
...πππ...
Zayn melihat Tisha dan Ray pergi dari sana, dia hanya tersenyum lembut melihat nya. Sementara Rasya, Dion, dan Gerry ada disana.
"Tuan muda, kita main di tempat lain dulu yuk" ajak Gerry pada Rasya, dia di perintahkan oleh Ray untuk menjaga Rasya.
"Tidak usah, biar Rasya ikut denganku saja" Zayn mengajak Rasya untuk pergi bersamanya
Bagus, Tisha dan Ray pasti akan bertengkar. Zayn berharap Tisha dan Ray akan bertengkar
"Maaf pak Zayn, tapi sudah tugas saya untuk menjaga tuan muda" Gerry menolak menyerahkan tanggungjawab menjaga Rasya pada Zayn.
"Tidak apa-apa pak sekretaris, aku mau sama om Zayn saja" kata Rasya sambil tersenyum polos.
"Kamu dengar sendiri kan? Rasya juga mau bersama ku" kata Zayn sambil menggandeng tangan Rasya. "Oh ya, Presdir mu sangat tidak profesional karena mencampurkan masalah pribadi dengan pekerjaan" kata Zayn dengan senyuman sinis nya
"Maaf, tapi Presdir saya bukan orang seperti itu. Hanya saja ada seseorang yang memancing emosinya, makanya pak Presdir tidak berfikir rasional. Mohon maaf pak Zayn, untuk menunggu" Gerry membela Ray yang di cap tidak profesional oleh Zayn. Di saat jam kerja, dia pergi bersama Tisha begitu saja dan meninggalkan Zayn.
Zayn membawa Rasya ke tempat lain yang ada di lorong khusus Presdir itu, bersama dengan Dion dan Gerry yang mengekori mereka dari belakang.
Sambil melihat Zayn dan Rasya yang sedang bermain bersama dari kejauhan. Kedua sekretaris itu sedikit mengobrol tentang bisa mereka.
Dan Dion lah yang memulai percakapan karena dia ingin bertanya tentang Ray dan Tisha pada Gerry. Dion penasaran dengan hubungan Tisha, Ray dan Zayn.
"Ehem, maaf kalau boleh saya tau.. apa hubungan pak presdir Raymond dengan Bu Latisha dan anak nya ya?" tanya Dion kepo
"Apakah bapak sekretaris baru? masa bapak tidak tau tentang pak Raymond" Gerry heran, karena di dalam dunia bisnis tidak ada yang tidak mengenal Ray. Perusahaan Ray masihlah berjaya dengan top 5 perusahaan fashion terbesar di dunia. Info tentang Ray juga meluas kemana-mana.
"Maaf, saya memang sekretaris baru dan baru bekerja 2 tahun" bisik Dion pada Gerry
"Pantas saja, saya kasih tau ya kalau hubungan pak Presdir dan bu Latisha tidak akan bisa terputus oleh apapun" kata Gerry sambil tersenyum
"Apa mereka pacaran? kalau mereka sudah pacaran, maka kasihan sekali pak Zayn" gumam Dion dengan wajah sedihnya
"Mereka bukan hanya pacaran, tapi mereka pernah menikah"
"A-apa? jadi mereka adalah pernah menjadi suami istri? wow!" Dion takjub karena Tisha ternyata adalah mantan istri dari Raymond Argantara, nama Presdir di dunia fashion yang terkenal.
"Lalu, tuan muda Rasya adalah anak mereka"
__ADS_1
"Jadi inilah yang bapak maksud kalau hubungan mereka tidak bisa putus oleh apapun?" tanya Dion pada Gerry
"Benar, hubungan mereka tidak mudah terputus"
"Tapi bukankah Bu Latisha dan pak Raymond sudah bercerai? pasti ada alasan kenapa mereka bisa bercerai kan?" tanya Dion penasaran
"Ehm..itu memang benar, tapi presdir saya masih mencintai Bu Latisha" jawab Gerry
"Lalu kenapa mereka bercerai?"tanya Dion
"Mungkin itu karena dulu mereka tidak saling cocok" jawab Gerry pelan, dia juga tidak dapat menjelaskan kenapa Tisha dan Ray bercerai. Jika jawabannya adalah karena Ray berselingkuh, Gerry juga tidak yakin kalau Ray berselingkuh. Mungkinkah itu karena sikap Ray yang dingin pada Tisha? begitulah pikir Gerry dalam hati.
Dion terlihat berfikir setelah mendengar kata-kata Gerry. Dion memikirkan masa depan Zayn jika bersama dengan Tisha nanti.
Tetap saja Dion menyayangkan jika Zayn yang sempurna bersama Tisha, wanita biasa janda satu anak. Apalagi ada anak diantara Ray dan Tisha yang tidak bisa memutuskan hubungan Ray Tisha dengan mudah.
*****
Di balkon yang tak jauh dari lorong gedung kantor Apparel desain itu, Tisha dan Ray berada disana. Ray masih berapi-api, dia terlihat sangat marah dengan keadaan ini. Dia membutuhkan penjelasan.
"Kamu apa-apaan sih kak? kenapa kamu menarik tanganku seperti ini?!" Tisha melepaskan diri nya dari tangan Ray yang menggenggam nya dengan erat.
"Tisha! apa kamu sengaja bekerja di perusahaan ini?!" tanya Ray sedikit menyentak, dia menuduh Tisha sengaja masuk ke perusahaan yang sama dengan perusahaan tempat Zayn bekerja.
"Aku tidak menuduh, ini faktanya! tidak mungkin kan kalau kamu kebetulan bertemu dengannya disini?" tanya Ray yang sudah terbakar api cemburu.
"Hah... kamu lagi mengarang cerita ya? kenapa juga aku sengaja bertemu dengannya dan bekerja di dalam perusahaan yang sama dengannya? jika aku tau Zayn ada disini, aku juga tidak akan masuk ke dalam perusahaan ini!"
"Mengapa kamu tidak mau bila ada si brengsek itu disini? apa mungkin terjadi sesuatu antara kamu dan dia?" tanya Ray
Apa jangan-jangan, dia sudah mengatakan perasaan nya pada Tisha?. Batin Ray resah
"Zayn, dia mengatakan perasaan nya padaku" jawab Tisha mengakui bahwa Zayn mengatakan cinta padanya.
"Apa?" Ray menohok mendengar pengakuan Tisha
"Dia bilang dia cinta sama aku" jawab Tisha mengaku
"Dia bilang dia cinta sama kamu?!" seru Ray sambil memegang kedua tangan Tisha dengan tangannya erat-erat. Kedua matanya menatap Tisha dengan tajam, ada perasaan resah dan ketakutan di dalam tatapan mata yang berwarna hitam itu.
__ADS_1
"I-iya.."jawab Tisha dengan suara gugup, dia takut melihat mata Ray menatap ke arahnya. Tatapan mata yang menunjukkan rasa posesif, mendominasi, mengekang, persis seperti tatapan mata Ray saat dulu.
Tisha merasa Dejavu, dia ingat dengan jelas bagaimana Ray ketika dia cemburu, ketika dia marah dan ketika dia mengekangnya. Pria licik itu dapat menggunakan segala cara untuk mengikat Tisha disisinya.
"Jauh jauh darinya! berhenti kerja dari sini!" ujar Ray meminta Tisha berhenti bekerja
Perlahan-lahan Tisha melepaskan pegangan tangan Ray, matanya mulai berkaca-kaca. Ternyata pria itu belum berubah, masih saja ada sikap posesif nya.
"Kenapa aku harus berhenti bekerja? kenapa aku harus menuruti kamu?!" tanya Tisha tak mengerti
"Karena aku tidak suka! makanya kamu harus menuruti ku!" teriak Ray emosi
"Kakak tidak berubah...aku pikir waktu akan mengubah sikap kamu, tapi ternyata aku salah. Kamu masih tetap sama! selalu emosi dan cemburuan" Tisha tertawa sinis, pria yang pernah menjadi suaminya ternyata sikapnya masih sama seperti dulu. Inilah salah satu alasan Tisha meninggalkan dirinya.
"Aku tidak cemburu, aku hanya tidak suka kamu dekat dekat dengan dia!" seru Ray menyangkal bahwa dia cemburu
"Kamu juga masih gengsi sama seperti dulu, sulit mengatakan kata-kata itu padaku" Tisha tersenyum sinis, dia menatap pria itu dengan mata yang berkaca-kaca. "Aku tidak mau menuruti semua kata-kata mu, kamu pasti lupa kan? kalau kita sudah tidak punya hubungan apa-apa selain dari hubungan orang tua Rasya"
"Apa??!" Ray terpana mendengar ucapan Tisha yang menganggap dirinya seolah dia adalah orang asing.
"Kamu tidak ada hak untuk melarangku dekat dengan siapapun!" seru Tisha tegas
Tidak! aku tidak mau di tahan oleh pria ini seperti 6 tahun yang lalu. Aku punya kehidupan sendiri. Tisha takut kalau dia akan di tahan seperti dulu oleh Ray.
"Latisha Anindita! apa aku harus mengucapkan nya berkali-kali sampai kamu paham? apa sikapku saja tidak cukup untuk meyakinkan kamu tentang perasaan ku?!" Ray melihat Tisha dengan tatapan yang
Aku pikir kita sudah cukup dekat..
"Tidak, sikap dan kata-kata mu belum cukup. Masih banyak yang harus kamu perbaiki, terutama sikap egois kamu!" Tisha melangkah pergi meninggalkan Ray yang sedang kesal disana.
Jika aku sudah melihat kamu benar-benar bisa berubah sepenuhnya, barulah aku akan menyambut mu lagi kak.
Ray mendengus kesal, dia marah dan kecewa karena Tisha tidak mau menuruti perintah nya.
"Sial kamu Zayn!!" Ray mendengus kesal
Aku tidak egois, aku melakukan ini semua karena aku sangat mencintai kamu. Kenapa kamu tidak mengerti juga Tisha??!
...---***---...
__ADS_1
Hai Readers, author ada rekomendasi novel bagus punya sahabat author π₯°π₯° karya kak kisss β€οΈβ€οΈπ₯°π₯³