
...πππ...
Setelah menempuh perjalanan selama 1 jam lebih, Tisha dan Ray sampai di rumah lama Ray. Disana ada seorang satpam kompleks yang terlihat mondar-mandir di depan gerbang rumah Ray.
Tisha segera keluar dari mobil itu dan menghampiri Satpam yang sedang memegang sebuah kotak besar berwarna merah.
"Pak,"
"Ibu? Apa ibu adalah nyonya rumah ini?" tanya satpam kompleks itu pada Tisha.
"Eh.. iya,"
Aku sudah menjadi istri kak Ray, itu artinya aku adalah nyonya rumah ini kan?
"Saya menerima paket, katanya ini untuk nyonya rumah ini yang bernama Bu Latisha Anindita." jelas satpam itu singkat.
Ray ikut keluar dari mobil, dia menghampiri satpam itu dan mengambil kotak besar berwarna merah itu.
"Iya pak, dia adalah istri saya," jawab Ray sambil tersenyum.
Pasangan suami istri itu masuk ke dalam rumah dan segera membuka kotak besar berwarna merah itu disana. Tisha melihat ada beberapa benda di dalam sana. Ray dan Tisha membukanya bersama-sama.
"Kenapa di pisah pisah ya? Ada untukku dan untukmu juga?" Ray heran melihat ada kotak lagi di dalam kotak besar itu. Ada dua kotak yang memiliki note berbeda. Yang satunya untuk Tisha dan satunya lagi untuk Ray.
"Iya, apakah hadiahnya memang berbeda?"
Ray terpana melihat tulisan di kotak itu, "Hadiah khusus untuk Raymond. Yang tidak akan pernah kamu punya tentang Tisha?"
Dari note nya saja sudah membuat penasaran.
Ray segera menjauhi Tisha sambil membawa kotak dari Zayn.
"Eh kenapa kamu menjauh? Sini, kita buka kotaknya bersama-sama!" ujar Tisha kepada suaminya yang melangkah pergi menjauh darinya.
"Maaf Tisha, Zayn berpesan agar aku membuka nya sendiri," Ray tersenyum sambil duduk di sofa, dia membuka kotaknya perlahan-lahan.
"Woah woah, kenapa kamu patuh sekali pada Zayn? Apa kalian sudah berteman sekarang?" tanya Tisha sambil menatap suaminya dan tersenyum.
"Berteman? Ah ya, seperti nya kami sudah berteman, sejak dia menyerah padamu." pria itu tersenyum sambil membuka kotaknya. Ray terpana melihat ada foto di album disana dan beberapa barang-barang yang sudah usang.
"Apa isinya kak?"
"Kamu tidak usah tau! Lihat saja apa yang diberikan nya padamu," Ray membuka foto album itu diam-diam.
Dia tidak mengerti mengapa Zayn memberikan sebuah foto album padanya. Dia membuka album foto itu. Disisi lain, Tisha juga sedang sibuk membuka kotaknya.
Matanya membulat melihat foto foto lawas seorang pria gendut dan gadis tomboy disana. Gadis itu terlihat tersenyum bahagia bersama pria gendut itu.
Pria gendut ini seperti nya aku kenal, dia terlihat seperti Zayn!
Ray terkejut melihat pria gendut itu dan seorang wanita tomboy terlihat kucel. Di bawah foto itu juga ada beberapa tulisan tangan. Semua foto itu hanya tentang Tisha dan Zayn saja.
Ini Tisha? Gadis tomboy ini?. Ray tidak percaya kalau Tisha punya sisi tomboy seperti itu.
"Apa dia sedang pamer cinta pertamanya padaku?" tanya Ray sebal, tapi dia tetap membalik halaman demi halaman foto album itu.
Ini foto aku dan Tisha saat Tisha ikut lomba basket.
Ray melihat foto seorang Tisha dan Zayn sedang memegang bola basket. Mereka berdua terlihat bahagia.
Aku dan Tisha ketika kami makan bakso di warung belakang sekolah.
Foto-foto itu membuat Ray iri karena dia tak pernah melihat sisi tomboy Tisha. Dia ingin mengenal istrinya luar dan dalam, dia ingin tau semua hal tentang Tisha.
"Apa si Zayn ini sengaja membuat ku cemburu? Karena dia kenal Tisha dari SMA? Huh! Awas saja kalau tujuannya membuat ku cemburu!" Ray semakin panas melihat foto kebersamaan Zayn dan Tisha.
Kemudian dia membalikkan foto album berikutnya. Dia melihat foto Rasya waktu bayi berada disana. Tisha yang sedang menggendong Rasya yang masih bayi.
Hatinya tersentuh melihat foto-foto itu, foto yang tidak dia punya. Melihat anak nya waktu bayi. Disana terlihat kalau Zayn menyayangi Rasya dan Tidak dengan tulus.
"Sial! Kenapa pria lain bisa memiliki foto istri dan anakku? Aku akan membiarkan mu walaupun aku sangat kesal, itu karena kamu yang sudah menjaga anak dan istriku selama 6 tahun ini." Ray merasa berhutang pada Zayn karena pria itu sudah menjaga istri dan anaknya selama enam tahun.
Ketika Ray membuka lembaran terakhir di foto album itu, ada secarik kertas berwarna putih. Disana ada sebuah tulisan yang membuat hati Ray terhenyak.
__ADS_1
Raymond....aku serahkan semua kenangan ini padamu. Aku harap kamu menjaganya baik-baik, aku tau kamu tidak punya kenangan tentang masa lalu Tisha dan masa kecil Rasya, haha..
"Cih! Bahkan di dalam surat saja dia masih mengejekku dan bersikap sombong!" pria itu kesal saat membaca bagian awal surat dari Zayn. Ray kembali membaca bagian surat selanjutnya.
Sebagai sahabat dan saudara yang baik untuk Tisha. Aku serahkan Tisha dan Rasya kepadamu, harap kamu menjaganya dengan baik. Bahagiakan mereka, jangan pernah menyakiti Tisha lagi. Jika sampai terdengar olehku kamu menyakiti mereka berdua, aku akan mengambil mereka kembali. Raymond, semoga kamu, Tisha dan Rasya hidup bahagia selamanya. Dan aku minta maaf karena sempat memisahkan kalian, anggap saja ini permohonan maaf ku padamu.
Simpan dengan baik foto-foto ini!
Aku pasti akan menyimpan nya dengan sangat baik. Setiap hal tentang istri dan anakku.
Pria itu tersenyum pahit melihat surat dari Zayn.Karena pada akhirnya hanya ada salah satu dari mereka yang akan bersama Tisha dan Rasya. Orang itu dari awal sampai akhir tetaplah Raymond.
Disisi lain Tisha juga sedang membaca surat dari Zayn. Matanya berkaca-kaca, air matanya mengalir membaca surat itu.
Tisha, saat kamu sedang membaca ini. Aku sudah pergi jauh..aku minta maaf selama ini selalu membuat kamu bimbang dan mengganggu hubungan kalian. Aku harap kamu dan Rasya bahagia bersama pilihan kalian. Aku berdoa semoga kehidupan kalian selalu di liputi kebahagiaan.. Tisha kita masih sahabat kan? Aku harap begitu..Maaf dan terimakasih untuk segalanya Tisha.
Tisha menutup kembali surat itu, dia berusaha menyeka air matanya yang terus mengalir. Ray menghampiri nya dan memeluknya dari belakang.
"Maaf kak, maaf aku menangisi pria lain di depanmu..hiks,"
"Kali ini aku akan membiarkan nya, tapi nanti tidak boleh lagi. Hanya aku yang boleh membuatmu menangis, dan saat kamu menangis.. itu harus karena kamu sangat bahagia denganku,"
"Zayn...hiks...kenapa kamu pergi tanpa pamit, kenapa..hiks," Tisha menangis dan bersandar di pelukan suaminya. Tisha merasa kehilangan Zayn, sahabat baik yang selama ini selalu menemani nya di saat susah dan senang.
Ray mengusap-usap punggung istrinya dengan lembut seraya menghiburnya. Setelah hampir satu jam menangis, Tisha dan Ray membuka hadiah yang diberikan Zayn untuk mereka berdua.
Keduanya sama-sama tersenyum melihat hadiah pernikahan mereka. Sepasang baju couple, sepatu couple, dan barang-barang pasangan lainnya.
"Dimana pun kamu berada, terimakasih Zayn," ucap wanita itu sambil tersenyum. Ray juga ikut tersenyum dan memegang bahu istrinya.
"Sayang, mari kita jemput Rasya sekarang. Bukankah sudah saat nya kita tinggal bersama?" tanya Ray pada Tisha.
"Iya, ayo kak!" Tisha dan Ray beranjak dari tempat duduknya.
Mereka berjalan keluar dari rumah itu dan masuk ke mobil. Mereka akan menjemput putra mereka yang berada di rumah Gerry.
****
Disisi lain Rasya terlihat bosan bermain bersama Maura, anak bungsu Gerry dan Anna.
"Kenapa tidak kamu sendiri yang bermain? Aku cape!" Rasya menolak ajakan Maura untuk bermain.
Anak ini kenapa sih? Apa semua anak perempuan seperti ini?. Rasya jengkel dengan sikap Maura yang manja padanya.
Maura cemberut, segala cara telah dia lakukan untuk membuat Rasya bermain dengannya. Tapi, Rasya tetap saja bersikap dingin padanya.
"Kakak, kalau kakak bosan.. bagaimana kalau kita main sepeda?" tanya Maura mengajak Rasya yang anteng duduk di kursi.
"Main aja sendiri!" teriak Rasya pada anak yang usianya lebih muda darinya itu.
Bibir Maura melebar kebawah, matanya berkaca-kaca menatap ke arah Rasya. Sedikit lagi air matanya akan tumpah. Rasya terperangah melihatnya.
"Hiks.."
"Haahh...," Rasya menghela napasnya,"Udah jangan nangis, kamu mau main sepeda kan? Ayo main!!" Rasya beranjak dari kursinya.
Mata gadis kecil itu berbinar-binar begitu mendengar Rasya mau bermain sepeda dengannya. Air mata itu berganti menjadi senyuman bahagia.
"Kakak beneran mau main sama aku?" tanya Maura lagi.
"Iya ayo, sebelum aku berubah pikiran!" seru Rasya dengan wajah cueknya.
Anna melihat Maura dan Rasya dari kejauhan. Dia tersenyum melihat kedua anak itu. Anna merasa kalau Rasya memang sangat mirip dengan papa nya, bahkan sikap cueknya juga. Namun dia juga memiliki sikap baik dan tidak tegaan persis seperti Tisha.
Kedua anak itu bermain sepeda di halaman rumah, Maura sangat senang bisa bermain dengan Rasya.
"Katanya kamu mengajak main sepeda, tapi kamu tidak bisa main sepeda?" tanya Rasya pada Maura yang ternyata tidak bisa naik sepeda.
Mata polos itu menatap Rasya, "Hehe, aku memang ngajakin main sepeda, tapi aku gak bisa naik sepeda,"
"Hahh.. jadi kamu mau main sepeda gak?" tanya Rasya sambil menepuk jidatnya.
"Mau," jawab anak kecil itu sembari menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Ya udah, naik aja di belakang." Ray mengambil sepeda berwarna pink itu.
"Terus kalau aku naik dibelakang, siapa yang mengendarai sepeda nya, kak?" tanya Maura bingung
"Bodoh! Tentu saja aku!" Ujar Rasya sambil mengerutkan keningnya.
"Asik! Jadi kakak mau bonceng aku," Maura tersenyum lebar.
"Cepetan naik sebelum aku berubah pikiran!!" Rasya membentak Maura. Tapi sepertinya nya anak itu sudah terbiasa dengan kemarahan Rasya, dia naik duduk di kemudi belakang.
Mereka pun naik sepeda boncengan. Setelah itu Rasya mengajarkan Maura untuk mengendarai sepeda. Anna ada dibelakang kedua anak itu sambil mengawasi.
"Lucu sekali sih kedua anak ini!" Anna mengambil gambar Rasya dan Maura melalui kamera ponselnya.
Ketika sedang asyik mengambil gambar, Anna melihat mobil sedan mewah terparkir di depan rumahnya. Tisha dan Ray keluar dari mobil itu bersamaan.
"Pak, Bu," sapa Anna kepada pasangan suami istri itu.
"Bu Anna , terimakasih banyak sudah menjaga anak saya." Tisha berterimakasih pada Anna karena sudah menjaga anaknya.
"Saya juga berterimakasih, tenang saja.. saya akan berikan tiket gratis untuk kalian sekeluarga selama satu hari,"
"Alhamdulillah! Terimakasih pak Raymond!" Anna tersenyum bahagia mendapatkan reward dari Raymond.
Gak apa-apa deh satu hari yang penting liburan.
Dari kejauhan Tisha dan Ray melihat anak mereka sedang bermain dengan Maura sampai sampai Rasya tidak menyadari bahwa orang tua nya sudah datang.
"Bagaimana ini? Seperti nya mereka masih asyik bermain. Bagaimana kalau ibu Tisha dan Pak Raymond menunggu di dalam saja?" tanya Anna dengan sopan mengajak kedua tamunya masuk
"Tidak apa-apa Bu, kami akan menunggu disini saja." Kata Tisha yang ingin menunggu anaknya yang selesai bermain.
"Baiklah, kalau begitu saya akan masuk ke dalam dan mengambilkan minuman untuk bapak dan ibu." Anna tersenyum sopan.
Dia masuk ke dalam rumah dan membuatkan 2 gelas minuman untuk Tisha dan Raymond. Mereka bertiga duduk di depan teras rumah, sambil melihat Rasya dan Maura yang sedang bermain sepeda.
"Papa? Mama??" Rasya melirik ke arah teras rumah Gerry, dia yakin melihat papa dan mama nya.
Rasya dan Maura menepikan sepeda mereka di depan rumah. Kemudian, Rasya berlari menghampiri kedua orang tuanya dengan bahagia.
"Mama, papa kalian sudah kembali? Mana adik bayinya?" tanya Rasya sambil memeluk manja kepada mamanya.
"Ah.. adik bayi??" Tisha terperanjat mendengar ucapan Rasya tentang bayi. Baru saja sehari dia pergi berbulan madu, dan Rasya sudah menanyakan adik bayi.
"Masih dalam proses ya sayang, semoga kerja keras papa dan mama membuahkan hasil. Kamu mau adik perempuan kan?" Ray tersenyum lebar, melirik ke arah putranya.
"Gak jadi, aku gak mau adik perempuan!"
"Lho? Kenapa?" tanya Tisha dan Ray heran. Bukankah sebelumnya anak itu bersikeras menginginkan adik perempuan.
"Aku gak mau adik perempuan, aku maunya adik laki-laki aja! Kalau nanti aku punya adik perempuan, dia pasti akan cengeng dan merengek terus!" Rasya melirik ke arah Maura, dengan bibir yang mengerucut.
"Haha.." Tisha dan Ray malah tertawa dengan permintaan anaknya itu.
****
Ketika Ray dan Tisha sudah menjadi keluarga yang bahagia. Rumah tangga Sam dan Grace sedang memanas karena hadirnya orang ketiga dalam hubungan mereka.
"Kenapa Sam? Kenapa kamumengajukan surat permohonan perceraian?! Apa salah ku?!" Grace menangis, dia melempar surat yang dia dapatkan dari pengadilan ke depan suaminya yang baru pulang setelah beberapa hari tidak pulang ke rumah.
"Tidak, kamu tidak salah apa-apa Grace. Hanya saja aku tidak mencintaimu lagi!" Sam menatap
Grace terpana mendengar ucapan menyakitkan dari suaminya. Apa katanya? Tidak cinta lagi?
"Tidak cinta? Sampai aku melahirkan anakmu, kamu bilang kamu tidak cinta aku?! Sebenarnya kenapa akhir-akhir ini kamu berubah?" Grace menarik-narik baju suaminya dengan emosi. Diiringi isak tangis kesedihan di hatinya.
"Aku kan sudah bilang kalau aku tidak mencintaimu lagi!" teriak Sam emosi.
"Bohong! Pasti ada wanita lain kan? Pasti ada wanita lain yang menggoda mu! Apa.. apakah cinta pertama mu itu datang lagi?" tanya Grace sambil menatap tajam ke arah suaminya.
Sam terdiam mendengar pertanyaan Grace.
...---****---...
__ADS_1
Mohon maaf Readers! Hari ini up nya terlambat, karena author lagi kurang sehat dan menamatkan novel sebelah π€§π€§ seperti biasa, author mau minta dukungan nya ya, komen ,like, vote atau gift nyaππ