Tahanan Cinta CEO

Tahanan Cinta CEO
Bab 69. Ingatan kembali


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Tisha mematung, bibirnya diam saja, hanya bulir-bulir air mata yang tampak pada dirinya. Perasaan di dalam hatinya sangat membingungkan, ia bahagia dan sedih melihat Rasya berpelukan dengan Ray.


Melihat Rasya begitu senangnya saat bersama Ray yang ternyata adalah papanya. Sementara Tisha masih menerka apa yang terjadi, ia masih belum ingat pada Ray.


Dia adalah papa nya Rasya? apa itu berarti dia adalah Presdir perusahaan Argantara? Raymond Argantara yang diceritakan oleh Zayn?


"Mama, aku punya papa ma! aku punya papa!" Rasya tersenyum senang dan memeluk papa nya itu dengan erat.


Pantas aja aku merasa dekat sama om eskrim, ternyata dia adalah papa ku. Akhirnya aku ketemu sama papa ku.


"Iya nak, papa juga senang karena kamu ternyata kamu dan mama kamu masih hidup. Kamu juga sudah sebesar ini" Ray menurunkan Rasya dari gendongannya, lalu ia menunjukkan foto Tisha yang ada di dompetnya pada Rasya.


"Ini kan foto mama?" Rasya mengambil foto mama nya yang diperlihatkan oleh Ray.


"Iya, mama mu adalah orang yang papa cintai, orang yang papa cari-cari. Dan foto ini adalah kamu" Ray menunjukkan foto USG Rasya yang selalu dibawa-bawa kemana-mana.


Kenapa Tisha diam saja? tatapan Ray mengarah pada Tisha yang sedang duduk di ranjang nya dengan wajah bingung


"Jadi, dulu aku adalah si biji kacang ini?" tanya Rasya dengan polosnya. Rasya menunjukan foto USG itu Tisha dengan semangat.


"Ma, benarkah ini aku? aku dulu seperti ini?" tanya Rasya pada mama nya. Tisha diam sejenak lalu matanya membulat melihat foto USG itu, Tisha mengambil foto itu dan memperhatikan nya dengan seksama.


Foto ini.. aku rasa aku pernah melihatnya. batin Tisha berfikir


"Jangan terlalu di paksakan kalau kau belum bisa mengingat nya" Ray mengambil foto USG itu dari tangan Tisha, ia takut Tisha akan sakit bila berusaha mengingat masa lalu nya yang terhapus sebagian.


SRET


Tisha merebut kembali foto USG itu dari tangan Ray, lalu ia mengambil dompet Ray. Disana ada foto Tisha dan foto pernikahan mereka.


"Benarkah, aku pernah menikah dengan kamu?" tanya Tisha sambil melihat foto USG dan foto pernikahan nya bersama Ray. Disana terlihat Tisha menggunakan gaun pengantin berwarna putih sedang memeluk Ray dengan mesra.


"Ya, itu buktinya. Kalau kamu masih tidak percaya, aku bisa menunjukkan padamu buku nikahnya juga" jawab Ray yang siap melakukan apapun agar ingatan Tisha bisa kembali.


"Tapi kamu, kamu sudah..."Tisha memegang kepalanya yang terasa sakit.


"Tisha, kamu gak papa?" tanya Ray cemas melihat Tisha memegang kepalanya.


"Mama, mama kenapa ma?" Rasya juga ikutan cemas pada mama nya itu.


Sekelebat bayangan ada di pikiran nya, bayangan tentang seorang wanita yang tidur bersama Ray tanpa busana dan Tisha ada disana menyaksikan semuanya. Kemudian, bayangannya berada di dalam sebuah rumah sakit bersama Bu Fani melalukan tes kehamilan.


Lalu ada lagi bayangan di sebuah gedung pengadilan agama dan surat cerai yang ia tandatangani bersama Ray. Dan ingatannya yang terakhir adalah kecelakaan mobil yang menewaskan Bu Fani dan Arya. Saat mengingat semua itu, Tisha


"Argh.. sakit..SAKIT.. Arghh!!" Tisha memegang kepalanya, ia merintih kesakitan


"Tisha..." Ray panik melihat kondisi Tisha.


"MAMA!" teriak Rasya panik melihat mama nya merintih kesakitan sambil memegang kepalanya.


"Papa akan panggil dokter!" ucap nya buru-buru keluar dari ruangan itu dan memanggil dokter.


Zayn dan dua orang di luar mendengar teriakan Tisha. Mereka bertanya-tanya apa yang terjadi pada Tisha di dalam sana, Ray tak menjawab ia hanya meminta pada Zayn untuk jangan ikut campur. Beberapa saat kemudian, dokter pun datang untuk memeriksa kondisi Tisha.


Rasya dan Ray keluar dari ruangan itu dan menunggu dengan cemas disana.


"Papa, bagaimana keadaan mama? mama gak papa kan?" tanya Rasya sambil memeluk papa nya, lalu menangis.


Dulu Rasya akan memelukku kalau dia sedang sedih dan cemas, tapi dengan mudahnya dia dekat dengan Ray seperti itu. batin Zayn cemburu melihat kedekatan ayah dan anak di depannya.


"Tenang saja bocah imut, mama mu akan baik-baik saja" Ray tersenyum memeluk Rasya seraya menenangkan anaknya itu.


Apa Tisha seperti itu karena ingatannya? Ya Allah semoga tidak terjadi apa-apa pada Tisha. batin Ray berdoa setulus hatinya


Mereka baru bertemu dan mereka sudah dekat seperti itu. Benar-benar ikatan darah tidak bisa dibohongi. Darah lebih kental daripada air. batin Gerry yang senang melihat kebersamaan Ray dan Rasya.


Kini mungkin cahaya pelangi akan datang dalam kehidupan Ray. Kembalinya Tisha bersama Rasya, anaknya akan membuat hidup Ray lebih baik dan berwarna. Masalah nya hanya pada Tisha yang saat ini sedang hilang ingatan.

__ADS_1


Gerry berdoa semoga ingatan Tisha kembali dan Ray bisa kembali rujuk dengan Tisha. Lalu hidup bahagia dengan keluarga kecilnya. Karena Gerry tau betapa menderitanya Ray dalam tahun-tahun gelap tanpa kehadiran Tisha dan Rasya. Ray sempat disangka orang gila karena keyakinan nya pada Tisha dan Rasya yang masih hidup.


Hidupnya sempat kacau pada 2 tahun terakhir, ia selalu mengkonsumsi alkohol. Saat diambang hidupnya, Ray berhenti mengkonsumsi alkohol. Ray bertaubat, ia menghindari hal hal yang haram, meskipun ia tak bisa menghilangkan kebiasaan merokok dan minum obat sebelum tidurnya.


Hari-hari Ray sangat tersiksa tanpa Tisha dan Rasya, lalu mungkin sekarang Ray bisa tidur nyenyak karena keyakinan nya itu nyata dan mereka berdua sudah ada di hadapan nya.


"Apa yang terjadi pada Tisha? kenapa dia berteriak kesakitan seperti itu?" tanya Zayn dingin pada Ray, ia ingin tau apa yang dikatakan Ray pada Tisha sehingga Tisha seperti itu.


"Bukan urusanmu" jawab Ray datar


"Jawab aku yang benar!" Zayn membentak Ray dengan emosi


Ray terpancing dengan suara Zayn yang membentaknya. Ray beranjak dari kursinya dan menatap tajam pada Zayn, emosinya sudah sampai di ubun-ubun.


"Om Zayn, kenapa om bentak-bentak papa?" tanya Rasya yang kaget mendengar Zayn membentak Ray.


"Zayn, tenanglah.. ini di rumah sakit dan ada Rasya juga" Fayra segera menenangkan Zayn yang hari itu emosi terus.


Kakak benar juga, ada Rasya disini dan aku harus menahan emosiku. Zayn berusaha memenangkan dirinya


"Maaf Rasya, om gak bermaksud begitu...maaf ya om ngagetin kamu" Zayn mengubah ekspresi nya menjadi manis dan lembut di depan Rasya. Tangannya menepuk kepala Rasya dengan lembut.


"Cih!" gumam Ray yang tidak suka dengan sikap manis Zayn pada putranya


"Kalau papa sama om Zayn bertengkar, nanti mama bisa sedih..Kalau kalian ada masalah baikan ya, jangan pakai kekerasan" Rasya memegang satu lengan Ray dan satu lengan Zayn lalu menyatukan kedua tangan itu, dengan maksud membuat mereka berbaikan.


Zayn dan Ray langsung menarik tangan mereka yang menyatu, terlihat jijik satu sama lain.


"Kami gak ada masalah, sayang.." jawab Ray dengan senyuman hangatnya tertuju pada Rasya


"Iya kami baik-baik saja jadi tidak perlu berbaikan" Zayn tak mau kalah, ia tersenyum lembut pada Rasya


"Benar nih kalian gak kenapa-napa? tapi tadi siang kalian saling pukul, biasanya yang saling pukul gitu kan lagi berantem. Kalian pasti lagi rebutan sesuatu kan?" tanya Rasya menebak-nebak apa yang terjadi pada Zayn dan Ray sebelumnya.


"Enggak kok, kami gak rebutan apa-apa" Zayn langsung menyangkal


Bahkan anak kecil saja tau kalau kalian lagi rebutan bu Tisha. batin Gerry yang hanya tersenyum mendengar ocehan anak kecil itu


"Haha.. ini bukan seperti itu nak" Ray menertawakan kepolosan anaknya itu


Memang benar kami sedang rebutan. Memperebutkan kasih sayang kamu dan mama kamu. batin Ray sambil mendudukkan anaknya di pangkuan nya.


CEKRET


Begitu mendengar suara pintu yang terbuka, Ray dan semua orang disana langsung beranjak dari tempat duduk mereka dan menatap dokter yang berdiri di depan pintu ruangan itu.


"Dokter bagaimana keadaan Tisha?" tanya Fayra mendahului Zayn dan Ray bertanya pada dokter


"Dia baik-baik saja, dia bilang ingin bicara berdua dengan orang yang ia panggil kak Ray" jawab Dokter sambil melihat ke arah Ray dan Zayn


DEG!


Ray tersentak mendengar kata kak Ray yang terucap dari bibir dokter itu. Disisi lain ada Zayn yang juga tercengang mendengar kata-kata dokter, ia takut ingatan Tisha kembali.


Panggilan itu.. bukankah dia selalu memanggilku kak Ray sebelum hilang ingatan? apa ingatannya sudah pulih?


"Saya Ray" jawab Ray


"Masuklah ke dalam, pasien juga mengatakan kalau yang lain nya tunggu di luar dulu" dokter menyampaikan pesan Tisha pada semua orang yang ada disana.


"Rasya, tunggu disini ya" ucap Ray pada anaknya sebelum ia masuk ke dalam ruangan Tisha.


"Aku juga tidak boleh masuk?" tanya Rasya sambil melihat ke arah papa nya yang sudah masuk ke dalam ruangan itu dan menutup pintunya rapat-rapat.


"Rasya, mama dan papa kamu perlu bicara berdua. Kamu main dulu sama om Farhan dan Om Zayn yuk?" ajak Farhan pada Rasya


"Iya deh, mereka kan baru ketemu lagi. Pasti banyak yang ingin mereka bicarakan, aku pengen mereka kembali bersama.. dengan begitu keluarga ku akan lengkap" Rasya membayangkan, betapa bahagianya nanti kalau ia memiliki keluarga yang lengkap. Semua temannya di sekolah tidak akan mengejeknya lagi.


Zayn terlihat terpukul mendengar doa Rasya, ia sakit hati. Dalam hatinya Zayn tidak ikhlas kalau Tisha kembali pada Ray.

__ADS_1


Mengapa.. sakit sekali hatiku, apa aku tidak ada tempat di hati kamu dan Rasya?


"Om Zayn.." panggil Rasya sambil memegang tangan Zayn


"Ya, jagoannya om? ada apa?" tanya Zayn langsung merubah eskpresi nya


"Ayo kita pergi keluar" ucap Rasya sambil menguap


"Sepertinya dia sudah mengantuk, aku akan membawanya pulang" ucap Fayra pada Zayn, ia berniat membawa Rasya pulang ke rumah


"Aku dan Zayn akan pergi ke kantor agensi ada panggilan untukmu Zayn" kata Farhan pada Zayn.


Zayn tidak punya pilihan lain selain pergi bersama Farhan, apa gunanya ia berada disana kalau ia tak bisa bertemu dengan Tisha. Sementara itu Fayra pulang bersama Rasya dan menidurkannya di rumah karena anak itu sudah tampak lelah.


***


Ray berjalan menghampiri Tisha yang sedang duduk di ranjangnya. Kedua matanya menatap Ray dengan berbeda dari sebelumnya. Ray berdebar melihat tatapan Tisha padanya.


"Kak Ray.. sudah lama ya tidak bertemu" sapa Tisha dengan suara yang dingin


"Kamu sudah ingat semuanya?" tanya Ray dengan senyuman lembut di wajahnya


"Ya, aku ingat semuanya" jawab Tisha dengan senyuman dingin tersirat di bibir nya yang pucat.


Ya Allah.. aku tidak tau kalau hatiku akan sesakit ini saat bertemu lagi dengannya. Tapi, aku juga rindu padanya, aku sangat merindukannya. Dadanya terasa sesak karena ingatannya telah kembali, hatinya yang sebelumnya tenang kini kembali terusik.


Pria itu tersenyum bahagia, ia mendekat ke arah Tisha dan merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Niat hati ingin memeluk Tisha, namun Tisha mendorong Ray dan memalingkan wajahnya.


Ray terpana dengan penolakan itu,"Tisha.. ada apa?"


"Aku ingat semuanya kak, semua yang pernah terjadi di antara kita. Termasuk Zefanya yang saat itu sedang hamil anak kamu!" Tisha menangis tanpa suara, menjerit tanpa suara di dalam hatinya. Perih perasaan nya, mengingat apa yang sudah terjadi.


"Latisha! Zefanya tidak pernah hamil anakku, dia berpura-pura. Bahkan aku tidak pernah tidur dengan dia, apa karena itu kamu dan keluarga mu pergi 6 tahun yang lalu?" tanya Ray sambil mengepal tangannya erat-erat.


Ya benar, kamu harus bersabar Ray. Meski Tisha sudah ingat semuanya, tapi masih ada kesalahpahaman yang harus kamu luruskan.


"Dia tidak hamil?" Tisha menatap ke arah Ray, bermaksud ingin melihat raut wajah pria itu. Berbohong ataukah tidak.


"Ya, dia tidak hamil. Dia bahkan tidak pernah bisa hamil karena dia memiliki penyakit yang berkaitan dengan rahimnya. Jadi.. karena itu saja kamu pergi?" tanya Ray sedih


"Karena itu saja, kakak bilang? alasan terbesar aku pergi dari kamu adalah kamu sendiri. Sikap kamu, aku tidak suka!"


"Sikap apa yang kamu tidak suka? katakan, biar semuanya jelas" Ray tampak tenang, ia bisa menahan emosinya dengan baik di depan Tisha.


Aku akan mengubahnya, jika kamu tidak suka dengan sikapku. Asalkan kamu dan Rasya selalu disampingku.


Tisha terheran-heran melihat Ray yang biasanya selalu emosi, tidak mau kalah saat orang bicara dengannya. Kini Ray sudah menjadi orang yang cukup tenang.


"Tahukah kamu? bagaimana kamu memperlakukan ku? kamu memperlakukan ku seperti tawanan! aku seperti tidak punya kebebasan saat aku hidup dengan kamu, kak" Tisha menatap Ray dengan tatapan terluka.


"Kebebasan ya? baik, jika kamu ingin bebas tentu aku akan membebaskan kamu" Ray tersenyum santai menanggapi kata-kata Tisha


Sabar Ray, sabar.


"Bagaimana bisa kamu bicara sesantai ini? aku serius! apa kamu tau kebebasan apa yang ku maksud?" tanya Tisha ngambek


"6 tahun.. Tisha..,kamu sudah bebas dariku selama enam tahun..Dan selama itu juga aku gila karena kamu dan anak kita, aku pikir kamu dan anak kita sudah mati! tapi kamu hanya memikirkan dirimu sendiri sampai saat ini tanpa memikirkan perasaan ku. Kamu tidak memikirkan ku sama sekali, betapa sakitnya aku saat itu!!!" Ray mengguncangkan tubuh Tisha dan memegang kedua tangan Tisha, Ray menangis.


Mengapa dia menatapku seperti itu? bagaimana bisa Raymond yang kejam menangis?


Ray memeluk Tisha dan menumpahkan kesedihan nya. Hati gadis itu luluh, ia tak tega melihat Ray yang menangis di bahunya. Mereka berdua sama-sama menangis, menumpahkan semua rindu dan kesedihan. Menandakan bahwa masih ada cinta yang tersisa di hati mereka.


Ternyata selama enam tahun ini aku masih mencintainya, walaupun aku sempat lupa padanya.


Terimakasih.. terimakasih kamu dan anak kita sudah kembali dengan selamat. Terimakasih kepada Allah yang sudah mempertemukan kami kembali.


"Tisha.. mari kita kembali ke Jakarta. Bersama Rasya anak kita, kembalilah denganku" Ray memegang tangan Tisha seraya memohon pada Tisha.


"Ke Jakarta?"

__ADS_1


...---***---...


__ADS_2