Tahanan Cinta CEO

Tahanan Cinta CEO
Bab 100. Tanpa sadar (spesial chap)


__ADS_3

Hai Readers! sorry untuk chapter ini, yang lagi berpuasa, atau yang masih dibawah umur jangan baca ya!


Ingat jangan baca! nanti nyesel! 🥺🥰🥰🥰


Btw, terimakasih buat kalian yang sudah setia mendukung ku sampai 100 episode ☺️💪, berikan Like komen, gift dan vote kalian ya


...🍀🍀🍀...


.


.


Tubuh Ray memanas ketika kulitnya bersentuhan dengan Tisha. Terlebih lagi saat tangan wanita itu meraba-raba otot dadanya. Ray dan Tisha sama-sama merasa Dejavu, tidak asing dengan adegan dan posisi mereka saat ini.


Bukankah dulu aku pernah terjatuh seperti ini juga di atas tubuhnya? itu saat kak Ray memasak makanan dan makanan itu gosong.


"H-hey! berat tau, cepat menyingkir!"seru Ray gelagapan


"Ma-maaf" Tisha segera beranjak dari tubuh sixpack itu. Keduanya sama-sama memalingkan wajah satu sama lain, merasakan debaran yang aneh dalam diri mereka sendiri. Rasa yang pernah ada, mungkin sudah mulai bersemi kembali.


Cinta lama belum usai, atau cinta lama bersemi kembali.


"A-Apa kakak terluka? barusan jatuhnya cukup keras kan?" Tisha melihat ke arah Ray yang baru saja duduk di lantai setelah menetralkan panas di dalam tubuhnya ketika melihat Tisha.


"Aduh.. duh duh.. sakit" Ray memegang bagian kepalanya, dia merintih kesakitan. Entah ini pura-pura atau bukan, yang jelas sikap Ray membuat Tisha cemas.


"Yang benar? apa itu sakit? dimana sakitnya??" tanya Tisha sambil menyentuh kepala dan leher Ray pelan-pelan, untuk memastikan bahwa pria itu tidak terluka.


Sentuhan lembut dari tangan Tisha itu malah semakin membuat tubuh Ray memanas, secara alami wajahnya memerah. Entah apa penyebabnya, lama kelamaan panas itu semakin terasa. Bahkan pada bagian bawah nya yang sudah lama berpuasa.


DEG


DEG


DEG!


Panasnya tubuh, mengencang nya sepotong daging bagian bawah milik Ray, di iringi suara jantung yang berdetak hebat. Membuatnya hampir tidak bisa menahan diri.

__ADS_1


Ke-kenapa jadi begini? rasanya panas sekali.


GREP


Ray menangkap tangan Tisha yang menyentuh leher juga bagian belakang kepala. Tisha bertanya kenapa dan ada apa? dia berfikir ada yang salah dengan Ray, karena tubuhnya panas dan jantungnya berdetak sangat cepat.


"Tisha.. sudah.. hentikan, kamu tidak akan bisa menanggung nya nanti. Aku juga tidak akan bertanggungjawab kalau kamu terus menyentuhku" Ray mengingatkan Tisha dengan suara yang agak mendesah itu


"Katanya sakit? tapi kamu tidak mau ku sentuh, aku hanya ingin memastikan saja ada dimana lukanya?" tanya Tisha yang masih menyentuh bagian belakang kepala Ray, dia memperhatikan setiap inci dari leher dan kepala pria itu. Takutnya ada luka disana, namun yang dia lihat hanya wajah merah dan telinga yang memerah. "Kamu demam ya kak? tubuh kamu panas sekali"


"Tisha hentikan!" seru Ray merasa ada yang aneh pada tubuhnya. Pertahanan diri dan moralitas nya mungkin akan turun bila Tisha terus menyentuh bagian tubuhnya. "Haahh.."


"Baiklah, aku akan ambilkan obat demam untukmu" ucap Tisha sambil melangkah pergi dari sana. Namun Ray memegang tangan Tisha dan menghentikan langkahnya.


"Cukup! jangan menggoda ku lagi! lihatlah akibat perbuatan mu" Ray mendengus kesal


"Tuh kan? kak Ray demam sampai wajahmu memerah begitu. Besok kita ke dokter saja sekalian memeriksa jantung dan meredakan panas ditubuh mu" jelas Tisha dengan wajah polosnya.


Karena siapa jantungnya berdebar, dianggap bermasalah? karena siapa juga panas ditubuh Ray? tapi wanita itu sama sekali tidak menyadari nya meski sudah diberi peringatan sekalipun.


"Kamu memang pandai menyiksa ku" ucap Ray sambil memegang tangan Tisha


Tanpa aba-aba, Ray membenamkan bibir nya pada bibir ranum nan cantik milik Tisha. Kedua tangan Ray melingkar di tubuh mungil wanita itu, ibu dari anaknya.


Tisha terkesiap, dia terkejut dengan serangan mendadak dari Ray. "AKHP!!"


Dia mencium ku?


Dibawah sinar bulan dan pemandangan malam, Ray mencium mantan istrinya dengan lembut penuh cinta dan kasih sayang. Dia tidak tahan lagi dengan panas ditubuhnya, bukannya mereda, panas itu malah semakin membuncah tatkala Ray menatap mata wanita itu penuh cinta begitu pula dengan Tisha yang masih ada rasa padanya.


Mengapa aku tidak bisa menolaknya?. batin Tisha bingung


Mengapa aku tidak bisa berhenti? aku malah menginginkan lebih. Ray bingung, dia tidak bisa menghentikan apa yang sudah dia lakukan.


Tisha juga tidak menolak, dia menerima ciuman itu. Tubuhnya perlahan-lahan melemas tak terkendali. Logika ingin melawan serangan Ray, tapi tubuhnya menolak logika nya. Tanpa sadar mereka berdua sudah berada di dalam rumah, dengan posisi masih berciuman.


Tadinya mereka hanya saling mengecap bibir saja, lama kelamaan Ray menjadi semakin memaksa. Dia menggigit bibir cantik itu, bermaksud ingin membuka nya.

__ADS_1


"Hmphh!! Awww..."


"Haahh.." Ray mendes*h menikmati bibir manis yang sudah lama tidak dia sentuh itu. Mungkin inilah yang namanya bergairah.


Tisha pun membuka mulutnya, akibat satu gigitan kecil dari gigi Ray. Lidah mereka bertemu, saling bersahutan satu sama lain. Sampai mengeluarkan suara becek, dipadu dengan kenikmatan nya.


Ray menyesap bibir dan lidah yang manis itu dengan hati-hati, namun gerakan nya memaksa.


"Haahh...haahh..." Ray dan Tisha sama-sama merasa keenakan dengan apa yang mereka lakukan.


Bukan dibawah pengaruh alkohol, atau dalam keadaan tidak sadar, mereka berdua sama-sama sadar melakukan nya. Hanya saja alur membawa pasangan yang pernah menjadi suami istri itu, ke dalam suasana tidak biasa.


Sejak kapan aku berada di kamar ini?. Ray melepaskan ciumannya dari Tisha sejenak, tanpa sadar dia membawa wanita itu ke sebuah kamar kosong di sebelah kamar tempat anaknya tidur.


Ray sudah tidak tertolong lagi, dia ingin menuntaskan semua hasrat terpendam nya saat itu juga. Pria itu merebahkan tubuh Tisha di ranjang dengan perlahan. Tisha sendiri terdiam, menerima perlakuan dari mantan suaminya. Ya, benar.. mungkin logika menolaknya, mungkin pikirannya berbohong, tapi n*fsu dan kejujuran tubuh bergerak lebih dulu.


Tak berselang lama, Ray berhasil melepaskan kemeja yang dia pakai, kemudian melemparnya kemana saja. Ray mendekati tubuh Tisha, mata mereka saling menatap satu sama lain. "Harusnya aku melakukan ini dulu" bibir panas nya mencium kening, kedua kelopak mata, hidung, lalu beralih pada bibirnya.


Insting memang bergerak lebih cepat, Tisha meraih leher Ray dengan kedua tangannya. Kini bukan hanya Ray saja yang memanas tapi Tisha juga.


Apa yang aku lakukan? mengapa aku tidak bisa melawan nya? aku malah tenggelam ke dalamnya. Tisha kebingungan, dia tergoda oleh yg pria yang tampan nya luar biasa itu. Pria yang pernah menjadi suaminya, ayah dari anak nya.


Pikiran keduanya mulai berkabut, tatkala Ray mulai menyusupi bagian tubuh sensitif Tisha dengan lembut.


"Ahhh!!!" Tisha mengerang mendapati telapak tangan itu telah berhasil menyusupi bagian dua buah daging yang menonjol di tubuhnya.


"Ternyata kamu tidak menolak nya, shaa.." gumam Ray yang semakin berani menyentuh lagi dan lagi ke dalam bagian tubuh Tisha.


Bibir Ray menelusuri wajah dan leher Tisha, bersemayam disitu hingga membuat tanda merah disana.


Kemudian tangan Ray mulai bergerilya pada kemeja piyama yang dipakai oleh Tisha dan membuka salah satu kancingnya.


Tidak! ini tidak boleh!


Tisha memegang tangan Ray dan menatap pria itu.


...---***---...

__ADS_1


Mau lanjut? komen dan like dulu dong ☺️☺️


__ADS_2