Tahanan Cinta CEO

Tahanan Cinta CEO
Bab 83. Mulai perhatian


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Ray menangkup tubuh Tisha dan Rasya dengan kedua tangannya, menahan mereka supaya tidak jatuh dari tangga.


"Hampir aja! udah sini aku aja yang gendong Rasya" Ray kembali menegakkan tubuh Tisha yang masih menggendong Rasya di pelukan nya.


"Gak apa-apa, aku saja" ucap Tisha keras kepala tidak mau menyerahkan Rasya.


"Jangan keras kepala, kamu belum istirahat setelah turun dari pesawat. Kamu mau jatuh bersama Rasya?" tanya Ray tegas


"Hati-hati" ucap Tisha yang akhirnya menyerahkan Rasya pada mantan suaminya itu. Tisha tidak bisa menyangkal bahwa tubuhnya memang sedikit lelah, kepalanya juga sedikit pusing. Sudah lama dia tidak naik pesawat untuk waktu yang lama.


Ray menggendong Rasya yang tidur itu dengan hati-hati, diikuti Tisha yang berjalan di belakangnya. Mereka sampai di depan kamar Ray yang sudah jarang ditempati itu karena Ray sudah punya rumah sendiri.


Tisha melihat sekeliling kamar itu, ke setiap sudutnya. Masih terlihat sama seperti saat dulu dia melihatnya, Tisha ingat kalau dia dan Ray pernah perang bantal disana. Hati Tisha perih lagi teringat pernikahan nya dengan Ray.


"Aku akan suruh Gerry membawa guling berwarna biru itu" ucap Ray yang tidak melihat ada guling di ranjangnya itu, sambil merebahkan tubuh kecil Rasya dengan hati-hati, Tisha juga membantu Ray mengangkat kaki Rasya yang terluka.


Terakhir, Tisha menyelimuti tubuh Rasya dengan selimut hangat. Mereka berdua menatap buah cinta mereka dengan tatapan yang sama, tatapan penuh kasih sayang.


"Kamu tidak usah melakukan itu, kasihan pak Gerry. Dia baru saja pulang dan membutuhkan istirahat" jawab Tisha yang melarang Ray menghubungi Gerry untuk mengambil guling


"Ya sudah kalau begitu aku akan membawa guling dari kamar lain, kamu dan Rasya tunggu disini ya" Ray tersenyum manis kepada mantan istrinya.


Tisha hanya mengangguk tanpa bicara apa-apa. Ray keluar dari kamar itu untuk mengambil guling dari kamar lain. Beberapa saat kemudian Ray kembali membawa guling berwarna biru untuk anaknya.


Rasya langsung memeluk guling itu dengan lembut. Tisha mengelus rambutnya dengan lembut. Kemudian dia melihat ke arah Ray yang masih berdiri disana.


"Kenapa kamu masih disini? kamu gak keluar?" tanya Tisha ketus pada Ray


"Sepertinya sekarang aku harus mulai terbiasa dengan kata-kata ketus kamu" ucap Ray sambil tersenyum pahit mendengar suara Tisha yang ketus itu.


"Aku tanya apa, kakak jawab nya apa. Keluarlah, aku mau istirahat" Tisha mengusir Ray dengan dinginnya, matanya mengarah ke arah pintu keluar kamar itu.


"Silahkan saja kamu istirahat, aku juga mau istirahat" Ray tersenyum santai lalu merebahkan tubuhnya pada sofa yang ada di kamar itu.


"Hah! bagaimana bisa aku beristirahat kalau kamu masih ada disini? keluar lah! tidak pantas kedua orang asing berlainan jenis berada dalam satu kamar!" Tisha menghampiri Ray dan mulai marah marah padanya


Apa aku harus bertingkah tidak tahu malu dulu, barulah kamu akan bicara dan memperhatikan aku? hah.. seperti nya memang begitu. batin Ray


"Kita kan bukan orang asing, kita orang tua Rasya dan kita akan segera menjadi suami istri" jawab Ray yang masih tiduran di sofa empuk itu.


"A-Apa? wah... lihatlah betapa tidak tahu malu nya dirimu kak! kamu hampir membuatku kehilangan kata-kata, jangan kira aku akan terpengaruh dengan ucapan mu itu..ya. Keluar sekarang!" Tisha menarik tangan Ray dengan sekuat tenaganya, meminta Ray untuk keluar dari kamar itu, lebih tepatnya mengusir.


"Tidak mau" ucap Ray sambil membalikkan badannya, dia menempelkan tubuhnya dengan kuat ke sofa itu sehingga Tisha tidak bisa menarik tubuh nya.


"Kak Ray! kamu benar-benar deh.." Tisha tak habis pikir dengan pria tidak tahu malu yang berbaring di sofa itu.


GREP


Ray menarik kedua tangan Tisha, kemudian tubuh gadis itu berada di dalam dekapannya. Tisha akan berteriak, namun Ray membekap mulutnya.


"Ssst.. jangan berteriak, Rasya nanti bangun" Ray tersenyum manis lalu melepaskan tangannya dari mulut Tisha. Tangannya beralih memegang punggung Tisha dan mendekapnya dengan erat.


Tubuh wanita itu berada di atas tubuhnya saat ini, dan membuat keduanya berdebar-debar.


DEG


DEG


Apa yang dia lakukan? apa dia sudah gila? mengapa aku merasa hangat di peluk olehnya? aku pasti sudah gila.


"Apa yang kamu lakukan? kamu mau mati ya! lepaskan aku! Tisha memukul-mukul tubuh Ray, matanya menatap kesal pada Ray.


"Mati di pelukan mu seperti ini, aku tidak masalah" jawab Ray santainya sambil memegang kepala Tisha dan mendekatkan Tisha ke dadanya.


"He-hey! kamu.." Tisha gusar karena kini kepalanya berada tepat di dada bidang Ray dan tubuh berototnya itu.

__ADS_1


"Dengarkan baik-baik Latisha.. bagaimana detak jantungku saat ini ketika dekat denganmu? katakan, apa yang kamu dengar dengan jujur!" ucap Ray dengan suara yang lembut


Wanita satu anak itu terperangah, dia mendengar suara degup jantung yang berdebar kencang melebihi batas normal. Degup jantung berpacu dengan cepat, terdengar jelas di telinganya.


Deg, Deg, Deg,


Apa ini suara degup jantung nya? terdengar begitu kencang. Apa maksudnya? Tisha memegang dada Ray secara tidak sengaja, dia merasakan tubuh Ray yang memanas.


"Tisha? kamu dengar aku?"


"Jantung kakak berpacu dengan cepat, tubuh kakak juga panas"


"Nah, itu kamu tau. Jadi apa artinya?" tanya Ray menantikan jawaban Tisha


"Aku yakin seratus persen, kalau....


"Kalau apa? lanjutkan"


"Kalau kakak sedang sakit, seharusnya dokter Harun tinggal lebih lama untuk memeriksa kondisi mu. Mungkin ada masalah dengan jantungmu" ucap Tisha mengangguk-angguk


Ray melepaskan pelukan nya, dia tercengang melihat ke arah Tisha dengan alis yang terangkat. "A-Apa?"


"Atau mungkin ada yang salah dengan otak kamu, karena kamu begitu tidak tahu malu" ucap nya ketus


"Latisha Anindita! aku serius!" Ray kesal sendiri dengan ucapan polos wanita itu


"Keluar dari sini, aku mau tidur siang dengan Rasya. Kakak juga tidurlah, semalam kamu kurang tidur kan" kata Tisha pada pria yang kantung mata nya hitam itu.


"Aku tau kamu masih perhatian padaku" ucap Ray percaya diri


"Jangan percaya diri! aku kasihan saja karena kamu masih bergantung pada obat tidur itu" ucap Tisha dingin dan jaim.


"Ya kan? kamu perhatian padaku?" tanya Ray sambil tersenyum pada Tisha, lalu beranjak duduk di sofa itu.


"Aku bilang tidak" sangkal Tisha pada Ray


#FLASHBACK


Malam itu di pesawat, Ray meminta pada Gerry untuk membawakannya obat tidur seperti biasa agar dia bisa tidur. Gerry yang hanya menjalankan perintah, patuh dan mengambilkan obat itu.


Tisha yang baru saja dari toilet, melihat Ray akan meminum obat berwarna putih itu dan air minum.


"Kenapa kakak minum obat? apa kakak sakit?" tanya Tisha sebelum Ray memakan obat yang ada di telapak tangannya.


"Aku harus bilang apa? apa aku harus bilang aku sakit biar kamu makin perhatian sama aku" ucap Ray sambil tersenyum


"Aku tanya serius tapi kamu jawabnya bercanda" Tisha sebal dan duduk di kursi yang berhadapan dengan tempat Ray duduk


"Oke deh aku jawab. Aku gak sakit, aku cuma mau tidur" jawab Ray


"Tidur? kenapa minum obat?" tanya Tisha penasaran bercampur cemas.


Ray semakin bahagia karena tanpa sengaja Tisha mulai perhatian padanya dengan rasa penasaran. "Aku tidak bisa tidur tanpa minum obat" ucapan jujur meluncur dari bibir Ray


Jadi itu benar? kalau kak Ray tidak bisa tidur tanpa obat tidur, seperti apa yang dikatakan oleh Gerry?. Tisha tidak bisa percaya kalau Ray benar-benar selalu konsumsi obat sebelum pergi tidur.


Ray hendak memasukkan obat itu ke dalam mulutnya, namun Tisha mengambil obat itu dan membuangnya. "Loh? kenapa kamu buang?" tanya Ray keheranan


"Tidak baik untuk kesehatan, selalu minum obat tidur seperti itu. Hentikan lah kebiasaan buruk itu" tegur Tisha pada pria yang pernah menjadi mantan suaminya itu.


"Tapi tanpa obat itu aku tidak bisa tidur" ucap Ray sambil mengambil lagi obat tidur itu dari sebuah toples kecil berisi banyak obat


GREP


Tisha mengambil toples kecil berisi banyak obat itu, lalu menyuruh Gerry untuk membuang semua obatnya. Ray kesal bercampur senang di dalam hatinya karena dia merasa diperhatikan oleh Tisha.


"Pak sekretaris! buang saja semua obat itu!" ujar Tisha pada Gerry yang sudah mengambil toples berisi puluhan obat tidur itu.

__ADS_1


"Gerry jangan buang obat itu, aku tidak bisa tidur tanpa obat itu!" seru Ray berakting sedih karena obatnya akan dibuang. Ray mengedipkan matanya pada Gerry seolah mengisyaratkan sesuatu.


Apa yang akan dilakukan oleh pak Presdir? baiklah aku ikuti saja permainannya.


"Maaf pak seperti nya saya harus membuang semua obat ini demi kesehatan bapak" ucap Gerry yang ikutan berakting di depan Tisha


"Gerry! kamu mau kehilangan pekerjaan mu ya? atau kamu mau mati muda?! beraninya kamu melawan perintah bos mu!" bentak Ray pada sekretarisnya itu.


Akting anda terlalu menjiwai pak, seharusnya anda jadi aktor saja bukan jadi Presdir. Piala nobel seperti nya berhutang pada anda. batin Gerry yang takjub melihat akting Ray yang bagus sekali.


"Kalau kamu berani pecat dia, aku akan membencimu selamanya" ancam Tisha pada Ray yang ingin memecat Gerry


Ingin memecat orang yang tidak bersalah? pria ini tidak berubah, selalu seenaknya pada orang yang peduli dan dekat dengannya. Tisha menyilangkan tangan di dada, dia menatap Ray dengan tatapan yang tajam.


Tisha sudah terpancing. Hehe, ternyata dia mulai perhatian padaku. batin Ray senang.


"Baiklah aku menurut saja daripada kamu membenciku selamanya. Gerry, bawa saja obat itu.. meski aku tidak tahu bagaimana aku bisa tidur nantinya" ucap Ray dengan wajah memelas yang ingin menarik simpati Tisha.


Dasar! si Presdir licik ini..Dia berhasil mengelabui Bu Tisha yang polos dan baik hati.


"Maafkan saya pak, ini semua demi kebaikan bapak" ucap Gerry sambil membawa toples berisi puluhan obat itu dan berniat membuangnya.


Kini hanya ada Tisha dan Ray di sana, bersama Rasya yang sudah tertidur dengan lelap nya. Ray terus cemberut karena Tisha mengambil obatnya.


"Ayo tidur, ini sudah malam" ajak Tisha pada pria yang masih cemberut itu.


"Bagaimana bisa aku tidur? aku bahkan tidak bisa tidur tanpa obatku"


"Aku yakin kamu bisa, hanya tinggal pejamkan mata saja lalu tenangkan pikiran mu. Kalau kamu tidak bisa tidur tanpa obat tidur itu, lalu kenapa kamu masih hidup sampai sekarang? harusnya kamu sudah mati, bukan?"


"Kata-kata mu itu sangat pedas, tapi aku suka. Kamu yang galak seperti ini semakin membuatku ingin mendekati dan menggoda mu" Ray tersenyum tipis mendengar kata kata pedas Tisha padanya.


"Berisik! ini sudah malam, tidurlah" ucap Tisha sambil membaringkan tubuhnya di ranjang yang tak jauh dari tempat anaknya tertidur


"Aku benar-benar tidak bisa tidur, aku tidak bisa memejamkan mataku" ucap Ray sedih lalu dia duduk di sudut ranjang dekat Rasya dan Tisha tidur.


"Kenapa tidak bisa?" tanya Tisha sambil berbaring di samping Rasya, matanya menatap ke arah Ray.


"Kalau aku mengatakan alasannya? apa kamu akan percaya?" tanya Ray pada Tisha


"Selama kamu jujur dan alasan itu masuk akal untuk didengar, aku mungkin akan percaya" jawab Tisha sesuai dengan logika nya bukan hati.


Hati Ray terasa sakit mendengar Tisha bicara seperti itu padanya. Dia terdengar seperti pembohong di matanya. Ray tidak marah, dia memang sering berbohong pada Tisha di masa lalu. Bahkan mungkin sikap dinginnya di masa lalu sulit untuk di maafkan.


"Tisha, mungkin ini hukuman dari yang kuasa kepadaku. Atau mungkin ini karma ku, karena sikap buruk ku di masa lalu. Aku sudah mendzalimi kamu, makanya aku jadi seperti ini sekarang. Semenjak kamu pergi, aku tidak bisa menutup mataku dengan benar.. kamu tau kenapa? setiap aku menutup mataku, aku selalu bermimpi tentang kamu. Kamu dan anak kita terbakar di depan mataku.. itu adalah mimpi yang paling buruk dan membuatku tidak bisa tidur nyenyak. Sepanjang hidupku, selama enam tahun ini. Itulah mimpiku setiap kali aku tertidur" Ray menjelaskan semua nya pada Tisha apa yang dia alami setiap kali ia tertidur tanpa obat tidur, tanpa ada yang ditambahkan atau dikurangi dalam perkataan nya.


Wanita itu menatap Ray dengan mata berkaca-kaca, hatinya yang seperti tembok itu sedikit runtuh mendengar cerita Ray. Tidak ada kebohongan di dalam kata-kata nya. Tisha tidak berkomentar lagi.


Sepanjang malam, Ray tidak tertidur dan malah menjaga ibu dan anak itu karena tidak ada obat tidur.


#ENDFLASHBACK


"Kalau begitu kamu harus buat aku tertidur, kamu harus bertanggungjawab" Ray memegang tangan Tisha dengan sikap tidak tahu malunya


"Kak Ray, apa-apaan sih?! lepasin aku?!" Tisha ingin menarik tangan nya dari genggaman Ray, tapi Ray menahannya.


"Aku gak mau lepasin kamu! enggak kali ini Tisha, meski kamu masih belum memaafkan aku, mengusir ku berapa kali pun, bersikap dingin padaku, biarkan aku tetap tinggal disisi kamu dan anak kita. Biarkan aku menebus semuanya.. berikan aku kesempatan, kumohon" pinta Ray sambil menatap wanita itu dengan tatapan penuh harapan, tangannya masih menggenggam tangan Tisha.


Apa aku harus memberikan kesempatan padamu kak? haruskah aku memberikan kesempatan kedua?


...----***----...


Kira-kira Tisha akan memberi jawaban apa ya pada Ray? apa dia akan memberikan Ray kesempatan kedua?


#Please komen dan like ya readers kuπŸ₯°πŸ₯°


#Maaf up nya agak lama, author lagi ada acara pernikahan disini dan gangguan sinyal WiFi

__ADS_1


__ADS_2