
Tembus like 50 dan komen 25, author double up!
๐๐๐
Bukan hanya Bu Fani saja yang tidak senang dengan kehadiran tamu tak diundang itu, Ray juga tidak senang bahkan menatap sinis wanita yang berdiri dengan senyuman lebar di bibirnya itu.
Mau apa dia kemari?
Dengan tidak tahu malu, Zee masuk ke dalam rumah itu bahkan sebelum dipersilahkan masuk oleh tuan rumah. Zee menghampiri Ray dengan wajah yang sumringah, seperti habis mendapat lotre.
Cih! Satu lagi orang yang tidak tahu malu. Pekik Bu Fani dalam hatinya.
"Sayang, aku sudah menduga kalau kamu ada disini" Zee memeluk Ray dengan manja, Ray langsung mendorong Zee.
"Apa-apaan sih kamu?! Mau apa kamu kemari?" Tanya Ray tidak senang
"Ray kamu kok gitu sih? Kamu gak boleh dorong-dorong aku kaya gini" Zee cemberut memasang wajah memelas nya
Setelah kamu tau aku hamil, kamu pasti akan memperlakukan ku dengan berbeda kan? Zee merasa percaya diri dengan hasil tes kehamilan palsu nya
"Maaf, kalau kalian tidak keberatan..kalian pergi dari sini karena anak saya sedang dalam keadaan tidak sehat" Bu Fani mengusir Zee dan Ray secara halus, ia tak mau Ray berlama-lama di rumah nya lalu ia bisa curiga dengan keadaan Tisha.
Setelah yakin tidak akan muntah lagi, Tisha keluar dari kamar mandi. Tisha melihat Ray dan Zee yang ada disana. Perasaan nya semakin tidak nyaman melihat pasangan yang akan menikah dua hari lagi.
Zee tersenyum manis, ia melirik ke arah Tisha, "Eh...kebetulan ada Tisha disini. Aku ingin memberitahukan kabar baik untuk kalian semua. Terutama untuk kamu Ray"
Tisha melihat ke arah Zee tanpa ekspresi.
"Kamu mau ngomong apa sih pake nyusulin aku kesini segala?!" Ray risih, dan memarahi Zee yang menyusulnya ke rumah Tisha."Gerry, antar dia pulang!" Ujar Ray pada sekretarisnya itu, ia tak mau Zee menganggu waktunya dengan Tisha.
"Aku gak mau pulang Ray. Aku mau bilang kabar bahagia ini secara langsung sama kamu, tapi kamu lagi ada disini. Ya udah aku bilang aja sekarang disini ya?" Ucap Zee sambil merogoh sesuatu di tas selempang nya.
Gerry, Tisha dan Bu Fani memperhatikan Zee. Mereka menantikan apa yang akan dibicarakan Zee dan berita bahagia apa yang dibawanya sampai harus ada Tisha yang mendengar nya juga.
Zee menyerahkan amplop hasil pemeriksaan nya pada Ray dengan wajah yang senang penuh percaya diri.
Ray memegang amplop panjang yang di depannya bertuliskan nama lengkap Zee dan lengkap dengan cap rumah sakit. "Surat apa ini?" Tanya nya dingin
"Kamu buka saja" jawab Zee semangat,"Ah ya.. kamu harus katakan yang keras apa yang tertulis di surat itu" Zee menatap Ray dengan tatapan percaya diri.
Tangan Ray membuka surat yang ada di amplop itu. Matanya mengarah seksama pada isi surat itu. Hanya dalam hitungan detik, Ray terperangah saat melihat isi surat nya. Matanya menatap tak percaya, senyuman sinis terlihat di bibirnya. Ray terdiam membeku.
Hamil? Tidak mungkin gumam Ray dalam hatinya merasa tak percaya dengan hasil positif yang tertera di surat itu.
Dia pasti diam karena dia sangat bahagia kan? Lagi-lagi Zee merasa percaya pada dirinya sendiri kalau Ray akan bahagia dengan hasil diagnosa nya.
"Ayo Ray katakan! Apa isi nya?"
"Zee, ayo pergi!" Ray menatap tajam ke arah Zee lalu menarik tangan Zee dengan kasar.
__ADS_1
"Ray, kamu kenapa marah sih?!!" Zee keheranan melihat reaksi Ray yang marah dan bukannya bahagia melihat surat kehamilan nya.
Ray menarik Zee keluar dari rumah itu, tak sengaja Ray menjatuhkan surat nya. Lalu Tisha memungut surat itu.
"Jangan dibaca!" Ray ketakutan melihat Tisha yang akan membaca surat itu. Ray berusaha mengambil surat Zee dari tangannya, tapi Tisha dan Bu Fani enggan menyerahkannya.
Mereka membaca bersama isi surat itu.
DEG!
Bu Zee hamil?
Tisha terperanjat melihat inti dari suratnya yang sama persis dengan surat kehamilan nya. Tubuh Tisha lemas dan hampir roboh.
"Uuh.." Tisha memegang kepalanya yang penat
"Tisha!!" Ray panik melihat Tisha yang terlihat lemah dan hampir roboh.
Bu Fani menopang tubuh Tisha yang hampir roboh itu. Ray juga ingin ikut menopang nya. Namun Bu Fani malah terlihat mendorongnya dan menatap Ray penuh kebencian.
"Pergi kamu! Jauh jauh dari anakku!" Seru Bu Fani marah
Celaka! Kalau begini, Tisha akan semakin menjauh dariku
Ray panik karena Tisha tak mau melihatnya dan Bu Fani yang sangat marah padanya.
"Tisha, tante, ini pasti tipu muslihat nya. Dia tidak mungkin hamil anakku!!"
Hatimu pasti sakit bukan? Kamu syok? Ya, sudah seharusnya kamu syok. Kalau bisa keguguran saja sana!
Zee mendoakan keburukan untuk Tisha dan bayi yang ada di dalam kandungan nya.
"Tisha, dengarkan aku! Dia tidak hamil anakku! Aku akan jelaskan semuanya.." Ray berusaha menjelaskan sesuatu pada Tisha. Ray yakin bahwa Zee tidak hamil.
"Apa yang mau kakak jelaskan? Yang kamu lakukan hanyalah membuat penyangkalan! Sudahlah, aku tidak peduli. Lagipula kalian akan menikah, aku tidak mau mendengar apa-apa lagi"
Bodohnya aku, tadinya aku berfikir agar dia tau kehamilanku karena dia berhak tau. Tapi aku rasa tidak perlu memberitahu dia dan ibu berkata benar.
Keadaan sudah semakin rumit dan seperti nya tidak cukup dijelaskan dengan kata-kata. Zee sudah membawa fakta melalui surat kehamilan, membuat Tisha kecewa dan Ray bungkam. Tisha dan ibunya masuk ke dalam rumah, lalu menutup pintu rumah nya rapat-rapat.
Tisha sudah kehabisan kata-kata, ia hanya bisa menangisi semua yang terjadi padanya. Dengan kehamilan Zee, Bu Fani semakin memojokkan Tisha agar menggugurkan kandungan nya.
"Kamu sudah lihat kan? Dengan keadaan seperti ini kamu berniat untuk memberitahukan padanya kalau kamu hamil anaknya? Dengan situasi saat ini, kamu masih mau mempertahankan bayimu?!" Tanya Bu Fani pada putrinya.
"Ibu ngomong apa sih? Semua ini gak ada hubungannya dengan anak yang ada di dalam perutku!" Tisha merasa tertekan dengan semua yang terjadi padanya.
"Tentu saja ada! Memangnya kamu mau membesarkan anak mu tanpa ayahnya? Bukankah lebih baik kalau dia tidak pernah lahir ke dunia? Jika dia lahir ke dunia, dia hanya akan menderita!" Bu Fani terus menekan Tisha agar menggugurkan kandungan nya yang hanya akan menghalangi kebahagiaan Tisha.
"Istighfar Bu, istighfar! Anak adalah anugerah, aku tidak akan menggugurkan nya. Dan walaupun anak ku lahir tanpa tau ayahnya, aku akan membesarkan nya sendiri. Anak ini tidak bersalah Buโฆhiks "Tisha menangis tersedu-sedu, hatinya sakit berlipat-lipat mengetahui Ray akan menikah dan Zee sedang hamil anak Ray.
__ADS_1
Anak ini adalah anugerah, buah hatiku dan kak Ray. Meski aku dan kak Ray tidak bersama lagi, keberadaan anak ini bukanlah kesalahan yang harus disingkirkan. Dia tetaplah anugerah dari yang kuasa.
Tisha memegang perutnya dengan lembut penuh kasih sayang. Tisha sudah terlihat menyayangi anak nya yang bahkan belum lahir ke dunia, dan masih ada di dalam perut datarnya.
"Apa kamu yakin akan tetap mempertahankan nya? Membesarkan nya seorang diri tanpa ada ayahnya?" Tanya Bu Fani dengan suara yang lebih tenang dari sebelumnya yang terkesan memaksa
Tisha mengangguk pelan, "Ya, Bu.. aku akan tetap melahirkan anak ini tanpa ayahnya tau" Tisha tersenyum yakin
"Maaf Tisha, ibu sudah khilaf meminta kamu untuk menggugurkan kandungan mu. Kamu benar, dia tidak bersalah. Ibu mengatakan nya karena ibu hanya ingin kamu bahagia, kamu hidup bebas. Pernikahan mu dan si Presdir kejam dan egois itu adalah kesalahan ibu dan Arya, kamu sampai melepaskan segalanya. Mimpi, masa depan dan kebahagiaan mu selama dua tahun.. ibu hanya ingin kamu bahagia.."
Bu Fani menyesali perbuatannya di masa lalu yang sudah membuat Tisha menderita di usianya yang masih muda demi membayar hutangnya dan Arya. Namun dia dan Arya malah kabur meninggalkan Tisha seorang diri dalam keadaan sulit.
Tisha mulai tersenyum dan memeluk ibunya. Dia mengatakan pada ibunya bahwa ia mengerti kenapa Bu Fani memintanya menggugurkan kandungan. Demi kebebasan dan kebahagiaan nya, Bu Fani takut kalau kehamilan anaknya itu akan jadi penghalang.
"Tisha, kalau kamu benar-benar yakin untuk melahirkan anak mu, ibu dan kakak mu juga akan membantumu. Tapi, kita harus pergi dari sini Tisha. Jika kamu terus disini, dia akan tau kalau kamu hamil anaknya dan dia akan terus mengekangmu" Bu Fani menatap Tisha dengan cemas, ia tau Ray adalah orang yang posesif dan kejam.
Ray dapat melakukan apapun untuk menahan Tisha disisinya, apalagi kalau Ray tau Tisha hamil anaknya. Makin posesif lah dia pada Tisha.
"Ya bu, seperti nya kita memang harus kabur dari sini dan pergi ke tempat yang jauh. Tapi bagaimana kalau kak Ray tahu? Dia tidak bodoh Bu" gumam Tisha yang tau sifat Ray
"Ibu ada cara, tapi kita membutuhkan bantuan orang kuat agar kita bisa pergi dari kota ini atau bahkan negara ini tanpa ketahuan!" Bu Fani tersenyum, ia sudah memikirkan rencana pelarian mereka dari Ray dan orang-orang nya.
"Orang kuat?"
"Maksud ibu, orang dengan kekuasaan tinggi dan kekuatan yang hampir sama dengan kekuasaan mantan suamimu" Bu Fani memikirkan seseorang yang terlintas di kepalanya.
"Siapa?" Tisha melihat ibunya dengan bingung.
๐๐๐
Ray yang tidak percaya pada hasil pemeriksaan Zee, langsung membawa Zee ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaaan. Ray tidak langsung percaya kalau Zee hamil. Sesampainya di salah satu ruangan dokter kandungan, Ray menyeret Zee dengan kasar untuk memeriksakan dirinya.
Kali ini Zee mulai takut, ternyata pria itu tak bisa dibohongi dengan tipu muslihatnya.
"Ray! Aku kan sudah periksa ke dokter dan kamu juga sudah lihat hasilnya! Mengapa kamu masih tidak percaya padaku?!" Zee enggan pergi ke ruangan dokter kandungan itu. Tapi Ray tetap menyeretnya, ia tak peduli pada Zee yang merengek padanya.
Gawat, kalau sampai aku masuk ke dalam sana dan dokter itu memeriksaku. Aku akan ketahuan berbohong, bisa-bisa Ray tidak jadi menikahi ku bahkan semakin membenciku. Apalagi kalau dia tau aku akan sulit hamil. Aku harus mencari cara agar bisa pergi dari sini.
Zee panik, ia tidak bisa melawan Ray yang terus menyeretnya dengan paksa. Zee sudah mengerahkan semua aktingnya, menangis, memohon, memelas, tapi semua itu tidak mempan padanya. Bukan hanya Ray yang curiga dan tidak percaya pada surat kehamilan Zee, Gerry juga tidak percaya pada Zee yang sudah sering melakukan tipu muslihat pada Ray.
Gerry lebih percaya kalau Tisha yang hamil dan bukannya Zee.
"Ayolah, aku juga sangat penasaran dan ingin melihat secara langsung anakku yang katanya ada di dalam perutmu itu. Kamu tidak usah takut begitu" Ray masih memegang tangan Zee, ia membuka pintu ruangan dokter kandungan di rumah sakit itu.
KLAK
Mata Zee membulat, ia masih meronta-ronta tak mau masuk ke dalam sana. Ray menatapnya dengan tajam lalu berteriak, "MASUK!"
Zee menatap Ray sambil menangis, di wajahnya tertulis jelas kata, "Matilah aku"
__ADS_1
...---***---...
Mohon maaf bila ada typo, masih dalam proses revisi. Maaf juga belum sempat balas komentar kalian, karena terkendala eror juga sinyal๐ฅบ๐ makasih ya yang sudah kasih like, gift, vote dan komennya.