Tahanan Cinta CEO

Tahanan Cinta CEO
Bab 78. Akal bulus


__ADS_3

🍁🍁🍁


Ray terlihat senang dan baik-baik saja bila dia harus mencium Tisha. Namun Tisha lah yang tidak baik-baik saja. Bocah imut itu memintanya ciuman dengan Ray? ini benar-benar sudah kelewat batas. Bahkan pelukan saja Tisha sudah merasa jijik dan tidak senang.


Mendengar permintaan anaknya yang tidak masuk akal baginya, sontak saja membuat Tisha mendorong Ray dari nya.


"Rasya sayang, mama kan sudah pelukan sama papa mu. Itu tandanya kami sudah baikan, kamu percaya kan sama kami?" Tisha tersenyum sambil memegang tangan Rasya. Rasya menepisnya dengan wajah kesal.


Tidak, ini masih belum cukup. Mama sama papa harus lebih dekat lagi kalau mau kembali bersama. Aku harus sedikit memaksa. Ah.. apa aku gunakan saja jurus ku!


Rasya memiliki ide untuk membuat papa dan mama nya semakin dekat, entah jurus apa yang dimaksud itu, "Papa sama Mama pasti bohong, kalian belum baikan. Udah ah aku gak mau ngomong sama kalian berdua!" seru Rasya kesal, bibirnya mengerucut dan wajahnya kecut.


Ray dan Tisha saling melirik, Tisha mengisyaratkan pada Ray untuk membujuk Rasya. Tapi Ray malah diam saja, ia mengikuti permainan yang sedang di lakukan Rasya.


"Lakukan sesuatu dong! kenapa kamu diam saja?!" tanya Tisha pada mantan suaminya yang hanya diam saja melihat anaknya memalingkan tubuh dari kedua orang tuanya itu.


Rasya tidak biasanya semarah ini. Tisha khawatir melihat anaknya yang mengabaikan nya.


"Apa lagi yang bisa kulakukan? aku tidak pernah membujuk anak kecil, jadi aku tidak bisa melakukan nya" Ray berpangku tangan. Dia duduk di kursi yang ada di sebelah Rasya.


"Kamu kan papa nya! kamu bisa membujuk dia , cobalah! masa kita harus melakukan itu!" Tisha kekeh tetap tak mau melakukan apa yang di pinta Rasya


"Apa kamu sebegitu tidak mau nya berciuman denganku?" goda Ray pada Tisha dengan senyuman tipis dibibir nya.


"Seperti nya pukulan di punggung belum cukup, apa kau harus memukul tanganmu?!" Tisha menggigit bibirnya, dia kesal sekali dengan sikap tidak tahu malu nya Ray.


"Kamu bisa memukul wajahku seperti kemarin, aku tidak masalah" Ray tersenyum santai melihat Tisha yang panik karena Rasya yang marah.


"Percuma saja bicara dengan kamu" Tisha terlihat bingung, dia melirik lirik ke arah lain.


Anakku memang cerdas, tentu saja. Putra Raymond Victor Argantara harus licik dan cerdas. Papa ikutin permainan kamu nak. Ray melirik ke arah putranya sambil tersenyum tipis.


Jangan mengecewakan aku pa, aku udah bersusah-payah akting seperti ini demi papa dan mama. Senyuman Ray dibalas dengan senyuman lagi oleh Rasya. Saat Tisha menoleh ke arah mereka, ayah dan anak itu bersikap seolah sedang marahan.


Mereka berdua kompak membuat Tisha kebingungan dan merasa bersalah. Tujuan nya adalah membuat Tisha terdesak dan mau melakukan apa yang Rasya inginkan, dan sisanya Ray bisa mengambil kesempatan itu.


"Kita tinggal ciuman saja apa susah nya" ucap Ray tiba-tiba


Tisha kembali menolak, "Apa??! tidak mau!"


"Kamu mau lihat anak kita marah terus?" tanya Ray sambil melirik ke arah Rasya yang cuek dengan wajah kesalnya. Anak itu tidak mau melihat ke arah papa dan mama nya.


Rasa bersalah dan takut seperti nya akan membuat Tisha tak punya pilihan lain. Dia pun mencoba membujuk Rasya kembali, Ray juga ikut pura-pura membujuknya. Pada akhirnya Tisha mengambil pilihan, dia akan menunjukkan pada Rasya kalau dirinya sudah berbaikan dengan Ray.


"Ya, oke! mama akan tunjukkan kalau mama sudah baikan sama papa kamu.. haaahh.." Tisha menghela napas, secara tidak langsung Tisha mengatakan kalau anak nya itu menang.


Rasya tertarik, dia langsung memandang ke arah mama dan papa nya dengan mata yang penasaran, penuh penantian. Entah apa yang anak itu nantikan dengan mata berbinar-binar itu.


"Kalau begitu ayo ciuman! papa cium mama! dan mama cium papa, harus gantian!" titah Rasya memerintah pada papa dan mama nya.


Ray terperanjat senang, dia dengan senang hati memberikan ciuman nya pada Tisha. Ray tersenyum licik tanpa Tisha ketahui.


Tisha, kamu akan kalah oleh anak kita.


Wanita satu anak itu mengernyitkan dahinya, dia mulai memikirkan bahwa semakin lama Rasya semakin mirip dengan Ray yang suka memerintah dan ingin menang sendiri. Sama sekali tidak ada mirip-mirip nya dengan Tisha.


Duh, mirip siapa anak ini? semakin ku perhatikan dia semakin mirip papa nya saja. Ya ampun, apa tidak ada yang tersisa untukku pada diri Rasya.


"Ayo tunggu apa lagi? kamu mau Rasya semakin marah" bisik Ray yang semakin mendesak Tisha untuk menciumnya.


"Kamu duluan yang ci-um" jawab Tisha gelagapan dengan mata yang melirik kemana mana.


Meski aku sudah bercerai dengan kak Ray. Aku dan dia tetap orang tua Rasya, tidak ada yang bisa mengubahnya. Aku harus menunjukan bahwa aku dan kak Ray tidak memiliki hubungan yang buruk. Baiklah, hanya ciuman pura pura saja tidak masalah.


"Kamu yakin, aku duluan?" tanya Ray dengan seringai di wajahnya itu, entah apa yang dia rencana kan.


Tisha masih saja imut seperti dulu, kalau seperti ini dia mirip Rasya. Ray tersenyum memandang ke arah Tisha, dia ingin sekali menggoda nya.


Tisha mengangguk, lalu berbisik pada Ray, "Pura-pura saja cium nya, awas kalau kamu mengambil kesempatan!"


"Mau pura-pura cium dimana?" tanya Ray sambil menggoda Tisha, "Kening, pipi, leher, atau bibir? apa perlu aku meninggalkan bekas merah juga disana?" Ray melanjutkan pertanyaan nya


DEG!

__ADS_1


Tisha tersentak mendengar pertanyaan yang menggodanya itu, wajahnya sudah memerah padahal Ray belum melakukan apapun padanya.


"Belum apa-apa wajahmu sudah merah" Ray tersenyum di bibir seksinya, wajah tampannya juga yang bisa menggoda kaum hawa. Membuat hati Tisha semakin berdebar, namun Tisha tetap pada sikap rasionalitas nya.


"Kamu..."


Kenapa hati ku seperti ingin melompat-lompat?!


Sementara itu Rasya seperti nya sedang menantikan momen kemesraan ibu dan ayahnya. Rasya mengambil ponselnya dan bersiap-siap untuk memotret.


Aku tidak boleh melewatkan momen ini. batin Rasya dengan senyum gemasnya, tangannya memegang ponsel papa nya.


"Ayo dong cepetan! lama banget sih" bibir imut dan kecil itu meluncurkan keluhannya pada mama papa nya.


Kedua telapak tangan Ray yang cukup besar itu meraih leher Tisha dengan lembut. Ketika kedua kulit itu bersentuhan, mereka merasakan debaran yang tidak biasa. Jantung berpacu lebih cepat dari biasanya, membuat mata Tisha tak sanggup menatap Ray karena malu.


Melihat Tisha yang malu-malu semakin membuat Ray semakin ingin menggodanya. Gerry dan Rasya menantikan adegan yang akan membuat mereka melompat kegirangan. Gerry menelan ludah, ia juga tak sabar dengan apa yang akan terjadi disana antara Ray dan Tisha.


"He-hey, ciumannya pura-pura" bisik Tisha yang mulai ketakutan kalau Ray akan melakukan hal yang tidak-tidak padanya


"Cerewet, berakting saja yang benar. Tatap mataku, kita harus terlihat alami" ucap Ray sambil mengangkat dagu Tisha dengan satu jarinya.


Kedua mata indah mereka bertemu dan saling menatap. Tisha dan Ray sama-sama merasa perasaan yang sama. Perasaan rindu yang terpendam dalam hati dan rasa sakit secara bersamaan. Rasa sakit karena perpisahan mereka bertahun-tahun yang lalu, perceraian yang di sesali oleh Ray hingga kehilangan tinggal selama 6 tahun.


Perasaan rindu yang berkecamuk, cinta yang masih tersisa di antara mereka.


Tisha, apa yang kamu pikirkan? kamu berharap apa dari pria ini? dulu dia adalah suamimu, tapi sekarang dia hanyalah ayah dari anakmu.. tidak lebih.


Aku akan membuatmu dan Rasya kembali padaku Tisha. Cinta di matamu masih ada untukku...tunggu saja. batin Ray yakin dengan dirinya sendiri.


Wajah Ray mulai mendekati wajah Tisha, matanya menatap bibir merah milik Tisha. Menatapnya dengan haus dan tajam. Tisha tercekat, dia mulai berfikir yang bukan-bukan.


Apa dia mau mencium bibirku?! apa dia sudah gil..


Ray tersenyum menyeringai, dia menangkup tubuh Tisha lalu mencium kening Tisha dengan lembut dan penuh kasih sayang.


Tisha tercekat, kedua bola matanya membulat mendapatkan ciuman lembut itu.


CUP


Aku tidak akan menyentuh mu di luar batas..Latisha. Aku tidak akan lagi melakukan hal bodoh yang bisa membuatmu pergi dariku.


Rasya mengambil potret gambar itu dengan ponselnya. Rasya tersenyum lebar penuh kepuasan, dia bangga karena Ray bisa mengambil kesempatan dengan sangat baik. Gerry dan Rasya bertepuk tangan melihat kemesraan Ray dan Tisha.


PROK


PROK


PROK


"Horee...foto yang bagus" Rasya melihat hasil fotonya di ponsel papa nya.


"Tuan muda selamat" ucap Gerry yang ikut senang


Memang anak ini terlihat polos tapi sebenarnya sangat licik. batin Gerry sambil tersenyum lebar memberi selamat pada ide licik anaknya.


"Kamu sudah puas Rasya? masih tidak percaya kalau papa dan mama sudah baikan?" tanya Ray sambil tersenyum pada putranya


"Rasya.. kamu mengambil foto mama dan papa? cepat hapus!!" Tisha malu dan berusaha mengambil ponsel itu dari tangan Rasya. Namun Rasya memberikan ponsel itu pada papanya.


"Nih pah!" Rasya tersenyum nyengir pada papa nya.


GREP


Tangan Ray menangkap ponselnya lalu melihat foto nya sedang mencium kening Tisha yang terlihat mesra. "Kerja bagus nak! kamu memang papa versi junior" Ray menepuk kepala Rasya.


"A-Apa kalian mengerjai ku lagi?!! apa ini akal bulus kalian?!!" Tisha mendengus kesal, begitu melihat papa dan anak nya itu ternyata bekerjasama menjahilinya.


Jadi Rasya sudah tidak marah dan ini semua rencana mereka?! hmph!


Ray dan Rasya menertawakan Tisha yang kesal karena ulah mereka. Mereka pun bercanda tawa layaknya sebuah keluarga. Tisha menggelitik perut anaknya itu hingga Rasya tertawa tawa.


"Rasakan ini ya! kamu anak nakal!!" Tisha tersenyum sambil menggelitik bagian sensitif anaknya, yaitu perut.

__ADS_1


"Hahaha.. mamah...ampun ma! ampun.. haha.." Rasya tertawa tak kuat menahan geli digelitiki oleh mama nya.


"Nakal ya kamu buat mama panik dan cemas! suka banget kamu jahili mama dan kamu malah kolaborasi sama papa kamu!" Tisha tersenyum, dia masih sedikit kesal dengan tingkah anaknya itu. Namun, keimutan mengalahkan segalanya.


"Hahahaha.. ampun ma.. ampun..maafin Rasya mah.. Hahahaaha.. papa tolong aku pah! papa!" Rasya tertawa sambil meminta tolong pada papa nya


Dengan satu pelukan dari belakang, Tisha berhasil di jinakkan oleh Ray. Wanita itu terdiam dan menghentikan aktivitas nya menggelitik Rasya.


"Kak Ray.." lirihnya lembut. "Kamu kalah Tisha, lain kali kamu akan kalah juga" bisik Ray pada telinga Tisha yang mulai memerah, napas Ray berhembus di lehernya.


Kamu akan kalah dan jatuh cinta padaku lagi. Ray tersenyum percaya diri lalu melepaskan pelukannya dari Tisha.


Aku akan kalah? apa maksudnya? Tisha terpana mendengar kata-kata Ray.


"Hore! mama galak berhasil dikalahkan!" Rasya merentangkan tangannya dengan bahagia. Wajah polos itu tersenyum lebar.


Akhirnya ada yang belain aku sekarang, aku punya papa. Papa ku baik banget, terimakasih ya Allah. Rasya mengucapkan rasa syukur nya kepada Allah yang sudah memberikan papa untuknya.


"Tos dulu dong!" Ray mengangkat satu telapak tangannya.


"Tos!!" Rasya tersenyum lebar lalu menepuk tangan papa nya.


"Hahaha.." Ray dan Rasya sama-sama tertawa melihat wajah Tisha yang kesal.


"Mama mu memang galak, hihi" bisik Ray pada anaknya itu.


"Kalian benar-benar deh, masa aku dibilang galak?!" Tisha berkacak pinggang dengan senyuman manis dibibir nya.


Rasya dan Ray tak henti-hentinya menertawakan Tisha. Wanita itu tersenyum melihat ayah-anak itu terlihat kompak dan bahagia. Mereka terlihat seperti keluarga yang bahagia.


Ya Allah semoga ini awal yang bagus untuk pak Presdir. Persatukan mereka menjadi sebuah keluarga.


πŸ€πŸ€πŸ€


Di Indonesia, kota Jakarta..


Terlihat di sebuah club malam, Zee sedang bersama Andrew. "Sampai kapan kamu mau begini terus Zee?" tanya Andrew sambil meneguk minuman yang ada di gelas nya.


"Apa maksudnya?" tanya Zee sambil mengisap rokoknya, wanita itu tampak stress memikirkan sesuatu.


"Mengejar Ray..sudah tau hatinya bukan untukmu, kamu masih saja mengejar dia" Andrew tersenyum tipis. Dia tau bahwa Zee masih mengejar Ray selama 6 tahun ini, dengan segala cara dia lakukan untuk merebut hati Ray..


"Haaa.. aku tidak akan menyerah sampai mendapatkan nya" Zee pantang menyerah, hatinya sudah jatuh begitu dalam pada pria yang bernama Ray itu.


"Kamu tau kan dia masih mencintai mantan istrinya, buat apa kamu menghabiskan waktu mu untuknya? lebih baik kamu menikah dengan orang lain. Membuka hatimu untuk orang lain, pria yang menyukai mu kan masih banyak" jelas Andrew menasehati sahabat nya itu


"Aku hanya mau Ray, hanya dia! tidak boleh orang lain. Aku tidak akan kalah dengan orang mati itu" Zee menyilangkan kedua tangannya di dada, setiap mengingat Tisha hatinya selalu kesal


"Heran deh aku sama kamu Zee, apa sih yang istimewa tentang Ray sampai kamu tergila-gila padanya? bukan hanya dia saja pria kaya dan tampan di dunia ini?" tanya Andrew merasa kasihan pada sahabatnya itu


Zee menarik baju Andrew dan menatapnya dengan kesal. "Ray itu sempurna dan segalanya untukku! pria di dunia ini tidak sebanding dengan nya! tidak ada yang mencintai ku seperti dia mencintaiku! dia.. adalah cinta pertamaku, Andrew.." ucap Zee dengan mata nya yang sedih.


"Ya baiklah, aku mengerti. Lepaskan aku dulu Zee" Andrew melepaskan pelan-pelan tangan Zee dari bajunya.


Gila ya! dia masih ngehalu, berfikir kalau Ray masih mencintai nya. Ray memang sempat bucin sama dia, tapi itu dulu sebelum cinta itu habis karena pengkhianatan kamu Zefanya.


Zee kembali ke tempat duduknya dengan tenang. Matanya menatap kosong gelas kaca di depannya.


Aku tidak akan kalah oleh orang mati! lihat saja, sebentar lagi aku akan mengikat Ray di sisiku. Jika Ray tidak mau menikah denganku, maka dia juga tidak bisa menikah dengan orang lain. Biarlah aku dan dia melajang seumur hidup. Zee meneguk minuman yang warna nya seperti teh itu dengan sekali teguk.


Andrew ngeri melihat tatapan tajam dan seringai di wajah cantik Zefanya.


****


Setelah perjalanan cukup lama yaitu sehari semalam, Tisha, Ray, Gerry dan Rasya turun dari pesawat.


Akhirnya mereka sampai di Jakarta..


Pagi itu adalah pagi yang cerah, Ray menggandeng tangan Rasya dengan penuh kasih sayang.


Bagaimana reaksi kakek saat dia melihat cicit nya?


"Woah, jadi ini tanah airku? mataharinya begitu cerah" Rasya tersenyum lebar melihat ke arah langit seolah matahari juga menyambut kedatangan.

__ADS_1


Sementara itu wajah Tisha terlihat resah.


...---***---...


__ADS_2