Tahanan Cinta CEO

Tahanan Cinta CEO
Bab 59. Zayn takut


__ADS_3

...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Tisha tak bisa menjawab pertanyaan dari Rasya karena ia sendiri tidak tahu tentang ayah kandung Rasya. Lebih tepatnya tidak ingat, dan Zayn sepertinya sengaja membuat Tisha tidak bisa mengingat Ray.


Anak itu semakin marah pada Tisha karena pertanyaan nya tidak terjawab.


"Sudahlah! pergi aja mama dari sini, aku gak mau dengar mama bohong lagi!" seru Rasya sambil berbaring di ranjangnya, ia tak mau melihat wajah ibunya.


"Tapi mamah gak bohong, nak" ucap Tisha jujur


"Mama emang suka ya kalau aku dibilang anak haram sama orang-orang! semua orang punya papa! cuma aku aja yang enggak, itu berarti aku anak haram seperti kata mereka!!" Rasya marah pada mama nya.


"Gak sayang, mamah gak kaya gitu..kamu bukan anak haram, kamu punya mama dan kamu juga punya papa" Tisha melihat anaknya dengan tatapan terluka. Ia sedih karena Rasya menangis, ia mengadu sering di ejek oleh teman-teman nya di sekolah.


"Terus siapa papaku? dimana papa ku?!" tanya Rasya dengan suaranya yang meninggi


Tuh kan, mama tidak menjawabnya lagi. Rasya tampak kecewa pada ibunya.


Ini pertama kalinya Rasya mengadu pada Tisha, padahal setiap hari ia diejek oleh teman-teman nya. Dan ini adalah hari dimana Rasya sangat kesal pada teman-teman nya itu.


Kemarahannya meledak, pada Tisha yang tidak bisa memberitahu jawaban dari semua pertanyaan nya. Rasya hanya ingin tau sosok papa nya dan apakah benar dia punya papa.


Zayn, aku harus menanyakan ini padanya saat dia kembali. Tidak peduli apapun kebenarannya, aku harus tau siapa mantan suamiku dan ayah kandung Rasya. Rasya tidak hanya membutuhkan aku, Rasya juga membutuhkan papa nya. Papa nya berhak tau keberadaan Rasya.. mungkin sudah saat nya aku bertanya pada Zayn.


Entah sifat keras kepala Rasya menurun dari siapa, yang jelas itu bukanlah sifat Tisha.


Fayra melihat dan mendengar perdebatan antara ibu dan anak itu. Kemarahan Rasya, pertanyaan Rasya yang tidak bisa Tisha jawab. Membuat Tisha sedih, disisi lain Rasya juga sedih karena ia ingin tau siapa papanya.


Saat semua orang sudah tidur, Fayra masih bangun. Ia seperti sedang menunggu seseorang.


Dreet..


Dreet..


Ponsel Fayra bergetar, ia menerima pesan dari Zayn.

__ADS_1


..."Kak, buka pintunya"...


Fayra membuka pintu belakang rumah yang sederhana itu, di depannya sudah berdiri sosok Zayn.


"Tisha sama Rasya udah tidur?" tanya Zayn dengan wajah yang lelah, ia habis nanggung di acara ulang tahun temannya.


"Iya lah, ini udah jam berapa" jawab Fayra.


"Kalau gitu, aku mau lihat mereka dulu kak. Aku simpan mainan ini buat Rasya" Zayn tersenyum lalu melangkah masuk ke dalam rumah dengan sekeresek besar di tangannya. Tapi, Fayra menahan tangan Zayn.


"Bentar Zayn, kakak mau ngomong sesuatu sama kamu" Fayra menatap adik sepupunya itu dengan mata yang tajam


"Ada apa kak?" tanya Zayn heran karena tak biasanya ia melihat Fayra serius seperti itu.


"Kita bicara di luar" Fayra takut Tisha atau Rasya akan mendengar pembicaraan mereka.


Mereka berdua pun pergi ke taman dan duduk di kursi yang ada disana. Fayra menghela napas, menyiapkan dirinya untuk bicara pada Zayn.


"Ada apa kak? kok serius banget" Zayn tersenyum heran pada Fayra


"Kakak mau bicara apa sih? memang apa yang aku lakukan dan aku salah?" tanya Zayn balik


"Hari ini Rasya marah, dia menangis pada Tisha. Dia mengira Tisha berbohong" jawab Fayra dengan mata yang sedih


"Kenapa? apa Rasya dan Tisha bertengkar? Tisha berbohong apa?" tanya Zayn cemas pada Rasya dan Tisha


"Rasya menanyakan papa nya pad Tisha" jawab Fayra sedih


"Bukannya Rasya biasanya menanyakan papa nya? dan setelah Tisha menjawabnya, dia akan diam" ucap Zayn merasa tidak ada yang salah


"Kali ini berbeda Zayn, Tisha tidak bisa mengendalikan Rasya. Rasya di ejek teman-teman nya di sekolah, dia dibilang anak haram. Zayn... semakin dewasa seorang anak, dia akan semakin penasaran pada dirinya dan latar belakangnya. Apa yang ingin aku katakan adalah.. kamu harus memberitahu Tisha segalanya tentang orang itu"


Fayra tidak tega dengan keadaan Rasya yang terus menanyakan papa nya, bahkan ia marah mengira mama nya berbohong. Padahal Tisha sendiri tidak tahu sosok seperti apa mantan suaminya itu.


DEG!

__ADS_1


Zayn tersentak mendengar nya, ia mengepal tangannya dengan gemas. Ia menggigit bibir bagian bawah. Kedua bola mata Zayn terlihat kebingungan.


Memberitahu Tisha dan Rasya? kebenaran tentang Ray? hal yang sudah ditutupi nya selama bertahun-tahun? haruskah ia melakukan nya? Di hatinya ada rasa takut, cemas dan berdebar.


"Kakak, itu gak mungkin...Kakak tau kan orang seperti apa si Ray itu? dan kakak tau pesan terakhir Almh. Bu Fani dan Alm. Arya padaku?" tanya Zayn yang tidak mau mengungkap tentang Ray pada Tisha dan Rasya.


"Zayn! sekarang masalahnya bukan hanya Tisha! tapi Rasya, dia pasti akan terus mencari tau tentang papanya. Dia akan terus mengira mama nya pembohong dan membenci Tisha! kamu mau itu terjadi?? Zayn, kakak tau kamu takut kalau Tisha akan kembali pada Ray kan?" Fayra melihat keresahan di wajah Zayn


Zayn terdiam mendengarnya, ia masih berfikir keras. Hatinya takut untuk memberitahukan hal yang ingin ia rahasiakan seumur hidupnya. Zayn memegang kepalanya yang pusing.


"Zayn, kamu harus memberitahu kebenarannya! kalau Tisha dan Rasya tau dari orang lain sebelum dari kamu. Kamu akan menyesalinya. Apapun yang terjadi nantinya pada Rasya dan Tisha, setidaknya kamu sudah memberitahu mereka. Zayn, Rasya butuh papa nya.. dia berhak tau tentang papanya. Sekalipun orang tua Rasya sudah bercerai" jelas Fayra menasehati Zayn untuk memberitahu tentang Ray pada Tisha dan Rasya.


Ya Allah.. kalau aku memberitahu mereka kebenaran ini. Dan Tisha mengingat kembali masa lalu nya bersama Ray. Kemudian bagaimana nasibku? Tisha akan kembali padanya, apalagi ada Rasya diantara mereka! lalu aku? aku bagaimana?


Zayn tersiksa memikirkan posisinya nanti bila Tisha dan Rasya tau kebenaran tentang Ray. Mereka berdua akan meninggalkan Zayn dan akan kembali pada Ray lalu menjadi keluarga yang utuh. Zayn tidak mau itu terjadi.


****


Kota Jakarta, Indonesia..


Di rumah Ray, terlihat saat itu Ray baru saja pulang bekerja. Keadaan rumahnya masih tetap sama, ia masih sendirian disana. Setiap kali pulang bekerja, Ray selalu memandangi foto pernikahan nya dan Tisha yang terpajang di dinding.


"Aku pulang Tisha" ucap nya sambil tersenyum pada foto itu.


Kemudian Ray memasuki kamar mandi, ia mulai membersihkan dirinya. Setelah selesai beraktivitas di kamar mandi, Ray merebahkan tubuh lelahnya di ranjang. Seperti biasanya dia tidak bisa tidur tanpa obat tidur. Selama 5 tahun itu ia selalu mengonsumsi obat tidur dan rokok. Namun,ia menghindari alkohol.


Pernah pada suatu waktu, Ray mengalami overdosis karena alkohol dan obat yang dikonsumsi secara berlebihan. Ray berada di dalam rumah sakit selama berhari-hari. Kini ia sudah meninggalkan kebiasaan yang hampir merenggut nyawanya itu, walau ia belum bisa meninggalkan obat tidur dan merokok.


Ray duduk di lantai, ia membuka dompetnya. Disana ada foto USG anaknya dan foto Tisha yang selalu ia bawa kemana-mana.


"Tisha.. anakku, aku sudah berubah. Aku sudah menunggu kalian selama 5 tahun..kenapa kalian belum pulang juga? pulanglah.. sudah cukup kalian menghukum ku.." Ray menatap foto itu dengan sedih, berharap agar anak dan istrinya kembali padanya. Walau semua orang berfikir kalau Tisha dan anak nya sudah tiada.


Namun, keyakinan Ray tetap sama. Ia yakin Tisha dan anaknya masih hidup. Keyakinan itulah yang membuat Ray bertahan hidup dalam hari-hari nya penuh kehampaan.


...--***--...

__ADS_1


__ADS_2