
πππ
Di bandara..
Saat turun dari pesawat, Fayra langsung menyalakan ponsel nya dan menghubungi adik sepupunya itu. Dia ingin segera memberitahu tentang kepergian Tisha dan Rasya ke Indonesia.
Tut.. Tut..Tut..
"Halo kak" jawab Zayn cepat
"Halo Zayn, maaf... apa kakak menelpon mu disaat sibuk?" tanya Fayra sambil duduk di kursi yang ada di bandara itu, wajahnya tampak lelah setelah perjalanan yang ia tempuh cukup lama.
"Ini aku lagi rehat kak, ada apa kak? apa terjadi sesuatu Tisha dan Rasya?" tanya Zayn cemas. Dia sedang berada di sebuah ruangan ber AC dengan Farhan disana.
Itulah yang Zayn pertama kali tanyakan setiap dia menelpon kakaknya atau Fayra yang menelponnya. Dimana pun Zayn berada, sesibuk dan selelah apapun kegiatan Zayn yang selalu tour keluar negeri itu. Pikirannya tak luput dari ibu dan anak itu.
Zayn kamu selalu saja begini, bagaimana jika kamu tidak mendapatkan Tisha dan Rasya? bagaimana jika si pria brengsek itu yang mendapatkan mereka? terus kamu gimana?. Wajah Fayra terlihat kalut, dia mencemaskan kondisi saudara nya itu bila Tisha dan Rasya akhirnya bersama Ray. Fayra sangat was-was, terlebih lagi saat dia tau kalau Ray adalah orang licik yang tak bisa dilawan dengan mudah.
Zayn terlalu lembut untuk berhadapan dengan orang yang licik seperti Ray.
"Mereka baik-baik saja kok" jawab Fayra dengan suara yang lemah dan senyuman tipis di bibirnya.
"Apa jangan-jangan kakak yang kenapa-napa? kakak sakit ya? suara kakak terdengar sedih" tanya Zayn yang menyadari suara Fayra yang letih.
"Kakak, hanya capek baru turun dari pesawat" jawab Fayra
"Kakak kemana?"
"Perjalanan bisnisku di majukan" jawab Fayra
"Lalu Tisha dan Rasya hanya berdua saja dong di rumah?" tanya Zayn sambil menyeruput minumannya.
"Tisha dan Rasya pergi hari ini juga Zayn" jawab Fayra
DEG!
Zayn langsung beranjak dari kursi yang sedang dia duduki itu. Zayn memasang wajah terkejut, dia bahkan sampai menyemburkan minuman yang sedang ia teguk.
PRUTTT!!!
Pergi? Tisha dan Rasya pergi?
"Zayn kamu kenapa sih?" tanya Farhan yang terkejut melihat Zayn menyemburkan minuman nya.
Kalau urusan Tisha dan Rasya saja, Zayn selalu semangat. Zayn Zayn.. wanita di dunia ini banyak yang ingin menjadi pendamping mu, mereka rela antri untukmu. Tapi kamu malah mengejar janda. Farhan menggeleng-gelengkan kepalanya, tak habis pikir dia pada Zayn yang tergila-gila pada Tisha.
"Maksud kakak apa? Tisha dan Rasya pergi kemana?" tanya Zayn dengan suara nya yang semakin meninggi
"Mereka pergi ke Jakarta" jawab Fayra
Kedua mata Zayn membulat, lalu dia bertanya dan menebak, "Apa?!! mereka pergi ke Jakarta? apa mereka pergi bersama si Ray itu?!"
Zayn terdengar emosi.
"Kamu dengarkan kakak dulu. Kakak akan jelaskan"'
Pelan-pelan Fayra menjelaskan pada Zayn tentang alasan Tisha dan Rasya pergi ke Indonesia, lebih tepatnya kota Jakarta. Zayn terheran-heran, ia merasa kalau semua ini seperti sudah direncanakan oleh seseorang.
Fayra setuju dengan kata-kata Zayn, karena dia merasa kalau Raymond lah yang merencanakan semua ini. Segera setelah mengakhiri telponnya dengan sang kakak. Zayn terlihat marah, bahkan dia sampai memukul cermin yang ada disana.
Raymond Argantara!! kamu!!
KRAK
PRANG
Pecahan cermin itu jatuh berserakan ke lantai, Farhan terkejut melihat Zayn semarah itu.
"Zayn!!! kamu kenapa?!!" suara Farhan setengah berteriak pada Zayn yang melukai punggung tangannya sendiri.
"Kak, aku mau berhenti dari dunia hiburan selamanya" ucap Zayn
"Ucapan gak masuk akal apa itu, Zayn? kamu sudah gila ya??" tanya Farhan sambil mengambil sapu tangan dan membalutkan nya pada punggung tangan Zayn yang berdarah.
"Aku serius kak" ucap Zayn dengan wajah yang tidak terlihat sedang bercanda. Farhan melihat Zayn dengan penuh pertanyaan.
Karena pekerjaan ini, aku tidak bisa dekat dengan Tisha dan Rasya sepenuhnya. Aku akan berhenti. Aku akan menjadi penguasa seperti Raymond, agar aku bisa mengambil Tisha dan Rasya.
****
Bandara, Jakarta...
Hari ini aku kembali menginjakkan kaki ku di tanah air ku tercinta..
Tak pernah aku sangka bahwa suatu hari aku akan kembali lagi kemari, sekalipun aku tak pernah memikirkan nya. Terbesit kenangan indah dan pahit di kota ini, kota yang pernah menjadi saksi cinta dan kepahitan hidup ku. Dimana aku menikah dengan seorang pria yang bernama Raymond Victor Argantara, cinta pertamaku. Dan sekarang dia adalah ayah dari anakku.
Kini aku kembali bersamanya, bersama anak kami juga. Apa ini rencana Tuhan? atau ini rencana Raymond?
__ADS_1
"Ma, kenapa mama melamun? mama baik-baik saja kan?" tanya Rasya dengan tangan kecilnya itu mengandeng tangan mama nya. Seraya menatap cemas Tisha.
"Ah.. sayang, mama gak papa kok" jawab Tisha sambil melihat suasana di depan bandara itu dengan tatapan yang kosong.
Ray menatap mantan istrinya itu. Tisha, aku tau mungkin masih berat bagimu untuk kembali kemari. Mungkin kamu hanya ingat kenangan buruk saja disini, tapi aku janji aku akan menciptakan kenangan baru untukmu, tentunya kenangan yang indah bersama aku, kamu dan anak kita.
"Ini masih pagi, ayo kita cari restoran sekitar ini untuk sarapan dulu" Ray mengajak Tisha dan anaknya untuk sarapan bersama.
"Kak Ray pulang saja ke rumahmu, aku dan Rasya akan cari sarapan sendiri" Tisha memegang tangan Rasya, membuat tangan Ray yang memegang tangan Rasya terlepas.
Lagi-lagi kamu menetapkan batasan..Tidak apa-apa Tisha, kali ini aku yang akan maju dan melewati batasan itu. Wajah Ray terlihat sedih dengan sikap Tisha yang masih menjaga jarak dengan nya.
"Rasya, ayo sayang" ajak Tisha pada Rasya
"Tapi papa, ma.. kenapa kita tidak pergi bersama?" tanya Rasya melihat papa nya yang sedih, hatinya jadi tidak tega.
"Kita tidak bisa sayang, kita harus cepat pergi ke makam nenek dan om kamu" ucap Tisha terburu-buru.
Tisha sudah merancang rencana di kepalanya, bahwa setelah ini dia akan pergi ke makam ibu dan kakaknya, lalu dia akan pergi ke hotel bersama Rasya untuk beristirahat.
"Iya ma, tapi papa.. papa.." Rasya menatap Ray dengan tatapan iba.
Papa kelihatan sedih.
"Tisha, bagaimana kalau kamu dan Rasya istirahat dulu di rumahku?" Ray menawarkan agar Tisha dan Rasya beristirahat dulu di rumahnya.
"Itu benar Bu, ke makam bisa nanti setelah beristirahat. Kasihan tuan muda Rasya, dia baru saja turun dari pesawat pasti lapar dan lelah" kata Gerry ikut membantu Ray untuk bicara pada Tisha, membujuknya.
Bagus Gerry, kamu memang bisa diandalkan. Bonus 20 persen, bulan ini. Ray tersenyum sambil melirik ke arah Gerry
Bonus kan pak? saya dapat bonus kan?. Gerry sendiri berharap bonus dari bos nya
Wanita itu terdiam, jelas sekali dia sedang berfikir. Entah memikirkan apa, Ray dan Rasya juga tidak tau jelas nya. Mereka berdua kompak menatap Tisha dan menantikan jawaban dari Tisha.
Benar juga ya, Rasya pasti lelah setelah perjalanan jauh. Dia kan belum pernah bepergian, aku egois dan hanya memikirkan diriku sendiri.
"Rasya.."
"Ya ma?"
Pasti mama mau setuju ikut sama papa, yeahh..
Pasti Tisha akan ikut denganku. Ray sudah percaya diri bahwa Tisha akan ikut dengannya.
"Kamu capek kan? kamu juga lapar?" tanya Tisha sambil jongkok di depan anaknya.
"Iya ma" Rasya mengangguk
"Hotel? kenapa ke hotel?" tanya Ray kaget
Kenapa ini tidak sesuai dugaan ku?
"Kenapa apanya? memangnya kita bisa kembali ke rumah kamu?" tanya Tisha keheranan dengan pertanyaan Ray
"Tapi ma.. aku mau pulang ke rumah papa, aku mau lihat rumah papa" ucap Rasya sambil meminta pada mama nya dengan merengek.
"Rasya.. kamu..."
KRUKKK...
Suara perut yang menggelikan itu terdengar kencang dan menghentikan Tisha yang sedang bicara pada Rasya. Rasya nyengir sambil memegang perutnya.
"Kamu lapar sayang?" tanya Ray pada putranya
Rasya mengangguk angguk.
Perut ini berbunyi di saat yang tepat, hihihi
"Tisha, lebih baik kita bicarakan ini sambil makan..Rasya kasihan sudah kelaparan" Ray menggendong Rasya dengan tangan kekarnya itu.
Anakku memang pintar.
"Yee!! aku digendong papa lagi!" Rasya tersenyum lebar saat digendong papanya
"Kak Ray, lebih baik kamu tidak menggendongnya. Nanti dia semakin manja"
"Tidak masalah, aku senang memanjakan nya..Dia kan anakku" jawab Ray dengan senang hati dia akan memanjakan anak nya.
"Haah..baiklah ayo kita makan dulu" Tisha menghela napas, dia setuju untuk makan bersama.
Aku kalah oleh kalian berdua. Kalian memang bisa membuatku kehilangan kata-kata.
Ayah dan anak itu kompak berkolaborasi tanpa janjian lebih dulu, untuk membuat Tisha selalu menuruti kemauan mereka.
Ray, Tisha dan Rasya masuk ke sebuah tempat makan bubur, karena Rasya sedang ingin makan bubur. Gerry pamit pulang duluan karena dia sudah lama tidak bertemu istri dan anaknya.
"Silahkan menikmati" ucap seorang pelayan sambil menyimpan mangkuk berisi bubur di meja tempat duduk ketiga orang itu.
__ADS_1
"Terimakasih mbak" jawab Tisha ramah
Pelayan itu pergi setelah menyelesaikan tugasnya mengantarkan pesanan. Rasya tampak senang karena dia bisa makan bubur, yang lebih membuatnya senang adalah dia bisa makan bersama papa nya juga.
"Kamu suka hati ayam nya?" tanya Ray sambil menyodorkan hati ayam yang ada di tusuk sate, pada Rasya.
"Suka pah" jawab Rasya dengan mata yang berbinar-binar.
"Papa buka dulu hati ayam yang ada di tusuk satenya ya"
"Biar aku saja kak" Tisha hendak mengambil hati ayam yang ditusuk oleh tusuk sate ditangan Ray.
"Tidak perlu, aku saja" Ray menolak Tisha, tak sengaja tangan Tisha memegang tangan Ray.
Mereka saling menatap satu sama lain, saat Tisha akan menarik tangannya, Ray malah memanfaatkan situasi dan menggenggam nya.
Apa apaan dia? kenapa dia.. aih... Tisha menggigit bibirnya, dia gemas dengan Ray yang memegang tangannya.
"Cie.. cie.. mama papa.. senangnya deh" Rasya menyangga dagu nya dengan kedua tangan imut miliknya. Bibir nya tersenyum lebar melihat kemesraan orang tuanya.
Kenapa dia tidak mau melepaskan tanganku? dan malah menggenggam nya semakin erat?? Tisha menatap kesal ke arah Ray yang tidak mau melepaskan tangannya.
Entah kenapa aku menikmati wajahmu yang sedang marah seperti ini? terlihat sangat cantik. Ray malah tersenyum melihat Tisha menatap nya dengan marah
Bagaimana bisa dia tersenyum seperti orang bodoh saat aku sedang marah padanya?! gila ya?. Tisha semakin gemas, kesal dengan tingkah tidak tahu malu Ray.
"Kamu cantik deh, kalau sedang marah" ucap Ray dengan melemparkan senyuman manisnya pada Tisha.
DUAK!
Tisha menendang kaki Ray yang ada di bawah meja dengan keras. Hal itu sontak saja membuat Ray memegangi kakinya dan kesakitan.
"Aduh! kamu galak banget sih!"
"PFut.. haha, rasain papa kena serangan galak mamah" Rasya menertawakan papanya yang di serang orang mamanya.
"Makanya jangan berani-berani nya pegang aku!" Tisha mengambil hati ayam itu lalu menyimpannya di atas bubur yang akan di makan oleh Rasya.
Apa yang membuat wanita cantik, lemah lembut dan manis ini menjadi galak. Apa itu karena ku? dia sudah banyak berubah.
Mereka makan bersama seperti layaknya sebuah keluarga. Ray senang sekali dengan kebersamaan itu, sampai dia mengirimkan sebuah foto kebersamaan nya dengan Rasya pada pak Faisal.
Kakek pasti senang dan terkejut melihat gambar ini.
Tring..
πΆπΆ
Pak Faisal baru saja selesai sarapan pagi bersama Daniah. Mendengar suara ponselnya, Pak Faisal buru-buru mengambil kacamata bacanya untuk melihat pesan masuk yang ada di ponsel tersebut.
"Ray-Ray.. dia bersama siapa?" Pak Faisal terpana melihat foto Ray bersama seorang anak kecil yang mirip sekali dengan Ray yang waktu kecil
"Ada apa pah?" tanya Daniah yang baru saja selesai membaca bukunya dan menghampiri pak Faisal di kursi roda. Pria tua itu sudah tampak tidak sehat dan lemah.
"Daniah, coba kamu lihat ini! apa papa salah lihat, atau memang anak ini mirip dengan Ray?" tanya pak Faisal sambil memberikan ponselnya kepada Daniah untuk memastikan bahwa dirinya tidak salah lihat.
"Sini coba niah, lihat pa" Daniah mengambil ponsel itu. Dia melihat dengan seksama foto Ray dan Rasya yang sedang tersenyum berdua dengan ceria.
Daniah tercekat, dia terkejut melihat Ray dan Rasya seperti kertas fotocopy. Mereka benar-benar mirip. "Pah, anak ini mirip sekali dengan Ray waktu kecil"
Siapa anak itu? mengapa dia sangat mirip dengan Ray? apa itu anak Ray?
"Berarti papa tidak salah lihat! siapa anak ini ya? mengapa dia sangat mirip dengan Ray?" tanya Pak Faisal sangat penasaran dengan sosok anak di dalam foto itu
"Apa jangan-jangan dia anak haram Ray, pa?" tanya Daniah memanasi keadaan
"Ray tidak akan melakukan itu! Ray masih mencintai mantan istrinya, dia tidak mungkin punya wanita lain. Jangan sembarangan bicara, kamu!" Pak Faisal marah begitu cucu kesayangan nya di bilang yang bukan-bukan.
Dia selalu saja membela Ray, mau Ray melakukan kesalahan apapun. Pasti si tua Bangka ini selalu membelanya. Giliran anak anak ku yang berbuat salah, dia langsung menghukum nya tanpa ampun. Cuih! dasar pilih kasih. Bibir Daniah mengerucut, wanita itu menyilangkan kedua tangannya di dada.
Pak Faisal memasang wajah serius, dia langsung menelpon Ray saat itu juga untuk bertanya siapa anak yang sedang bersamanya.
Tut...
Tut..
****
Ray, Tisha dan Rasya baru saja selesai makan bubur. Tisha sibuk mengusap bekas kecap di bibir Rasya dengan tisu basah. "Kebiasaan deh kamu kalau makan suka belepotan"
"Hem..hehe" Rasya hanya nyengir sambil menyeruput susu hangat berwarna putih di dalam gelas nya itu.
πΆπΆπΆ
Ponsel Ray berdering, sebelum mengangkat telepon itu dia tersenyum. "Halo kek" sapa Ray pada kakeknya
Mendengar Ray memanggil orang itu dengan sebutan kakek, sontak saja membuat Tisha terdiam.
__ADS_1
Kakek? apa itu kakek Faisal?
...---***---...