Tahanan Cinta CEO

Tahanan Cinta CEO
Bab 80. Kamu masih hidup?


__ADS_3

πŸ€πŸ€πŸ€


Hati Tisha bergetar mendengar Ray sedang berbicara dengan pak Faisal. Orang yang sudah dia anggap seperti kakeknya sendiri.


Ada rasa rindu, sedih di dalam hatinya. Dan rasa yang paling besar adalah fakta bahwa dia ingin bertemu dengan Pak Faisal, orang yang sering dia panggil kakek.


Loh? kenapa mama terlihat terkejut? ada apa ya?. Rasya menatap Tisha dengan kedua mata polosnya yang bingung.


"Halo kek.."


"Ray, kamu dimana? kamu sudah pulang dari perjalanan bisnis mu? siapa anak yang ada di foto itu? kenapa dia begitu mirip denganmu?!" sang kakek segera memburu Ray dengan banyak pertanyaan.


"Tanya nya satu satu dong, kek" jawab Ray singkat


"Kamu mau buat kakek jantungan karena penasaran ya? cepat katakan siapa anak itu?!' tanya pak Faisal yang sangat penasaran dengan sosok Rasya.


"Aku akan bawakan kejutan untuk kakek, tapi jika mereka mau ikut denganku" jawab Ray sambil menatap ke arah Tisha dan Rasya.


"Ray, kamu jangan buat kakek jantungan. Cepat kasih tau, kamu mau kasih kejutan apa? lalu siapa yang kamu maksud dengan kata mereka?" tanya Pak Faisal semakin penasaran


"Kalau aku kasih tau sekarang, namanya bukan kejutan dong. Aku akan telpon kakek lagi nanti, aku akan bicara dengan kejutan itu dulu" jelas Ray pada kakeknya yang langsung menutup telponnya secara sepihak, sebelum sang kakek menyelesaikan kata-kata nya.


Pak Faisal kesal karena cucunya langsung menutup telpon begitu saja. Padahal di hati dan pikiran nya banyak pertanyaan yang menggebu-gebu tentang siapa anak itu? kejutan apa yang dimaksud Ray dan siapakah yang Ray sebut sebagai mereka?


Daniah juga sama penasaran nya dengan pak Faisal, wanita paruh baya itu yakin bahwa anak itu adalah anak Ray dalam sekali lihat saja. Mereka seperti foto copy, seperti pinang dibelah dua. Untuk memastikan hal itu, bahkan Daniah melihat foto masa kecil Ray yang ada di rumah itu. Bersama-sama Daniah dan Pak Faisal melihat foto itu untuk memastikan perasaan mereka.


"Pah, tuh papa lihat kan? anak ini mirip dengan Ray waktu kecil" Daniah mengarah pandangan nya pada foto masa kecil Ray dan membandingkan foto Ray dengan anak kecil itu.


"Kamu benar Daniah, anak ini pasti keturunan keluarga Argantara" ucap Pak Faisal sambil mengangguk yakin, setelah melihat kedua foto itu disandingkan.


****


Ray, Rasya dan Tisha sudah selesai sarapan pagi. Mereka berdua, Rasya dan Tisha berencana untuk pergi ke hotel. "Kamu yakin mau pergi ke hotel?" tanya Ray lagi


"Lalu aku mau kemana lagi? pulang bersama mu ke rumah?" tanya Tisha sedikit tidak senang mendengar pertanyaan Ray.


"Tisha, apa kamu tidak ingin bertemu dengan kakek?" tanya Ray dengan wajah yang penuh harapan, menatap Tisha dan Ray.


Tisha terdiam mendengar nya, termenung memikirkan pak Faisal. Matanya berkaca-kaca mengingat pria tua yang sudah seperti kakeknya sendiri. Sayang tulus pada Tisha layak nya seorang kakek pada cucunya. Namun, apa yang akan dikatakan nya saat berhadapan dengan pria tua itu? bukankah semua orang mengiranya sudah mati?


Apa yang terjadi pada pak Faisal dan yang lainnya saat dia datang menemui orang-orang dari masa lalu nya, bersama Rasya. Apakah mereka akan bahagia? atau apakah mereka tidak akan senang? Lalu bagaimana dengan Zefanya? apa yang akan dia lakukan jika dia melihat Tisha masih hidup bersama dengan darah daging Ray? apa perempuan yang dicurigai Tisha dan Zayn sebagai dalang kecelakaan yang menimpanya enam tahun lalu itu akan diam saja?


"Kakek? papa.. apa maksudnya kakek??" tanya Rasya sembari menarik baju Ray dengan tangan kecilnya. Matanya menatap penuh pertanyaan pada Ray.


"Kamu masih punya kakek, kakek buyut" jawab Ray jujur, sambil tersenyum lembut melihat ke arah Rasya.


"Kakek buyut? benarkah pa? aku punya kakek juga?" tanya Rasya dengan senyum ceria di wajahnya, mata polosnya mengatakan bahwa dia bahagia. Selama ini Rasya hanya tau sosok ibu, Tante dan om nya saja, dia tidak pernah mengira bahwa di hidupnya akan ada kehadiran papa, lalu ditambah kakeknya?


Teman-teman ku semuanya punya kakek, ternyata aku juga punya kakek yang masih hidup. Aku punya papa dan kakek!


"Tisha.. kamu tidak akan menemui kakek?" tanya Ray lagi pada Tisha yang melamun dengan mata sedihnya.


"Aku tidak bisa bertemu dengan kakek, aku belum siap" ucap Tisha yang bingung.


"Tisha..." lirih Ray sambil memegang tangan Tisha


"Lepas kak!" Tisha menepis tangan Ray, dia memalingkan wajahnya dari pria itu.


Lagi-lagi Tisha bersikap dingin pada Ray. Entah berapa kali Tisha bersikap seperti itu. Namun, Ray tetap sabar dan tidak emosi. Meski hatinya kesal dan sedih dengan perlakuan Tisha padanya. Dia ingat kalau dulu dirinya pernah melakukan hal yang lebih buruk dari sikap Tisha padanya saat ini. Dan hal itu tidak sebanding dengan apa yang pernah Tisha rasakan selama 2 tahun.


"Mama.. ayo pergi ketemu kakek! papa bilang aku punya kakek!" ditengah perang dingin antara kedua orang tuanya, Rasya yang polos dengan semangat mengajak Tisha untuk menemui pak Faisal. Kakek buyut yang tak pernah dia temui selama hidupnya.


"Rasya! udah cukup ya! mama selalu nurutin kemauan kamu! kamu jangan selalu buat mamah kesal dong!" Tisha malah marah-marah pada anaknya itu, dia tak mau menemui pak Faisal. Suara bentakan Tisha itu membuat mata bocah berusia 5 tahun itu berkaca-kaca, air matanya menggenang di bawah mata.

__ADS_1


"Mama...." Rasya menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca, bibirnya cemberut.


Ini pertama kali nya mama semarah ini.


"Tisha kamu apa-apaan sih?! kenapa kamu marahi dia?!" Ray balik membentak Tisha, dia marah pada Tisha yang sudah memarahi Rasya hingga Rasya menangis. Ray memegang tangan Rasya seraya menenangkan anak nya itu. "Tenang ya sayang, ada papa disini"


"Ma-maaf aku gak bermaksud untuk..."


"Cukup! kamu sudah keterlaluan Tisha, kalau kamu marah, ya marah saja padaku kenapa kamu marah pada anak kita. Aku akan membawa Rasya pada kakek buyutnya, karena dia berhak untuk tau keluarga papa nya. Bukankah kita sudah sepakat kalau kamu tidak akan melarang Rasya bertemu dengan keluarga nya?" Ray mengendong Rasya, matanya menatap tajam ke arah Tisha dengan kesal.


Benar, aku sudah berjanji... tapi aku takut dengan keselamatan Rasya, jika mereka bertemu. Tisha terlihat cemas, dia memegangi kepalanya.


"Aku.. aku takut kalau Rasya kenapa-napa"


"Memangnya kakek ku akan mencelakai Rasya?" tanya balik Ray para Tisha


"Wanita itu, yang tergila-gila dengan mu. Jika dia tau aku masih hidup dan Rasya.." Wajah Tisha penuh kekalutan


"Jangan diteruskan Tisha! aku mengerti apa maksud kamu, aku juga mencurigai nya. Aku ada disini untuk kamu dan Rasya, aku bisa melindungi kalian. Kamu tidak sendirian lagi, papa nya Rasya dan pria yang mencintai Tisha ada disini" Ray memegang tangan Tisha dan menenangkan wanita itu. Dia tersenyum pada Tisha.


Berbekal kepercayaan dari Ray, Tisha setuju menyingkirkan rasa cemasnya itu. Dia memberanikan diri untuk bertemu dengan bagian dari masa lalu nya dan menghadapinya karena ada Ray yang akan melindungi Rasya.


Tisha, Rasya dan Ray dalam perjalanan ke rumah keluarga Argantara. Dengan hati yang berdebar-debar, Tisha memberanikan dirinya memasang nyali, untuk bertemu dengan pak Faisal.


Ray menyetir mobilnya, Tisha dan Rasya juga duduk di samping kursi kemudi. Rasya duduk di pangkuan Tisha.


"Maafin mama ya sayang, tadi mama marah-marah sama kamu" Tisha mengusap air mata yang tersisa di pipi putra nya, dia merasa bersalah karena sudah membuat anaknya menangis.


"Iya gak papa ma" jawab Rasya dengan senyuman polosnya


"Kalau mama kamu marahin kamu lagi, papa yang akan marahin mama kamu. Papa akan menghukum nya juga" ucap Ray, dengan tangan yang sibuk memegang setir kemudi.


"Jangan dimarahin pah! walaupun mama galak, tapi mama sayang sama aku. Aku yakin tadi mamah marah itu pasti ada alasan nya. Mama tidak pernah marah sampai membentak seperti itu" jelas Rasya yang membela mama nya di depan Ray.


Tisha tersenyum senang dengan pembelaan Rasya padanya, "Mama juga sayang banget sama kamu walaupun kamu suka bikin kesel mama" Tisha mencium pipi putranya dengan gemas


"Ih...mama! jangan cium cium dong, aku kan udah gede ma. Malu di lihat papa!" Rasya cemberut lagi, dia tidak suka dengan ciuman penuh kasih sayang dari mamanya. Anak itu malah terlihat malu.


"Haha.. kenapa kamu malu di lihat sama papa? kamu kan masih anak anak, tidak apa-apa kalau dicium begitu"


"Aku ini cowok! cowok sama cewek yang tidak akan menikah tidak boleh berciuman" Rasya berkacak pinggang, seolah sedang menasehati papa dan mamanya.


"Oh gitu ya? lalu papa tadi mencium mama, kenapa kamu bolehin?" tanya Ray sambil menggoda anaknya.


"Ya boleh lah, papa sama Mama kan akan menikah kembali," ucap Rasya dengan senyuman percaya dirinya


Wajah Tisha ngeblush, pipinya seperti memakai pemerah pipi. Tisha terlihat malu mendengar ucapan seperti itu dari anaknya. Dia tidak berkomentar dan hanya tersenyum pahit.


"Itu akan terjadi nak" jawab Ray tidak tahu malu


"Jangan sembarangan bicara di depan anak kecil!" seru Tisha kesal pada Ray


"Aku tidak bicara sembarangan, ini fakta. Cepat atau lambat kita akan kembali bersama" Ray tersenyum pada Tisha


"Haih... baiklah, aku memang tidak bisa menang dari kamu. Terserah kalian saja mau bilang apa, asal kalian bahagia" Tisha tidak berkomentar lagi terhadap papa dan anak itu itu.


Rasya dan Ray saling melirik dan melemparkan senyuman satu sama lain. Kedua orang itu kompak untuk membuat Tisha mengalah dari mereka. Seperti nya ini yang namanya ikatan batin antara ayah dan anak.


Papa akan mendapatkan kembali mama mu nak, dengan begitu papa bisa mendapatkan mu juga dan kita akan bersama.


Kalau papa dan mama bisa kembali, aku bisa menjadi keluarga yang bahagia. batin Rasya yang selalu berharap agar papa dan mama nya kembali bersatu.


Beberapa menit kemudian, mobil yang dikendarai oleh Ray, Tisha dan Rasya pun sampai di depan gerbang utama rumah keluarga Argantara. Dimana di rumah itu tinggal Pak Faisal, Bu Daniah, pak Dean dan kedua anak laki-laki nya.

__ADS_1


Tisha dan Rasya keluar dari mobil itu bersamaan, dengan menggandeng tangan kecil Rasya. Perlahan-lahan Tisha melangkah ke arah gerbang rumah itu. Tiba-tiba langkah nya terhenti begitu dia sampai di depan gerbang rumah keluarga Argantara.


Wanita yang pernah menikah dengan Ray dan mempunyai anak dari Ray itu, menatap rumah keluarga Argantara. Rumah yang tidak pernah di kunjungi selama 6 tahun. Tidak banyak kenangan di rumah itu, kecuali tentang sang kakek yaitu pak Faisal yang membekas di hati dan pikiran nya. Tisha rindu, Tisha juga takut untuk menginjakkan kaki nya di rumah besar berlantaikan dua itu.


Sementara Rasya melihat-lihat rumah itu dengan tatapan kagum. Betapa megah dan mewah nya rumah itu meski hanya memiliki dua lantai saja.


Sampai Ray datang menghampiri Tisha, menepuk pundak nya. Tisha tercekat kembali pada dunia nyata, bahwa dia sekarang berada di depan rumah itu.


"Latisha..."


"Mama! ayo masuk ma!" ajak Rasya semangat


Aku tak sabar bertemu kakek buyut.


"Ya?" jawab Tisha seraya melihat ke arah Ray


"Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja" Ray tersenyum menenangkan Tisha.


Itu benar, semuanya akan baik-baik saja. Aku harus melihat keadaan kakek..aku rindu kakek.. Dengan satu tangannya Tisha memegang dadanya.


Ray, Tisha menggandeng tangan Rasya. Bersamaan mereka masuk ke dalam rumah itu. Ray memencet bel rumah itu.


Ting.. tong.. Ting tong..


🎢🎢🎢


Tak lama setelah bel rumah itu berbunyi..


CEKRET


Seorang pembantu rumah tangga membuka pintu rumah itu, dia adalah bi Ani. Orang yang sebelumnya bekerja di rumah Ray, kini pindah ke rumah kakeknya.


"Astagfirullah hal adzim!! se-se..." Kedua mata Bi Ani, si pembantu rumah tangga itu membulat melihat sosok nyonya nya yang sudah tiada enam tahun yang lalu.


"Assalamualaikum, apa kabar Bi Ani?" tanya Tisha pada Bi Ani dengan mata yang berkaca-kaca.


"Waalaikumsalam, non Tisha.." Kedua tangan Bi Ani menutup bibirnya, dia masih tidak menyangka bahwa Tisha yang hidup berada di hadapan nya.


"Iya Bi, ini saya" jawab Tisha sambil tersenyum pahit.


Bi Ani menangis, wanita paruh baya itu refleks lalu memeluk Tisha. Dia mengekpresikan rasa syukur nya kepada Allah SWT dengan mengucapkan Alhamdulillah, dia bersyukur bahwa Tisha masih hidup dan dalam keadaan baik-baik saja. Bi Ani bahkan dibuat terkejut dengan seorang anak yang dibawa oleh Tisha dan Ray.


Tak lama setelah pertemuan haru nya dengan bi Ani, pak Faisal dan Bu Daniah keluar untuk melihat tamu yang membuat Bi Ani lama membuka pintu.


"Bi, kebiasaan deh kalau buka pintu suka lama! siapa sih?!" tanya Bu Daniah sedikit kesal pada Bi Ani.


Daniah datang menghampiri tamu itu sambil mendorong kursi roda yang sedang diduduki oleh pak Faisal. Mereka berdua terperangah melihat siapa wanita yang berada di ambang pintu rumah itu.


Hati mereka bagai tersambar petir melihat Tisha, yang dikatakan sudah mati itu masih hidup berdiri di depan mereka. Bersama seorang anak kecil yang mirip dengan Ray.


"Ka-kamu masih hidup? Ti-tisha" Pak Faisal terbata-bata melihat Tisha, air matanya mulai mengalir tanpa dia sadari.


"Ya ampun.. Latisha? kamu masih hidup? dan anak itu??" Daniah sendiri tidak percaya dengan apa yang dilihat nya itu.


"Ini kejutan untuk kakek" ucap Ray pada kakeknya


"Ya Allah.. apa ini benar-benar? anak itu.. anak itu siapa.." Pak Faisal hampir kehabisan kata-kata melihat Tisha dan anak yang sedang digandeng nya itu. Pria tua itu benar-benar terkejut dengan apa yang dia lihat.


Tisha menahan air matanya, dia membungkukkan setengah badannya dan menatap ke arah Rasya dengan lembut.


"Rasya, beri salam pada kakek buyut mu" titah Tisha pada anak nya yang imut dan menggemaskan itu.


Dengan kaki kecilnya, Rasya menghampiri pak Faisal. Dia tersenyum, mengambil tangan kakeknya dan menciumnya. "Assalamualaikum kakek buyut, aku Rasya" ucapnya sopan

__ADS_1


"Ya Allah..!!!" Pak Faisal menangis menatap ke arah anak kecil itu.


...---****---...


__ADS_2