Tahanan Cinta CEO

Tahanan Cinta CEO
Bab 196. Pulang ke rumah


__ADS_3

Setelah merayakan hari ulang tahun nya, Tisha meminta Ray untuk melakukan pemeriksaan. Karena Tisha melihat salah satu kaki Ray pincang, sulit berjalan.


Dokter memeriksa kondisi Ray secara menyeluruh, Ray tidak lumpuh seperti apa yang diperkirakan oleh dokter. Bangunnya kembali pria itu dari koma sudah menjadi keajaiban terbesar dari Allah. "Semuanya dalam keadaan baik dan tidak ada masalah yang serius, hanya saja pak Raymond harus menjalani terapi seminggu 2 kali untuk memulihkan tulang kalinya yang retak," jelas sang dokter pria sambil tersenyum.


"Alhamdulillah terimakasih dok," ucap Tisha dengan napas lega.


"Ehm, oh ya Bu Tisha, saya minta maaf karena sudah membohongi Bu Tisha," dokter itu meminta maaf karena sebelumnya dia sudah berbohong pada Tisha tentang kematian Ray.


"Walau anda hampir membuat saya terkena serangan jantung, saya memaafkan anda karena suami saya baik-baik saja. Dan terimakasih dokter, karena sudah merawat suami saya," Tisha tersenyum dan berterimakasih pada dokter itu.


"Sekali lagi saya minta maaf ya," ucap dokter itu sambil tersenyum ramah, menyesali perbuatannya.


Dokter itu pergi meninggalkan ruang rawat Ray. Kini hanya Tisha dan Ray yang berada di dalam ruangan itu. Dengan manja, Ray meminta Tisha untuk mengusap-usap rambutnya.


"Bagaimana? Apa ini enak?" tanya Tisha sambil mengusap kepala suaminya dengan lembut.


"Iya sayang, sudah lama aku tidak merasakannya. Sayang, kamu pulang saja ke rumah dan beristirahat ya. Jangan menginap disini,"


"Eh? Kenapa?" tanya Tisha heran karena suaminya meminta dia pulang.


"Kamu kan selalu menginap disini hampir setiap hari karena aku sedang sakit. Jadi, sekarang beristirahatlah di rumah ya," Ray menggenggam tangan istrinya dengan lembut.


"Tidak apa-apa, ini kan sudah kewajiban ku untuk merawat kamu sebagai istri,"


"Sayang, selain seorang istri kamu juga seorang ibu. Kasihan Rasya di rumah kalau gak ada kamu, aku kan sudah baik-baik saja!" Ray menenangkan istrinya, meminta Tisha untuk pulang beristirahat.


"Lalu kamu? Apa kamu akan sendiri disini?" tanya Tisha cemas.


"Tidak apa, aku akan panggil orang-orang ku untuk datang kemari. Kamu pulanglah bersama Joni, aku akan telpon dia, nurut ya sayang.. katanya kamu mau patuh pada suami?" tanya Ray sambil membelai rambut panjang milik sang istri.

__ADS_1


Tisha mengangguk setuju dengan titah suaminya. Namun, saat dia akan pulang bersama Joni. Ray kedatangan tamu tidak diundang, tamu itu adalah Stefani. Stefani terkejut karena senang, Ray sudah sadar dari koma nya. Tisha merasa tidak nyaman dengan kehadiran wanita yang membuatnya sempat bertengkar hebat dengan sang suami.


"Bukankah tidak sopan ya, malam-malam datang kemari untuk menjenguk suami orang?" tanya Tisha dengan suara sinis dan wajah kurang bersahabat.


"Maafkan saya Bu Tisha, saya kemari dengan maksud baik. Kebetulan pak Raymond juga sudah sadar, jadi saya akan mengatakan nya sekalian," Stefani melihat ke arah Ray dan Tisha dengan wajah sedih.


"Seperti nya tidak ada lagi yang perlu dibicarakan Bu Stefani," ucap Ray tegas.


Stefani tiba-tiba menundukkan kepalanya di depan pasangan suami-istri itu, dia meminta maaf karena sudah membuat Tisha dan Ray berada dalam keadaan bertengkar hebat. Stefani menunjukkan penyesalan nya, dia bahkan mengatakan pamit untuk pergi keluar negeri untuk selamanya dan dia tidak akan menganggu lagi hubungan Tisha dan Ray.


"Saya minta maaf karena saya sempat menjadi duri dalam pernikahan kalian. Semoga kalian bahagia ya," Stefani tersenyum, dia menyadari kesalahannya. Dan sebenarnya Derrick sempat menyadarkan dia.


"Kami memaafkan kamu dan semoga kamu juga bahagia Bu Stefani," kata Tisha tulus mendoakan kebahagiaan Stefani.


"Iya, terimakasih!"


Stefani tersenyum lebar, dia tidak mau menjadi pengganggu lagi dalam hubungan rumah tangga orang lain. Dia pergi ke luar negeri untuk melanjutkan bisnis nya disana.


"Haahh.. aku rindu udara rumah," Ray bernapas lega, melihat suasana rumahnya masih sama. Tangannya masih memakai tongkat untuk membantu berjalan.


"Aku malah rindu kamu," ucap Tisha sambil menggandeng tangan suaminya dan tersenyum.


Rasya menyambut papa nya yang baru keluar dari rumah sakit dengan membunyikan terompet dan memberikan papanya balon berbentuk love. Selain Rasya ada juga Bi Ani, Fayra, Derrick, Dean, Daniah yang menyambut kepulangan nya.


Ray terkejut karena Dean dan Daniah juga ada disana. Mereka yang sudah lama tidak terlihat batang hidungnya, kini muncul menyambut Ray dengan hangat layaknya seperti keluarga.


"Semoga sehat selalu Ray," ucap Dean kepada keponakannya itu.


"Selamat datang kembali ke rumah," Daniah tersenyum hangat. Senyum yang belum pernah dia tujukan pada Ray sebelumnya.

__ADS_1


"Tante? Om? Kalian ada disini juga?" tanya Ray keheranan dan tidak percaya kalau om dan tante nya akan datang menemui dia.


"Iya, kami dengar kamu sudah siuman. Syukur Ray," ucap Dean sambil tersenyum lega, terlihat ada ketulusan dimatanya.


Tisha menceritakan secara singkat kalau selama Ray koma, Dean dan Daniah banyak membantunya. Dean membantu Tisha dalam masalah pekerjaan perusahaan, sementara Daniah membantu Tisha menjaga Rasya.


Ray senang mendengarnya, karena paman dan bibi nya sudah banyak berubah. Ray berharap kalau semuanya akan indah menjadi keluarga hangat. Dalam merayakan kembalinya Ray, semua orang makan-makan di rumah itu sambil bercanda tawa.


Bahkan Gerry dan juga keluarganya ada disana. Mereka terlihat bahagia merayakan kembalinya Ray.


Tisha melihat Rasya sedang memperhatikan Maura memakan kue coklat, hingga wajahnya belepotan. Rasya terlihat jijik melihat Maura, tapi dia juga merasa Maura sangat imut.


"Kak Rasya, kakak mau kue nya?" tanya Maura dengan pipi nya yang gemas belepotan dengan coklat. Maura menyodorkan kue coklat pada Rasya sambil tersenyum polos.


"Tidak usah, melihat kamu makan saja aku sudah kenyang!" Seru Rasya menolak tegas.


Maura hanya nyengir saja sambil menikmati kue coklat itu, "Hehe,"


Rasya tidak tahan melihat wajah Maura yang belepotan itu,"Hey! Cepat bersihkan wajahmu itu, jorok sekali ya kamu!" Rasya menyodorkan sapu tangan miliknya pada Maura dengan terpaksa.


"Iya kakak," Maura patuh dan dia mengambil sapu tangan itu. Dia mengusap-usap wajahnya dengan sapu tangan itu.


Rasya gereget melihat noda coklat di wajah Maura, tanpa bicara apa-apa lagi. Rasya mengarahkan tangannya dan mengusap noda di wajah Maura dengan cepat. "Iyy..," Rasya bergidik ngeri setelah mengusap kotoran di wajah Maura.


Aku jadi semakin gak mau adik perempuan, adik perempuan merepotkan!


Maura menatap Rasya dengan tatapan berbinar-binar, dia pun memegang tangan Rasya dengan tangan kotor penuh coklat. "Eh, kamu ngapain?" tanya Rasya terkejut karena Maura memegang kedua tangannya dengan erat.


"Kakak! Kalau sudah besar nanti, ayo kita menikah!" Gadis kecil itu tersenyum lebar sambil menatap Rasya terpesona.

__ADS_1


"APA?!!" Semua orang disana terperangah mendengar ucapan si gadis kecil pada Rasya.


...---***---...


__ADS_2