
...πππ...
Akal sehat Tisha mulai kembali, pikiran yang sebelumnya berkabut kini kembali normal. Ketika Tisha menghentikan tangan Ray untuk melakukan hal yang lebih jauh lagi. Otot-otot dada milik Ray terlihat menawan dan indah di mata Tisha, namun dia mengerjapkan matanya agar bisa sadar.
"Ada apa?" tanya Ray pada Tisha yang menahan tangannya untuk bertindak.
Wanita itu menggelengkan kepalanya, memberi isyarat agar Ray berhenti melakukan aktivitas itu padanya.
"Apa? apa kamu mau disentuh di tempat yang lain?" tanya Ray sambil menciumi tengkuk leher Tisha dengan lembut.
"Bu-bukan itu.. umm.."
CUP
MUACH
Aku memang ingin bersama dengan kak Ray, aku masih mencintainya. Tapi apa yang kita lakukan ini tidaklah benar. Tisha mendorong Ray sekuat tenaga nya, namun pria itu masih mencium mi tubuh Tisha, dan mengunci tubuhnya.
"Le-lepaskan!! haahh...."Tisha memukul-mukul tubuh kekar Ray yang menindihnya. Alangkah terkejutnya dirinya saat Ray mulai melorotkan celana piyama yang dipakainya.
Akhirnya akal sehat Tisha mulai bergerak, dia Ray untuk menyadarkan mantan suaminya itu bahwa tindakan mereka ini salah.
PLAK
"Tisha!!" Ray tertampar juga hatinya saat Tisha melayangkan tamparan di pipinya. Dengan tubuh telanjang dada, dia menatap Tisha.
"Menyingkir!! menyingkir dari tubuhku!" seru Tisha sambil kembali mengancingkan kancing bajunya.
Ray beranjak dari tubuh Tisha, beruntunglah Tisha menamparnya. Dia menjadi sadar atas tindakan nya yang salah. "A-aku.. aku minta maaf" ucapnya menyesal.
Apa aku binatang? apa yang sudah aku lakukan? cinta tidak seperti ini? cinta tidak menggunakan n*fsu, tapi hari. Mengapa aku menodai cinta ini dengan melakukan nya?
__ADS_1
Ray melihat bekas ciuman di leher, pipi, dada milik Tisha dan itu adalah ulahnya. Tisha merasa malu, dia ingin menangis dan marah pada Ray. Namun, akal sehatnya juga mengatakan bahwa ini bukan sepenuhnya salah Ray karena dia juga ikut menikmati nya dan terbawa emosi. Tubuhnya menginginkan hal itu sama seperti apa yang dirasakan oleh Ray.
Pahitnya mereka masih saling mencintai namun bukan suami istri lagi. Setelah sadar dengan apa yang baru mereka lakukan, Tisha beranjak dari ranjang itu dan merapikan kembali baju juga rambutnya yang acak-acakan. Dia malu, malu sekali dengan pikiran kotor dan tindakan haram yang baru saja di lakukan nya.
"Tisha aku minta maaf.. aku sungguh.." Ray merasa bersalah.Dia memakai bajunya kembali dengan rapi.
"Jangan minta maaf, jangan bicara apa-apa lagi! aku tidak mau dengar" ucap Tisha yang malu dengan dirinya sendiri yang hampir kehilangan akal sehatnya barusan.
Latisha Anindita, bagaimana bisa kamu menikmati semua itu? kamu hampir saja berbuat dosa! kamu sudah tidak waras, kalian buan suami istri lagi. Pekiknya dalam hati
Tisha menyesali dirinya sendiri yang sempat kehilangan akal sehat. JIka dirinya melakukan hubungan itu tanpa ikatan pernikahan, maka pihak wanita lah yang akan lebih dirugikan. Akan seperti apa pandangan orang-orang nantinya bila Tisha dan Ray benar-benar bercumbu barusan. Tisha bersyukur karena telah sadar, walau dia merasa malu.
DEG!
Sungguh hati Ray sangat tidak nyaman dengan ucapan Tisha padanya. Belum lagi tamparan yang dia dapatkan dari Tisha, membuat dia semakin yakin bahwa Tisha marah padanya. Tisha keluar dari kamar itu dan kembali ke kamar sebelahnya. Dia melihat anaknya masih tertidur pulas di ranjangnya. Dengan tubuh yang masih lemas karena kejadian barusan, Tisha berjalan menuju ke arah kamar mandinya. Dia menyalakan shower air dingin, membiarkan tubuhnya di sirami oleh air itu.
Ya Allah.. apa yang sudah aku lakukan? apakah kedatanganku kesini adalah sebuah kesalahan? Apa seharusnya aku tidak dekat dengannya?. Pikirnya dalam hati.
Hal yang sama juga di lakukan oleh Ray. Dia membuka bajunya, kemudian mengguyur tubuhnya dengan ar dingin untuk mendinginkan tubuhnya yang panas dan menundukkan kembali bagian bawahnya yang mengeras. Meski sudah mengguyur badannya dari ujung kepala sampai ujung kaki, tubuhnya masih saja panas. Mengalahkan dinginnya malam dan dinginnya air yang mengguyur badannya.
"Sial !! kau Raymond! pria macam apa kamu ini?misi mu saja belum selesai dan kau malah menodai cintamu? apa anggapan nya padamu nanti? melihat dari wajahnya saja sudah jelas kalau dia marah. Dan mungkin saja dia tidak mau bicara denganmu. Ini semua karena tubuh si*lan ini! haah... tubuh binatang penuh n*fsu yang tak bisa dikendalikan. Sabarlah sebentar lagi Ray, sabar.." gerutu nya menyesali hal yang dia lakukan pada mantan istrinya itu.
JIka bukan karena Tisha yang menamparnya mungkin saja dia akan terus melanjutkan aksinya sampai akhir alias kebablasan. Dan kalau itu terjadi mungkin Tisha akan membencinya, begitulah pikir panjang nya.
Setelah hampir satu jam lamanya berada di kamar mandi, akhirnya Ray keluar dari sana. Merasakan tubuhnya sudah tidak sepanas tadi, dia berganti pakaian. Tak terasa jam sudah muai menunjukkan pukul 12 malam. Ray bermaksud untuk tidur karena esok harinya jadwal kerja nya akan semakin padat di penuhi oleh rapat yang menanti. Tapi dia sama sekali tidak bisa tidur dan masih terbayang wajah Tisha juga kejadian yang belum lama terjadi.
πΆπΆπΆ
Dreet..
Dreet..
__ADS_1
Gerry calling...
"Tumben dia menelpon ku jam segini, awas saja kalau ini tidak penting. Aku akan membunuhmu Gerry!" ancam nya sebelum mengangkat dari sekretarisnya itu.
Tit!
"Halo pak, maafkan saya menelpon bapak malam-malam begini, tapi..." Gerry bicara dengan suara rusuh dan terburu-buru.
"Kamu tau kan kalau ini tidak penting, aku akan melakukan apa?"
"Saya tau pak, saya tau kalau saya akan mati, jika berita ini tidak penting. Tapi ini penting, sangat penting dan mungkin bapak akan senang mendengar nya" Gerry bicara dengan suara yang senang. Seperti nya Gerry membawakan kabar bagus untuk Ray.
"Katakan!" seru nya pada Gerry
"Pak, supir yang mengendarai truk itu sudah ditemukan. Malah dia menyerahkan diri nya pada orang-orang kita pak"
"Benarkah?? sungguh berita yang sangat bagus" Ray tersenyum lebar begitu mendengar berita itu dari Gerry, karena mungkin dengan berita ini bisa membawa Tisha dan Rasya kembali padanya. Maka tidak ada kesempatan bagi Zayn untuk menyusup diantara mereka berdua. "Dimana orang itu?" tanya Ray lagi
"Dia aman pak, berada di kantor polisi dan orang-orang kita juga masih menjaganya dengan ketat" jelas Gerry
"Walaupun dia menyerahkan dirinya, tapi bukan berarti kita lengah. Tetap awasi setiap gerak-gerik nya, aku akan menemuinya besok" titah Ray pada Gerry
"Baik pak, saya sudah memerintahkan orang-orang kita untuk berjaga disana" jawab Gerry
"Gerry, meski kamu membangunkan ku tengah malam tapi kamu dapat bonus karena sudah membawa kabar baik untukku" kata Ray yang tidak pernah sayang dengan uangnya, baginya harta itu untuk di habiskan karena dia tidak pernah hidup sudah. Berbanding terbalik dengan filosofi Tisha, yaitu Hemat dan mubazir.
"Yes!! Alhamdulillah, bapak memang yang terbaik" Gerry tersenyum bahagia mendapatkan bonus dari bos nya yang sedang bahagia itu
Ray langsung menutup telponnya, dia merebahkan tubuhnya di ranjang sambil senyum senyum sendiri. Tak sabar menunggu hari esok tiba.
Sementara Zevanya, dia tampak resah di dalam mobilnya. Dia berada di dekat kantor polisi, dia sudah tau bahwa orang suruhan nya sudah dibawa ke kantor polisi.
__ADS_1
...---***---...