Tahanan Cinta CEO

Tahanan Cinta CEO
Bab 81. Zevanya


__ADS_3

πŸ€πŸ€πŸ€


Saking terkejutnya Pak Faisal melihat sosok bocah yang sangat mirip dengan cucunya itu, membuat pak Faisal tak kuasa menahan tangisnya lagi. Mata polos dan indah Rasya memandangi wajah keriput pria tua itu, dia tersenyum lebar padanya.


"Kakek buyut, kakek buyut tidak apa-apa? kenapa kakek buyut menangis? mama.. papa, lihat ini kakek buyut menangis.." Rasya bingung melihat pria tua itu menangis di depannya, Rasya bertanya-tanya apa yang membuat pak Faisal menangis?


"Papa.. mama??" Bu Daniah tersentak saat Rasya memanggil Tisha dan Ray dengan sebutan papa dan mama


Zevanya, matilah kamu! orang yang sudah kamu bunuh ternyata masih hidup dan dia juga membawa seorang anak. Bu Daniah panik melihat Tisha dan anak nya itu


"A-Apa maksudnya ini Ray? ini.." Pak Faisal memegang dadanya, pria tua itu seperti nya tidak dapat menahan rasa terkejut nya.


"Kakek, akan kami jelaskan. Kakek tenang dulu ya" ucap Ray sambil memegang kedua tangan pak Faisal, Ray tersenyum menenangkan pria yang duduk di kursi roda itu.


Mereka pun masuk ke dalam dan duduk di kursi yang ada ruang tamu rumah besar itu. Rasya melihat-lihat rumah yang mewah dan megah itu. Daniah pergi entah kemana sambil memegang ponselnya.


"Bi, bisa tolong bawa Rasya main sebentar" ucap Ray pada Bi Ani untuk membawa anaknya pergi sebentar.


"Kak Ray, apa di rumah ini ada mobil-mobilan?" tanya Tisha pada Ray, dia tau benar kalau Rasya selalu anteng bermain kalau itu ada mobil-mobilan.


"Mobil yang bisa di naiki atau mobil mainan yang kecil?" tanya Pak Faisal pada Tisha dengan senyuman yang tersirat di wajah keriput nya.


"Mobil yang bisa dinaiki, kek" jawab Tisha pada sang kakek


"Bi Ani panggilkan dulu pak Ujang kesini!" titah Pak Faisal pada pembantu rumah tangga nya itu


"Baik tuan besar" jawab Bi Ani


Memanggil pak Ujang? untuk apa?. Tisha bertanya-tanya kenapa pak Faisal memanggil satpam di rumah itu.


Beberapa menit kemudian Bi Ani datang bersama pak Ujang, penjaga rumah itu. Pak Faisal langsung memerintahkan pak Ujang untuk pergi membawa Rasya untuk membeli mobil yang dimaksud oleh Tisha.


"Kakek, tidak perlu seperti itu! kalau tidak ada, tidak apa-apa kok" Tisha merasa tidak nyaman karena permintaan nya pada pak Faisal yang sampai mengharuskan nya membeli mobil mobilan untuk Rasya.


"Tidak apa-apa, ini untuk cicit ku. Ini bukan apa-apa" Pak Faisal tersenyum, bahkan sebelum Tisha dan Ray mengatakan bahwa Rasya adalah cicitnya. Pak Faisal sudah yakin seratus persen bahwa bocah imut itu adalah darah dagingnya, bagian dari keluarga Argantara.


"Ta-tapi.."


"Tolong Tisha, jangan menolak permintaan pria tua ini" ucap Pak Faisal seraya memohon pada Tisha.


"Tisha, terima saja ya?" Ray juga membujuk Tisha untuk menerima hadiah pemberian dari Pak Faisal


"Kakek buyut, aku tidak perlu mainan baru. Di rumah ku juga ada mobil-mobilan kok, pemberian om Zayn. Tidak usah beli" kata Ray yang merasa tidak enak jika dibelikan mobil mobilan lagi.


BUK


Tangan Ray memukul meja kaca yang ada di depannya, hingga punggung tangan Ray berdarah. Tisha, Rasya dan Pak Faisal terkejut melihat Ray yang tiba-tiba marah.


Zayn lagi Zayn lagi! sialan! dia tidak ada disini, tapi aku masih mendengar namanya. umpat nya kesal


"Ray, kamu kenapa??" tanya Pak Faisal bingung


"Papa kenapa?" tanya Rasya yang juga cemas melihat punggung tangan papa nya terluka.


"Papa gak papa sayang, tangan papa tiba-tiba keras jadi papa meregangkan tangan papa. Lalu seperti ini lah jadinya" Ray berusaha untuk tetap tenang dan tersenyum di depan Rasya


Sialan! aku ingin sekali memukul si Zayn. batin Ray kesal sendiri mengingat Rasya menyebutkan nama Zayn. Nama yang membuatnya kesal, tapi dia juga tak bisa menyalahkan anak polos yang tidak tahu apa-apa.


"Bi Ani, maaf bisa tolong ambilkan kotak obat?" tanya Tisha pada Bi Ani


Apa Tisha mau mengobati tanganku? batin Ray senang dengan Tisha yang menyuruh Bi Ani memanggil kotak obat untuknya.


Pak Ujang membawa Rasya keluar rumah untuk membeli mobil-mobilan setelah mendapatkan persetujuan dari Tisha dan Ray. Sebelum itu Rasya berpesan papa mama nya untuk mengobati luka di tangan papa nya. Kemudian, di dalam ruang tamu keluarga itu, Tisha mengobati punggung tangan Ray yang terluka dengan hati-hati.


Ray semakin yakin bahwa masih ada cinta yang tersisa di hati Tisha untuknya. Buktinya, Tisha tidak menikah lagi selama 6 tahun itu dan masih menjomblo. Di hati Tisha masih ada Ray, dia sangat percaya diri dengan keyakinan nya.


"Terimakasih ya, Tisha" ucap Ray dengan senyuman lebar di bibirnya, di peruntukkan untuk wanita yang duduk di sebelah nya.


"Aku lakukan demi Rasya, tadi kamu dengar kan kalau dia yang memintaku melakukan nya" ucap Tisha yang baru saja selesai membalutkan perban di punggung tangan Tisha.

__ADS_1


"Ya baiklah, terserah kamu saja" ucap Ray menyerah.


Jaim nya ini imut sekali, kalau dia marah dia terlihat seperti Rasya. Ray gemas melihat Tisha yang kalau marah itu seperti Rasya.


"Jangan berfikir yang bukan-bukan" ucap Tisha mengingatkan


"Enggak kok, aku gak berfikir yang macam-macam" Ray tersenyum santai melihat mata Tisha yang tajam melihat ke arahnya.


Pak Faisal tersenyum melihat Tisha dan Ray, dia menangkap sinyal bahwa kemungkinan kedua orang itu masih saling mencintai.


Jika bukan karena Zefanya, mungkin saja Ray dan Tisha masih bersama dan hidup bahagia.


"Tisha, Ray, jadi anak itu adalah cicit kakek kan?" tanya Pak Faisal pada Tisha dan Ray, meyakinkan bahwa memang bocah imut itu adalah cicit pertamanya


"Benar kek, dia adalah anak kami" jawab Ray


"Sebenarnya apa yang terjadi selama ini? semua orang berkata kalau kamu sudah tiada bersama ibu dan kakak kamu. Lalu kamu datang bersama anak kalian. Kakek bingung.. Tisha bisa kamu jelaskan pada kakek?" tanya pak Faisal yang ingin meminta penjelasan para Tisha


Tangan Tisha terkepal gemas, dia juga bingung mau menceritakan nya dari mana. Akhirnya Ray lah yang angkat bicara dan membantu menceritakan segalanya. Kejadian 6 tahun yang lalu, Tisha yang saat itu sedang hamil berhasil diselamatkan oleh Zayn dan Zayn membawa Tisha keluar negeri.


"Kamu pergi bersama pria lain?!! apa jangan-jangan kamu sudah menikah lagi?!" tanya Pak Faisal setelah mendengar penjelasan Ray


"Tidak kek, aku tidak pernah menikah lagi. Aku dan Zayn kami cuma sahabat. Dia banyak membantuku dan Rasya disaat aku kesulitan dan saat aku hilang ingatan" jelas Tisha pada sang kakek, dia tak mau pak Faisal salah paham padanya.


Diam-diam Ray tersenyum mendengar nya. Zayn, seandainya kamu ada disini dan mendengar semuanya. Kamu cuma sahabat nya.


"Hilang ingatan? kamu sempat hilang ingatan?" tanya Pak Faisal khawatir


"Iya kek dan ingatan Tisha kembali baru-baru ini saat aku bertemu dengan nya dan Rasya di luar negeri" jawab Ray pada kakeknya


"Masyaallah, benar-benar sesuatu yang tidak terduga. Kalian bisa bertemu kembali, kakek sangat senang ternyata kamu masih hidup dan juga memberikan kakek seorang cicit yang lucu" Pak Faisal menatap Tisha dengan penuh kasih sayang, dia terharu dan senang karena Tisha masih hidup bersama cicitnya dengan baik.


"Iya kek, aku juga senang bisa kembali bertemu dengan kakek" Tisha memeluk pak Faisal dengan lembut. Hal yang sama juga dilakukan pak Faisal yang membalas pelukan Tisha, menepuk punggung wanita itu dengan penuh kasih sayang.


"Oh ya! Bi Santi, cepat kemari!" seru Pak Faisal kepada pembantu rumah tangga nya yang lain.


Seorang wanita berusia sekitar tiga puluh lima tahunan itu menghampiri pak Faisal, membungkukkan badan dengan penuh rasa hormat.


"Bersihkan kamar Ray senyaman mungkin, jangan sampai ada debu yang tersisa. Ganti seprai, nyalakan AC dan lain-lain nya. Juga siapkan makan siang... oh ya, Tisha.. Rasya suka makan apa? apa dia pemilih makanan sama seperti Ray?" tanya Pak Faisal dengan penuh antusias dan semangat


"Rasya sama seperti kak Ray, dia suka pilih-pilih makanan" jawab Tisha yang bingung dengan sikap antusias pak Faisal.


"Oh ya? makanan apa yang dia sukai? biar nanti bi Santi dan Bi Ani buatkan untuknya, dan juga nanti kamu dan Rasya akan tinggal di kamar Ray ya" Pak Faisal tersenyum senang


Tisha akhirnya mengerti apa maksud dari sikap pak Faisal. Pria tua itu ingin Tisha dan Rasya menginap disana dan tinggal lebih lama.


"Maaf kek, tapi aku dan Rasya tidak akan tinggal lama disini. Nanti malam juga kami akan kembali ke rumah kami di luar negeri" jawab Tisha


"Tapi kenapa kembali kesana?" tanya Pak Faisal dengan wajah yang kecewa


Wanita itu tidak tega melihat wajah pak Faisal yang kecewa dengan keputusan nya, dia bingung. Sementara itu Ray menantikan apakah Tisha akan luluh oleh kakek nya atau tidak?


πŸ€πŸ€πŸ€


Rupanya Daniah sedang menelpon Zee. Dia berada di kamarnya dan menutup pintu kamar itu rapat-rapat.


🎢🎢


Tut..


Tut...


Suara dering tersambung masih terdengar dari ponsel Daniah.


"Kemana sih dia? sudah ditelpon sampai sepuluh kali masih belum mengangkat nya juga? ini kan penting!" Daniah menggerutu kesal karena Zee belum kunjung mengangkat telpon darinya.


Sampai yang ke 11x nya, Zee akhirnya mengangkat telpon dari Daniah. "Halo" jawab Zee dengan suara yang malas


"Zee, akhirnya kamu mengangkat telpon dari Tante! ada berita penting Zee!"

__ADS_1


"Ada apa sih Tante? apa Ray udah balik dari perjalanan bisnis nya? itu sih aku udah tau" ucap Zee yang sedang bekerja di kantornya.


Setelah Tisha dinyatakan meninggal enam tahun yang lalu, Zee sibuk dengan pekerjaan nya dan sibuk mengejar Ray. Dia bahkan menjomblo selama ini demi mengejar cinta dan hati yang tak pernah dia dapatkan. Di tengah kesibukan nya sebagai desainer sukses, Zee selalu berusaha mati-matian untuk mendapatkan hati Ray.


Dia pikir semua jalan nya akan mudah ketika Tisha menghilang dari hidup Ray. Namun nyatanya, dia tetap pada posisi nya. Hanya mantan yang sudah lama di lupakan oleh Ray. Selama dua tahun dia belajar desain lagi di luar negeri, berharap bahwa prestasi nya akan membuat Ray bangga dan kembali padanya. Kini Zevanya adalah wanita tercantik, tercerdas, dan diinginkan semua pria. Tapi tetap saja di mata Ray, wanita itu sama sekali tidak berharga.


Segala taktik dan upaya di lakukan Zee untuk meraih cinta yang tak pernah berbalas, namun


"Iya Ray memang sudah kembali, tapi dia tidak sendirian" Daniah melanjutkan ucapannya, dia tak sabar untuk mengatakan hal selanjutnya pada Zee.


"Aku tau dia pasti bersama Gerry sekretaris nya, mengapa Tante begitu heboh?" ucap Zee gusar mendengar ocehan Daniah yang selalu memekik di telinga nya


"Dia bukan hanya kembali bersama Gerry, tapi dia kembali bersama Tisha dan anaknya!"


"Bibi ngomong apaan sih? Tisha itu sudah mati" Zee tersenyum tipis, dia tidak percaya sama sekali kata-kata yang di ucapkan oleh Daniah.


Dia sudah gila ya? Wanita jal*ng, itu masih hidup? dan membawa anaknya? itu gak mungkin. Mereka sudah mati. Zee tak percaya dengan berita yang dibawakan oleh Daniah padanya.


"Tante tau kalau kamu tidak percaya pada Tante. Tapi ini kebenaran nya, jika kamu tidak percaya! datang kemari dan lihat sendiri!" teriak Daniah marah pada Zefanya.


Tut!


Daniah mendengus kesal, dia menutup telponnya begitu saja. "Kamu akan terkejut Zee, saat kamu tau kalau wanita yang kamu habisi ternyata masih hidup dan dia juga membawa anaknya"


Sama kesalnya dengan Daniah, Zee juga merasakan kesal karena Daniah menutup telponnya lebih dulu darinya. "Wanita tua kurang ajar! beraninya dia menutup telpon dariku lebih dulu, kalau dia tidak tahu rahasia ku aku tidak akan membiarkan nya begitu saja! tapi.. apa yang dikatakan nya? wanita jal*ng itu masih hidup? mungkinkah dia bercanda? ah..tapi dia tidak terdengar bercanda. Bagaimana kalau aku memastikannya saja kesana?"


Rasa penasaran membawa Zee saat jam makan siang ke rumah besar Argantara. Untuk memastikan perkataan Daniah itu hanya bualan semata.


Zee menyetir mobilnya sendiri, sesampainya di depan gerbang rumah itu. Zee memarkirkan mobilnya, dia melihat seorang anak laki-laki yang sedang menaiki mobil-mobilan di depan halaman rumah itu.


Sungguh pemandangan yang tidak biasa, ada seorang anak disana? anak siapa? Zee bertanya-tanya. Wanita cantik itu menghampiri Rasya yang asyik bermain bersama pak Ujang, satpam rumah itu.


"Yee.. Yee..makasih pak Ujang" Rasya tersenyum bahagia, saat pak Ujang mendorong mobil-mobilan itu.


"Iya tuan muda" ucap Pak Ujang dengan senyuman ramah, di atas bibirnya dan kumis tipis di bawah hidungnya.


Zee berjalan ke arah Rasya, tak sengaja mobil yang kendarai Rasya itu menabrak kaki Zee. "auch!! sakit!"


Pak Ujang langsung menunduk hormat di depan Zee. "Mau apa dia kesini lagi? apa dia mau mengacau?"


"Tante, aku minta maaf.. aku tidak sengaja" Rasya turun dari mobil-mobilan nya dan meminta maaf pada Zee yang sudah tertabrak mobil mainan itu.


"Lihat! kamu sudah membuat kaki ku tergores dan berdarah! enak saja minta maaf!" Zee melihat kearah kakinya yang sedikit berdarah, menatap tajam ke arah mata polos Rasya yang meminta maaf padanya dengan tulus.


Zee mendorong anak itu hingga jatuh diatas sebuah batu taman.


DUAK!


"Aduh...!!!"


"Tuan muda!!" Pak Ujang menghampiri Rasya yang jatuh terduduk.


"Hanya karena kamu anak kecil bukan berarti aku bisa memaafkan mu!" seru Zee sambil menunjuk ke arah Rasya dengan marah.


Anak ini, kenapa dia terlihat familiar??. Zee terpana melihat wajah tidak asing Rasya.


Beruntung nya bukan kepala nya yang terbentur, tapi kakinya yang terkena batu. Lututnya berdarah, Rasya terlihat kesakitan.


"Huhu.. sakit.. hiks.." Rasya menangis sambil melihat lututnya yang bercucuran darah


"Tuan muda.. saya obati di dalam ya" ucap Pak Ujang cemas melihat anak itu menangis


"Cengeng banget sih kamu! cuma jatuh gitu doang!" seru Zee pada Rasya


Mendengar anaknya menangis, Ray dan Tisha kompak pergi keluar rumah. Mereka melihat Rasya terduduk di tanah dengan keadaan terluka, disampingnya ada pak Ujang. Dan yang lebih mengagetkan, disana ada Zevanya.


DEG!


Zevanya dan Tisha tersentak setelah mata mereka bertemu satu sama lain.

__ADS_1


...----***----...


__ADS_2