Tahanan Cinta CEO

Tahanan Cinta CEO
Bab 191. Firasat


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Setelah panggilan telpon itu terputus, Ray dan Sam terdiam sejenak. Mereka merasa lega karena Tisha dan Fayra dalam keadaan baik-baik saja.


"Sam, apa kamu benar-benar menikahi Fayra?" tanya Ray serius.


"Tentu saja, dia mengandung anakku. Mana mungkin aku tidak menikahinya dan membiarkan dia sendirian mengasuh anak tanpa seorang ayah? Kamu pikir aku pria tidak bertanggungjawab?"


"Kamu memang tidak bertanggungjawab, bukankah kamu sudah menodai dia dan membuatnya menderita? Sam, jangan memaksakan kehendak mu padanya. Kulihat dia sudah tidak mencintai mu, biarkan dia mengambil pilihannya sendiri. Jika aku jadi dia, aku juga akan sangat membenci mu."


"Begitu kah? Walaupun dia membenciku aku juga tidak peduli, yang penting aku bertanggungjawab padanya."


"Haahhhhhh, kamu benar-benar lucu Sam,"


"Lalu jika kamu jadi aku, apa kamu akan membiarkan wanita lain yang hamil anakmu pergi begitu saja? Apa kamu tidak akan bertanggungjawab?"


"Jangan samakan aku dengan mu Sam. Jika aku menghamili wanita lain selain Tisha, ya meskipun itu tidak akan terjadi sih. Aku akan memberikan uang banyak kepada wanita itu lalu aku akan meminta wanita itu menggugurkan kandungan nya dan pergi dari hidupku selamanya," Ray tersenyum serius.


"Apa kamu bercanda? Itu kejam sekali!" Sam tidak percaya bahwa Ray akan melakukan hal itu.


"Lebih baik kejam terhadap sesuatu yang akan mengancam kebahagiaan rumah tangga, daripada membuat seorang istri terluka." Ray menatap tajam ke arah Sam. Dia berusaha menyadarkan Sam dari menyakiti Grace, istri nya. "Pikirkan berapa banyak hati yang akan kamu lukai kalau kamu menikahi Fayra. Istrimu, anakmu, bahkan Fayra juga akan terluka. Jika aku jadi kamu, aku akan membiarkan Fayra memilih jalannya sendiri. Intinya jangan memaksakan kehendak mu kepadanya Sam,"


Sam terlihat berfikir, kemudian dia pulang kembali ke rumahnya. Sam masih memikirkan perkataan sahabat nya itu.


"Sam, kamu sudah pulang?" tanya Grace sambil menyambut suaminya dengan senyuman.


Ray juga pulang ke rumahnya, dia melihat putranya sedang tidur siang di kamar. Ray mengelus kepala anaknya, berharap kemarahan istrinya akan segera mereda dan cepat pulang.


"Bi Ani, tolong jaga Rasya ya. Saya mau kembali ke kantor," titah Ray pada asisten rumah tangga di rumahnya itu.


"Baik tuan, tapi apa tuan baik-baik saja?" tanya Bi Ani yang cemas melihat raut wajah Ray yang tidak baik.


"Saya tidak apa-apa, kalau ada sesuatu bibi tolong hubungi saya saja ya," Ray memegang kepalanya.


Banyak dokumen yang menumpuk karena aku tidak bekerja kemarin, banyak rapat tertunda karena aku sibuk mencari Tisha. Hari ini aku harus menyelesaikan semuanya.


"Baiklah tuan!" jawab Bi Ani patuh, wanita itu mengerutkan keningnya dan melihat Ray dengan cemas.


Ray kembali ke kantornya dalam keadaan badan tidak sehat untuk menyelesaikan pekerjaan nya yang menumpuk. Gerry juga selalu ada disisinya untuk menemani Ray membantu pekerjaan nya. Selesai dari ruang rapat, Ray jalan sempoyongan dan tubuhnya hampir oleng.


"Pak Ray, apa bapak tidak apa-apa?" tanya Stefani sambil memegang tangan Ray untuk menopang tubuh kekar pria itu.

__ADS_1


"Lepaskan saya!" seru Ray ketus.


Ray menepis tangan Stefani yang memegangi tangannya. Dia pun berpegangan pada Gerry, kepalanya tidak kuat menahan sakit kepalanya lagi.


"Gerry, kamu sudah membeli obat nya?" tanya Ray dengan wajah pucatnya.


"Sudah pak!" Gerry membantu Ray untuk berjalan.


"Bawa ku masuk ke dalam ruangan ku " Ray meminta Gerry membawa nya ke dalam ruangan.


"Apa sebaiknya kita ke rumah sakit saja pak? Badan bapak sangat panas?" Gerry merasakan suhu tubuh Ray yang panas dan wajahnya yang pucat, Gerry mencemaskan keadaan Ray.


"Tidak apa-apa, aku hanya perlu tidur saja." Ray menolak untuk pergi ke rumah sakit.


Stefani dan sektretaris nya yang berada disana, diabaikan oleh Ray. Stefani menggigit bibir bawah nya dengan gemas, dia heran kenapa Ray tidak tertarik dengan nya yang cantik. Sekretaris nya menjawab agar Stefani menyerah saja pada Ray, karena masih banyak pria lain yang masih lajang dan lebih tampan dari Ray. Tapi Stefani tidak mau, dia malah merasa tertantang kalau pria yang dia taksir itu adalah suami orang.


Ray dan Gerry berada di ruang istirahat pribadi ruang presdir. Badan Ray sangat panas, suhu tubuhnya hampir 40 derajat. Gerry khawatir dan membujuk Ray untuk pergi ke rumah sakit, namun Ray menolak. Karena dia masih banyak pekerjaan di kantor nya.


Setelah meminum obat, Ray tertidur selama dua jam. Dan dia memulai kembali pekerjaan yang menumpuk itu. Kepala, dan matanya sudah tidak kuat lagi berada di depan layar komputer atau sekedar memeriksa dokumen menumpuk di meja kerjanya. Malam itu tepat pukul 8 lebih 25 menit, Ray meninggalkan perusahaan nya.


"Pak, apa bapak yakin tidak butuh saya untuk menyetir mobil?" tanya Gerry menawarkan bantuan untuk menyetir mobil.


"Tidak perlu, aku sudah lebih baik. Hanya kurang tidur saja, kamu pulanglah! Istri dan anakmu pasti sudah menunggu,"


"Tentu saja!" Ray tersenyum, dia yakin dirinya akan baik-baik saja. Walaupun khawatir, Gerry akhirnya patuh pada perintah Ray untuk pulang sendirian tanpa mengantar Ray lebih dulu.


Ray menyetir mobil sendiri, wajahnya masih terlihat pucat, pikirannya masih berfokus pada Tisha dan anaknya. Sedang apa Tisha dan anaknya? Biasanya ketika Ray pulang ke rumah, bayi mereka selalu bergerak-gerak di dalam perut Tisha, seakan merasakan kehadiran ayahnya. Ray sangat merindukan istrinya, dia melihat foto keluarga nya terpajang di depan mobil.


"Kapan kamu pulang Sha? Aku rindu padamu dan baby kita." Ray melihat foto itu dengan sedih. Tak sengaja foto itu jatuh ke bawah mobil, Ray yang sedang menyetir menundukkan badannya untuk mengambil foto itu.


Ketika foto itu berhasil diambil, Ray tidak sadar bahwa mobilnya hilang kendali. Sebuah sinar terang yang entah dari mana, menyoroti Ray dan mobilnya.


"Astagfirullahaladzim!!" Pekik Ray sambil membanting stir nya.


***


🍀Apartemen mawar🍀


Tisha juga merasakan hal yang sama dengan suaminya, dia kepikiran suaminya dan Rasya di rumah. Hatinya bertanya-tanya, apa yang sedang mereka lakukan tanpa dirinya? Biasanya jam segini, Tisha sedang bercanda dengan Ray dan Rasya. Tangan Ray selalu mengelus perutnya dengan lembut, mengajaknya bicara, dan bayi mereka selalu menendang setiap di sentuh oleh Ray.


"Tisha, kamu kenapa?" tanya Fayra sambil menghampiri Tisha yang sedang menonton tv dengan wajah galau.

__ADS_1


"Gak apa-apa kak," jawab Tisha lemas.


Duk


Duk!


"Aduh duh!" Tisha memegang perutnya.


"Eh kenapa sha?"


"Gak apa-apa kak, anakku menendang-nendang di dalam sini!" Tisha merasakan tendangan anaknya yang kuat tidak seperti biasanya. "Aduh duh..sayang kamu kenapa sih?" Tisha bertanya-tanya pada anaknya, karena tidak biasanya perut itu menendang dengan kencang.


Duk! Duk!


"Apa anak kamu sedang merindukan ayahnya?" tanya Fayra menebak-nebak.


"I-itu," Tisha mendadak linglung dan gugup entah kenapa.


Kenapa mendadak hatiku tidak enak? Apa ini firasat? Tisha memegang perutnya. Anaknya masih menendang-nendang tidak berhenti.


Dreet..


Dreet..


🎶🎶🎶


Tisha mengangkat telponnya begitu ponsel nya berdering. "Halo, maaf ini siapa ya?"


("Maaf, apa ini dengan istri bapak Raymond Argantara?" tanya seorang pria)


"Benar saya istrinya, ini siapa ya?" tanya Tisha memasang wajah tegang penuh pertanyaan.


Entah apa yang dibicarakan oleh pria itu, Tisha langsung menjatuhkan ponselnya di lantai. matanya membulat terkejut, "APA?!"


Teriakan Tisha membuat Fayra yang sedang duduk santai itu menjadi cemas! Ada apa dengan Tisha sehingga dia tercengang begitu?


Bersambung dulu ya..


...---***---...


Hai Readers! Mohon bantuannya ya untuk karya baru author 🤧🤧🥰 Author lagi ikut lomba mengubah takdir 😍🥰Bantu favorit, komen, like, gift atau vote nya.

__ADS_1



__ADS_2