
...πππ...
Berbekal sisa uang 5 juta di tangannya yang ia peroleh dari hasil menggadaikan rumah peninggalan nenek nya dari pihak ayah nya. Tisha meninggalkan rumah Ray.
Tisha mulai mencari-cari kontrakan yang jauh dari tempat tinggalnya bersama Ray. Selain memikirkan kontrakan yang belum juga ketemu, Tisha juga memikirkan bagaimana caranya agar ia bisa menjelaskan perceraian pada pak Faisal agar tidak menyudutkan Ray.
Bahkan sampai akhir dan sesakit hati apapun hatinya, Tisha tetap memikirkan bagaimana keadaan Ray bila ada berpisah darinya itu. Bayang-bayang video Zee dan Ray yang bercinta, masih terekam di memory nya. Sesekali Tisha memegang dadanya yang terasa sesak, sakit sekali hatinya bila kepikiran dengan video itu.
Tisha pun menemukan sebuah kontrakan yang kecil, letaknya di lantai dua. Sebuah kamar yang sederhana yang hanya bisa ditinggali oleh 2 orang. Tisha mulai membereskan barang-barang nya, wajahnya pucat dan kantung matanya hitam.
"Kenapa cinta harus sepahit ini? kenapa kamu menyakitiku seperti ini Raymond?!!" Tisha mengeluarkan air matanya yang sejak tadi dipendamnya saat melihat Ray berduaan dan satu ranjang dengan wanita lain.
Kenapa ketika aku mencintaimu sepenuh hati? kamu selalu melukai ku? dan kini kamu menghancurkan ku Ray.. batin nya menjerit kesakitan
#FLASHBACK
Beberapa jam sebelumnya..
Tepat pada pukul 2.30, Tisha memutuskan untuk menelpon Gerry. Menanyakan dimana dan bagaimana keadaan suaminya, karena di hubungi berpuluh-puluh kali pun Ray tidak menjawabnya.
Dengan cepat Gerry datang ke rumah Ray, di hari yang dingin dengan pakaian seadanya. Hanya dibalut jaket hangat.
"Assalamualaikum nyonya" ucap Gerry yang sudah berdiri di depan pintu rumah Ray. Ia melihat Tisha yang terlihat cemas dan bingung
"Waalaikum salam, pak sekretaris maafkan saya.. saya terpaksa memanggil bapak, dini hari seperti ini dan menganggu tidur bapak " kata Tisha merasa tak enak pada Gerry
"Saya mengerti nyonya, nyonya melakukan ini karena khawatir dan cemas pada pak Presdir. Tidak apa nyonya, tidak perlu merasa tidak enak pada saya" jelas Gerry sambil tersenyum ramah
"Sekali lagi maafkan saya pak sekretaris, saya tidak tau harus menghubungi siapa lagi. Tapi, walaupun kak Ray selalu pulang terlambat. Ia tak pernah sampai tidak pulang ke rumah kecuali ke rumah besar. Nah, saya sudah telpon orang yang ada di rumah besar, mereka bilang kak Ray tidak ada disana" jelas Tisha resah dan gelisah hatinya memikirkan suaminya.
Tadi dia pergi dalam keadaan marah, bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya? bagaimana kalau dia ngebut dan kecelakaan di jalan? Tidak! tidak mungkin! mari berfikir positif Tisha, positif!. Tisha menampar hatinya sendiri dari perasaan negatif yang ada di dalam hatinya itu.
Gerry bisa melihat keresahan, juga kekhawatiran di wajah Tisha pada suaminya. Gerry pun mengusulkan untuk mencari Ray ke tempat-tempat yang sering dikunjungi Ray saat malam hari. Yaitu tempat nya berkumpul dengan teman-teman nya.
"Biar saya antar nyonya ke tempat yang mungkin di kunjungi pak Presdir" ajak Gerry
Tisha menyadari memang pergi dengan pria lain selain suaminya pada dini hari itu memang tidak baik. Tapi keadaan tidak memberinya pilihan, keselamatan Ray lebih penting dibandingkan dengan apapun.
"Terimakasih pak Gerry" Tisha naik ke dalam mobil Gerry bersama dengan Gerry
Pada dini hari yang dingin nya sampai menusuk tulang itu. Tisha dan Gerry mencari Ray ke tempat tempat yang mungkin Ray datangi. Tak terasa waktu pun berlalu dan hari sudah mulai pagi. Sudah empat tempat yang mereka datangi, tapi tidak ada jejak Ray disana.
Merasa tak enak dengan Gerry yang harus menemaninya di hari libur, Tisha memutuskan untuk mencari Ray sendirian saja. Akan tetapi, Gerry juga tidak tega melihat Tisha yang lelah dan hampir semalaman tidak tidur karena mencari suaminya.
"Pak Gerry pulang saja, saya tidak apa-apa kok kalau harus mencari kak Ray sendirian, istri dan anak pak Gerry pasti mencemaskan pak Gerry" Gadis itu merasa tidak nyaman karena Gerry membantunya mencari
"Tidak nyonya, saya akan menemani nyonya sampai mememukan pak Presdir. Nyonya tenang saja, saya sudah menghubungi istri saya. Mereka tidak keberatan kok" jelas pak Gerry ramah
Kasihan sekali Bu Tisha, lihatlah kantung matanya yang tebal itu. Dia pasti tidak tidur semalaman untuk mencari pak Presdir. Sebenarnya pak presdir ada dimana? kasihan istrimu pak. Gerry ikut merasa sedih melihat Tisha yang sedari tadi cemberut, mengerutkan keningnya dengan cemas.
"Makasih pak Gerry bantuannya" jawab Tisha yang hatinya masih gelisah
Tisha dan Gerry mencari sampai ke rumah sakit bahkan kantor polisi, takut terjadi sesuatu pada Ray yang tidak mereka ketahui. Tapi, tidak ada satupun informasi tentang Ray yang ditemukan disana. Tisha dan Gerry merasa lega karena mungkin saja Ray menginap di salah satu rumah temannya dan baik-baik saja.
"Nyonya, saya baru ingat kalau rumah pak Samuel yang belum kita datangi. Siapa tau dia tau keberadaan pak Presdir?!" Gerry tersenyum mengingat Sam
"Iya pak sekretaris benar juga, ayo kita kesana! pak Gerry tau kan dimana rumahnya?" tanya Tisha yang mulai tersenyum
"Iya saya tau, saya pernah mengantar pak Presdir kesana sekali" jawab Gerry
Anda beruntung sekali pak Presdir, punya istri yang cantik dan Sholehah seperti Bu Tisha. Perempuan seperti Bu Tisha sangat langka. Gerry merasa Presdir nya sangat beruntung, dengan tempramen nya yang buruk dan dingin, Ray bisa menikah dengan Tisha yang hangat, ceria seperti cahaya matahari.
Semoga saja kak Ray ada disana dan baik-baik saja. Aku tidak tenang karena dia pergi dalam keadaan marah semalam, setelah memastikan bahwa ia baik-baik saja hatiku ini akan tenang. batin nya yang berharap suaminya baik-baik saja
__ADS_1
Gerry mengantar Tisha ke rumah Sam yang jaraknya lumayan jauh dari rumah Ray. Beberapa menit kemudian mereka sampai di depan sebuah rumah mewah, bercat putih. Tisha segera memencet bel, walaupun ia ragu dan takut dimarahi karena menganggu orang pagi-pagi buta seperti ini.
Ting tong! Ting tong!
πΆπΆ
"Aduh, siapa sih yang datang pagi-pagi begini??!" gerutu Sam sambil membuka pintu rumahnya dengan kesal
KLAK
"Assalamualaikum.. maaf menganggu" ucap Tisha merasa tidak enak pada Sam.
"Wa-waalaikumsalam.." jawab Sam agak bengong
Sam terkejut melihat istri sahabatnya itu sudah ada di depannya. Tak lama kemudian seorang wanita keluar menghampiri Sam ke dekat pintu.
Istri si Ray ngapain kesini? sama si Gerry juga?
"Sayang, ada siapa?" tanya wanita itu sambil memegang tangan Sam. Lalu wanita itu menatap Tisha dengan sinis
"Maaf saya menganggu pagi-pagi begini" Tisha merasa semakin tidak enak dengan tatapan sinis dari wanita yang ada di sebelah Sam, mungkin wanita itu salah paham dengannya.
"Sayang, ini istri nya Ray," ucap Sam pada istrinya
"Oh ya? terus ngapain dia kemari pagi-pagi buta begini?" tanya wanita itu tidak menyambut kehadiran Tisha dengan mata cemburunya ia menatap Tisha.
"Bu, tolong jangan salah paham. Kami kemari untuk menanyakan pada pak Sam keberadaan pak Ray" jelas Gerry, membantu Tisha untuk berbicara
Melihat Tisha yang terlihat lelah dengan tubuh gemetaran. Istri Sam merasa kasihan padanya, ia pun mempersilahkan Tisha dan Gerry untuk masuk terlebih dahulu. Namun, Tisha menolak karena ia harus segera mencari suaminya.
"Terimakasih atas tawarannya Bu, tapi saya tidak bisa berlama-lama. Saya harus mencari kak Ray" jawab Tisha sambil memegangi tubuhnya yang sudah mulai kedinginan, tanpa jaket ditubuhnya.
"Masuk dulu, sebentar saja yuk. Saya merasa tidak enak tadi sudah bersikap tidak sopan sama kamu, masuk aja bentar ya, anggap saja ini permintaan maaf saya," bujuk istri Sam sambil memegang tangan Tisha yang kedinginan.
Kasihan banget dia, si Ray ini gimana sih? istri yang baik dan secantik ini dibiarkan menderita. Dia bodoh banget. batin istri Sam merasa kesal pada Ray yang sudah membiarkan Tisha kesulitan mencarinya. Ia menatap Tisha dengan iba.
Tisha dan Gerry masuk ke dalam rumah yang hanya di huni oleh 3 orang itu. Sam memperkenalkan istri nya yang bernama Grace, mereka sudah menikah selama 5 tahun dan juga sudah memiliki seorang putri yang bernama Milena.
"Duduk dulu disini ya sebentar, saya siapkan dulu minuman hangat. Kamu suka teh? pak Gerry, kopi?" tanya Grace ramah dan hangat pada Gerry dan Tisha
"I-iya Bu, makasih saya teh saja. Dan pak Gerry suka nya kopi pahit" jawab Tisha
Tadinya Tisha ingin menolak kebaikan Grace, tapi ia merasa tidak enak pada Gerry yang sudah menemaninya dan belum istirahat atau minum apapun.
"Tunggu sebentar ya"
Grace melangkahkan kaki menuju ke dapur rumahnya untuk menyajikan teh dan kopi untuk Tisha dan Gerry.
Sambil menunggu Grace menyajikan minuman, Tisha langsung bertanya pada Sam apakah pria itu mengetahui keberadaan suaminya. Sam menjelaskan bahwa ia memang pergi minum minum di cafe bersama Ray dan salah satu temannya bersama Andrews. Tapi Sam pulanh duluan karena istrinya, Grace sudah menelponnya.
"Jadi saat pak Sam pulang, kak Ray sedang bersama temannya yang bernama pak Andrew?" tanya Tisha
"Iya, tapi dia juga bersama dengan..."
Sam ragu-ragu untuk meneruskan kata-katanya, kalau Ray juga disana bersama Zee. Sam takut kalau kata-kata nya bisa menimbulkan masalah untuk hubungan Ray dan Tisha.
Si Zee gak akan berbuat macam-macam sama si Ray kan? gak mungkin dia gak mungkin macam-macam. Mereka gak mungkin bersama, pasti si Ray sama si Andrew. batin Sam merasa cemas kalau Ray bersama dengan Zee
"Kak Ray bersama siapa kak? tolong bilang aja, soalnya saya cemas" Tisha membujuk Sam agar mengatakan yang sebenarnya
"Selain bersama Andrew, dia juga bersama Zefanya disana" jawab Sam akhirnya jujur
DEG!
__ADS_1
Mata Tisha membulat, memperlihatkan kalau ia terkejut dan cemas. Tisha yang sempat kaget, kembali menjaga ketenangan nya di luar. Namun, gerak tubuhnya memperlihatkan kalau dia tidak tenang. Tisha memainkan jari nya, itulah yang biasa ia lakukan jika ia sedang cemas dan resah. Gerry juga tampak khawatir melihat Tisha yang tiba-tiba diam.
"A-apa pak Sam bisa membantu saya untuk menghubungi pak Andrew?" tanya Tisha berusaha menenangkan hatinya
"Iya, aku akan menelponnya sekarang. Kamu tunggu sebentar" ucap Sam sambil beranjak dari tempat duduknya itu dan melangkah pergi ke kamarnya untuk mengambil ponselnya yang sedang di charger
Suara adzan subuh mulai terdengar syahdu berkumandang menggema sampai ke rumah Sam.
Allahuakbar Allahuakbar...
Sudah adzan subuh, apa kak Ray baik-baik saja? apa dia bersama Zefanya atau pak Andrew?
Grace datang membawa nampan berisi 2 gelas air minum, yang satunya teh dan satunya adalah kopi pahit.
"Ini, silahkan diminum dulu" ucap Grace ramah
"Maaf Bu Grace, boleh tidak saya ikut shalat disini?" tanya Tisha hati-hati
"Bo-boleh kok" jawab Grace
Ya ampun Ray kamu bodoh, istri sebaik ini kamu sia-sia kan?
Batin Grace sedih melihat Tisha yang ia dengar dari Sam, kalau ia selalu diperlakukan dingin oleh Ray. Grace juga adalah teman Ray sama halnya seperti Sam, suaminya. Ia tau secara garis besar bagaimana sikap Ray yang dingin pada wanita dan orang-orang di sekitarnya, kecuali pada Zee saat mereka masih berpacaran.
Tisha mulai mengambil air wudhu, walaupun dalam keadaan gelisah. Tisha tak pernah sekalipun melupakan kewajiban nya pada Tuhan Nya untuk selalu berdoa dan beribadah. Tisha selalu shalat tepat waktu, walau tak selalu tepat waktu karena berbagai alasan.
Grace, Sam, dan Gerry melihat ke arah Tisha yang sedang shalat di salah satu ruangan di rumah itu. Grace, Sam dan Gerry juga mengikuti Tisha untuk shalat. Mereka malu melihat Tisha yang dalam keadaan resah saja, tidak melupakan kewajiban nya pada Allah SWT. Tapi, mereka selalu lupa pada kewajiban nya.
Setelah menuntaskan kewajiban nya dan diakhiri dengan doa. Tisha sudah mendapatkan jawaban dari Sam tentang keberadaan suaminya.
"Maaf Tisha, Andrew bilang kalau Zee membawa Ray pergi. Seperti nya Zee membawa Ray ke apartemen nya" jelas Sam yang sudah menghubungi Andrew
Hati Tisha kembali berdebar untuk kesekian kalinya. Tisha berusaha menenangkan dirinya dan mencoba berfikir positif.
"Pak Sam, bisa beritahu saya dimana alamat apartemen Bu Zefanya?" tanya Tisha sambil menggigit bagian bawah bibirnya
Kenapa kamu bersamanya? apa yang kalian lakukan semalaman?. Batin Tisha sudah mau menangis, pikiran yang tadinya positif kini mulai beralih ke pikiran negatif.
"Iya aku kasih ya, tunggu" ucap Sam sambil mencari cari kertas kecil dan bolpoin di laci meja nya.
"Tisha, kamu gak apa-apa kan?" tanya Grace sambil memegang kedua bahu Tisha, Grace bisa merasakan tubuh gadis itu gemetar. Grace pun berinisiatif meminjamkan Tisha jaketnya.
"Saya gak apa-apa kok, Bu Grace" jawab Tisha sambil memaksakan senyumannya pada Grace.
Ray, kamu bodoh! jika kamu benar-benar kehilangan nya setelah hari ini. Jika kamu benar-benar memilih tumpukan sampah dan kehilangan berlian. Kamu pria yang bodoh! Grace ikut memaki Ray di dalam hatinya, saat mendengar kalau Ray semalaman bersama Zee di apartemen nya.
"Kamu boleh panggil aku kakak, gak papa kok" Grace tersenyum ramah seraya menenangkan Tisha yang wajahnya mulai suram
"Iya kakak" jawab Tisha sedih
Sam memberikan alamat apartemen Zee pada Tisha. Tisha dan Gerry berpamitan, mereka bergegas pergi ke apartemen Zee. Grace dan Sam meminta agar Gerry menjaga Tisha selama dalam perjalanan. Sebelum Tisha berangkat, Grace meminta Tisha agar menyimpan nomornya, jaga-jaga kalau Tisha membutuhkan bantuannya.
***
Butuh waktu cukup lama untuk Tisha dan Gerry sampai ke apartemen Zee. Karena memang apartemen itu jaraknya cukup jauh, dari Jakarta Utara ke Selatan.
Sampailah mereka di depan apartemen Zee. Dengan hati yang berdebar, Tisha memencet bel apartemen mewah itu.
π΅π΅
Ting tong! Ting tong!
CEKRET
__ADS_1
Tisha dan Zee berhadapan di depan pintu. Keadaan dan penampilan Zee saat itu membuat Tisha dan Gerry tercengang.
...---****---...