
...πππ...
Ray tersenyum manis saat tangannya bisa menggenggam tangan lembut yang berukuran lebih kecil darinya itu. Siapa lagi kalau bukan tangan Tisha, mantan istrinya.
Rasya juga sama dengan papa nya, ia tersenyum puas melihat kebersamaan papa dan mama nya. Ide licik dan akal cerdiknya bersama Ray, berhasil membuat Tisha mengalah.
Tisha, seandainya kamu tau bagaimana jantungku saat ini. Aku seperti akan meledak, tangan hangat mu yang berpegangan denganku membuat ku tidak ingin melepaskannya.
"Jangan tersenyum begitu! aku melakukan ini demi Rasya, bukan demi kamu!" Tisha masih saja dengan nada bicaranya yang ketus pada Ray.
"Ya aku tau. Dan seperti nya mulai sekarang aku harus terbiasa dengan kamu yang pemarah" Ray hanya tersenyum mendengar kemarahan Tisha padanya.
Ya ini lebih baik daripada kamu yang bersikap dingin padaku. Bahkan aku yang dulu memperlakukan mu lebih dari ini, jadi aku akan terima karma ku.
"Kamu bicara apa sih?!" Tisha naik pitam seperti biasanya.
Jangan harap aku bisa luluh hanya karena kamu bersikap lebih baik. Tidak akan!
"Kamu sangat cantik saat marah, tapi kamu lebih cantik saat kamu tersenyum"
"Aku tidak tau dari mana kamu belajar mengatakan hal yang manis seperti itu, tapi aku tidak akan terpengaruh! Heh! " Tisha memalingkan wajahnya meski tangannya masih menggenggam tangan Ray. Bibirnya mengerucut sebal pada pria yang menurutnya sangat tidak tahu malu.
Gerry melihat semua itu dari balik kaca spion, ia senang karena Ray dan Tisha bisa dekat kembali berkat Rasya. Walaupun Tisha masih marah-marah dan bersikap kasar padanya.
Di sepanjang perjalanan menuju bandara, Rasya tertidur pulas di gendongan Ray. Gerry memarkirkan mobilnya di tempat parkir bandara.
Tisha dan Ray yang sedang menggendong Rasya, turun di depan bandara. Dibelakang mereka juga ada orang-orang Ray yang mengikuti membawa barang Tisha, Ray dan Rasya.
"Rasya, sayang? Tisha, lihat ini Rasya tertidur" ucap nya pada Tisha sambil memeluk Rasya yang sedang tidur
"Iyah tidak apa-apa biarkan saja, semalam dia begadang main PlayStation dengan Zayn makanya dia ngantuk" ucap Tisha sambil mengusap kepala anaknya yang sedang tertidur pulas di gendongan Ray
Zayn lagi Zayn lagi, sialan! Syukurlah aku sudah mengirimkan nya ke tempat yang jauh, jadi dia tidak akan berada di sekitar Tisha dan Rasya untuk waktu yang cukup lama. Ray terlihat tidak senang mendengar nama Zayn disebut, sedekat apakah Rasya dengan pria yang bernama Zayn itu?
Yang jelas amarah Ray belum mereda pada Zayn, ia menganggap kalau Zayn adalah orang yang paling bersalah karena sudah memisahkannya dengan Tisha dan putranya. Ray tidak akan pernah bisa memaafkan Zayn, apapun alasan nya Zayn menyembunyikan Tisha dan Rasya.
"Sini, biar aku yang gendong" Tisha merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, bersiap menggendong Rasya.
"Tidak perlu, aku saja yang gendong" ucap Ray yang tidak mau melepaskan anaknya.
"Kamu kan tidak pernah menggendong anak, aku takut dia tidak nyaman di dalam gendongan mu" kata Tisha meluncur jujur dari bibirnya, kata yang cukup pedas dan tidak enak di dengar.
"Aku bisa belajar, karena aku adalah papa nya. Aku akan belajar jadi papa yang baik, tolong kamu jangan halangi aku menggendong anakku yang tidak pernah aku gendong selama hidupnya" Ray memeluk Rasya senyaman mungkin, ia menatap Rasya penuh kasih sayang. Senyuman nya terlihat pahit.
Aku tidak pernah menggendong anakku sekalipun, aku bahkan tidak pernah tau bahwa dia ada di dunia ini. Aku melewatkan banyak waktu waktu berharga ku bersamanya, aku ingin melihatnya dari lahir. Menggendong nya saat dia bayi, tapi aku melihatnya sudah sebesar ini.
DEG!
Ada yang berdenyut di dalam hati Tisha saat mendengar perkataan Ray padanya. Tisha menangkap ada kesedihan, rindu dan sakit hati di dalam kata-kata Ray.
Kenapa hatiku sakit ya mendengar nya bicara seperti itu?. Tisha memegang dadanya dengan perasaan sedih, ia seperti sedang merasakan kesedihan di hati Ray.
"Kamu tidak akan melarangku menggendong nya, bukan?" tanya Ray
"Baiklah, terserah kamu. Kalau kamu mulai merasa berat, berikan padaku" Tisha setuju dengan Ray menggendong Rasya.
"Aku tidak akan pernah merasa berat ataupun keberatan menggendong darah daging ku sendiri" Begitulah Ray yang sudah melewati banyak waktu tanpa anaknya dan dia ingin menebusnya.
Ray berjalan lebih dulu bersama Rasya masuk ke dalam area bandara. Tisha masih berdiri mematung di depan bandara, dibelakang nya ada Gerry yang membawa satu koper.
"Bu Tisha, saya harap anda bisa mengerti pak Presdir. Saya mohon tolong bersikap sedikit baiklah pada nya" ucap Gerry tiba-tiba pada Tisha.
"Mengapa aku harus melakukan itu, pak sekretaris? apa pak sekretaris tidak ingat, apa yang sudah dia lakukan padaku dulu?" tanya Tisha yang matanya masih tertuju pada Ray dan Rasya di dalam bandara.
"Saya tau semuanya Bu Tisha, apa yang pernah pak presdir lakukan di masa lalu pada ibu memang sulit untuk di lupakan apalagi di maafkan. Tapi, saya juga sangat tau apa yang sudah di lewati pak Presdir selama Bu Tisha dan tuan muda Rasya tidak ada disisinya. Saya pikir pak Presdir sudah membayar atas perbuatannya. Selama Bu Tisha dan tuan muda tidak ada disisinya, Pak Presdir sempat koma" jelas Gerry yang ingin membantu Presdir nya untuk membuka hati Tisha walau sedikit saja. Gerry lah yang selalu ada di sisi Ray dan paling tau tentangnya, jadi tidak ada kemungkinan kalau Gerry akan berbohong pada Tisha. Terlebih lagi, Tisha percaya padanya.
"Koma??" Tisha terperangah mendengar Gerry mengatakan bahwa Ray sempat koma. Masih terlihat ada kecemasan di wajah Tisha untuk mantan suaminya itu.
__ADS_1
Kak Ray sempat koma??. Hatinya terhenyak mendengar tentang mantan suaminya itu.
"Setelah Bu Tisha, Bu Fani dan pak Arya dinyatakan meninggal. Pak Presdir sangat depresi, dia tidak bisa tidur nyenyak dan selalu menelan pil tidur. Bahkan pak Presdir melampiaskan semua kesedihannya dengan minuman keras dan merokok. Saat itu, ada suatu hari pak Presdir kejang-kejang dan mulutnya berbusa. Saya yang menemukan nya dan membawanya ke rumah sakit. Dokter bilang jika pak Presdir koma.." Gerry pun menceritakan lebih detail tentang apa yang terjadi.
#FLASHBACK
4 tahun yang lalu, setahun setelah Tisha dan keluarga nya dinyatakan meninggal. Malam itu adalah malam dimana Ray mengalami koma. Ray melihat ke arah jam dinding nya yang menunjukkan pukul 1 dini hari. Matanya masih belum bisa terpejam.
Terlihat beberapa botol minuman kosong berserakannya di kamarnya, entahlah jumlahnya ada berapa. Mungkin belasan atau puluhan, dan ada juga bungkus rokok yang tak tak terhitung jumlahnya memenuhi lantai kamar itu.
Asap rokok bertebaran disana, bau asap nya juga sangat menyengat.
Wajah Ray pucat pasi, dengan mengisap rokoknya dia duduk di lantai dan bersandar ke sudut ranjang nya. Sesekali Ray melihat ke arah foto Ray dan Tisha yang terpajang di dinding dengan matanya sayu.
"Arghh.. lagi-lagi aku tidak bisa tidur, rokok ku juga sudah habis. Bagaimana aku bisa melewati malam ini??" gerutu Ray dengan wajah tanpa semangat dan terlihat kurang sehat itu.
Setiap kali aku menutup mata aku selalu takut, takut akan mimpi itu.
Ray mengambil ponselnya, ia segera menelpon Gerry tanpa mengenal waktu kapan dan bagaimana. "Halo.. pak" jawab Gerry dengan suara yang lemas, karena harus bangun terpaksa demi mengangkat telpon dari bos nya.
"Cepat kemari dan bawa rokok. Rokok ku habis" titah Ray pada sekretarisnya itu
"Ah.. iya baiklah pak" Gerry menghela napas, sudah keberapa kali nya hari itu dia menerima telpon dari Ray.
"Kamu berani menghela napas?! mau aku kirim ke Afrika?!" ancam Ray pada Gerry yang berani menghela napas padanya.
"Ja-jangan pak! saya akan segera datang!" seru Gerry sambil beranjak dari ranjangnya. Gerry meninggalkan istri dan anaknya lalu membeli rokok pada saat itu juga.
Kenapa pak Ray masih saja banyak merokok? apa dia tidak sayang tubuhnya? dia seperti mau mati saja. Sudah diingatkan pun, dia tetap saja melakukan nya. batin Gerry yang cemas pada atasannya itu.
Ray masih menunggu kedatangan Gerry, ia meminum lagi satu botol minuman yang tersisa di kamarnya. Setelah itu ia minum obat tidur yang ada di meja, berharap dirinya agar bisa menutup mata.
Namun malah terjadi hal yang tidak terduga pada nya, sesaat setelah dia meminum obat tidur.
BRUGH
Tubuh Ray ambruk, roboh ke lantai dan mulutnya mengeluarkan busa. Tubuhnya juga kejang-kejang tak terkendali.
"Pak, ini saya. Apa saya boleh masuk ke kamar bapak?" Tanya Gerry sambil mengetuk pintu kamar Ray, ditangannya ada keresek berisi beberapa rokok.
Tok, tok tok
Sampai Gerry mengetuk ke 5 kalinya, masih belum ada jawaban dari Ray. Merasa cemas, akhirnya Gerry memutuskan mendobrak pintu kamar Ray.
BRAK
"Astagfirullah hal adzim!! pak Raymond?!" Gerry panik, dia menghampiri Ray yang sedang dalam keadaan sekarat. Tubuhnya mengejang, matanya melihat ke atas, mulutnya berbusa. Wajahnya pucat dan tentu saja keadaan nya sangat tidak baik.
"Pak, astagfirullah!! sadar pak!" teriak Gerry panik melihat keadaan Ray.
Gerry bergerak cepat, dia segera membawa atasannya itu ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Ray langsung di bawa ke ruang UGD.
Di dalam ruangan itu, dokter berusaha menyelamatkan Ray yang sudah dalam berada kondisi kritis. Ray sempat Anfal, namun Allah masih memberikan nya kesempatan untuk bertaubat. Ray berhasil selamat, walau dirinya berada dalam keadaan koma karena obat tidur dan minuman keras yang sudah merusak tubuhnya.
Setelah sadar dari koma nya, Ray mulai meninggalkan kebiasaan minum-minum nya itu. Meski ia tak bisa meninggalkan kebiasaan merokoknya dan obat tidur yang masih selalu di konsumsi nya.
#END FLASHBACK
Tisha terlihat sedih mendengar cerita dari Gerry, Tisha seperti ingin menangis. Membayangkan penderitaan Ray tanpa dirinya dan Rasya selama bertahun-tahun.
"Dan.. apa Bu Tisha tau? saat semua orang berfikir kalau Bu Tisha sudah meninggal. Hanya satu orang saja yang percaya bahwa Bu Tisha dan tuan muda masih ada, dan orang itu adalah pak Presdir" jelas Gerry dengan wajah yang sedih.
Jangan lemah Tisha! hanya karena sebuah cerita, bukan berarti dia sudah berubah. Dia masih Ray yang sama, Ray yang tidak pernah mencintai mu. Ray yang tidak akan bisa membagi cinta nya dengan orang lain. Ray hanya mencintai Zefanya, dia tidak pernah mencintai ku.
Rupanya Tisha masih sakit hati mengingat dia pernah memergoki Ray dan Zefanya berada di dalam satu ranjang yang sama. Meski Ray bilang Zefanya tidak hamil, tetap saja fakta tentang Zefanya dan tidur bersama masih ada di memori nya.
Tisha berusaha untuk tetap teguh, dia kembali berjalan menyusul Ray dan Rasya masuk ke dalam bandara. Sementara itu Gerry berada di belakang nya, dia berharap kalau Tisha akan sedikit memaafkan kesalahan Presdir nya.
__ADS_1
Aku harap bisa membantu pak presdir meski hanya sedikit. batin Gerry berdoa untuk kebaikan Presdir nya.
Mereka berempat pun naik pesawat bersama di kelas VVIP. Dimana hanya mereka berempat yang ada disana. Tisha, Ray, Gerry dan Rasya.
Rasya masih tertidur pulas, Ray menidurkan nya di ranjang yang ada disana dengan hati-hati. Sementara itu Tisha seperti mencari-cari sesuatu di kopernya.
"Kamu cari apa?" tanya Ray pada Tisha yang terlihat bingung
"Aku mencari guling, Rasya tidak akan tidur pulas tanpa guling itu.. aishh.. seperti nya aku lupa membawanya" kata Tisha sambil memegang kepalanya dengan pusing
"Guling seperti apa?"tanya Ray pada Tisha cemas
"Hanya guling biasa sih, guling berwarna biru, Rasya tidak bisa tidur pulas tanpa memeluk guling itu" Tisha terlihat resah
"Kamu tenang dulu, kalau itu hanya guling biasa. Mungkin ada disini" ucap Ray sambil berfikir
Ray segera memerintahkan Gerry untuk mencari guling berwarna biru sebelum pesawat lepas landas. Untunglah Gerry menemukan nya dengan cepat, Rasya yang tidur langsung memeluk guling itu.
Pesawat pun lepas landas menuju ke Jakarta..
"Dia imut sekali" Ray tersenyum melihat putranya yang tidur nyenyak.
"Ya, dia memang imut" Tisha tersenyum dan mengelus kepala Rasya.
"Wajahnya imut seperti kamu, dia mirip kamu"
"Dia lebih mirip kak Ray" Tisha mengakui bahwa Rasya mirip dengan mantan suaminya.
"Tentu saja, aku kan papa nya" jawab Ray
"Sikapnya juga mirip kak Ray" ucap Tisha
"Ada juga sikapnya yang mirip kamu" Ray tersenyum, dia mengambil kesempatan memegang tangan Tisha.
Tisha menepisnya dan menunjukan reaksi penolakan padanya. "Jangan ambil kesempatan dalam kesempitan" ucapnya ketus
"Latisha.. bukankah lebih baik kalau kita menjadi keluarga yang utuh. Kamu, aku dan Rasya bersama-sama"ucap Ray penuh harapan pada Tisha.
"Aku sudah bilang tidak" jawab Tisha yang enggan kembali dengan mantan suaminya
"Rasya akan sangat senang kalau kita bersama, Rasya juga akan punya papa. Dia selalu ingin punya papa, apa kamu gak kasihan sama dia?" tanya Ray memikirkan Rasya yang selalu di ejek karena punya papa
"Tanpa ada kamu dalam hidup Rasya, dengan ada aku saja sudah cukup. Kami bisa hidup tanpa kamu"
"Kamu egois juga ya? kamu tidak memikirkan perasaan Rasya? bagaimana dia di ejek di sekolah nya karena tidak punya papa?!" tanya Ray kesal dengan Tisha yang menurutnya hanya memikirkan dirinya sendiri
"Kalau itu soal sosok papa, aku bisa mencari orang lain. Tentunya yang bisa mencintai Rasya dan aku lebih dari kamu!" Tisha menunjuk nunjuk pada badan Ray dengan kesal
Aku bilang apa barusan?!
GREP
Kedua tangan Ray memegang erat kedua tangan Tisha, mencengkram nya dengan kuat.
"Sa..sakit!! lepaskan aku!" Tisha melihat kemarahan di mata Ray.
"Cukup! aku sudah cukup bersabar dengan kamu, tidak akan ada papa baru untuk Rasya! papa Rasya dan suamimu hanya lah aku!" teriak Ray kesal
Suami baru? papa baru? sialan!
"Hentikan! ada Rasya disini, dia sedang tidur.. kamu sudah gila ya?!" Tisha melirik ke arah Rasya yang masih tertidur lelap.
"Kalau begitu, ayo kita lanjutkan pembicaraan kita di tempat lain!" Ray menyeret Tisha dengan tidak sabar dan memaksanya walau wanita itu enggan mengikutinya.
Rasya terbangun dari tidurnya setelah mendengar teriakan Ray, dia melihat kedua orang tuanya terlihat sedang bertengkar "Kenapa papa dan mama berantem??! hiks.. huu.. huu.." Rasya menangis keras
"Sa-sayang.." ucap Tisha sambil melihat ke arah Rasya dengan cemas.
__ADS_1
"Rasya sayang.." Ray melepaskan cengkraman tangannya pada Tisha. Dia melirik ke arah Rasya dengan khawatir.
...----****---...