Tahanan Cinta CEO

Tahanan Cinta CEO
Bab 136. Mengaku Rindu


__ADS_3

...πŸ€πŸ€πŸ€...


Ayah dan anak itu mengobrol tentang kejadian yang menimpa pak Faisal. Ray bertanya pada Rasya tentang apa yang diketahui nya dari kejadian jatuhnya pak Faisal. Rasya mengatakan semua yang dia ketahui, bahwa ia hanya tau pak Faisal sudah berada di lantai dengan kondisi tidak sadarkan diri.


"Dan papa tau saat kejadian itu, kakek sama nenek juga lagi ada dilantai atas. Mereka langsung turun bersamaan dan menghampiri kakek buyut, mereka kelihatan cemas banget" oceh nya tentang kejadian itu.


"Oh gitu ya.. Rasya yakin kalau kakek sama nenek ada dilantai atas saat itu?" tanya Ray lagi.


"Iya pa, mereka lagi dilantai atas dan turun bersama berdua" jawab Rasya jujur.


Ray sedikit berfikir, untuk apa Dean dan Daniah yang kamarnya berada di lantai bawah naik ke lantai atas. Apa tujuan nya? Ray semakin curiga kepada om dan Tante nya itu, bahwa mereka ada hubungan nya dengan insiden jatuhnya pak Faisal dari tangga.


Kemudian Rasya duduk di pangkuan papa nya, dia memegang tangan Ray. "Loh.. papa? Kenapa tangan papa panas? Papa sakit?" Rasya menengadah melihat ke arah Ray.


"Benarkah? Papa gak tau" Ray bingung, karena dia tidak merasakan apa-apa.


"Coba sini papa nunduk dulu!" Rasya meminta papanya menunduk. Ray menuruti perintah anaknya, dia menundukkan kepalanya.


Tangan kecil itu memegang kening Ray dengan lembut. Rasya terperanjat setelah memegang kening sang papa. "Hah! Papa!"


"Iya sayang? Ada apa?" tanya Ray terkejut melihat reaksi Rasya yang tercengang itu.


"Papa demam, papa harus diperiksa dokter" Rasya mengangguk yakin bahwa papa nya sedang sakit.


"Ini cuma demam biasa karena papa kurang tidur, papa beneran gak apa-apa kok sayang" kata Ray menenangkan anaknya.


Perasaan.. aku baik-baik saja, lalu katanya badanku panas?


"Papa lagi demam, orang sakit gak boleh jagain orang sakit lagi. Mendingan papa pulang aja, biar aku sama mama yang jagain kakek buyut" kata Rasya cemas dengan kondisi Ray.


"Sayang...papa gak ap..."


"Kamu udah bangun?" Tisha berjalan menghampiri Ray dan Rasya. Tisha mengerutkan keningnya, dia menatap Ray dengan cemas.

__ADS_1


"Tisha? Kamu darimana saja?" tanya Ray berbasa-basi, padahal dia sudah tau kalau Tisha pergi membeli makanan untuknya. "Kamu bawa apa itu?" Ray melihat ke arah keresek yang dibawa Tisha.


Dasar papa, dia jago berakting. Padahal papa sudah tau kalau mama mau pergi beli makanan buat dia, tapi masih tanya.. ckckck, papa memang licik dan tidak tahu malu. Rasya menggeleng-geleng melihat akting papa nya.


Tiru aksi papa mu ini nak, beginilah cara merayu wanita, menjadi tidak tahu malu pun tidak masalah dan halal halal saja. Kelak kamu akan mengerti. Ray tersenyum pada putranya, seakan-akan mereka sedang bicara dengan telepati.


"Aku bawakan makanan buat kamu sama Rasya, kamu pasti belum makan kan?" Tisha menyimpan kantong keresek berisi makanan itu di meja.


"Perhatian sekali, kamu tidak menyangkal kalau makanan itu bukan untukku? Tumben" Ray heran karena biasanya Tisha akan memakai Rasya sebagai alasan kalau dia ingin memberikan sesuatu pada Ray.


"Kamu tidak mau? Ya sudah aku ambil lagi saja makanannya" kata Tisha ketus.


"Jangan-jangan! Ini punyaku, jangan diambil lagi... aku akan memakannya, aku lapar" Ray melindungi kantong keresek berisi dua bungkus nasi box itu di tangannya.


"Kalau begitu makanlah, sama Rasya juga. Ada dua box di dalam sana" ucap Tisha dengan wajah jaimnya, dia hendak duduk di samping Rasya. Dengan sengaja Rasya mendorong papanya, hingga Tisha berada di atas pangkuan Ray.


"Ahh!" Tisha terkejut karena dia berada diatas paha pria itu. Sementara Rasya hanya terkekeh sendiri melihat kedua orang tuanya yang sedang kembali di panas asmara.


Kenapa aku bisa berada diatasnya? Aku kan mau duduk di kursi. Tisha bingung karena sebelumnya dia yakin Ray tidak ada disana dan dia duduk di kursi.


Psshh...


Seketika wajah cantik itu menjadi merona, dia tersipu malu dan segera turun dari pangkuan Ray. "Ka-kamu tidak tahu malu!"


Ada Rasya disini, ya ampun.


"Kalau papa sama mama mau pelukan, aku gak lihat kok. Aku tutup mata aja!" Rasya membalikkan badannya, dia menutup kedua matanya dengan telapak tangan.


"Hmph.. anak ku memang pintar" gumam Ray sambil tersenyum.


"Kakak bilang apa?" tanya Tisha tak mendengar jelas apa yang dikatakan oleh Ray.


"Aku bilang, ayo pelukan" Tangan Ray meraih pinggul Tisha, mendekatkan tubuh mereka sehingga bersentuhan. Tangan Tisha refleks meraih bahu Ray.

__ADS_1


"Kak..."Tisha memalingkan matanya dari pria itu karena malu.


"Kamu bilang di telpon kalau kamu kangen aku" bisik Ray pada Tisha, dengan senyuman manisnya.


"A-aku gak bilang gitu"


"Kamu gak mau ngaku lagi?" tanya Ray tak habis pikir, sikap jaim Tisha kembali lagi ketika mereka bertatapan muka secara langsung. "Padahal di telpon kamu terdengar rindu setengah mati padaku, apa aku salah? Kamu tidak rindu padaku?" tangan Ray masih melingkar di tubuh Tisha, mendekapnya dengan lembut dan hati-hati tidak memaksa.


"Aku.. aku memang rindu" jawab Tisha mengaku dengan malu-malu.


"Haah.. kemana jaim mu itu? Tumben kamu mengakui nya, ada apa? Apa kamu sudah dapat hidayah?" goda Ray pada wanita yang mengakui bahwa dirinya merindukan pria itu.


"Mengaku salah, tidak mengaku salah, kamu mau nya aku bagaimana?" Tisha ngambek lagi setelah mendengar ucapan Ray.


"Baiklah, jangan marah..aku juga kangen kamu dan Rasya. Sehari gak ketemu kalian, rasanya kaya seratus tahun" Ray tersenyum lebar, dia mengaku bahwa dia juga merasakan hal yang sama dengan Tisha.


Pelan-pelan Tisha memeluk Ray, dia menyembunyikan senyuman manis dan bahagia nya. Dia senang karena pria itu tidak pernah tidur dengan wanita lain, bahwa Ray hanya mencintai nya saja.


"Kak Ray..aku mau ngomong.."Tisha merasakan sesuatu yang panas ditubuh Ray. "Kakak, kamu demam?" tanya Tisha terkejut, dia menyadari bahwa tubuh yang ia peluk terasa panas.


"Aku gak apa-apa kok" jawab Ray sambil memegang kepalanya.


"Gak apa-apa gimana?"Tisha melepaskan pelukannya, tangannya menyentuh kening Ray untuk memastikan pria itu baik-baik saja atau tidak. Matanya menatap cemas pada Ray.


Pria itu malah tersenyum bahagia melihat tatapan Tisha kepadanya. Sudah lama dia tidak melihat Tisha khawatir pada dirinya.


Rasya akhirnya berbalik menoleh ke arah kedua orang tuanya, "Iya ma, badan papa panas. Kayanya papa demam ma" ucap anak itu.


"Aku akan panggil dokter ya untuk memeriksa kamu" Tisha beranjak dari tempat duduk itu, dia berniat memanggil dokter.


GREP


Tangan Ray memegang tangan Tisha, menahan dia untuk pergi.

__ADS_1


"Aku gak butuh Dokter, aku butuhnya kamu" jawab Ray dengan sikap manjanya.


...---***---...


__ADS_2