
...πππ...
Berterimakasih pada Zayn? Apa maksud ucapan dingin Ray itu?. Tisha tidak mengerti sama sekali.
"Berterimakasih pada nya untuk apa?" tanya Tisha.
"Berterimakasih kepada nya karena dia sudah menjaga kamu dan Rasya selama ini. Dan aku juga harus memberinya hadiah" Ray bicara sambil tersenyum sinis.
"Kamu mau berterimakasih padanya, tapi kenapa wajahmu seperti orang yang akan membunuh?" tanya Tisha keheranan dengan raut wajah Ray.
"Lupakan saja, mari aku antar kamu ke kantor" ucap Ray ingin segera menyelesaikan pembicaraan mereka soal Zayn.
Awas saja kamu Zayn, aku akan memberikan hadiah yang bagus untukmu. batin Ray kesal karena nama Zayn terdengar oleh kupingnya.
"Tidak perlu, kakak langsung berangkat saja ke bandara, nanti kakak terlambat. Aku bisa pergi sendiri naik taksi atau angkutan umum yang lewat" Tisha menolak ajakan Ray.
"Aku tidak akan terlambat, penerbanganku take off jam sembilan. Masih banyak waktu, aku antar dulu kamu ke tempat kerja" Ray tersenyum dan membukakan pintu mobil untuk Tisha.
Tisha tersenyum lembut, dia tidak menolak lagi dan memutuskan untuk membuka sedikit hatinya. Wanita itu masuk ke dalam mobil bersama Ray, kemudian Ray mengantar nya ke kantor.
Beberapa menit kemudian, Ray dan Tisha sampai di depan kantor Apparel desain. Tisha hendak keluar dari mobilnya, namun dia kesulitan melepas sabuk pengaman nya.
"Ada apa?" tanya Ray keheranan melihat Tisha yang cemberut, seat belt masih terpasang di tubuhnya.
"Kenapa seat belt nya susah dibuka?" Tisha sedang berusaha untuk melepas sabuk pengaman yang ada di tubuhnya.
"Sini, aku bantu" ucap Ray sambil membantu Tisha melepas seat belt nya. "Tumben sekali seat belt nya susah dibuka? Ada apa ya? Apa seat belt nya tidak mau kamu pergi meninggalkan mobil ini?" goda Ray pada Tisha. Ray juga merasa kesulitan untuk melepaskan seat belt itu.
"Jangan bercanda! Cepat bantu aku lepaskan!" seru Tisha buru-buru, dia takut terlambat di hari pertama dia bekerja.
"Sabar, aku juga kesulitan untuk melepasnya" Ray masih mencoba untuk melepaskan seat belt itu. Wajah dan tubuh mereka tanpa sengaja jadi berdekatan, Tisha memandang wajah pria tampan di dekatnya itu.
Ada rasa ingin menyentuh dan membelai nya, tapi logika tidak memperbolehkan nya. Tisha sadar bahwa hubungan mereka belum ke tahap seperti itu, tahap yang serius dan masih ada yang mengganjal di hatinya.
Ray menyadari bahwa ada sepasang mata yang menatapnya. Kedua pasang mata itu pun bertemu dan saling bertatapan. Seat belt itu sudah terbuka, namun dengan sengaja Ray mengikat kembali seat belt itu.
Ray menelan saliva nya, dia tergoda melihat wanita yang pernah menjadi istrinya itu. Akhirnya tangan Ray memeluk Tisha, bibirnya mencium pipi Tisha dengan lembut.
Ya Tuhan, aku masih berdebar. Tisha membatin, hatinya sungguh berdebar kencang ketika Ray memeluk dan menciumnya.
CUP
"Ka-kamu.. apa yang kamu lakukan?!" tanya Tisha sambil memegang pipinya yang memanas setelah mendapat kecupan dari Ray.
"Aku akan merindukan kamu Tisha. Tolong, angkat telpon ku kalau aku menelpon mu, tolong balas pesanku kalau aku mengirimkan pesan untukmu, please.." pinta Ray dengan wajah lembutnya, dia memohon pada Tisha sebelum dia pergi untuk tidak menutup komunikasi dengannya.
Pria yang dulu pernah mengabaikan dirinya, kini sudah berubah dan bersikap lembut. Tak hanya itu, sekarang Ray sangat berhati-hati dalam bersikap di hadapan Tisha dan Rasya. Setiap sikap dan kata-kata nya, mencerminkan kepribadian nya yang dewasa. Tidak seperti dulu yang apatis dan acuh tak acuh terhadap Tisha selama mereka menikah 2 tahun lamanya.
Lalu apa salahnya untuk Tisha membuka sedikit pintu hatinya?
"Iya, aku akan mengangkatnya kalau aku tidak sibuk"
"Sesibuk apapun, kamu harus angkat telpon ku. Aku bukan hanya menelpon mu saja, tapi aku menelpon Rasya juga" Ray menjadikan Rasya sebagai alasan agar Tisha mengangkat telpon darinya.
"Itu alasan yang bagus untuk menelpon ku" Tisha tersenyum lembut.
"Kamu jangan kepedean ya, siapa juga yang beralasan?" sangkal Ray terhadap ucapan Tisha.
__ADS_1
"Baiklah, aku berangkat kerja dulu. Kamu berhati-hati disana.. jangan lupa makan, istirahat, teh nya juga harus di minum dan dihabiskan," kata Tisha mulai perhatian pada pria itu.
Senangnya hati Ray mendapatkan perhatian dari mantan istrinya, dia merasa kalau jalan nya untuk kembali dengan Tisha semakin dekat. Hanya saja masalahnya tinggal pada kebenaran masa lalu.
"Tenang saja, aku tidak akan membantah istriku" Ray tersenyum sambil mengedipkan matanya.
"Kamu genit sekali! Aku pergi dulu ya" Tisha tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, tak habis pikir dia dengan sikap Ray.
"Iyah, hati-hati ya" Ray tersenyum dan melambaikan tangannya pada Tisha. Tisha keluar dari mobil itu dan masuk ke dalam gedung kantornya.
Setelah Tisha masuk ke dalam gedung kantor, Ray langsung pergi dari sana dan menuju ke bandara untuk segera berangkat ke Belanda. Namun Ray harus menunggu seseorang yang belum datang.
"Maaf pak! Maaf saya terlambat!" Gerry berjalan tergopoh-gopoh menghampiri Ray sambil mendorong koper. Padahal masih pagi tapi tubuh sekretaris Raymond Argantara itu sudah berkeringat.
"Apa apaan ini? Kamu sudah bosan kerja padaku ya?!" Ray menatap kesal ke arah Gerry yang akhir-akhir ini terlihat menyebalkan baginya.
"Maafkan saya pak, saya terlambat bangun. Tidak ada lain kali pak, saya mohon maaf" Gerry mengatupkan kedua tangannya seraya memohon maaf pada Ray.
"Suruh siapa kamu bangun terlambat hah?!"tanya Ray setengah membentak.
Karena siapa? Suruh siapa aku terlambat? Jika bukan karena bapak meninggalkan saya ditengah jalan tadi malam, saya tidak akan kesulitan mencari kendaraan! Saya tidak akan kelelahan dan terlambat tidur! Huh!. Gerry memaki Ray di dalam hatinya, karena hanya disana dia berani mengumpat.
"Gerry! Kamu dengar aku tidak sih?!" Ray membentak lagi Gerry yang terdiam.
"I-iya pak! Saya disini Pak!" kata Gerry terburu-buru.
"Setelah perjalanan ini seperti nya kamu harus cari pekerjaan baru" ucap Ray sambil memakai kacamata hitam nya.
Deg!
Gerry tersentak kaget mendengar ucapan Ray, dia langsung memohon agar Ray tidak memecatnya.
"Oke kalau kamu gak mau dipecat, bagaimana kalau ke Afrika saja?" tanya Ray sambil menatap tajam sekretaris nya itu.
"A-Apa??" Gerry ternganga, dia hampir menangis.
"Haha.. aku hanya bercanda, mana mungkin aku memecat mu. Sekalipun kamu bodoh, tapi kamu bisa diandalkan" Ray tiba-tiba saja tertawa, dia menikmati melihat wajah Gerry yang panik, takut, dan sedih.
"Bapak menggoda saya ya?!" Gerry cemberut, dia menyeka air matanya. Tadinya dia sudah gemetar ketakutan, dan sekarang dia terlihat sebal pada Ray yang katanya hanya bercanda.
"Bersyukurlah karena suasana hati ku sedang baik, kalau tidak.. kamu mungkin sudah ku deportasi jauh ke kutub Utara" Ray tersenyum, dia teringat saat mencium dan memeluk Tisha. Ray juga teringat saat dia memeluk dan mencium Rasya. "Ah.. aku jadi ingin cepat-cepat menikah, aku ingin berkeluarga"
Gerry merasa lega karena dia tidak jadi di pecat, dalam hatinya tak henti dia mengucap syukur.
Selamat, aku selamat! Terimakasih Bu Tisha, tuan muda Rasya.
Tadinya Ray trauma ketika ada hal yang menyangkut keluarga, tapi karena ada Tisha dan Rasya sudah mengubah pikiran nya. Mungkinkah traumanya juga sudah sembuh karena ada mereka berdua.
Kemudian Ray dan Gerry naik ke dalam pesawat dan berangkat menuju ke Belanda.
****
Di rumah besar keluarga Argantara, pak Faisal sedang berada di ruang kerjanya. Diam-diam Daniah dan Dean memperhatikan gerak-gerak pak Faisal. Apalagi pria tua itu baru saja bertemu dengan pak Prapto.
Dean dan Daniah semakin yakin bahwa ini ada hubungannya dengan surat wasiat. Mereka semakin gencar ingin masuk ke dalam ruang kerja pak Faisal untuk mencari tau.
"Ini pasti surat wasiat kan?"tanya Dean sambil melihat kearah papanya yang baru saja keluar dari ruang kerja. Pria tua itu terlihat mengunci rapat pintu ruang kerjanya, seakan-akan tidak boleh ada seorangpun yang masuk ke dalam sana.
__ADS_1
"Sudah pasti sayang, tapi bagaimana cara kita mengambilnya? Masuk ke ruangan nya saja susah" gerutu Daniah bingung
"Kapan tidak ada orang di rumah?" tanya Dean dengan mata tajam mengarah pada Pak Faisal yang sedang berjalan menuju ke ruang keluarga.
"Ah ya! Siang ini sampai sore, Bi Ani tidak ada di rumah. Katanya dia disuruh Ray menjaga anak nya, lalu bi Iyam.. dia ada di rumah sih" jawab Daniah.
"Untuk mengetahui apa yang ada di dalam ruangan itu, kita harus memastikan waktu yang tepat saat tidak ada orang di rumah" Dean memicingkan mata, dia seperti mempunyai rencana jahat di dalam kepalanya.
"Besok! Seperti nya besok kedua pembantu di rumah itu tidak akan ada di rumah, ya aku yakin. Hanya ada pak Ujang saja yang menjaga di depan rumah" Daniah tersenyum, dia sangat yakin kalau besok kedua pembantunya itu tidak akan ada di rumah.
"Oke jadi besok ya, kita harus masuk ke dalam sana" Dean menatap ruangan kantor papanya dengan mata yang memburu.
Daniah mengangguk patuh mendengar ucapan suaminya. Pasangan suami istri itu seperti nya merencanakan sesuatu untuk pak Faisal.
Di saat sedang bersantai dan tidak punya pekerjaan, pak Faisal menelpon Tisha. Dengan cepat Tisha mengangkat nya, walau dia sedang bekerja.
"Assalamu'alaikum kakek" jawab Tisha sambil sedang mengetik sesuatu di komputer nya.
"Waalaikumsalam, Tisha maaf kakek ganggu kamu" ucap Pak Faisal, "Uhuk uhuk"
"Ada apa kek? Apa kakek sakit?" tanya Tisha yang cemas mendengar suara batuk pak Faisal.
"Enggak apa-apa, kakek cuma mau bilang.. sore ini bisa gak kamu sama Rasya ke rumah?"
"Iya kek, habis pulang kerja aku kesana ya sama Rasya. Tapi, apa kakek baik-baik aja?" tanya Tisha masih merasa cemas, apalagi mendengar suara parau pak Faisal.
"Kakek cuma batuk biasa saja. Oh ya, nanti sore kakek tunggu ya" jawab Pak Faisal dengan senyuman di wajah keriputnya itu.
"Iya kakek, nanti Tisha ke rumah ya sama Rasya"jawab Tisha sambil tersenyum
Apa kakek baik-baik aja ya? batin Tisha khawatir.
Telpon itu pun terputus, pak Faisal dengan wajah pucat, dia duduk di sofa memikirkan Ray, Tisha dan Rasya.
"Aku harus cepat-cepat memberitahu Tisha dan Rasya, sebelum semuanya terlambat"
***
Sore itu, sepulang kerja..
Tisha, Bi Ani dan Rasya langsung pergi ke rumah besar keluarga Argantara. Rasya memegang sekeresek makanan di tangannya yang diperuntukkan untuk Pak Faisal.
"Kakek buyut pasti suka ma, soalnya kakek buyut pernah bilang kalau kakek buyut suka sama keripik pisang" Rasya pernah mendengar kakek buyut nya mengatakan bahwa dia suka keripik pisang.
"Iya sayang, kamu benar.. kakek buyut memang suka keripik pisang" Tisha tersenyum sambil menggandeng tangan anaknya.
Cekret..
Pintu rumah itu terbuka lebar, "Assalamualaikum"
Tisha, Rasya dan Bi Ani terkejut melihat pak Faisal sudah berada di bawah lantai tepat di depan anak tangga, dengan tubuhnya yang bersimbah darah.
Deg!
"Astagfirullah hal adzim!!" teriak Tisha dan Bi Ani terkejut. Mata mereka membulat tercengang.
"Kakek buyut!!" teriak Rasya panik, anak itu menjatuhkan keresek yang dia bawa dan menghampiri sang kakek.
__ADS_1
...---***---...