
Segera setelah melihat berita di TV, Bu Fani dan anaknya Arya berusaha meminjam uang untuk pergi ke Jakarta, menemui Tisha.
Mereka kesal karena Tisha hidup bahagia selama kepergian ibu dan kakaknya selama dua tahun itu. Sedangkan ibu dan kakak nya hidup menderita dalam persembunyian.
...****...
Di kantor Argantara grup..
"Ah ternyata pak Zayn masih ada disini?" tanya Ray sambil tersenyum pada Zayn yang masih berdiri di dekat ruang ganti.
Seperti nya dia sedang menunggunya. Mau apa lagi dia? apa dia tidak menyerah?
"Jangan merasa menang dulu pak Raymond, saya tetap yakin kalau anda dan istri anda, bukan pasangan suami istri yang normal." kata Zayn sinis
"Apa maksud nya bukan pasangan suami istri yang normal?" tanya Ray dengan nada sedikit meninggi.
"Zayn, ayo kita pergi! kamu jangan cari masalah deh, kamu ada jadwal sore" bisik Farhan pada Zayn
Aku pikir Zayn sudah menyerah pada gadis itu, tapi Zayn malah semakin ingin mendekatinya. Tidak baik menyinggung pak Raymond yang sudah bermitra dengan AZ entertainment. Farhan cemas
"Sebentar kak, aku mau nunggu Tisha dulu" Kata Zayn keras kepala
"Siapa yang sedang kamu tunggu?" tanya Ray kesal
Zayn mengabaikan Ray yang sedang bicara padanya. Beberapa saat kemudian, pintu ruang ganti itu terbuka. Tisha sudah mengganti bajunya dan menghapus riasannya, ia melihat kedua pria tampan yang sedang menunggunya di depan ruang ganti itu.
"Zayn, kamu masih disini?" tanya Tisha heran melihat ke arah temannya
Kenapa dia malah mengabaikan suaminya dan bicara dengan pria lain di hadapanku? hah.. hukuman mu akan dobel nanti malam. Tunggu saja. Ray melihat Tisha dengan tatapan mengancam
"Aku mau minta nomor ponsel kamu, nomor sebelumnya tidak aktif" Zayn menyerahkan hp nya pada Tisha.
"Maaf Zayn, waktu itu hp ku rusak. Ini nomor baruku" ucap Tisha sambil menuliskan nomornya di hp Zayn
Sejak kapan dia punya hp baru? kenapa aku tidak tahu? sial! aku seperti orang bodoh. umpat Ray dalam hati
Ray pun pergi begitu saja setelah dirinya merasa diabaikan oleh istrinya. Tisha melihat kepergian nya dengan keheranan. Tadinya Zayn ingin mengobrol lama dengan Tisha, tapi ia ada jadwal pemotretan pada sore itu. Akhirnya Zayn dan manajernya pergi meninggalkan perusahaan Argantara.
Sepulang dari kantor, Ray terlihat dingin lagi sikapnya pada Tisha. Gadis itu sungguh tidak bisa menebak apa yang ada di dalam hati Ray, suasana hati Ray yang selalu berubah-ubah membuatnya bingung.
Mereka naik mobil untuk pulang bersama, Ray duduk di belakang stir kemudi nya. Dan Tisha duduk disampingnya seperti biasa.
"Kak, apa kakak mau makan malam di luar? atau di rumah saja?"tanya Tisha
"memang apa hubungannya dengan mu aku mau makan dimana?" tanya Ray ketus
"Karena aku belum memasak makan malam, aku kan pulang bareng kakak hari ini" jawab Tisha
"Aku tidak mau makan" jawab Ray dingin
"Loh? kenapa?" tanya Tisha
"Gak kenapa-napa" jawab Ray cemberut
Ah.. sudah jelas dia marah lagi. Tapi, kenapa ya? Apa salahku kali ini? padahal tadi pagi dia bersikap sangat manja dan manis. Lah.. sekarang dia tiba-tiba marah.
"Tapi aku mau makan, kita makan malam di luar saja ya?" tanya Tisha
"Kamu mau makan? makan saja bersama teman pria mu itu" jawab Ray sinis
Aku saja tidak tahu kamu punya ponsel baru, kenapa dia menjadi orang pertama yang tau? kenapa dia juga menjadi orang pertama yang mendapatkan nomor ponselmu?. Lagi-lagi Ray mengumpat
"Oh baiklah" jawab Tisha sambil mengambil ponsel di tas nya dan memencet sesuatu di ponselnya. Ia tersenyum sambil melirik ke arah suaminya yang sedang cemberut.
__ADS_1
Oke, kalau kamu maunya begitu. Aku turutin!. Tisha kesal
"Kamu mau apa?" tanya Ray sembari melirik ke arah Tisha yang sedang memainkan ponselnya
"Oh, aku mau menghubungi teman pria ku itu. Dan aku mau makan malam dengannya" jawab Tisha santai
CKITT...
Ray kaget dan memberhentikan mobilnya dipinggir jalan. Dengan buru-buru, Ray memegang kedua tangan Tisha dan menekan tubuh wanita itu ke jok mobil.
"KYAA!!" Tisha kaget sampai hpnya terlepas dari tangannya dan jatuh ke bawah
"Kamu berani? makan dengan pria lain?" tanya Ray dengan tatapan nanar, tangannya masih mengunci kedua tangan Tisha.
"Ka-kakak sendiri yang menyuruhku" jawab Tisha sambil memalingkan wajahnya.
Kenapa aku tidak bisa menatap matanya itu? aku merasa aneh..
"Kenapa kamu memalingkan wajahmu? takut aku memakan mu lagi?" tanya Ray sambil tersenyum dan memegang dagu Tisha.
"Kenapa Kakak seperti ini terus? tadi di kantor juga begini. Aku salah apa?" gerutu Tisha sebal
"Kamu masih bertanya salahmu apa?" tanya Ray "Seperti nya hukuman ini akan sedikit menyadarkan mu"
Tangan Ray menjelajahi paha mulus Tisha dan meraba-raba bagian sensitif tubuhnya. Dengan sengaja Ray menciumi leher Tisha.
"AHHHHHH.. kak Ray hentikan! orang-orang bisa melihat.." Tisha menggelinjang kegelian
"Apa kamu sudah tau apa kesalahan mu?" tanya Ray sambil mengigit telinga Tisha.
"Ah! aku tidak salah apa-apa" jawabnya
"Latisha, kamu memang mau di hukum kan? baik, aku akan menghukum mu lebih dalam lagi" Ray tersenyum genit lalu melonggarkan dasi nya dan melepas jasnya.
Tangannya! kenapa berkeliaran kemana-mana? ah, tangannya masuk ke dalam..Tisha panik dan segera mendorong pria itu, namun kekuatan suaminya terlalu kuat untuk ia lawan.
"Kak Ray, kamu mesum! lepaskan aku!' seru Tisha meminta Ray melepaskan dirinya dari cengkraman suaminya itu.
"Akui kesalahanmu" bibir Ray menciumi pipi Tisha dengan gemas
"A-aku salah, ya aku salah! kakak menang" ucap Tisha mengalah
"Apa salahmu?"
"Aku tidak tau" Tisha menggeleng geleng kan kepalanya
"Apa salahmu?!"
"Mu-mungkin bicara dengan Zayn" jawab Tisha
"Bukan itu saja" tangan Ray yang nakal mulai melorotkan blazer yang dikenakan oleh Tisha. Tisha mulai ketakutan, meski ini bukan pertama kali untuknya.
"I-itu, apa karena aku memberikan nomor ponsel ku pada Zayn?" tanya Tisha
"Kurang tepat" jawab Ray sambil melahap bibir Tisha dengan rakus
Masih salah juga? kenapa dia tidak bisa dihentikan? .Tisha tercekat dan kaget dengan tindakan Ray.
"Maafkan aku kak, kumohon hentikan.. aku salah" Tisha menatap suaminya dengan berkaca-kaca. Membuat Ray menghentikan segala aktivitas nya pada istrinya.
Apa cara ini berhasil? Aku memang tidak pandai berpura-pura. batin Tisha
Apa aku sudah keterlaluan?
__ADS_1
Ray beranjak dari tubuh Tisha, ia membenahi blazer Tisha dan memakaikan nya kembali. Ray juga mengambil ponsel Tisha yang ada di bawah mobil.
"Aku memaafkan mu, tapi tidak ada lain kali. Latisha seperti nya kamu lupa, aku ini suamimu. Walau hanya menikah kontrak, kita tetap suami istri. Aku ingin kamu menjalankan tugas mu sebagai istri ku, dan kita juga sudah memutuskan untuk berkencan bukan? kamu tau apa artinya?" tanya Ray
"Aku tau, itu artinya aku tidak boleh berdekatan dengan pria lain selama kita berkencan dan melayani kakak" jawab Tisha mengerti
"Ternyata kamu paham maksudku? jika kamu berdekatan dengan pria lain, kamu tau apa yang akan terjadi. Tidak ada ampun bagimu" Ray tersenyum menakutkan, tangannya membelai wajah Tisha dengan lembut.
"Aku mengerti"
"Aku tidak akan memaafkan pengkhianatan, kamu tau itu"
DEG!
Mendadak Tisha berdebar mendengar kata-kata Ray yang tajam dan serius itu.
Hal yang dikatakan Ray memanglah benar, ia tak akan pernah memaafkan pengkhianatan di depan mata nya. Saat Zee masih berpacaran dengannya, Zee kepergok pernah bercinta dengan salah satu potografer terkenal di Amerika. Saat itu juga Ray langsung menutup hatinya rapat-rapat untuk orang lain terutama wanita. Karena Ray tidak mau dikhianati lagi.
"Jangan kecewakan aku, Latisha" ucap Ray sambil menyalakan mobilnya.
"Iya kak, insyallah. Selama aku masih menjadi istrimu, aku akan menjalankan semua kewajiban ku" jawab Tisha sambil membenahi pakaiannya yang berantakan akibat perbuatan Ray.
Bagaimana ini? aku jadi kepikiran dengan Bu Daniah dan Bu Zefanya?
4 hari berlalu..
Dan waktu diberikan oleh Bu Daniah dan Zefanya untuk bercerai dari Ray , semakin menipis. Masalahnya adalah ancaman hidup sang kakek.Tisha tidak berani bicara pada suaminya tentang hal ini, karena hubungan mereka sedang dalam keadaan baik. Tisha tidak mau merusak mood Ray.
Selama 4 hari itu Ray dan Tisha semakin dekat saja. Ray tidak ragu bersikap manja pada Tisha. Kini Tisha mulai merasakan bagaimana rasanya jadi seorang istri sepenuhnya dan bukan hanya pajangan saja. Tisha begitu bahagia mendapatkan pengakuan dari semua orang di tempat kerja nya, bahwa ia adalah istri dari Raymond Argantara. Meski Tisha belum pernah mendengar kata cinta terucap di bibir suaminya.
4 hari yang begitu membahagiakan untuknya, serasa pacaran dengan suaminya. Tanpa ada gangguan apapun, maupun dari Zee atau Bu Daniah. Keduanya sama-sama sedang sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
Hari yang damai itu tiba-tiba saja ada badai yang datang.
"Dimana wanita yang bernama Latisha Anindita? bilang saya ingin bertemu dengannya!" ujar Arya pada salah satu resepsionis disana.
"Maaf pak, bapak harus membuat janji temu dulu jika ingin bertemu dengan istri pak Presdir maupun pak presdir. Apa anda sudah punya janji?" tanya resepsionis
"Aku tidak perlu meminta izin untuk bertemu adikku sendiri, dimana dia hah??!!" tanya Arya sambil melihat kesana kemari. Suara Arya yang keras membuat orang-orang disekitar sana menjadi tidak nyaman.
Dasar adik kurang ajar! beraninya dia hidup bahagia sendirian sementara keluarganya menderita.
"Bapak, tolong jangan buat keributan disini! kalau bapak membuat keributan, saya terpaksa akan panggil satpam kemari!" seru Resepsionis mengancam
Kebetulan saat Arya datang ke perusahaan Argantara, adalah saat jam makan siang. Tisha bersama kedua teman perempuan nya yang berada dalam anggota tim perencanaan itu, akan makan siang bersama di kantin perusahaan.
Saat asyik berbincang sambil berjalan bersama kedua temannya menuju kantin perusahaan, tiba-tiba saja Arya sudah berdiri di depannya.
"Kamu disini rupanya?" tanya Arya sambil tersenyum sinis
DEG!
Tisha tersentak melihat kakaknya yang sudah hampir tiga tahun tidak bertemu itu. Dan kini muncul secara tiba-tiba di hadapannya. Sungguh mengagetkan!
"Tisha, dia siapa?" tanya salah satu temannya
"Kalian ke kantin duluan, nanti aku nyusul ya" kata Tisha pada kedua temannya
"Oke sha" jawab kedua temannya itu sambil melangkah pergi.
Tisha langsung menatap kakaknya dengan tajam. Sesaat ia ingin menangis, ia juga marah, dan rindu menjadi satu saat melihat kakaknya. Tapi di mata kakaknya, sama sekali tidak terlihat perasaan seperti yang Tisha rasakan.
...---***---...
__ADS_1