
...πππ...
Pembicaraan makan siang itu pun usai dengan keputusan Tisha yang sudah bulat untuk pindah dari rumah keluarga Argantara.
Keputusan Tisha untuk pindah dari rumah itu, menimbulkan pro dan kontra. Tidak masalah untuk Daniah dan Dean, tapi masalah untuk Rasya, Ray dan pak Faisal yang tidak setuju dengan keputusan Tisha.
Hari itu juga Tisha langsung membereskan barang-barang nya, dia mulai memikirkan rumah baru, sekolah baru untuk Rasya dan lingkungan baru untuk Rasya nantinya.
"Ma...kenapa kita harus pindah? Rasya suka disini ma, Rasya gak mau pindah" bujuk Rasya pada mama nya yang sedang membereskan baju ke dalam koper.
"Sayang, kita harus pindah. Kita gak bisa tetap tinggal disini terus kan? kita juga punya rumah sendiri" jawab Tisha santai
"Tapi ma.. Rasya suka disini, disini ada kakek buyut, papa, nenek sama kakek, ada Bi Ani, Bi Asih sama pak Ujang juga. Rasya gak mau kembali lagi ke New York, disana sepi gak kaya disini" gerutu Rasya sambil merengek-rengek pada mamanya agar tidak pindah dari rumah itu.
Pokoknya harus berhasil bujuk mama, aku harus bisa!. Batin Rasya penuh tekad
"Haha, siapa yang bilang kita mau pindah ke New York lagi? enggak kok sayang" Tisha tertawa kecil mendengar rengekan anaknya itu
Rasya terdiam dengan wajah polosnya, "Terus kita mau pindah kemana?" tanya Rasya penasaran
Tok, tok, tok
Ray mengetuk pintu kamar itu, padahal kamarnya tidak dikunci dan pintunya juga terbuka lebar. Wajahnya terlihat masam, menunjukkan ketidaksenangan.
"Papa!" Rasya beranjak dari ranjang, dia berlari dan menyambut papa nya. "Papa, mama tetap mau pindah? tuh mama mau beres-beres" bisik Rasya pada papa nya.
"Mama kamu gak akan bisa pindah, percaya deh sama papa. Papa akan coba bujuk mama kamu" bisik pada anaknya sambil tersenyum percaya diri.
Memangnya kalian bisa kembali ke negara itu? kalian tidak akan bisa karena paspor kalian sudah ku musnahkan. Kalian tidak akan pernah bisa pergi keluar negeri dan akan tetap tertahan disini selamanya. Ray sudah menghancurkan paspor Tisha dan Rasya, dia juga sudah membuat surat pindah untuk Rasya secara diam-diam.
"Masuk aja, pintunya gak di kunci ini. Kenapa harus ketuk pintu segala?" tanya Tisha keheranan
"Bisa kita bicara sebentar" pinta Ray sambil menatap tajam ke arah Tisha.
"Oke" Tisha selesai melipat baju terakhir lalu memasukkan baju itu ke dalam koper dan menutup kopernya.
"Rasya sayang, bisa kamu main dulu sama kakek buyut dibawah?" kata Ray pada putranya
"Oke pa, good luck ya!" Rasya mengedipkan matanya seraya memberi semangat pada Ray
Rasya meninggalkan papa dan mama nya di kamar itu. Tisha pun mengajak Ray bicara di balkon agar lebih leluasa. "Ada apa?"
"Kenapa kamu mau pindah? apa karena kejadian Zevanya? kamu marah sama aku? atau kamu ingin ingkar janji?" Ray bertanya dengan suara yang curiga
"Apa yang kamu pikirkan kak? semuanya salah" sanggah Tisha pada pertanyaan dan pikiran Ray tentang alasan kepindahan nya.
"Lalu kenapa?" tanya Ray
"Setelah menemukan dalang dibalik kecelakaan ibu dan kakak, aku sudah bertekad akan hidup tenang. Aku ingin punya kehidupan sendiri, aku punya mimpi. Dan kali ini aku mau mewujudkan mimpiku"
"Mimpi kamu? apa itu?"
"Kembali tinggal di Jakarta, menjadi seorang desainer dan ibu yang baik untuk Rasya. Dan alasan ku pindah dari sini adalah untuk menghindari rumor buruk tentang kita. Aku dan kakak kan sudah bukan suami istri lagi, meski kita adalah orang tua Rasya" wanita itu menjelaskan alasan kepindahan nya
Ray tersenyum bahagia mendengar keputusan pindah Tisha bukan karena wanita itu ingin mengingkari janjinya atau karena dia marah padanya.
"Kalau kita sudah suami istri, maka nanti boleh tinggal bersama kan?" tanya Ray serius pada Tisha
"Apa sih yang kak Ray bicarakan?" tanya Tisha sambil tertawa kecil
"Aku serius, kalau kita menikah kita akan tinggal bersama kan?" tanya Ray lagi
"Ya, itu kan jika kita menikah" jawab Tisha serius juga
"Maka aku akan menikahi mu nanti, kali ini pernikahan yang sesungguhnya" kata Ray serius sambil menatap wanita itu
"Kalau sudah tidak ada yang dibicarakan lagi, sudah ya. Aku mau siap-siap pergi" Tisha mengalihkan pembicaraan ke arah lain.
Masih terlalu awal untuk membicarakan masalah pernikahan kak. Aku saja belum sepenuhnya merasakan cinta mu. batin Tisha
__ADS_1
"Kemana kamu akan pindah? dan dimana tempat kamu bekerja nanti? lalu sekolah Rasya apa kamu sudah mengeceknya? mau aku bantu daftar kan?" tanya Ray cerewet
"Haha"
"Loh? kenapa malah ketawa? memangnya ada yang lucu?" tanya Ray dengan kening berkerut.
"Sejak kapan kakak jadi cerewet seperti ini? seingat ku dulu kamu sangat dingin" Tisha masih tertawa melihat sikap Ray yang berbeda dari yang dulu
"Aku gak bisa dingin sama anak dan istriku, sebisa mungkin aku akan bersikap hangat sehangat hangatnya. Supaya kamu dan Rasya tidak kabur lagi dariku" Ray bicara jujur dari dalam hatinya
"Kamu juga berubah menjadi orang yang blak blakan" Tisha tersenyum tipis.
"Untukmu dan hanya bersamamu saja aku seperti ini" Ray membalas senyuman Tisha dengan senyuman lembut.
Baguslah, seperti nya hati Tisha mulai terbuka padaku. Dia bersikap ramah di padaku. Ray merasa hati Tisha sudah mulai terbuka untuk nya, ini arti bahwa Tisha mulai memberikan kesempatan yang dia janjikan itu.
"Ehem, ya sudah kita bicarakan itu nanti. Sekarang aku mau nyuruh Rasya mandi dulu. Ini sudah sore, besok juga aku dan Rasya harus bersiap pindah"
"Baiklah, aku akan bantu kamu" kata Ray tersenyum tulus.
"Silahkan" Tisha mempersilakan Ray untuk membantunya.
Tisha dan Ray turun bersama, tiba-tiba Rasya merengek pada kedua orang tuanya kalau dia ingin membeli eskrim dan jalan-jalan keluar rumah. "Rasya sayang, nanti saja beli eskrim dan jalan-jalan nya. Mandi dulu ya, ini sudah sore" bujuk mama nya
"Gak mau, aku mau jalan-jalan sama beli eskrim nya sekarang!" kata anak itu kekeh
"Rasya sayang! kok kamu jadi rewel sih!" gerutu Tisha sebal pada anaknya yang membangkang
"Haha...dia benar-benar mirip Ray waktu masih kecil, ketika menginginkan sesuatu Ray harus mendapatkan nya" kata pak Faisal sambil melihat cicitnya
"Tentu saja ,dia adalah gen ku. Tampannya saja mirip denganku" kata Ray percaya diri sambil melihat putranya
"Ketampanan kita sama pah!" seru Rasya tak mau kalah dan mau dibilang tampan juga.
"Iya kita sama-sama tampan" Ray setuju
"Sudah mengobrol nya, ayo mandi! mandi!" teriak Tisha pada anaknya itu kesal.
Namun Daniah dan Dean melihat mereka dengan tatapan tidak senang dan iri.
πππ
.
.
Farhan memarahi Zayn habis-habisan ketika dia tau kalau Zayn pergi keluar dari apartemen nya.
"Apa sih yang kamu pikirkan Zayn? kamu kan tau resikonya kalau kamu keluar dari apartemen akan bagaimana? para wartawan dan fans kamu masih berada di sini!"
"Aku habis pergi ke rumah sakit kak, aku bertemu dengan Tisha dan Rasya" jawab Zayn dengan wajah sedihnya
"Lagi-lagi mereka? Zayn aku sudah peringatkan! tolong buka matamu lebar-lebar! Latisha hanya menganggap kamu sahabat, tidak lebih" Farhan berusaha mempengaruhi Zayn untuk melupakan Tisha.
"Dia memang menolak ku"jawab Zayn dengan wajah datarnya
"Sudah ku duga. Aku kan sudah bilang sebelumnya kalau kamu akan di tolak"
"Tapi aku gak akan nyerah kak" ucap Zayn serius
"Lagi-lagi kamu seperti ini Zayn. Sadarlah Zayn, kamu tidak akan mendapatkan apa-apa darinya, walau kamu berjuang sekeras apapun. Latisha akan tetap bersama dengan pak Raymond"
"Itu gak akan terjadi selama aku ada disini" kata Zayn sambil menyeruput minuman yang ada di dalam gelas dengan sedotan
"Cinta mu ini benar-benar pembodohan Zayn. Kamu begitu keras kepala! Zayn, asal kamu tau ya! ikatan diantara mereka tidak akan terputus selamanya karena mereka memiliki ikatan yang kuat dan sampai kapanpun kamu tidak akan bisa memutuskan nya. Kamu mau tau ikatan apa yang tidak bisa memutuskan hubungan mereka? Rasya.. anak mereka, mereka punya anak dan itu adalah hal yang tidak bisa kamu putuskan"
DEG!
Zayn tersentak kaget, tapi mulutnya bungkam.
__ADS_1
"Pikiran kan lah baik-baik Zayn sebelum semuanya terlambat! jangan sampai kamu salah jalan karena hal yang kamu kejar akan sia-sia. Ingat mimpimu! ingat cita-cita mu untuk berada di atas panggung dan membahagiakan semua orang yang mendengar lagumu. Duduk di kursi dan memegang bolpoin, bukanlah dirimu" Farhan berusaha menyadarkan Zayn dari semua khayalan nya bersama Tisha. Ikatan Tisha dan Ray bukanlah ikatan sederhana yang bisa diputuskan olehnya.
Terlebih lagi Zayn tidak memiliki peluang besar untuk mendapatkan Tisha. Farhan meninggalkan pria itu, memintanya untuk merenung. Sekarang Farhan mulai mengerti arti kata cinta buta, tidak peduli kepada siapa, tidak peduli seperti apa, cinta itu tak mengenal arah. Kadang logika pun tidak berjalan lancar kalau cinta sudah diatas segalanya.
"Rasya? Rasya adalah ikatan mereka?" Zayn merenung sendirian di dalam apartemen nya yang gelap.
Keesokan harinya, Zayn bersiap-siap memakai setelan jas rapi. Entah kemana dan apa yang akan dia lakukan dengan memakai baju formal itu.
πππ
Pagi itu juga, Tisha dan Rasya akan pindah dari rumah besar keluarga Argantara.
"Kek, kami pamit ya. Jaga diri kakek baik-baik" Tisha memegang tangan pak Faisal dengan penuh kasih sayang.
"Kamu benar-benar tega ya sama kakek, nanti kakek kesepian lagi disini" Pak Faisal sedih, rumah itu mungkin akan kembali sepi karena Tisha dan Rasya pindah dari sana.
"Kakek jangan khawatir ya, nanti Rasya sama mama akan sering main kesini kok" kata Rasya sambil tersenyum cerah
"Iya, sering main kesini ya. Kakek buyut bosan di rumah sendiri kalau gak ada Rasya" Pria tua itu memeluk Rasya penuh kasih sayang.
"Nanti kalau papa dan mama udah nikah, kita bisa tinggal bersama selamanya kan kek?" tanya Rasya berbisik pada sang kakek
"Tentu saja" Pria tua itu tersenyum
"Lalu aku akan menyatukan papa dan mama" kata Rasya semangat
"Ya, kakek juga akan bersedia membantu kamu"
Sebelum ajal menjemput ku, aku harus segera membuat surat itu. Aku juga ingin melihat Tisha dan Ray menikah kembali.
"Ohok..ohok" Pak Faisal batuk-batuk
"Kakek, kakek gak apa-apa?" tanya Tisha cemas pada pria tua itu
"Gak apa-apa, ini penyakit lama kok. Kakek sudah tua, pastilah akan sering sakit" Pak Faisal tersenyum, dia melihat di tangannya ada dahak yang berdarah. Dia menyembunyikan darah di telapak tangan itu.
"Kakek, jaga kesehatan ya. Tisha dan Rasya akan sering mengunjungi kakek" Tisha menatap pria tua dengan penuh kasih
"Iya Tisha" Pak Faisal tersenyum lebar
Ray masih tidak rela Tisha dan Rasya pindah dari rumah itu. Ray memutuskan untuk pindah juga dari sana, karena apa gunanya lagi dia tinggal disana kalau tidak ada Rasya dan Tisha. Dia pun memutuskan kembali ke rumah lamanya, rumah yang ditempati Ray dan Tisha saat mereka masih berstatus suami istri.
Sayang nya, Ray tidak bisa berlama-lama di tempat tinggal baru Tisha dan Rasya. Mereka ternyata pindah ke rumah lama peninggalan ayah Tisha.
"Apa kamu yakin mau tinggal disini?" tanya Ray sambil melihat-lihat setiap sudut rumah itu. Tidak ada barang-barang bagus disana, yang ada hanya barang jadul dan sudah usang.
"Memangnya kenapa? aku dan Rasya hanya tinggal berdua saja disini. Rumah ini juga memiliki pemandangan yang indah dan udara yang sejuk"
"Bukan begitu masalahnya, tapi barang-barang disini seperti nya sudah usang dan tidak bisa digunakan lagi. Ah, aku tinggal beli saja barang-barang baru untuk disimpan di rumah ini"
"Jangan seenaknya! kamu pikir aku gak punya uang untuk membelinya? nanti aku akan beli apa yang dibutuhkan" disini" Tisha menyeduh teh hangat untuk Ray, dia tau pria itu belum minum atau makan apa-apa saat mengantarnya pindah.
"Kamu mau menggunakan rumus hemat dan pelit mu itu lagi untuk membeli barang?" sindir Ray pada Tisha yang selalu bersikap hemat
"Pelit dan hemat itu berbeda. Sudahlah, silahkan minum dulu teh nya..aku akan buatkan roti dulu, kamu belum sarapan kan?" tanya Tisha sambil meletakkan cangkir berisi teh panas itu di meja.
"Cie.. kamu perhatian banget ya sama aku, sampai tau kalau aku belum makan"
"Jangan kepedean! aku nawarin sama kamu karena Rasya juga belum sarapan!" sangkal Tisha sebal
"Loh, aku kan sudah sarapan ma...tadi di rumah kakek buyut" jawab Rasya yang mendengar kata-kata mama nya. Anak itu sedang membereskan mainannya di lantai.
"Eh.. itu.. aku mau buat roti panggang dulu" Tisha gelagapan, dia langsung pergi ke dapur dan menyembunyikan wajah malu nya.
Ray tersenyum, dia menahan tawa melihat Tisha yang malu-malu karena ketahuan membuat alasan.
"Pa, mama kenapa tuh?" tanya Rasya heran melihat mama nya jalan agak terburu-buru
"Dia cuma lagi shy shy cat" Ray tersenyum lalu menghampiri anaknya, dia membantu Rasya membereskan mainannya sebelum dia pergi ke kantor.
__ADS_1
...---***---...