
...πππ...
Malam itu Ray berlama-lama di rumah Tisha, dengan alasan bermain dengan Rasya sebelum dia pergi ke Belanda. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, Rasya juga sudah tidur karena keasyikan bermain dengan papa nya.
Anak itu tertidur di pangkuan papa nya, diam-diam Tisha mengabadikan kebersamaan ayah dan anak itu dengan ponsel nya. "Setelah di perhatikan dari dekat, kak Ray dan Rasya sangat mirip" gumam Tisha sambil melihat foto Rasya dan Ray yang ada di ponsel nya itu
Tisha menghampiri Ray dan Rasya yang duduk di sofa, sementara Rasya tertidur di pangkuan papa nya. "Kak Ray.."
"Ah iya?" Ray hampir saja jatuh tertidur karena dia sangat ngantuk dan lelah. Ketika mendengar suara Tisha memanggil nya, dia langsung terperanjat. Menatap ke arah Tisha yang tersenyum ke arahnya.
"Ini sudah malam kak" kata Tisha sambil melihat ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
"Ya ampun! Ternyata sudah hampir tengah malam, karena keasyikan bermain dengan Rasya...aku sampai lupa waktu" Ray tersenyum memandang ke arah Tisha. "Kalau begitu aku harus segera pulang"
"Iya kak, tapi Rasya??" Tisha melihat ke arah Rasya yang tertidur pulas di pangkuan Ray.
"Aku akan memindahkan nya" Ray tersenyum melihat buah hatinya itu. Dengan kedua tangannya, perlahan-lahan Ray menangkup tubuh mungil anaknya itu.
Ray berjalan sambil menggendong Rasya menuju ke arah kamar Rasya. Ray melihat foto-foto Rasya saat masih bayi terpajang di dinding. Disana juga ada foto Tisha berdua bersama Rasya.
Setelah merebahkan tubuh mungil Rasya di ranjang dengan aman, Ray mulai menunjukkan perhatian dan ketertarikan nya pada foto-foto itu. "Apa itu Rasya waktu masih bayi?" tanya nya seraya menatap ke salah satu foto seorang bayi yang sedang tengkurap.
"Iyah, semua yang ada disini adalah foto Rasya. Hari ini semua barang ku dari New York tiba, jadi aku langsung membereskan nya" jelas Tisha sambil tersenyum ramah, berbeda dari biasanya yang selalu ketus pada Ray.
Perubahan sikap ini, dianggap oleh Ray sebagai salah satu bentuk perhatian Tisha karena tau dirinya akan pergi ke Belanda.
"Hanya ada foto kamu dan Rasya saja yang ada disana, tidak ada aku" ucap Ray dengan suara yang menyimpan kekecewaan. Dia berharap ada di dalam foto-foto itu bersama Tisha dan Rasya.
"Tentu saja, saat itu kan kamu tidak ada di dalam hidup kami dan kita juga belum bertemu" jawab Tisha
"Kalau saja Zayn tidak membawamu dan Rasya pergi dariku, mungkin kita tidak akan berpisah dan kita akan selalu bersama. Semua ini adalah salahnya" Ray tetap menyalahkan Zayn atas semua yang terjadi pada Tisha, Rasya dan dirinya. Jika bukan karena Zayn menyembunyikan Tisha dan Rasya, juga membuat kematian palsu. Mereka tidak akan pernah terpisah selama 6 tahun lamanya
Tisha terperangah mendengar ucapan Ray, dia dalam hatinya dia mengakui bahwa memang Zayn yang membawa nya pergi, tapi dia tidak menyalahkan Zayn, "Mengapa ini menjadi salahnya? Kalau bukan karena Zayn, aku dan Rasya pasti sudah mati! Kalau aku masih disini saat itu dan bersama mu, hidupku dan Rasya akan berada dalam bahaya Zevanya"
"Kamu membelanya? Jelas-jelas dia yang salah!" seru Ray tidak suka wanita itu membela Zayn
"Aku bukan membelanya, tapi ini adalah fakta. Zayn mempunyai alasan untuk melakukan itu, dia sudah banyak membantuku dan Rasya. Dan apakah kakak lupa? Ibu dan kakak ku telah mengatakan pesan terakhir mereka pada Zayn, Zayn hanya menjalankan nya saja" Jelas Tisha pada Ray, dia ingat pesan terakhir keluarga nya pada Zayn.
__ADS_1
Deg!
Ray terpana mendengar Tisha mengungkit wasiat terakhir ibu dan kakak Tisha pada Zayn. Hati Ray sungguh tidak nyaman, teringat wasiat itu yang menyudutkan dirinya. Bahwa dia tidak boleh kembali bersama Tisha untuk selamanya.
"Soal wasiat itu.. bi-bisa saja kan dia berbohong. Tidak mungkin Almh Bu Fani dan kak Arya akan mengatakan itu tentang kita. Kamu jangan terpengaruh!" Ray berusaha melakukan penyangkalan dari wasiat Almh. Bu Fani dan Alm Arya.
"Kamu juga tau kak, saat itu ibu dan kakak ku tidak suka padamu. Jadi aku percaya pada Zayn, dia tidak mungkin berbohong soal wasiat orang yang meninggal. Aku tau bagaimana sikap Zayn, dia tidak akan melakukan nya" Hati Tisha juga sebenarnya perih karena harus mengatakan kebenaran pahit tentang wasiat ibunya.
Lagi-lagi batasan itu ada untuk hubungan nya dan Ray. Tidak dari pihak ketiga, ego masing-masing, keluarga, dan sekarang adalah wasiat dari orang-orang yang sudah tiada.
Ray gemetar mendengar kata-kata Tisha, dia ingin menyangkal nya lagi, "Lalu, apa kamu tidak akan kembali padaku Tisha?" tanya Ray sedih
"Aku..."
Ray mendekat ke arah Tisha, pria itu memegang tangan Tisha dengan lembut.
"Tidak! Jangan jawab sekarang, aku tau kamu pasti bimbang jika teringat hal ini lagi. Tisha dengarkan aku, mau bagaimana pun wasiat Almh. ibu mertua dan alm kakak iparku.. aku akan tetap kembali denganmu. Aku bersumpah di hadapan mereka, kalau aku tidak akan pernah melukai hati mu lagi, aku bersumpah.. bahwa aku akan menjaga kamu dan Rasya dengan sepenuh hatiku. Tidak ada kecewa dan tidak ada luka lagi. Aku hanya berharap kamu akan percaya padaku"
Tisha tidak menjawab, dia hanya terdiam dengan wajah bingung nya. Kebimbangan lagi-lagi melanda hatinya yang semula mantap memilih Ray. Tapi pesan terakhir itu mengingatkan nya akan batasan hubungan dengan ayah dari anaknya, Rasya.
Maafkan aku ibu, kak Arya.. bukannya aku mengabaikan pesan terakhir kalian. Tapi aku masih mencintai pria ini..Tidak peduli orang lain menyebutku bodoh, perasaan ku pada pria ini tetap sama. Ibu, kakak, aku hanya ingin kalian tau bahwa semua keadaan sudah berbeda sekarang. batin Tisha, tidak bisa memungkiri lagi perasaan nya pada Ray.
Mata Ray terbuka lebar, dia tersenyum melihat ke arah Tisha. Ray bahagia dengan kata-kata Tisha yang mengatakan bahwa wanita itu percaya padanya.
"Apa itu artinya kamu mau menerimaku?" tanya Ray dengan mata berbinar-binar menatap ke arah gadis itu
"Siapa yang bilang begitu? Aku hanya bilang kalau aku percaya padamu. Bukan menerimamu" kata Tisha dengan gaya cueknya itu.
"Baiklah, tidak apa.. masih ada waktu untuk kit membangun hubungan kita kembali" Ray tersenyum lembut, dia pun melepaskan tangannya yang menggenggam tangan Tisha. Dia berusaha terlihat pengertian di depan Tisha, "Aku pamit ya, ini sudah malam"
"Tapi ini sudah malam, apa tidak apa-apa kalau kamu menyetir dimalam hari kak? Jalanan kan sepi kalau sudah jam segini" Tisha khawatir dengan keadaan jalanan sepi di sekitar rumahnya.
"Apa kamu ingin aku menginap disini? Kita sudah bukan suami istri lagi loh, kalau mau aku menginap disini.. kamu dan aku harus menikah dulu" kata Ray dengan senyuman menggodanya
PLETAK
Dengan berani Tisha menyentil kening Ray. "Adududuh.. sakit tau!" Ray memegang keningnya. Dia tersenyum melihat wajah Tisha yang memerah.
__ADS_1
"Jangan bicara sembarangan! Kalau kamu mau pulang, cepatlah pulang sebelum hari semakin larut. Kamu besok kan harus pergi ke Belanda, jadi kamu harus beristirahat" Tisha mengingatkan pria itu
"Tenang saja, aku berangkat agak siangan kok. Besok Rasya pertama kali ke sekolah kan? Aku akan menemaninya ke sekolah bersama mu, boleh kan?" Ray ingin pergi mengantar anaknya ke sekolah dengan Tisha
"Kakak adalah ayahnya, aku tidak melarang" jawab Tisha yang artinya setuju
"Oke, besok aku akan kesini dulu, kemudian mengantar kalian ke sekolah" kata Ray sambil tersenyum bahagia
"Ya baiklah, ayo cepat pulang. Sudah malam, dan hati-hati ya" kata Tisha mulai menunjukkan perhatian nya pada Ray.
"Iya, aku pergi ya" Ray tersenyum, dia memandang foto Tisha dan Rasya yang terpampang di dinding.
Suatu saat nanti, aku akan berada disana bersama kalian berdua lalu kita akan jadi bertiga, atau malah berempat. ucapnya dalam hati sambil melihat foto Tisha dan Rasya. Dia sudah membayangkan masa depan bersama Tisha dan Rasya.
****
Di rumah besar Argantara..
Daniah menyambut suaminya yang baru pulang kerja lebih larut dari biasanya. Daniah terlihat resah, Dean melihat keresahan yang ada di wajah istrinya itu.
"Niah.. ada apa?" tanya Dean merasa ada sesuatu yang salah dengan istrinya. Dean duduk di sudut ranjang sambil melepas jas nya.
"Sayang, hari ini papa bicara dengan pak Prapto" jawab Daniah dengan wajah yang resah.
"Apa? Mau apa papa bicara dengannya?!" Dean terperangah mendengar ucapan istrinya. Mengapa papa nya bicara dengan pak Prapto, pengacara keluarga nya.
"Sayang.. mungkinkah papa mau mati?" tanya Daniah tidak sopan pada Pak Faisal.
Dean terpana mendengar pertanyaan istrinya.
...---***---...
Mau up lagi? Silahkan komen, like dulu yaππ
Sambil nunggu up π author ada rekomendasi novel bagus nih
__ADS_1