takut kalau bundanya akan bertemu dion di perumahan itu.
“apa? Bunda ternyata punya teman di sini? Aduh, gimana nanti kalau bunda bertemu dengan dion. Bunda kan posesif sekali dengan dion. Lg melihat dion saja, bunda sudah begitu sangat ,marah, semoga saja nanti waktu di rumah temannya bunda, bunda tidak bertemu dengan dion. Huft, deg.. deg... an aku jadinya.” Gumam Amel dari dalam hatinya dengan perasaan gugup.
Kia yang tahu anaknya melamun pun langsung bertanya kepadanya lagi.
“Mel, amel.”
“Iya bun, ada apa?”
“kenapa sih kok kamu malah melamun? Bunda tanya, kamu memang punya teman di daerah sini?”
“Emm, enggak kok bun.”
“Owh, kirain punya teman di sini. Sebentar lagi sampi kok.” Kata Kia menyindir anaknya itu. Kia tahu kalau amel takut langkah mobilnya akan berhenti di rumah dion.
__ADS_1
Bersambung....
⭐⭐⭐⭐⭐