
...๐๐๐...
Beberapa menit sebelumnya, Gerry dan Ray sedang dalam perjalanan ke kantor pusat untuk menghadiri rapat penting. Saat sedang melihat-lihat jalan, mata Ray tertuju pada seorang bocah kecil di pinggir jalan dengan mengendong ransel nya yang berwarna biru.
Itu kan si bocah imut? kenapa dia ada disitu? sendirian lagi? apa ibunya meninggalkannya lagi? keterlaluan sekali. Ray kesal sendiri melihat Rasya selalu sendirian tanpa ada orang tua disisi nya, seperti anak terlantar saja. Ray jadi teringat orang tua nya yang sudah tiada.
"Gerry! menepi sebentar!" ujar Ray pada Gerry
"Ada apa pak?" tanya Gerry heran
"Menepi saja! di dekat anak itu!" ucap Ray seraya menunjuk ke arah Rasya yang sedang ada di pinggir jalan.
"Baik pak" jawab Gerry patuh
Gerry memberhentikan mobilnya tepat di depan Rasya yang sedang berdiri di trotoar. Rasya celingukan, lalu ia membalikkan tubuhnya seperti hendak berlari.
Ray membuka kaca mobilnya dan memanggil Rasya,"Hei! bocah imut!"
Rasya membalikkan badannya dan melihat ke arah Ray, suara itu ia mengenalnya. Rasya tersenyum lebar melihat Ray lah yang berada di mobil itu.
"Om eskrim?!"
Asyik! ada om eskrim! aku bisa dapat tumpangan gratis!. Rasya tersenyum ramah dan manis menyambut Ray yang memanggilnya
Sementara itu Gerry memperhatikan wajah Rasya lekat lekat. Gerry mulai berfikir kalau Rasya memiliki kemiripan dengan Ray.
Presdir Argantara grup itu keluar dari mobilnya dan menghampiri Rasya. "Ngapain kamu disini sendirian? mama kamu dimana? apa dia sakit perut lagi?" tanya Ray perhatian pada anak itu
"Om, tolongin aku dong om! aku mau ketemu sama Mama, antar aku.." ucap nya merengek pada Ray, meminta diantar pada mama nya
"Mama kamu emangnya kemana?" tanya Ray heran
"Mama ku ada di rumah sakit, kata Tante ku.. mama ku di operasi. Terus aku mau cari taksi buat pergi ke rumah sakit"
"Ya ampun nak, kenapa kamu gak minta Tante kamu aja yang anter? kenapa harus sendirian?" tanya Ray sambil menepuk kening nya, ia tidak habis pikir dengan tingkah bocah imut yang satu ini.
"Tante ku gak kasih izin aku pergi, aku pengen lihat mama! om, ayo dong anter aku.. please.." Rasya memegang jas hitam yang di kenakan oleh Ray, matanya berkaca-kaca menatap Ray.
Ray tidak berdaya oleh serangan imut bocah berusia 5 tahun itu. Ray menghela napas dan mengatakan bahwa ia akan mengantar anak itu ke rumah sakit. Ray juga tidak tega kalau ia melihat anak sekecil itu harus bepergian sendirian tanpa ada orang dewasa disisi nya.
Pria itu jadi membayangkan bagaimana kalau anak nya berada di dalam posisi seperti Rasya. Ia pasti akan menjaga anaknya dengan baik dan tidak akan menyia-nyiakan nya, Ray akan memberinya banyak cinta.
Cinta yang bahkan ia sendiri tidak bisa merasakannya dari kedua orang tuanya yang sudah tiada. Cinta.. yang bahkan ia sendiri baru saja belajar untuk membagi hatinya pada orang lain.
"Ya sudah ayo om antar ke rumah sakit" Ray tersenyum lalu menyuruh anak itu masuk ke dalam mobilnya dan duduk di kursi belakang
"Makasih om eskrim, om baik sekali" Rasya tersenyum ceria dan duduk di kursi belakang mobil Ray. Ray sendiri duduk disampingnya.
"Gerry! ke rumah sakit ya! eh, om lupa tanya rumah sakit nya?" lirik Ray pada anak itu
__ADS_1
"Rumah sakitnya di xxxx " jawab Rasya pada Ray
"Gerry ke rumah sakit xxx!" titah Ray pada sekretarisnya itu
"Tapi pak, jika kita ke rumah sakit dulu.. bapak akan terlambat untuk rapat" Gerry mengingatkan pada Ray, jarak antara kantor pusat dan rumah sakit itu lumayan jauh.
"Tidak apa, aku kan bos nya. Lakukan saja perintahku!" ujar Ray pada sekretarisnya
"Baiklah pak" jawab Gerry sambil menancap gas nya dan memutar stir kemudinya.
Tuh kan, semakin dilihat dari dekat.. anak ini dan pak Presdir semakin mirip. Gerry mencuri-curi pandang ke arah Rasya, ia yakin kalau Rasya memang mirip dengan Ray.
"Wah, om eskrim sangat keren" Rasya menepuk kedua tangannya, ia kagum pada Ray.
"Keren, apa nya?" tanya Ray sambil melihat ke arah Rasya
"Om bisa memerintah seperti itu! apa om itu bos besar ya? om mafia, atau Presdir?" tanya Rasya sangat penasaran dengan profesi Ray.
"Mafia? haha.." Ray tertawa mendengar pertanyaan anak itu
Anak ini sangat menggemaskan.
"Kenapa? aku pikir tidak ada yang lucu disini?" Rasya kebingungan dengan apa yang ditertawakan oleh Ray.
Ray hanya tersenyum dan menepuk kepala Rasya dengan lembut. "Oh ya, terimakasih ya berkat doa kamu juga...om akhirnya menemukan kebenaran"
"Doa ku? apa anak dan istri Om itu sudah ketemu??!" tanya Rasya sangat bersemangat
"Kenapa om minta doa sama aku? bukannya sama Allah?" tanya Rasya dengan wajah polos nya.
"PFut.. tentu saja om sudah dan selalu memohon pada Allah, tapi...katanya doa anak sholeh akan cepat dikabulkan, makanya om minta bantuan doa sama kamu" Ray mencubit hidung Rasya dengan gemas dan pelan.
"Oh gitu ya.. mama juga suka bilang sama aku kalau doa anak sholeh untuk orang tuanya akan cepat sampai. Apa aku anak sholeh juga ya? Aamiin deh" Rasya tersenyum percaya diri
"Jadi kamu mau bantu doain om, kan?" tanya Ray lagi
"Iya om, aku doakan nanti om ketemu sama keluarga om. Eh gak nanti deh, hari ini om akan ketemu sama anak dan istri Om itu.."Rasya mengatupkan kedua tangannya dan berdoa untuk Ray dengan tulus.
Meskipun kayanya gak mungkin aku bertemu dengan Tisha dan anakku hari ini, tapi aku senang bahwa anak ini berdoa untuk ku.
"Aamiin.. makasih ya nak" ucap Ray sambil mengelus kepala anak itu dengan lembut.
"Hehe" Rasya hanya nyengir saja menjawabnya, lalu ia mengeluarkan permen dari tas gendongnya, kemudian memberikan nya pada Ray.
"Apa ini?"
"Apa om buta? ini permen, om" jawab Rasya tegas
"PFut.." Lagi-lagi Ray menahan tawa dengan tingkah anak itu yang selalu tidak terduga. Kadang imut, kadang menyebalkan dan bermulut pedas.
__ADS_1
Mengapa aku merasa kalau dia sedikit mirip denganku?.
Mulut pedas bocah itu juga seperti Presdir. pendapat Gerry di dalam hatinya.
"Ini permen kesukaan ku loh om, biasanya aku gak kasih permen ini sama siapapun. Tapi karena om lagi butuh kekuatan dan semangat, aku kasih permen ini buat om" jelas Rasya sambil tersenyum menyemangati
"Om merasa sangat terhormat mendapatkan permen ini, nak" Ray tersenyum melihat sebutir permen di tangannya itu.
Gerry mendengar percakapan mereka yang terdengar seperti percakapan keluarga, ayah dan anak. Tiba-tiba saja, terdengar suara perut yang lapar meminta diisi.
KRUKK.. KRUKK...
"Suara apa itu? apa itu kamu Gerry? bukankah kamu sudah sarapan?" tanya Ray menoleh pada Gerry
"Bukan saya pak" jawab Gerry jujur
KRUKK...
"Nak, kamu belum sarapan ya?" tanya Ray
"Itu bukan suara perutku om" Rasya tak mau mengaku
Dasar perut malu-maluin. Rasya merutuki dirinya sendiri di dalam hati
"PFut.." Gerry menahan tawa, ia ikutan gemas melihat tingkah Rasya.
"Om gak nanya tuh itu suara perut siapa" jawab Ray sambil tersenyum, ia tak mau Rasya malu. "Gerry, jangan tertawa"' bisik Ray pada Gerry yang duduk di kursi depan
"Ma-maaf pak" Gerry langsung memasang senyum nya yang biasa.
Rasya langsung cemberut, lalu Ray memberikan sebungkus roti pada Rasya untuk mengganjal perutnya. Rasya terlihat senang dan melihat isi roti itu.
"Wah, roti coklat!!" Rasya tersenyum lebar melihat coklat lumer di dalam roti itu
"Kamu suka coklat?"
"Suka banget" jawab Rasya girang
"Om juga suka. Kalau suka dimakan dong rotinya" ucap Ray yang heran karena Rasya hanya memandang roti itu.
"Om duluan yang makan rotinya" Rasya menyodorkan roti itu pada Ray
Ray keheranan dengan sikap Rasya. Lalu ia bertanya pada anak itu mengapa harus ia duluan yang memakan rotinya? kemudian Rasya menjawab bahwa ia takut di rotinya ada racun. Ray kaget karena Rasya masih curiga padanya, pesan Tisha pada Rasya tentang orang asing rupanya masih diingatnya.
Untuk mendapatkan kepercayaan Rasya, Ray memakan rotinya. "Tidak terjadi apa-apa, berarti tidak beracun" kewaspadaan anak itu menghilang, lalu Rasya memakan roti coklat itu dengan lahap.
Entah karena insting atau memang ia iba pada anak itu, Ray mengelus kepala anak itu penuh kasih sayang. Beberapa saat kemudian, mereka sampai di depan rumah sakit tujuan.
...---***---...
__ADS_1
Mau lanjut? komen dulu dong๐ฅบโบ๏ธ