Tahanan Cinta CEO

Tahanan Cinta CEO
Bab 97. Dia bukan istrimu


__ADS_3

πŸ€πŸ€πŸ€


Sungguh tidak nyaman perasaan Ray saat mendengar nama rival cintanya meluncur dari bibir Tisha. Belum apa-apa dia sudah marah pada Tisha, terlihat dari wajahnya yang menunjukkan ketidaksenangan.


"Kamu mau apa dan kemana?" tanya Ray dingin


"Aku mau bertemu Zayn" jawab Tisha


"Zayn? kenapa kamu mau bertemu dengannya?" Ray menajamkan pandangannya ke arah Tisha


"Aku rasa itu bukan urusan kak Ray, jadi aku tidak perlu menjawab nya" jawab Tisha merasa bahwa ia tak perlu menyebutkan alasan kenapa dia bertemu dengan Zayn. Dia dan Ray bukan pasangan suami istri atau dalam hubungan pacaran, jadi dia merasa tak perlu menyebutkan kemana dia akan pergi.


"Kalau aku mau ikut campur, bagaimana?"


"Tolong jangan melewati batasan kak, aku mau pergi dengan siapa dan kemana. Bukanlah urusan mu lagi" ucap Tisha tegas


"Kalau aku tidak mengizinkan mu pergi, bagaimana?" tanya Ray mulai kesal dengan kata-kata tajam dan pedas Tisha.


"Aku akan tetap pergi, jadi tolong jaga Rasya sebentar untukku" ucap Tisha sambil melangkah pergi dengan terburu-buru.


Ray tidak diam saja, dia menarik tangan Tisha dengan erat dan menyeretnya kembali masuk ke dalam rumah. "Apa yang kak Ray lakukan?? aku harus pergi!"


"Pantaskah kamu menemui pria lain disaat aku baru pulang karena lelah bekerja??!" Ray masih merasa kalau Tisha adalah istrinya, makanya dia berbicara seperti itu.


Sontak saja kata-kata Ray membuat Tisha menjadi ambigu terhadap nya. Ray bersikap seolah dia adalah suami Tisha dan berhak mengatur nya.


"Memangnya kamu siapa?? apa kamu pikir kamu adalah suamiku yang harus aku tunggu?! aku tidak butuh izin darimu, lepaskan!" Tisha masih berusaha menarik dirinya dari genggaman tangan Ray. Tisha menatap pria itu dengan kesalnya.


"Tidak! kamu tidak boleh pergi!" seru Ray memaksa Tisha untuk tetap tinggal di rumah. Dia melarang Tisha menemui Zayn.


"Lepaskan aku kak Ray! aku harus menemui Zayn!" teriak Tisha kesal dan berusaha melepaskan dirinya.


Rasya yang sedang bersama Bi Ani dan pak Faisal mendengar keributan itu dari halaman belakang rumah.


"Kok seperti ada suara berteriak?" tanya Pak Faisal bingung


"Itu seperti suara papa sama Mama" ucap Rasya yakin

__ADS_1


Rasya berjalan cepat memakai tongkat nya menuju ke ruang tamu rumah itu, diikuti dengan pak Faisal yang berjalan dengan menggunakan tongkat juga. Bi Ani mengekori Pak Faisal dan Rasya dari belakang.


Mereka bertiga sampai di ruang tamu, lalu melihat Ray dan Tisha sedang berdebat. "Lepaskan aku! kamu tidak boleh mengaturku seperti ini!" teriak Tisha


"Kamu tidak boleh pergi kemana-mana tanpa izinku!" seru Ray sambil mendorong Tisha ke sofa yang ada disana. Pak Faisal dan Bi Ani terkejut melihat apa yang terjadi disana.


Tubuh Tisha terhempas ke sofa itu, dia memegang pergelangan tangannya yang memerah akibat ulah Ray. "Kamu sudah gila ya!!"


Kali ini Rasya terlihat marah pada papanya, Rasya menghampiri Tisha dengan cemas. "Mama gak papa??" Rasya memegang pergelangan tangan Tisha yang memerah.


"Sa-sayang" ucap Ray memanggil anaknya, dia takut kalau Rasya melihat semua yang dia lakukan pada Tisha karena emosinya.


"Apa yang terjadi??" tanya Pak Faisal dengan nada bicara yang tegas, pertanyaan itu dia tujukan untuk Tisha dan Ray.


Sebelum Ray dan Tisha menjawab pertanyaan pak Faisal, Rasya bicara lebih dulu dan marah pada papanya. Ray dan Tisha sempat lupa kalau Rasya ada disana juga, tidak baik untuknya melihat pertengkaran mereka.


"Papa jahat!! papa bilang papa gak akan menyakiti mama!" teriak Rasya emosi pada Ray


"Sayang, papa gak bermaksud kaya gitu. Papa cuma gak mau mama kamu keluyuran keluar rumah dengan pria lain" Ray menjelaskan hal itu pada Rasya, sambil mendelik kesal ke arah Tisha.


"Kamu jangan mulai lagi deh, jangan paksa aku untuk berbuat kasar padamu" ancam Ray pada ibu dari anaknya itu.


"Kamu yang mulai duluan!"


Sebelum perdebatan mereka menjadi panjang, pak Faisal menengahi Tisha dan Ray. Pertama-tama pria tua itu meminta Bi Ani membawa Rasya menjauh dari kedua orang tuanya.


"Mari kita bicara baik-baik.. katakan kalian ini kenapa?" tanya Pak Faisal sembari duduk di sofa bersama dengan Ray dan Tisha yang duduk bersebrangan.


"Kakek.. sebenarnya.." Tisha dan Ray bicara bersamaan. Kemudian mereka kembali hening, memalingkan muka satu sama lain.


"Apa kalian akan terus seperti ini di depan Rasya, anak kalian?" tanya Pak Faisal yang tak habis pikir karena Tisha dan Ray bertengkar seperti anak kecil.


"Kakek, ini semua karena kak Ray! kalau saja dia tidak menghalangi ku pergi, aku tidak akan berdebat dengannya" ucap Tisha mengatakan nya lebih dulu sebelum disalahkan oleh Ray


"Benarkah itu Ray? kamu melarangnya pergi?" tanya Pak Faisal pada Ray


"Iya" jawab Ray tidak membantah.

__ADS_1


"Kenapa kamu melarangnya?"tanya Pak Faisal


"Aku tidak suka dia bertemu dengan pria liar" jawab Ray jujur dengan wajah marah


"Dia bukan pria liar! dia sahabatku!" seru Tisha mendengus kesal


"Tisha, pergilah. Bukannya kamu mau menemui sahabatmu? pergilah nak" ucap Pak Faisal


"Tidak boleh!!" teriak Ray melarang


"Ray, kamu tidak ada hak melarang Tisha pergi kemanapun dia mau. Ingatlah kalau kamu dan Tisha tidak ada hubungan apa-apa" ucap Pak Faisal tegas


Ray tak bisa berdebat dengan kakeknya, jika dia terus berdebat maka urusan akan semakin panjang. Dan memang benar kalau dia dan Tisha tidak ada hubungan apa-apa lagi, pacar bukan, istri bukan, mereka hanya orang tua Rasya dan sudah bercerai. Dia diam menahan kekesalan nya. Tisha pun pamit pada sang kakek untuk menemui Zayn. Ray tidak berkomentar, dia hanya menunjukkan wajah kesalnya.


Ray mengambil ponselnya, dia menelpon salah satu anak buahnya dan memerintahkan nya untuk mengikuti Tisha. Pak Faisal melihat semua kelakuan Ray.


"Ray, apa dulu kamu seperti ini pada Tisha?" tanya Pak Faisal


"Tidak, dulu aku mengabaikan nya" jawab Ray


"Kamu menyesal sudah bercerai?" tanya Pak Faisal


"Aku rasa kakek tau tanpa perlu bertanya padaku" jawab Ray dengan wajah sedihnya, memikirkan Tisha sedang bertemu dengan pria lain.


"Maaf Ray, kakek tidak membelamu. Karena apa yang kakek katakan itu benar, kamu dan Tisha sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Kalau kamu ingin bisa melarangnya, kamu harus kembali menjadi suaminya. Sekarang dia bukan istrimu, Ray.." nasihat pak Faisal pada cucunya dengan harapan bahwa Ray akan kembali mendapatkan hati Tisha.


"Jadi, aku harus kembali mendapatkan hatinya? itu kan yang kakek maksud?" tanya Ray


"Benar, berusahalah Ray" Pak Faisal tersenyum menyemangati cucunya.


Sementara itu Tisha sedang dalam perjalanan menuju ke apartemen Zayn.


...---***---...


Hai Readers! author ada rekomendasi novel yang bagus nih❀️☺️ punya sahabat author.. dijamin seru dehπŸ™πŸ™πŸ‘


__ADS_1


__ADS_2