Tahanan Cinta CEO

Tahanan Cinta CEO
Bab 45. Terpaksa pindah


__ADS_3

πŸ€πŸ€πŸ€


🎢🎢


Dreet.. Dreet..


Ray merogoh ponsel yang ada di dalam saku bajunya. Mengarahkan ponsel itu tepat ke telinganya. "Halo" jawabnya dingin.


"Pak Presdir, Bu Fani dan pak Arya tetap tidak mau pindah dari kontrakan mereka. Maafkan saya tidak bisa membujuk mereka pak" jelas Gerry dengan suara yang takut, ia takut dimarahi oleh Ray


"Aku sudah menduga kalau mereka akan seperti itu. Apa kau sudah menawarkan sejumlah uang pada mereka?" tanya Ray santai


"Sudah pak, tapi mereka menolak. Bahkan mereka memarahi saya" jawab Gerry sambil melihat ke arah Bu Fani dan Arya yang menatapnya tajam dari kejauhan.


"Kalau sudah begini, aku tidak punya pilihan lain. Gerry, panggil orang-orang kita kesana lalu bawa barang barang mereka dengan paksa ke rumah ku" Titah Ray pada bawahannya itu


Aku tidak menduga kalau Tisha dan keluarga nya akan sangat keras kepala. Seharusnya dia tinggal saja dan nikmati apa yang mereka pantas dapatkan.


Ray sudah bisa menebak kalau harta pemberiannya akan diabaikan oleh Tisha, makanya ia akan mengambil jalan paksa untuk Tisha dan keluarga nya.


"Apa pak presdir yakin kita akan melakukan ini? pak Presdir apa ini akan baik-baik saja?" tanya Gerry ragu.


"Kamu tenang saja, cukup lakukan apa yang aku perintahkan. Aku akan segera menyusul kesana" kata Ray lalu menutup telponnya.


Gerry tampak ketakutan dengan ibu dan anak itu. Namun dia lebih takut lagi pada Ray yang siap-siap memangkas gaji nya kalau ia tak mengerjakan pekerjaan nya.


Gerry pun menelpon seseorang untuk memindahkan barang-barang yang ada di kontrakan Tisha dan juga keluarga nya itu. Tak berlangsung lama, ada lima orang pria bertubuh kekar datang ke kontrakan dan langsung memindahkan barang-barang milik Tisha dan keluarga nya yang ada di kontrakan, ke dalam mobil untuk diangkut ke rumah yang sudah diberikan Ray pada Tisha sebagai bentuk kompensasi perceraian mereka.


"Hey! apa yang kalian lakukan di rumah kontrakan ku?! kenapa kalian mengangkat barang-barang ku seenaknya?!" Bu Fani mengomel dan marah-marah pada pria-pria yang mengangkut barang-barang mereka ke dalam mobil.


Orang-orang itu tidak menggubris Bu Fani maupun Arya yang mencoba menghentikan mereka. Mereka hanya menjalankan tugas dari Gerry atas perintah Ray.


"Kami akan melaporkan kalian ke polisi ya karena berbuat seenaknya!" ancam Arya pada ke lima orang pria yang mengangkut barang-barang itu.


"Maafkan atas ketidaknyamanan ini Bu Fani dan pak Arya. Pak Presdir melakukan ini karena beliau ingin kalian hidup nyaman" jelas Gerry pada ibu dan anak yang masih marah.

__ADS_1


"Beritahu pada Presdir mu itu! kami tidak butuh semua ini!" seru Bu Fani emosi pada Ray yang berbuat seenaknya pada keluarga nya meski sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan Tisha.


"Maaf Bu, saya hanya menjalankan tugas saja" Gerry berkeringat dingin, melihat Bu Fani dan Arya yang terus marah-marah padanya.


Beratnya hidup ini. Pak Presdir kalau anda seperti ini, anda malah semakin membuat Bu Tisha dan keluarga nya semakin membenci anda.


Semua penghuni kontrakan yang ada disana juga marah-marah pada Bu Fani yang dikiranya membuat keributan dengan berteriak-teriak di luar rumah.


Bu Fani dan Arya pun menghentikan omelan mereka karena takut mengganggu tetangga. Tak lama setelah itu, Tisha yang baru saja datang dari pengadilan. Kaget melihat barang-barang nya yang diangkut ke dalam mobil pindahan.


"A-ada apa ini? kenapa barang-barang kita diangkut oleh mereka? apa ibu dan kakak berhutang pada rentenir lagi?" tanya Tisha bingung


"Enggak lah! ini ulah mantan suamimu tuh, tanya saja pada sekretaris nya itu!" tunjuk Arya pada Gerry yang masih berdiri memantau barang-barang Tisha sudah diangkut semua atau belum dari rumah kontrakan nya.


"Pak Gerry, kenapa pak Gerry bisa ada disini? dan apa maksudnya semua ini pak?" tanya Tisha pada sekretaris mantan suaminya itu.


"Maaf kan saya, Bu Tisha. Saya hanya menjalankan perintah pak presdir" jawab Gerry terlihat bingung bagaimana menjelaskan nya pada Tisha.


"Apa perintah nya padamu?" tanya Tisha sedikit mengernyitkan dahinya.


"Aku meminta nya mengatur orang untuk membawa barang-barang kalian" jawab Ray sambil turun dari mobilnya.


Ray dan Tisha saling menatap satu sama lain, yang satunya menatap tajam dan satunya menatap dengan santai dan seringai di bibirnya. Bu Fani dan Arya menatap Ray dengan sinis, mereka terlihat sangat tidak suka pada Ray.


Apa lagi yang dia lakukan kali ini? pantas saja dia terlihat santai saat di pengadilan tadi. Jadi apakah dia sudah tau kalau aku tidak akan menempati rumahnya, makanya dia melakukan ini?


"Apa maksudmu memindahkan semua barang-barang kami tanpa izin? kamu selalu seenaknya sendiri ya!" Tisha emosi pada Ray, tak tahan dengan kelakuan Ray yang selalu seenaknya.


"Rumah ini terlalu kecil untuk kalian tinggali, ini bahkan bukan rumah. Mungkin ini adalah kandang ayam" ucap Ray sambil melirik lirik ke arah rumah kontrakan yang kecil itu.


"Lalu apa urusanmu kami mau tinggal dimana dan tinggal ditempat seperti apa? kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi, kamu tidak boleh seenaknya begini!!" suara Tisha mulai meninggi, matanya menatap tajam pria yang kini sudah menjadi mantan suaminya itu


"Itu memang benar, kita memang tidak ada hubungan apa-apa lagi. Tapi, mau apapun yang aku lakukan juga tidak ada urusannya denganmu kan?" Ray tersenyum tipis sambil berjalan mendekati Tisha.


Kenapa dia mendekat? batin Tisha keheranan melihat Ray.

__ADS_1


"Ya itu benar, maka sebaiknya kita saling menjauh satu sama lain"


"Kamu lupa ya? kalau kamu sudah menandatangani surat pemindahan aset itu?" tanya Ray sambil berkacak pinggang


"Aku tidak lupa" jawab Tisha


"Aku tau apa yang ada di dalam kepalamu itu Latisha. Aku juga sudah menduga hal ini, makanya aku sudah siapkan ini dari awal" Ray tersenyum menang, ia menunjukkan secarik kertas yang sudah di cap stempel dan ditandatangani oleh Tisha.


Mata Tisha membulat karena kaget melihat apa yang ada di dalam surat itu. Tisha menggertakan giginya dengan gemas. Wanita itu mulai mendengus kesal. Ray tersenyum puas lalu menyimpan kembali suratnya.


"Kamu penipu! kamu curang!" seru Tisha kesal pada mantan suaminya itu


"Kalau kamu patuh sejak awal, aku tidak akan melakukan hal seperti ini. Sekarang pindah saja dari sini, atau aku akan melakukan hal lainnya yang lebih dari ini!" sorot mata tajam Ray mengancam mengarah pada Tisha.


Tisha terdiam tak bergeming, tangannya mengepal gemas ingin memukul Ray. Ray sendiri hanya tersenyum melihat wajah Tisha yang tampak tak berdaya di depannya.


Memang aku harus sekejam apa agar kamu paham, kalau aku ingin terus mengikatmu di sisiku dengan cara apapun. Kamu tidak akan punya kebebasan. batin Ray penuh tekad.


Dia benar-benar menjebak ku! kenapa dia berbuat senekad ini? aku dan dia kan sudah bercerai. Kenapa dia begini sih? Seharusnya aku tau kalau pria ini licik, seharusnya aku membaca dulu isi suratnya. Tisha bodoh.


Tisha merutuki dirinya sendiri di dalam hati.


Tisha menurut pada Ray untuk pindah dari rumah kontrakan nya itu. Bu Fani dan Arya tampak bingung dengan perubahan sikap Tisha. Mereka bertanya surat apa yang ditunjukan oleh Ray sehingga Tisha membeku dan tak bisa membantahnya.


"Kenapa kita harus pindah, Tisha? ya memang sih rumah si Ray sialan itu pasti mewah dan besar. Tapi, kita tidak boleh tinggal disana!" seru Arya mengoceh


"Tisha, kenapa kamu diam? surat apa yang di perlihatkan nya tadi?" tanya Bu Fani menatap putrinya dengan serius


"Surat itu adalah surat perjanjian bahwa aku harus menempati rumah nya dan menikmati aset yang diberikannya padaku, kalau aku melanggar nya. Maka aku akan terkena denda satu milyar" jelas Tisha


Bu Fani dan Arya langsung tercengang mendengar penjelasan Tisha. Mereka pun bungkam kalau soal uang yang tak mampu mereka bayar, hanya saja mereka cukup tau kalau Ray adalah orang yang cukup kejam dan licik untuk melakukan apapun yang dia mau.


Apa ini instingnya sebagai pengusaha? atau mengikat seseorang disisinya? pada akhirnya Tisha dan keluarga nya terpaksa pindah ke rumah yang sudah diberikan Ray padanya dengan perasaan kesal.


...---***---...

__ADS_1


__ADS_2