Tahanan Cinta CEO

Tahanan Cinta CEO
Bab 73. Rasya ngambek (2)


__ADS_3

***


Rasya menoleh ke arah Fayra yang tersenyum lembut padanya. Lalu ia memalingkan wajahnya lagi dengan sebal.


"Loh.. loh? serius nih gak mau cerita? kalau gak mau cerita, ya udah.. jawab pertanyaan Tante aja"


"Pertanyaan Tante? apa?" Rasya penasaran


Aku tidak tau apakah aku pantas menanyakannya ini pada anak kecil atau tidak. Tapi aku ingin tau apa pilihan dan apa yang dirasakan Rasya.


"Rasya sayang.. apa kamu suka om Zayn atau papa Ray?" tanya Fayra langsung ke intinya


"Aku suka dua duanya" jawab Rasya cepat dan jujur.


Fayra menghela napas, ia memulai pertanyaan selanjutnya, "Kalau kamu disuruh memilih salah satu, kamu akan memilih om Zayn atau papa Ray?"


DEG!


Rasya terdiam mendengar pertanyaan dari Tante nya itu, kali ini bocah berusia 5 tahun itu tampak bingung.


Zayn atau Ray? Zayn adalah orang yang selalu ada untuk Tisha dan dirinya, menjaga dan melindungi mereka berdua. Bahkan menyelamatkan nya saat ia masih berada di dalam kandungan. Saat mama nya bersedih, Zayn lah yang selalu menghibur nya, saat ia sibuk ia selalu menyempatkan waktunya untuk menemui nya dan Tisha.


Zayn juga adalah orang yang paling berjasa dalam hidup Rasya dan Tisha. Sedangkan Ray, dia memiliki status yang kuat sebagai ayah kandung nya. Dia baru hadir dalam kehidupan Ray kurang dari seminggu, namun Ray sudah berhasil merebut hatinya.


Aku pilih siapa ya? keduanya sama-sama baik, yang satunya om baik, yang satunya lagi papa baik. Dua duanya orang baik, aku tidak bisa memilih diantara mereka berdua. Aku suka dan sayang mereka berdua.


Ternyata Rasya bisa bingung juga, ya sih.. kalau aku jadi dia, aku juga akan bingung untuk memilih. Aku rasa aku bertanya terlalu jauh. Fayra tersenyum melihat Rasya yang kebingungan.


Fayra pun mengganti pertanyaan nya itu, dengan mengapa Rasya ingin pergi ke Jakarta secara tiba-tiba?


"Aku gak tiba-tiba mau kesana kok.. dari dulu aku juga ingin pergi kesana" jawab Rasya dengan matanya yang polos.


"Kamu benar-benar mau kesana kan? bukan karena kamu di minta oleh seseorang??" tanya Fayra yang masih belum percaya pada Rasya bahwa itu adalah murni keinginan nya sendiri.


Rasya memutar-mutar matanya kemana-mana, ia terlihat gugup. Namun, ia berusaha setenang mungkin di depan Fayra. "Eng.. enggak kok Tante, aku memang mau kesana karena aku mau sendiri"


Fayra tersenyum manis melihat tingkah bocah imut itu, ia menepuk kepala Rasya dengan lembut.


Dia bohong. Berarti memang benar kalau keinginan Rasya ada hubungannya dengan Raymond. Fayra tau bahwa gerak-gerak Rasya yang selalu memutar matanya adalah saat Rasya sedang berbohong.

__ADS_1


"Baiklah, kamu mau ke Jakarta kan? lalu apa mama kamu tidak setuju, terus kamu ngambek?" tanya Fayra lagi


"Mama belum bilang setuju atau tidak nya, tapi aku ngambek karena mama gak jawab pertanyaan aku yang lain" gerutu anak itu dengan bibir monyong nya


"Pertanyaan kamu yang lain? apa itu?" Fayra menoleh ke arah Rasya dengan mata yang penasaran


Tiba-tiba saja anak itu tersenyum ke arah Fayra, "Kalau mama gak bisa jawab pertanyaan ku, mungkin Tante bisa bantu jawab"


"Oke, kalau tante tau pasti tante jawab kok" jawab Fayra


Anak itu mengepal tangannya dengan gemas, ia terlihat bingung harus bertanya pada Fayra atau tidak. Tapi ia sangat ingin tau apa yang membuat mama nya tidak mau kembali bersama papanya dan terlihat membencinya.


"Tante.."


"Ya, Rasya?"


"Apa Tante tau kenapa papa dan mama dulu berpisah?" tanya Rasya dengan suara yang pelan.


"Sya.. kenapa kamu tanya itu sama tante?" Fayra bingung mau menjawab, jadi ia malah bertanya balik.


"Aku bertanya karena aku gak tau, mama dan papa juga gak mau bilang alasannya. Mereka bilang kalau itu masalah orang dewasa" gumam Rasya sebal, karena pertanyaan nya tidak terjawab. Padahal ia ingin sekali menemukan alasan papa dan mama nya berpisah agar ia bisa mencari cara menyatukan orang tua nya kembali.


"Benarkah? papa mu juga bilang begitu?" tanya Fayra tak percaya bahwa si CEO dingin itu akan mengatakan sesuatu yang bijak pada Rasya.


Rasya mengangguk angguk.


Aku tidak menyangka Ray akan mengatakan seperti itu. Dia bijak juga ya. Fayra kagum dengan Ray yang ternyata tidak terbawa emosi dan bisa tenang di hadapan anaknya.


Pembicaraan mereka harus terpangkas karena mereka mendengar keributan di luar rumah. Terdengar suara Zayn dan beberapa pria di luar rumah itu.


"Lepaskan aku! kalian siapa? kenapa kalian melakukan ini?!" suara Zayn meninggi


"Maaf,saya tidak bisa mengizinkan anda masuk" ucap seorang pria


Di dalam kamar Rasya..


"Tante, itu kaya suara om Zayn?!" tanya Rasya lalu beranjak dari ranjangnya.


"Iya...ada apa ya? kok kaya ribut-ribut gitu?" tanya Fayra yang keheranan mendengar suara Zayn meninggi, padahal biasanya pria itu selalu lemah lembut

__ADS_1


Malam itu Fayra, Tisha dan Rasya pergi keluar rumah untuk melihat apa yang terjadi di luar. Mereka melihat Zayn sedang dihadang oleh tiga pria berpakaian hitam-hitam.


"Tisha! kak Fayra! Rasya!" seru Zayn memanggil ketiga orang yang berdiri kebingungan di belakang gerbang rumah.


Siapa orang-orang itu? Batin Tisha keheranan melihat pria-pria berpakaian hitam itu.


"Maaf.. anda tidak bisa masuk ke dalam rumah ini" ucap seorang pria berpakaian hitam itu sambil menghadang jalan Zayn.


"Kenapa aku tidak bisa?! ini adalah rumah kakak ku!" teriak Zayn emosi pada orang-orang itu.


Apa ini perbuatan kak Ray?. batin Tisha menebak bahwa ini adalah perbuatan Ray.


Fayra dan Rasya juga tampak kebingungan dengan apa yang sedang terjadi disana. Kemudian mereka melihat mobil Ray berhenti tak jauh dari pekarangan rumah itu. Ray membawakan sebuket bunga ditangannya, Gerry ada di belakang nya, ia juga membawa mainan yang banyak untuk Rasya.


"Papa?" sapa Rasya sambil tersenyum lebar pada papa nya


"Bocah imut, papa datang" Ray tersenyum lalu menghampiri anaknya, Gerry juga mengekori nya dari belakang.


Ray sempat melirik ke arah Zayn dengan sinis.


Hah! ternyata dia benar-benar datang kesini. Untunglah aku sudah jaga-jaga menyuruh orang menjaga rumah ini.


"Kak Ray, apa ini perbuatan kamu?" tuduh Tisha pada mantan suaminya, tak luput dari tatapan tajam nya pada Ray.


"Apa maksud kamu?" tanya Ray sambil menatap ke arah Tisha


"Kamu menyewa orang-orang ini untuk menahan Zayn?" tanya Tisha dengan senyum tipisnya, ia terlihat kesal pada Ray.


"Oh, jadi kamu yang melakukan nya?" Zayn menghampiri Ray dan menatapnya dengan wajah emosi.


"Wow.. wow.. ada apa dengan kalian? disini ada Rasya, tolong jaga sikap kalian" Ray tersenyum dengan mata mengancam ke arah Zayn dan Tisha.


Kalian bisa apa? disini ada Rasya. Ray tersenyum licik


Ada apa ini? kenapa mereka semua marah?. Rasya melihat dengan mata polosnya, bahwa kemarahan di mata Tisha dan Zayn pada Ray yang ia sendiri tidak tau apa sebabnya.


Suasana panas itu membuat gerah dan bingung orang-orang yang ada di sekeliling mereka.


...---***---...

__ADS_1


__ADS_2