
...πππ...
"Zayn aku gak bisa, kita tidak bisa mempunyai hubungan seperti itu" jawab Tisha menolak Zayn
"Kenapa tidak bisa? apa karena kamu menganggap selama bertahun-tahun kita hanya bersahabat?" tanya Zayn yang tidak mau mundur begitu saja. Zayn terlihat sedih dan galau.
Apa selama ini Tisha tidak pernah melihatku sebagai sesuatu yang lain dari seorang sahabat?
"Kita bersahabat dan selamanya hanya akan seperti itu!" seru Tisha tegas
GREP
Zayn memegang tangan Tisha, "Apakah kamu tidak ada perasaan apa-apa padaku? lebih dari sahabat? tidak ada?" tanya Zayn penuh harapan
"Zayn, maafkan aku..aku tidak punya perasaan seperti itu padamu" Tisha menggelengkan kepalanya, menolak Zayn.
Lebih baik aku menyakitimu sekarang Zayn, daripada nanti kamu terus berharap dan berkorban untukku. Maafkan aku Zayn. Batin Tisha merasa bersalah pada Zayn karena sudah menolak pria itu, karena di dalam lubuk hati nya Tisha memang tidak ada perasaan cinta pada Zayn.
Dia menganggap Zayn hanya sebagai sahabat dan tidak lebih dari itu.
"Enggak! kamu jangan ngomong kaya gitu, kamu jangan langsung menjawabnya. Kamu harus memikirkan nya lebih dulu" Zayn masih berharap kalau Tisha masih memberikan nya kesempatan. Bertahun-tahun mencintai dan langsung ditolak, pasti tak akan mudah baginya menerima penolakan itu.
Kalau aku memberimu kesempatan, kamu hanya akan berharap. Dan aku tidak mau membuatmu berharap. batin Tisha sedih, dia takut melukai perasaan Zayn tapi dia harus melakukan nya.
"Zayn, maaf aku gak bisa. Aku gak cinta sama kamu dan kita gak bisa memiliki hubungan seperti itu. Kumohon hentikan semua tindakan mu yang tidak berarti apa-apa ini dan kembalilah ke tempatmu Zayn. Tempat dimana bintang bersinar" Tisha berharap kalau Zayn akan menarik keputusan nya kembali untuk mundur dari dunia hiburan, dunia yang sudah menjadi dunia nya selama ini. Mimpi indah dan cita-cita Zayn sejak masih duduk di bangku SMA.
"Tapi.. kenapa aku gak bisa?! Lalu...Tisha, apa si br*ngsek itu bisa bersama kamu?"tanya Zayn mengalihkan pembicaraan ke arah Ray.
"Kenapa kamu jadi membawa-bawa dia?" tanya Tisha heran
"Jawab saja! apa dia masih punya kesempatan untuk bersama kamu?" tanya Zayn sedih
"Iya dia masih punya" jawab Tisha jujur
"Kenapa dia bisa dan aku tidak?!" tanya Zayn dengan suara yang meninggi
"Aku sudah berjanji padanya setelah dia menyelesaikan masalah dalang di balik kecelakaan itu, aku akan memberinya kesempatan" jelas Tisha
"Apa? apa hanya karena itu lalu kamu mau menerima nya kembali?" tanya Zayn tak percaya alasannya sesederhana itu.
"Iya itu saja" jawab Tisha sambil memalingkan wajahnya. Zayn melepaskan pegangan tangannya dari Tisha, dia mengerti arti wajah Tisha saat ini.
"Mungkinkah kamu jatuh cinta padanya lagi?" tanya Zayn sedih
"Tentang itu.. aku..."
Cinta? apakah aku jatuh cinta padanya lagi? atau memang sebenarnya aku selalu mencintainya?
"Jangan dijawab! aku sudah tau tanpa kamu bicara. Tapi, walaupun kamu mencintai dia, aku tidak akan menyerah... Tisha" ucap Zayn penuh tekad
Aku sudah berjalan dan berjuang sejauh ini, tidak mudah untuk mengakhiri nya.
"Zayn, apa maksudmu?" tanya Tisha tak mengerti.
"Aku tidak akan berhenti dari keputusan ku Tisha. Tidak tentang kembali ke dunia hiburan, tidak tentang menyerah padamu" Zayn menatap Tisha penuh kasih sayang. Selama ini dia terlalu santai hingga Ray masih bisa menyusup ke dalam hati Tisha. Padahal Zayn lah yang selalu ada untuk Tisha dan Rasya di saat tersulit dalam hidup mereka.
"Zayn! kamu harus kembali ke dunia hiburan dan melupakan perasaan mu padaku! itu yang terbaik untuk kamu dan aku.." Tisha jadi merasa bersalah karena keputusan Zayn adalah karena dia.
"Aku tidak mau dan tidak bisa. Biarlah dengan cara seperti ini kamu merasa bersalah" Zayn tersenyum tipis, berkata dengan jujur nya.
"Zayn!!" bentak Tisha tak habis pikir dengan keras kepala Zayn.
Zayn kenapa kamu melakukan ini untukku? kamu tidak akan dapat apa-apa. Tisha merasa bersalah
Dreet...
Dreet..
πΆπΆπΆ
Ponsel Zayn berbunyi di dalam saku celana nya, dia merogoh ponsel itu dan melihat siapa yang menghubungi nya.
"Maaf Tisha, seperti nya aku harus kembali malam ini. Kak Farhan pasti mau menceramahi ku lagi hehe" Zayn berusaha tersenyum walau hatinya pahit dengan penolakan Tisha.
"Kalau kamu tidak mau diceramahi, dengarkan lah apa katanya!" seru Tisha
SRET
__ADS_1
Tangan kekar Zayn membelai pipi Tisha dengan lembut, tak kunjung lama dia kembali menarik tangannya."Bilang pada Rasya, nanti aku akan kembali menemuinya"
"Zayn..."
"Aku pamit, Assalamualaikum" ucap nya sambil melangkah pergi, meninggalkan Tisha sendirian di sana.
Tisha menatap punggung Zayn dengan penuh perasaan bersalah. Keras kepala Zayn tidak akan membuatnya berpaling dari Ray, karena Tisha telah jatuh cinta lagi pada Ray.
"Zayn,kamu sangat keras kepala..mengapa kamu melakukan semua ini untukku? bagaimana aku harus menghadapi mu?" gumam Tisha bingung dengan apa yang harus dia lakukan kepada Zayn.
CEKRET
"Mama" sambut Rasya pada mama nya yang baru saja membuka pintu.
"Kamu sudah kembali?" sambut Ray pada Tisha dengan wajah ramahnya. Ray terlihat sedang menyuapi Rasya dengan bubur.
"Hem.. Rasya kamu sudah bangun sayang?" tanya Tisha sambil menghampiri anaknya yang sedang duduk di ranjang, mulutnya terlihat mengunyah sesuatu.
"Iya ma, belum lama. Papa langsung menyuapi aku sama bubur" jawab Rasya ceria seperti biasanya
Syukurlah, seperti nya Rasya gak apa-apa.Tisha tersenyum lega melihat putranya bersikap normal seperti biasa. Dan mungkin tidak memiliki trauma seperti apa yang dikatakan oleh dokter.
"Iya sayang, gimana luka nya masih sakit gak,?" tanya Tisha sambil duduk di samping Rasya
"Perih sedikit, tapi udah gak apa-apa kok" Rasya tersenyum sambil memakan bubur itu dengan lahap dari suapan papa nya
Tisha memeluk Rasya dengan penuh kasih sayang, dia merasa bersalah karena Rasya harus mengalami semua kejadian buruk ini. "Hampir saja mama mati, sayang.. syukurlah kamu baik-baik saja. Maafkan Mama sayang, mama tidak menjaga kamu dengan baik"
"Tidak Tisha, ini bukan salah kamu. Semua terjadi karena aku, jika bukan karena aku kalian tidak akan mengalami kejadian buruk seperti ini. Aku minta maaf sama kamu Tisha, papa juga minta maaf sama Rasya ya" Ray memegang tangan kecil anaknya itu, matanya berkaca-kaca menatap Rasya penuh rasa bersalah.
"Tidak apa-apa pa, lagipula aku dan mama juga baik-baik saja" Rasya tersenyum ceria
"Tapi dia sudah melukai kalian, bagaimana bisa kalian baik-baik saja. Seperti nya papa harus merasakan hal yang sama dengan kalian" ucap Ray lalu mengambil ponselnya.
"Apa maksud kamu kak?" tanya Tisha sambil melihat Ray yang sedang menelpon seseorang.
Dia sedang menelpon siapa?
Tut.. Tut...
"Halo Gerry!"
"Kemari dan bawakan arang, minyak tanah dan silet!" titah Ray pada sekretarisnya itu.
"Apa? kenapa bapak meminta saya membawakan itu?" tanya Gerry terkejut. Bukan hanya Gerry yang terkejut tapi Tisha dan Rasya juga, mereka bertanya-tanya apa yang dia lakukan dengan benda-benda itu.
Apa pak presdir mau main debus?
"Lakukan saja! dan cepatlah!" teriak Ray marah
"Baik pak" jawab Gerry patuh
Beberapa menit kemudian setelah Tisha, Rasya dan Ray selesai makan bersama. Gerry datang membawakan barang-barang yang diminta oleh Ray ke rumah sakit.
"Saya sudah membawakan nya pak"
"Bakar arang itu disini jangan lupa tambahkan minyak tanah nya!" titah Ray pada Gerry
"A-Apa?" Gerry terpana dengan perintah presdir nya, dia mengira Ray sudah gila.
Seperti nya pak presdir sudah tidak waras.
"Papa, apa yang mau papa lakukan?" tanya Rasya dengan wajah polos nya yang bingung
"Papa mau merasakan apa yang mama kamu rasakan" jawab Ray
"Kamu mau main debus?" tanya Tisha mengejek, Gerry hanya tersenyum dan mengacungkan jari jempol nya pada Tisha. Pertanda setuju dengan pertanyaan wanita itu.
"Cih! kamu lihat saja" Ray mendelik kesal pada Tisha, dia sebal dengan ejekannya.
Meskipun perintah presdir nya itu aneh dan cukup konyol, Gerry tetap melaksanakan nya. Dia juga menjaga pintu luar takutnya ada suster atau dokter yang masuk ke dalam ruangan itu.
Ray membuka sepatunya, dia bersiap-siap melangkah di dalam bara api itu. Tisha langsung menghentikan nya, dia mengatakan bahwa pria itu sudah gila. "Kamu mau ngapain? dasar gila! kamu mau mati ya?!" Tisha melingkarkan tangannya di perut Ray
"Kamu juga terluka karena bara api, jadi aku juga harus terluka" kata Ray
"Kamu ini.. kamu gak lihat ada Rasya? dia bisa cemas lihat kakak begini!" bisik Tisha kesal pada pria itu. Ray memanfaatkan kesempatan untuk memeluk Tisha. "Kamu khawatir karena ada Rasya yang lihat atau karena kamu khawatir sama aku??"
__ADS_1
"Kakak mulai lagi deh, hentikan! lepaskan aku..!"Tisha malu dan meminta Ray melepaskan pelukan nya. Ray malah memeluknya semakin erat, semakin berani.
"Tisha.. aku sudah menuntaskan masalah Zevanya, apa kamu sudah mau menerima ku?" bisik Ray pada Tisha
"Aku hanya bilang untuk memberikan mu kesempatan, bukan bilang akan menerima mu"
"Haihh..." Ray menghela napas sedih, ternyata dia masih harus bersabar dan menunggu.
"Masih mengeluh? kalau begitu aku bolehkah aku menarik kata-kata ku kembali?" tanya Tisha
"Jangan dong! aku akan menggunakan kesempatan itu dengan baik, terimakasih" Ray tersenyum pada Tisha dengan lembutnya. Ray dan Tisha saling menatap satu sama lain.
PROK
PROK
Ray dan Tisha sama-sama tersentak mendengar suara tepuk tangan.
"Horayy mama sama papa pelukan!" Rasya bertepuk tangan, dia sangat menyukai pemandangan itu. Dimana kedua orang tuanya terlihat mesra.
Tisha langsung mendorong Ray dan menjauh dari pria itu. "Ehem, sudah ya. Malu dilihat Rasya" Tisha jaim
"Kenapa?Rasya kan suka" goda Ray sambil tersenyum pada Tisha
Setelah keadaan Rasya membaik, keesokan harinya Ray dan Tisha membawa Rasya kembali ke rumah. Sesampainya di rumah keluarga Argantara, pak Faisal langsung menyambutnya sambil menangis.
"Cicit kakek, maaf ya kakek tidak menjaga kamu dengan baik...huuhuhu.." Pak Faisal mengelus kepala Rasya dengan lembut.
"Kakek buyut, aku tidak apa-apa kok. Kakek buyut jangan nangis ya" Rasya menghibur kakek buyutnya itu.
Pak Faisal memuji ketegaran Rasya yang masih bisa tersenyum ceria setelah mengalami semua kejadian buruk. Dia berfikir kalau dalam hal ini Ray dan Rasya memiliki perbedaan. Rasya itu lebih kuat dari Ray saat dia kecil.
Mereka makan siang bersama di ruang makan, ada Daniah juga disana. Setelah selesai menghabiskan makan siang mereka bersama, Tisha tiba-tiba bicara pada semua orang bahwa dia punya pengumuman penting.
"Maaf, ada yang ingin saya bicarakan dengan kalau semua. Terutama kakek dan kak Ray.." Tisha menatap mata semua orang satu persatu dengan wajah yang serius.
"Ada apa, nak?" tanya pak Faisal setelah selesai meneguk air yang ada di dalam gelas.
"Apa aku juga harus mendengar nya?" tanya Daniah sinis
"Kalau untuk Bu Daniah, ya terserah saja sih mau dengar atau tidak" jawab Tisha tak kalah cueknya pada wanita paruh baya itu
Daniah langsung merem*s tisu yang sedang dia pegang dengan kesal. Anak si*l*n! benar-benar menyebalkan!
"Apa yang mau kamu bicarakan?" tanya Ray penasaran, dia tidak tau apa yang ingin dibicarakan oleh Tisha. Rasya juga sama dengan papa nya, menatap Tisha dengan penuh pertanyaan.
"Kakek, kak Ray, Bu Daniah.. saya dan Rasya akan pindah dari sini" ucap Tisha memantapkan hatinya
PRANG!
Ray terkejut sampai dia menjatuhkan piring yang ada di mejanya dan pecah ke lantai. Pak Faisal juga terkejut dengan kata-kata Tisha. Rasya melihat mama nya dengan bingung.
Dia dan anaknya mau pergi? bagus deh, sekarang gak ada yang menghalangi suami dan anakku untuk berkuasa di dalam rumah ini. Daniah senang mendengar Tisha mengatakan akan pindah dari rumah.
"Apa maksud mama? kenapa kita harus pindah dari sini?" tanya Rasya bingung dan sedih
Aku betah disini, kenapa mama ngajak pindah? Rasya cemberut
"Apa aku membuatmu tidak nyaman? kenapa kamu mau pindah?" tanya Ray tidak mengerti, dia berfikir kalau Tisha ingin pindah karena kejadian Zevanya yang sempat mengancam nyawa Rasya, mungkin Tisha masih marah.
Bi Ani mendengar suara piring pecah itu, dia langsung membersihkan pecahan piring di lantai.
"Aku dan Rasya memang harus pindah, tidak baik juga kalau kami tinggal terlalu lama disini" ucap Tisha pada Ray
"Tapi kenapa nak? kamu bisa tinggal disini selama yang kamu mau kok" Pak Faisal juga seperti nya tidak rela kalau Tisha dan Rasya pindah.
"Biarkan saja pah, kalau Tisha dan Rasya memang mau pindah dari sini. Tidak baik juga mereka berlama-lama disini, Ray dan Tisha kan sudah bukan suami istri. Apa kata orang kalau melihat mereka tinggal bersama dalam satu rumah? mau dianggap kumpul kebo?" tanya Daniah sarkastik dengan wajah sinis nya
"Daniah!!!" bentak pak Faisal yang tidak suka dengan ucapan Daniah
"Bibi!" Ray kesal
"Kakek, kak Ray, apa yang dikatakan Bu Daniah benar. Itulah alasan kenapa kami harus pindah" jawab Tisha santai
"Apa kamu akan pindah kembali ke New York?" tanya Ray takut kalau Tisha dan Rasya akan kembali jauh darinya.
Tisha terdiam dan terlihat berfikir, "Lalu apa kamu mau aku kembali kesana?" tanya baliknya
__ADS_1
...---***---...