
...πππ...
Tisha membuka matanya, dia melihat langit-langit bercat putih. Ruangan yang di dominasi oleh cat putih, dia menatap ke sampingnya. Dia melihat ada Fayra dan Rasya disana.
"Rasya, kak Fayra.." lirih nya dengan suara lemah.
"Mama! Mama sudah bangun?" tanya Rasya menyambut mama nya dengan senyuman lega.
"Tisha, bagaimana keadaan kamu? Apa kamu merasa sakit?" Fayra memegang tangan Tisha dan bertanya bagaimana keadaan wanita itu.
"Mana papa mu Rasya?" tanya Tisha sambil beranjak duduk, dia memegang kepalanya.
"Papa sudah dipindahkan ke ruang perawatan ma,"
"Ruang perawatan apa? Papa mu pasti sedang berada di rumah, ayo kita pulang sayang." Ucapnya sambil beranjak dari ranjang itu, dia mengajak anaknya pulang.
"Ma, papa gak pulang. Kata dokter papa harus tinggal di rumah sakit," jawab Rasya sambil menangis sedih. Karena dia sudah melihat kondisi papa nya.
Tisha memandang anaknya, matanya berkaca-kaca. Dia masih tidak percaya kalau suaminya dalam keadaan koma. Tisha berharap semua ini hanya mimpi atau lelucon Ray saja. Tapi kenyataan telah menampar dirinya dengan kejam.
Wanita hamil itu berusaha tenang, dia berjalan dengan langkah lemah menuju ke ruang perawatan dimana Ray dirawat. Tisha menangis tanpa suara, dia melihat suaminya dengan banyak selang infus tertancap ditubuhnya, perban, gips, bahkan luka-luka di wajahnya juga tidak sederhana.
Pria itu tidak sadarkan diri, terbaring lemah di atas ranjang. Dalam keadaan yang mengkhawatirkan. Tisha menatap suaminya penuh dengan penyesalan. "Ini bohong kan? Kamu pasti bercanda kan? Ini pasti akal-akalan mu saja kan? Raymond Argantara..jangan bercanda lagi! Ini tidak lucu! Apa kamu gak takut terjadi sesuatu padaku dan anak kita? Kamu harus bangun sekarang, kalau tidak...aku tidak akan pernah memaafkan dirimu, cepat bangun! Bangunlah Raymond Argantara! Kamu tidak mungkin seperti ini!"
Tisha berteriak histeris di depan orang yang sedang koma itu. Dia tidak percaya kalau Ray tidak sadarkan diri, dia meminta suaminya untuk segera bangun. "Aku minta maaf, aku menyesal sudah meninggalkan kamu..jadi kumohon, tolong bangunlah kak..kalau terjadi sesuatu pada kamu, bagaimana aku akan hidup? Bagaimana anak-anak kita? Hiks.. kamu tega padaku.. aku sudah minta maaf, aku sudah minta maaf.." Tisha menangis meratapi keadaan suaminya yang tergolek lemah tak berdaya diatas ranjang itu.
Terdengar suara mesin medis mengalun di telinga Tisha, membuat wanita hamil itu sangat tidak nyaman. Dia ingat bahwa mesin medis itu bisa menandakan kehidupan dan kematian seseorang. Itulah sebabnya dia tidak suka dengan rumah sakit, membuatnya teringat ayahnya yang sudah tiada karena kecelakaan lalu lintas dan mesin medis itu berbunyi panjang.
Ternyata ini bukan mimpi, kamu benar-benar koma. Tisha tertampar oleh kenyataan, saat menyentuh wajah suami nya yang terasa dingin.
Derrick, Fayra, Gerry dan Rasya sedih melihat Tisha menangis di dalam sana. Keadaan nya yang sedang hamil dan sedih, bisa membuatnya drop. Fayra pun membujuknya untuk beristirahat lebih dulu. Dia menasehati Tisha untuk tetap kuat demi dirinya dan anak-anak nya, apalagi anak yang ada di dalam perutnya.
Penyesalan kini tinggal penyesalan, Tisha berada di dalam ketakutan terbesarnya. Takut Ray pergi meninggalkan nya dan dia belum sempat meminta maaf padanya. Dia telah menyadari kesalahannya, tidak seharusnya dia egois dan pergi dari rumah begitu saja bahkan tanpa pamit. Sikapnya tidak dewasa dan kekanak-kanakan dalam menghadapi masalah.
Sikap nya sebagai seorang istri dan sebagai ibu, sangat buruk. Begitulah pikirnya di dalam hati setelah semua kejadian yang menimpa suaminya.
Malam itu Tisha, Fayra dan Rasya pulang ke rumah mereka dan Derrick lah yang menawarkan diri untuk menjaga Ray. Fayra membantu Tisha untuk membangun semangat nya.
"Rasya, kamu tidur ya.. besok kamu sekolah nak," Tisha tersenyum lembut pada anaknya.
"Iya ma. Tapi ma.. papa akan kembali kan?" Tanya nya sambil memegang tangan mama nya, berharap papa nya akan kembali siuman.
__ADS_1
Tisha tersenyum pahit, dia mengelus kepala anaknya, "Papa mu pasti akan kembali pada kita, tidak mungkin papa mu meninggalkan kita sayang.."
Walaupun aku sendiri tidak yakin kalau kak Ray akan segera sadar, tapi aku harus meyakinkan Rasya dan menenangkan nya.
"Iya ma.. aku sudah durhaka pada papa, aku ingin minta maaf sama papa karena sudah berbohong..hiks.." Rasya juga merasa bersalah karena dia berbohong pada papa nya tentang keberadaan mama nya.
Tisha memeluk putranya, seraya menenangkan nya. Tak lama setelah menangis, Rasya tertidur pulas di kamarnya. Tisha menyelimuti tubuh kecil buah hatinya dengan selimut hangat, tak lupa dia mengecup kening Rasya penuh kasih sayang.
"Tisha, keluar dulu sebentar yuk! Aku sudah buatkan sesuatu untuk menghangatkan tubuh mu," ucap Fayra sambil tersenyum.
"Iya kak," sahutnya patuh.
Fayra dan Tisha duduk di atas sofa empuk, dua gelas berisi coklat panas sudah tersaji diatas meja dan siap untuk di minum. Fayra menatap Tisha dengan iba dan simpati, Tisha masih melamun memikirkan suaminya yang berada di rumah sakit dalam keadaan koma.
"Tisha, ayo minum dulu coklat panas nya. Supaya hatimu lebih tenang,"
"Hatiku masih belum tenang kak," Tisha menggeleng lemah, matanya sayu dan merah. Wanita itu sudah terlalu banyak menangis.
"Percaya dan yakinlah kalau Raymond akan baik-baik saja. Dia pasti akan siuman, ini hanya masalah waktu Sha." Fayra terus menerus memberikan Tisha semangat untuk yakin bahwa Ray akan kembali dalam keadaan baik-baik saja.
Namun keyakinan Tisha dan Fayra dibantah oleh fakta, setelah mereka mendengar penjelasan dokter tentang kondisi Ray. Dokter menjelaskan bahwa kondisi Ray sangat parah, beberapa tulang ditubuhnya banyak yang patah. Jika Ray kembali sadar kembali, mungkin pria itu akan mengalami kelumpuhan atau cacat tubuh yang lain.
Tisha tidak mempedulikan semua itu, dia hanya ingin suaminya kembali sadar. Namun, harapan ray untuk sadar, kemungkinannya juga tipis.
Tisha sedang berada di rumah sakit, dia menunggu suaminya yang masih dalam keadaan koma. dia tidak pernah lelah menunggu suaminya dengan harapan bahwa pria itu akan segera siuman. Selama Ray koma Tisha juga menjadi presdir sementara menggantikan posisi suaminya. Selain itu, Tisha pun sibuk mengurus pekerjaan nya sebagai ibu rumah tangga dan istri yang baik.
Dalam lelahnya mengurus ini itu, Tisha tidak pernah mengeluh, bahkan dalam keadaan perutnya yang sudah besar pun tidak membuatnya mengeluh. Dia percaya bahwa semua ini adalah ganjaran baginya, bagi seorang istri yang tidak taat pada suami dan sikapnya yang egois. Selama 2 bulan itu, Fayra juga tinggal bersamanya dan ikut membantu Tisha menjaga Rasya. Kembalinya Fayra tinggal bersama Tisha, membuat Fayra semakin dekat dengan Derrick. Hal itu membuat Sam cemburu.
"Fay, mau berapa lagi kamu menolak ku? Anak kita membutuhkan seorang ayah," ucap Sam berusaha kembali membujuk Fayra. Sam melihat perut Fayra yang sudah membuncit cukup besar, usia kandungannya sudah menginjak 7 bulan berjalan ke 8.
"Kamu bilang kamu tidak akan memaksa ku lagi Sam. Sam aku ingin kita berdua bahagia, dan menurutku ini yang terbaik!" Seru Fayra tegas dan tidak mau menikah dengan Sam.
"Aku gak bisa membiarkan kamu melahirkan anak ini tanpa ayah, Fay.. mengertilah aku..aku melakukan ini demi anak kita."
"Jangan egois Sam, ini bukan demi anak kita tapi demi obsesi kamu terhadap ku. Sam aku tidak mencintaimu lagi, berapa kali aku harus mengatakan nya agar kamu paham dan kamu tidak memaksaku lagi!" Seru Fayra emosi.
"Kamu masih mencintai ku Fay, kalau kamu tidak mencintai ku.. mana mungkin sampai sekarang kamu masih sendiri. Dan mana ada yang mau menikah denganmu selain aku?" Sam bicara merendahkan Fayra.
Wanita itu marah dan melotot ke arah Sam, dia membuka mulutnya dan ingin bicara. Namun, suara merdu seorang pria mengalun indah di telinga nya. Tangan pria itu memegang tangan Fayra, dia adalah Derrick.
"Kata siapa tidak ada yang mau menikahi Fayra? Aku mau tuh," ucap Derrick sambil tersenyum pada Fayra, dia menatap tajam ke arah Sam. Derrick terlihat sangat jijik karena sikap Sam yang selalu memaksakan kehendaknya.
__ADS_1
"Fayra, kamu pernah bilang padaku, kalau kamu gak ada hubungan apa-apa sama dia! Lalu kenapa dia bilang mau menikahi mu?" tanya Sam sambil menahan emosi nya.
"I-itu.."
"Aku mencintai Fayra dan aku bersedia menikahinya." Derrick memangkas ucapan Fayra yang belum selesai. Fayra terperangah menatap ke arah Derrick.
"Ka-kalian.." Sam kehabisan kata-kata.
"Anda sudah punya istri, kan? Jadi lebih baik kalau anda urus saja istri dan anak anda. Fayra dan anaknya biar jadi urusan saya, tolong jangan memaksa Fayra lagi karena saya tidak suka!" Seru Derrick tegas pada Sam.
Sam sudah mempersiapkan tinjunya untuk menghajar Derrick, namun Fayra menghalangi nya. Fayra mengatakan pada Sam, bahwa dia sudah menemukan cinta yang baru yaitu Derrick. Fayra mengusir Sam dan meminta dia untuk pergi dari kehidupan nya selamanya. Sam pun pergi meninggalkan Fayra dan Derrick di rumah sakit setelah anaknya Milena menelpon.
"Terimakasih Derrick, kamu sudah menolongku lagi dan lagi. Kamu bahkan sampai mengatakan kalau kamu mencintai ku, tapi itu sedikit berlebihan,"
"Menurutmu kenapa aku menolong mu lagi dan lagi Fay? Kenapa aku mengatakan aku mencintaimu?" tanya Derrick sambil menatap wanita itu dengan penuh perasaan.
Tatapan Derrick saat ini, kenapa sangat aneh?. Fayra terperangah, bertanya-tanya ada apa dengan tatapan Derrick padanya.
"Tentu saja karena kamu adalah pria yang baik, Derrick." Jawab Fayra sambil tersenyum polos.
"Haahhhhhh.. jadi begitu ya? Apa menurutmu aku ini pria yang bisa berbuat baik pada siapa saja?" Derrick tiba-tiba kesal, mendengar jawaban polos dari Fayra.
"Kamu juga baik pada Tisha, lalu apa salahnya?"
Kenapa aku merasa dia sedang kesal?. Batin nya heran.
"Tisha itu adalah adikku, tentu saja aku baik padanya. Tapi aku tidak sembarangan bersikap baik pada wanita lain, Fayra!" Seru Derrick tegas.
"Lalu kenapa? Kamu kok jadi marah marah begini?" tanya Fayra dengan kening mengerut, dia menatap bingung ke arah Fayra.
Ya ampun, dia benar-benar tidak peka!. Pekik Derrick di dalam hati.
KLAK!
"Kak Derrick, kak Fayra, kalian kok gak masuk? Katanya mau jenguk kak Ray?" Tisha membuka pintu ruang rawat suaminya, dia melihat kedua kakak nya sedang berdiri disana.
"Tisha maaf, seperti nya aku masih ada urusan di kantor. Aku akan kembali lagi nanti," Derrick pamit, dia pergi begitu saja.
Tisha dan Fayra bingung melihatnya. Mereka pun masuk ke dalam ruangan Ray. Tisha baru saja menyeka wajah Ray. Pria itu masih terbaring lemah tak berdaya, belum ada tanda-tanda yang menunjukkan kapan dia sadar.
...---***---...
__ADS_1
Hai Readers ku yang baik hati, kalau ada vote atau gift boleh kasih author ya πππβ€οΈβ€οΈπ₯Ί