
๐๐๐
Zee marah, lebih tepatnya murka. Dia mendapatkan surat tuntutan dari kepolisian karena telah melukai Rasya. Bu Lisa penasaran dengan anak yang dibicarakan oleh Zee, siapa anak yang dimaksud?
Zee mengatakan pada ibunya kalau anak itu adalah anak haram Ray dan Tisha. Mengetahui Ray dan Tisha sudah mempunyai anak, Bu Lisa menegur Zevanya, meminta nya agar menyerah terhadap Ray pria yang tidak bisa di milikinya.
"Menyerah? mama aku gak bisa menyerah sama orang yang aku cintai!!" tegas Zevanya yang masih mengharapkan cinta dari Ray
"Cinta sudah membutakan kamu sayang, sudah jelas-jelas dia jodoh orang lain. Tapi kamu masih mengejar ngejar dia. Dia sudah punya anak, kemungkinan besar untuk kamu bersamanya sangatlah tipis bahkan tidak ada lagi!" nasihat bu Lisa kepada anak perempuan satu satunya itu.
Dia tidak mau kalau anaknya akan menjadi lajang seumur hidup karena terus mengejar pria yang tidak pernah mencintai nya. Namun Zevanya benar-benar sudah kepala batu, dia tidak mendengarkan nasihat ibunya. Zevanya malah pergi ke rumah keluarga Argantara, meminta agar Ray mencabut tuntutannya.
Kali ini Bu Lisa tidak bisa tinggal diam, karena dia tau bahwa anaknya akan membuat kekacauan disana. Itu sudah pasti!
***
Di balkon lantai dua rumah keluarga Argantara, Rasya sedang bersama kakek buyutnya. Mereka berdua terlihat akrab padahal belum lama bertemu, Tisha dan Ray melihat keakraban cicit dan kakek buyut itu dari kejauhan.
"Apa ya yang mereka bicarakan sampai tertawa tawa seperti itu?" tanya Tisha penasaran melihat ke arah Rasya dan Pak Faisal.
"Kalau kamu penasaran kenapa tidak pergi kesana saja" titah Ray pada Tisha
"Aku tidak mau jadi perusak suasana" jawab Tisha pada Ray sambil tersenyum
"Kamu tidak jadi perusak suasana kok, justru karena kamu dan Rasya ada disini. Rumah ini terasa lebih hidup" Ray tersenyum tipis memandang ke arah Tisha yang sedang bersandar di ambang pintu.
"Hem..begitu ya? oh ya bagaimana kabar kak Ray selama enam tahun ini? aku sampai lupa bertanya" tanya Tisha sambil melirik ke arah Ray
"Seperti yang kamu lihat" jawab Ray sembari merentangkan kedua tangannya dengan wajah yang pasrah.
"Memangnya apa yang aku lihat?" tanya Tisha Pura-pura tidak tahu apa yang dia lihat pada Ray
Ray memegang tangan Tisha dan meletakkan kedua tangan Tisha di pipinya. "Kak Ray.."
__ADS_1
"Kalau kamu tidak bisa melihat, maka kamu bisa merasakan nya langsung. Wajah ku, mataku, hatiku, tubuhku, hancur saat kamu dan Rasya tidak ada disisi ku. Selama enam tahun ini... aku sudah seperti mayat hidup, dengan keyakinan bahwa kamu masih hidup di suatu tempat dan sedang bersembunyi dariku. Aku tetap bertahan hidup. Kamu bisa merasakan bagaimana tubuhku saat ini, pegang lah tanganku, rasakan.. apa aku masih sama seperti yang dulu?" Ray menatap mata Tisha dengan dalam, berusaha meluluhkan hati yang keras itu.
Wanita itu mengakuinya dalam hati, dia merasakan bahwa Ray memang berbeda dari yang dulu. Tubuhnya lebih kurus, wajahnya kusam dan kantung matanya sangat tebal. Matanya sayu menatap Tisha, membuat nya iba dan tidak tega.
Tisha menarik tangan nya dari pipi Ray yang tirus itu, memalingkan wajahnya seakan tidak ingin mengakui keadaan Ray selama ini.
"Tisha.."
"Jangan bicara lagi, kumohon jangan bahas lagi" Tisha tidak mau mendengar kata-kata Ray lagi.
Jika benar kamu hidup seperti orang mati karena tidak ada diriku disisi kamu, apa itu artinya kamu memang mencintai ku? apa kali ini bukan harapan kosong lagi?.
"Aku hanya ingin kamu tau bahwa tanpa kamu dan anak kita aku tidak pernah bisa bahagia. Setengah hatiku, bahkan seluruh hatiku adalah milik kalian berdua" ucap Ray sungguh-sungguh.
"... " wanita itu terdiam dan tidak menjawab apa-apa, dia tenggelam dalam pikirannya sendiri. Mungkinkah pertahanan hati nya mulai runtuh dengan kata-kata Ray?
Disisi lain..
"Bagaimana? apa sekarang kamu percaya sama kakek buyut?" tanya Pak Faisal pada cicit pertamanya itu
"Hehe, gak percaya ah" Rasya menggeleng-geleng dengan gemas
"Loh? kenapa masih tidak percaya sama kakek? foto ini mirip kamu loh" tunjuk Pak Faisal pada foto Ray yang ada di dalam album itu, dia sangat yakin kalau Rasya mirip dengan Ray waktu kecil
"Aku lebih tampan dari papa, kek" jawab anak itu dengan wajah polosnya
"A-Apa?? haha.. kamu ini benar-benar narsis mirip papa kamu banget" Pak Faisal tertawa sambil mengelus kepala Rasya dengan penuh kasih sayang.
"Ish kakek! aku bilang aku lebih ganteng dari papa!" kata Rasya yang tidak mau kalah dari papa nya.
"Iya deh iya, kamu lebih ganteng dari papa kamu" Pak Faisal mengalah, dia tidak bisa berdebat dengan anak lucu nan menggemaskan itu.
"Hem.. kakek buyut, kenapa di foto-foto ini papa terlihat sedih? kemana kakek dan nenek? kenapa papa sendirian saja?" tanya Rasya dengan polosnya melihat foto Ray yang tanpa eskpresi saat berada diatas panggung
__ADS_1
"Oh ini saat papa kamu meraih penghargaan sebagai siswa terbaik dan tercerdas. Saat itu papa kamu habis menangis" Pak Faisal memandangi foto itu dengan sedih.
"Papa menangis? kenapa kek?" tanya Rasya yang ingin tahu
"Itu karena papa kamu teringat kakek dan nenek kamu yang sudah tiada" Pak Faisal tersenyum pahit mengingat masa kecil Ray tanpa orang tua. Berbeda dengan Rasya yang ceria dan masih memiliki keluarga lengkap, masa kecil Ray sangatlah suram seolah berada dalam kegelapan.
"Kakek dan nenek sudah tiada saat papa masih kecil ya?" tanya Rasya yang rasa ingin tau nya semakin besar
"Iya, kakek dan nenek kamu sudah tiada saat usia papa kamu menginjak 6 tahun" Pak Faisal mengelus kepala Rasya dengan lembutnya.
"Pasti papa sangat sedih ya karena kakek dan nenek tiada pada usia papa yang masih kecil. Kalau aku ditinggal kan mama dan papa, aku juga pasti akan sangat sedih. Tapi syukurlah karena papa dan mama masih hidup dan ada bersamaku" Rasya bersyukur karena dia masih memiliki papa dan mama, tapi dia sedih karena dia tau kalau papa nya itu sudah ditinggal papa dan mama nya sejak kecil.
Rasya kembali membalik halaman itu, hatinya sedih melihat foto Ray yang selalu sendirian dengan wajah sedihnya. Rasya menjadi iba pada papa nya waktu kecil, dia pasti sangat kesepian, dia pasti sangat sedih. Begitulah pikir Rasya di dalam hatinya.
Karena aku dan mama sudah ada disini, aku dan mama akan menghibur papa. Dan kami akan menjadi keluarga yang bahagia.
***
Saat berada dalam suasana yang damai, terdengar suara keributan dari luar rumah keluarga Argantara dan terdengar oleh semua orang disana.
"Raymond! keluar kamu! Latisha! kamu juga keluar!!" teriak Zevanya dari luar rumah.
Daniah dan Dean yang baru saja akan tidur, langsung terbangun mendengar suara yang keras itu.
"Siapa sih malam-malam gini?!! berisik banget" Dean terlihat kesal, dia langsung duduk di ranjang nya begitu mendengar suara yang memekik di telinganya itu.
Itu seperti suara Zee?. batin Daniah yakin
...---***---...
Hai! sambil nunggu novelku up, kalian boleh mampir ke karya temanku๐โบ๏ธ
__ADS_1