
...๐๐๐...
"Baik, saya akan menemuinya" jawab Tisha setuju untuk bertemu dengan Zevanya. Dia penasaran dengan apa yang akan dikatakan Zevanya padanya.
"Terimakasih Bu Latisha" Bu Lisa berterimakasih pada Tisha yang sudah setuju bertemu dengan Zevanya.
Segera setelah itu Tisha, menitipkan Rasya pada Fayra. Kemudian dia berangkat menuju ke penjara untuk menemui Zee.
ย
Saat itu Bu Lisa sedang berada di depan Zevanya, dia menjenguk anaknya di penjara.
"Bagaimana jawabannya ma?" tanya Zevanya yang berada di hadapan ibunya namun mereka terpisah oleh kaca transparan. Borgol mengikat kedua tangan Zee, dia memakai baju tahanan. Wajahnya tampak sedih dan lelah, dia terlihat pasrah.
"Dia setuju untuk bertemu dengan kamu, mungkin sekarang dia dalam perjalanan kemari" jawab Bu Lisa sambil menatap anaknya dengan mata berkaca-kaca.
"Baguslah, dia masih mau bertemu denganku. Aku pikir dia tidak akan mau bertemu lagi denganku" Zee tersenyum pahit.
"Kamu benar-benar akan membongkar semuanya? Apa kamu yakin?" tanya Bu Lisa sambil menangisi anaknya yang berada di balik jeruji besi.
"Iya ma, kebenaran harus diungkapkan. Aku tidak mau lagi menjadi duri dalam kehidupan asmara orang lain, aku akan membongkar semuanya walau ini terbilang terlambat"
"Gak sayang, kamu gak terlambat. Kamu sudah melakukan hal yang benar. Mama sangat bahagia karena akhirnya kamu menyadari semua kesalahan kamu" Bu Lisa bersyukur karena anaknya mulai menyadari semua kesalahan.
"Iya ma, setelah berada di dalam sini akhirnya aku tau kalau semua yang aku lakukan sia-sia. Aku tidak mau terjerumus lebih dalam lagi, aku ingin hidup atau mati dengan bahagia" Zee tersenyum pahit, senyum nya tulus menyiratkan penyesalan.
Bu Lisa menangis sambil mengangguk, "Mama bangga sama kamu..mama bangga nak"
"Maafkan aku ma, selama ini aku selalu membuat mama kesulitan" Zee menangis menatap sang mama, seseorang yang selalu direpotkan dengan semua tingkahnya.
"Gak apa-apa sayang, kamu gak perlu minta maaf. Sudah tugas mama, sebagai mama kamu untuk melindungi dan menjaga kamu. Tapi, mama juga gagal melindungi kamu.. mama lah yang harus nya minta maaf," Bu Lisa masih menangis, dia merasa menjadi ibu yang tidak bisa melindungi anaknya sampai anaknya menjadi seperti ini.
"Mama jangan nangis, mama harus hidup bahagia ya. Karena Zee akan menebus semua kesalahan Zee di dalam sini, mau hukuman apapun..akan Zee jalani. Mama harus tetap menjalani hidup," Zee tersenyum pasrah, hatinya sakit melihat sang mama meneteskan air mata untuknya.
__ADS_1
"Jangan bicara seperti itu Zee! Mama akan mengupayakan segala cara untuk meringankan hukuman kamu, kamu tenang saja ya.."Bu Lisa tetap ingin menyelamatkan Zee, apapun yang sudah dia lakukan.
"Jangan selamatkan aku ma..biarkanlah aku seperti ini. Mama harus bahagia, mama harus hidup bahagia.. janji padaku ma.." Zee menangis, dia meminta mama nya untuk berjanji.
Meski anaknya sudah berbuat jahat, tapi seorang ibu tetap akan selalu ada untuk anaknya dan memaafkan setiap kesalahan walaupun dia sempat marah. Seperti itulah perasaan Bu Lisa pada Zevanya. Dia sangat menyayangi anak tunggal nya.
"Mama gak bisa hidup bahagia sedangkan kamu hidup menderita" Bu Lisa menggelengkan kepalanya. Wanita itu merasa kalau Zee seperti mengucapkan salam perpisahan untuknya.
"Mama harus janji! Janji sama aku ma, mama harus bahagia tanpa aku. Mama harus jaga diri mama baik-baik, makan dan tidur yang teratur.. jangan suka tidur tengah malam, jangan sakit. Aku sayang mama"
"Zee..kenapa kamu ngomong kaya gini??" Bu Lisa masih menangis.
"Maaf, waktunya sudah habis. Ada orang lain juga yang membesuk Bu Zevanya" kata seorang sipir penjara pada Bu Lisa.
Itu pasti Latisha. Zeevanya sudah menantikan kehadiran wanita itu.
Bu Lisa pergi dari sana, dengan mata sembab nya. Dia berpapasan dengan Tisha yang akan menemui Zee disana. Bu Lisa tidak berkata apa-apa, dia hanya menangis lalu pergi begitu saja.
"Baik" jawab Tisha.
Kini Tisha sudah duduk berhadapan dengan Zee. Tisha melihat Zee yang habis menangis, wanita itu masih melihat Zee dengan penuh kebencian.
"Katanya kamu ingin bertemu denganku?" tanya Tisha dengan suara dinginnya.
"Biar ku tebak, kamu kemari karena ingin tau kejadian enam tahun yang lalu kan? Kamu penasaran?" tanya Zee sambil melontarkan senyuman tipis pada Tisha.
"Langsung saja bicaranya, aku tidak punya waktu lama. Kamu sendiri kan yang meminta ku datang kemari?" tanya Tisha langsung pada intinya.
"Aku.. ingin mengatakan sebuah kebenaran padamu, terserah kamu mau percaya atau tidak. Tapi aku jujur, ini tentang enam tahun yang lalu. Petaka yang menghancurkan rumah tanggamu dan Raymond" ucap Zee sambil menatap Tisha dengan serius.
Deg!
Tisha menoleh ke arah Zee dengan mata yang penasaran. Petaka enam tahun yang lalu? Sudah jelas itu adalah perzinahan antara Zee dan Ray yang sudah membuat Tisha memutuskan untuk berpisah dari pria itu. Membuat Ray dan Tisha terpisah selama bertahun-tahun.
__ADS_1
"Aku mendengarkan" jawab Tisha dengan wajah yang dingin di depan wanita itu.
"Kebenaran nya adalah, aku tidak pernah melakukan hal itu bersama dengan Ray. Semuanya adalah rekayasa" Zee mengakui
Tisha menggigit bibirnya dengan gemas, hatinya berdebar menantikan kata-kata Zee selanjutnya.
Kak Ray dan Zee tidak melakukan itu?
"La-lalu video itu?" tanya Tisha dengan hati yang berdebar.
"Palsu. Memang benar aku berciuman dan berpelukan dengan nya, tapi saat kami akan melakukan itu.. Ray mendorong ku, dia bahkan menyebut namamu. Pada akhirnya, kami hanya tidur di satu ranjang tanpa melakukan apa-apa"
"Jadi begitu rupanya..." Tisha kehabisan kata-kata, dia bingung apa lagi yang harus dia katakan. Haruskah dia tersenyum bahagia mengetahui kebenaran ini? Tisha benar-benar bingung, tapi hatinya merasa lega karena Ray ternyata tidak berselingkuh darinya dengan Zevanya.
"Ray, dia setia padamu.. sudah tidak ada aku di dalam hatinya. Hanya ada kamu saja Latisha, maafkan aku.. karena selama ini aku telah menghalangi jalan kalian untuk bersama. Aku harap kesalahpahaman yang aku ciptaan ini sudah usai, aku benar-benar meminta maaf padamu" Zee yang angkuh itu menundukkan kepalanya di depan Tisha, meminta maaf atas semua kesalahan nya.
"Kenapa baru sekarang kamu meminta maaf? Apa kamu ingin aku melepaskan mu dari hukuman?! Karena kamu berkata jujur, menurutmu aku akan memaafkan mu?" Tisha tersenyum tipis, dia menahan air matanya.
Rasa lega, penderitaan di hatinya, mereda karena kejujuran dan kebenaran dari Zevanya. Namun, tetap saja hatinya merasa sakit mengingat ibu dan kakak nya yang sudah tiada akibat ulah wanita itu.
"Aku tau aku salah, aku sudah membunuh ibu dan kakakmu. Aku memang pantas mendapatkan hukuman, tapi aku tetap ingin meminta maaf padamu.. sampaikan maaf ku pada anakmu juga" Zee menyesali semua perbuatannya. Zee menangis
Apa yang merasuki dirinya? Kenapa Zee mengatakan semua ini pada nya? Apa yang dia harapkan? Tisha bertanya-tanya dalam hatinya.
Tisha beranjak dari tempat duduknya, perasaan nya benar-benar campur aduk. Dia berniat pergi dari tempat itu, karena tidak tahan ingin menangis.
"Tisha, semoga kamu, Raymond dan anakmu bisa hidup bahagia" doa Zee terdengar tulus untuk Tisha. Dia tersenyum pada Tisha walau wanita itu mengabaikan nya.
Zee melihat kepergian Tisha sambil menangis, "Selamat tinggal"
...---***---...
Hi readers! berhubung ini hari Senin, author boleh gak minta gift, vote nyaโบ๏ธ author mau double up nih
__ADS_1