
...πππ...
Gerry dan Ray masuk ke dalam rumah itu meski belum dipersilahkan sepenuhnya oleh Bu Fani. Ray melihat Tisha sedang tiduran di sofa, pria itu cemas melihat wajah Tisha yang pucat.
"Tante saya haus, bisakah tante ambilkan minuman untuk tamu ini?" Ray tersenyum melihat ke arah Bu Fani.
"Aku akan siapkan minuman, tunggu sebentar" ucap Bu Fani malas tapi ia tetap melangkah ke arah dapur.
Ray berjalan mendekati Tisha dan memperhatikan wajah dari gadis yang ia cintai itu dengan seksama.
Seperti nya dia benar-benar sakit, dia sakit apa? Ray menatap cemas ke arah Tisha. Begitu melihat Ray, Tisha langsung beranjak duduk.
"Mau apa kamu kemari?" Tisha menajamkan pandangannya pada Ray.
Ya Allah.. kenapa hatiku masih saja seperti ini saat melihatnya? terlebih lagi sekarang ada bayinya di dalam perutku. Hati nya bingung dan sedih saat melihat mantan suaminya itu. Mungkin jika mereka masih berada dalam ikatan pernikahan dengan senang hati Tisha akan memberitahukan pada Ray tentang keberadaan bayi mereka di dalam perutnya. Mungkin juga cerita Tisha dan Ray akan berbeda. Namun itu hanyalah masa lalu.
Ray tidak bicara apa-apa, hanya saja tangannya bergerak menyentuh kening Tisha dengan lembut. Ray menatap Tisha penuh perhatian dan khawatir. Tatapan tulus tanpa dibuat-buat, saat ini sedang tertuju pada Tisha.
Tidak demam, tapi dia berkeringat.
"Apa yang kamu lakukan? kenapa memegangku sembarangan?!" tanya Tisha sambil menepis tangan Ray yang memegangi keningnya.
"Apa kata dokter? kamu sakit apa?" tanya Ray perhatian dan nada bicara nya lembut
DEG!
"Kenapa kamu bisa tau aku ke dokter?! Kamu tahu apa?!!" Tisha mulai panik mendengar pertanyaan Ray.
Kenapa dia bisa tau kalau aku pergi ke dokter? apa jangan-jangan dia tau juga kalau aku melakukan pemeriksaan kehamilan?
Kenapa dia panik seperti itu? Ah ya, dia tidak boleh tau kalau aku memata-matai nya, kenapa aku bertanya begitu?. Ray mengangkat alisnya, melihat Tisha dengan wajah heran.
"Gerry bilang dia tidak sengaja melihatmu ke arah rumah sakit. Aku sudah menduga nya kalau kamu pergi ke dokter" jelas Ray sambil melirik ke arah Gerry dengan tatapan mengancam dan senyuman dinginnya.
Gerry terperangah melihat raut wajah Ray yang terlihat menyeramkan itu.
Apa pak presdir sedang bersilat lidah sekarang? Dia jago sekali melempar batu sembunyi ditangan.
__ADS_1
"Apa benar itu? pak Gerry melihatku pergi ke rumah sakit?" tanya Tisha dengan wajah tegangnya, ia memastikan kalau Gerry tidak mengetahui apapun tentang nya.
"Iya Bu Tisha, saat saya sedang membeli makanan ini. Saya tidak sengaja melihat Bu Tisha dan Bu Fani masuk ke rumah sakit" jelas Gerry sambil tersenyum pada Tisha
Bagus Gerry. Batin Ray merasa lega karena Gerry menutupi kebohongan nya
Syukurlah, seperti nya pak Gerry hanya melihatku masuk ke rumah sakit tanpa tau apa yang terjadi di dalamnya. Aku pikir dia mengawasi ku. Tapi itu tidak mungkin kan dia mengawasi mantan istrinya? sungguh tidak masuk akal! saat masih menjadi istrinya saja aku tak pernah diawasi. Tisha merasa lega karena Ray dan Gerry tidak tau apapun yang berkaitan dengan hasil pemeriksaan nya.
"Hey, kamu tidak menjawab ku? apa kata dokter? kamu baik-baik saja kan?" tanya Ray penuh perhatian dan kelembutan.
Kenapa dia bersikap lebih baik padaku setelah bercerai? apa ini yang namanya penyesalan? Kenapa dulu dia tidak begini? padahal dua tahun kita menikah. Tisha lagi-lagi dibuat bingung oleh Ray.
Tisha teringat masa lalu saat dirinya masih menjadi istri pria dingin itu. Dia pernah sakit, tapi tak pernah sekalipun Ray memperhatikan dirinya, ataupun sekedar menanyakan kabarnya. Lalu kenapa sikapnya berubah 360 derajat? apa ini benar-benar bentuk cinta? atau hanya rasa penyesalan Ray padanya.
Kenapa dia diam saja? apa dia sangat sakit?. Ray menatap Tisha yang melamun dengan wajah sedihnya.
"Aku bawakan makanan untuk mu, kamu suka cumi-cumi kan? kamu juga suka ayam kecap" Ray membuka kotak bekal yang ada di meja, yang sebelumnya dibawa oleh Gerry. Disana ada cumi-cumi hitam, ayam kecap, nasi dan telur gulung. Semua itu adalah makanan favorit Tisha. "Oh ya, aku juga bawakan minuman favorit kamu boba Milo cheese" Ray tersenyum dan mengeluarkan secangkir besar minuman berwarna coklat, lalu menyerahkan nya pada Tisha.
Tisha melihat ke arah makanan yang terlihat basah dan menggeliat itu, memang semua itu adalah makanan favorit nya. Namun saat melihatnya Tisha merasa perutnya bergejolak, ada rasa lain saat melihat semua makanan itu. Tidak seperti biasanya yang selalu berselera saat melihat makanan favoritnya. Kali ini ia merasa ada sesuatu yang akan keluar dari mulutnya.
Kenapa sangat bau? menjijikkan! pekik nya dalam hati
"Tisha, kamu kenapa? hey.. kamu gak papa?!!" tanya Ray melihat Tisha dengan cemas. Gerry juga terperangah melihat Tisha yang mual-mual tak terkendali.
Kenapa Bu Tisha seperti itu ya? kok aku jadi teringat Anna saat sedang hamil anak pertama kami?. Batin Gerry
Gadis itu berjalan ke arah kamar mandi dan mulai terdengar suara mual-mual di dalam kamar mandi yang tertutup itu. Tisha memuntahkan makanan makanan yang sebelumnya masuk ke dalam tubuhnya.
UWEKK.. uwekkk...uwekk..
Melihatnya seperti itu, Ray langsung mengambil ponselnya dan berniat menghubungi pak Haris untuk memeriksa kondisi Tisha.
Bu Fani yang baru saja mengambil minum, langsung panik mendengar anaknya yang mual-mual seperti itu. Dia lebih panik lagi melihat Ray yang seperti nya akan menelpon dokter. Terlihat dari Ray yang mengangkat ponselnya ke arah telinga.
Gawat! kalau sampai dokter memeriksanya di depan Raymond, kehamilan Tisha akan ketahuan. Bu Fani cemas
"Halo, Dokter Haris.. "
__ADS_1
Belum sempat menyelesaikan kata-kata nya pada seseorang yang sedang ditelpon nya, Bu Fani langsung mengambil ponsel Ray dan mematikan sambungan telponnya.
"Tidak perlu repot-repot telpon dokter, barusan Tisha habis dari dokter. Dan dokter bilang kalau Tisha cuma masuk angin biasa" Bu Fani menjelaskan situasi Tisha dengan senyuman santai diwajahnya
Aku tidak rela anakku dikurung lagi oleh pria ini, kalau dia tau Tisha sedang mengandung anaknya. Ini kesalahanku sejak awal, jadi aku akan menebusnya.
Ray dan Gerry merasakan sikap aneh dari Bu Fani pada Ray. Seperti ada yang disembunyikan oleh Bu Fani.
"Benar kah kalau Tisha cuma sakit biasa aja, Tante?" tanya Ray tak percaya
"Iya benar, kamu tidak usah cemas seperti ini. Bukan urusanmu lagi untuk mencemaskan mantan istri mu. Seharusnya kamu pergi saja dari sini, bukankah dua hari lagi kamu akan menikah?! tolong ya jangan tidak tahu malu!! pergi kamu jauh-jauh dari anakku! " Bu Fani menegaskan bahwa tidak ada hubungan antara Tisha dan Ray. Bu Fani meminta agar Ray pergi sejauh mungkin dari hidup Tisha dan tidak menjauh lagi.
"Kalau saya tidak mau? gimana bu?" tanya Ray dengan senyuman santainya.
"Jika kamu tidak mau menjauh, maka anakku yang akan menjauhi mu" Bu Fani tersenyum menyeringai
Pria ini sangat keras kepala!
Ray terperanjat mendengar kata-kata Bu Fani. Pikirannya mulai melayang kemana-mana, pertanyaan-pertanyaan aneh mulai muncul di kepala nya. Apa maksud perkataan Bu Fani itu?
"Apa maksud Tante? apa Tante mau membawa Tisha jauh dariku??!" Ray mulai terlihat emosi pada Bu Fani
"Kalau iya, lalu kenapa??"
Bahaya! kalau pak Presdir sudah begini, emosinya tidak akan terkendali! batin Gerry cemas melihat wajah Ray yang sudah mulai memerah karena marah
"Pak, tenang pak.." ucap Gerry berusaha menenangkan emosi Ray yang akan meledak
"Tante tidak akan bisa melakukan nya, kalian tidak akan bisa pergi dari kota ini bahkan dari negara ini. Kalian akan selalu tinggal disini!" Ray menatap tajam Bu Fani, menegaskan bahwa Tisha dan keluarga nya tidak bisa melarikan diri.
π΅π΅π΅
Ting tong ting tong!
Bel rumah lagi-lagi berbunyi, membuat obrolan Bu Fani dan Ray terpecah. Bu Fani berjalan menuju ke arah pintu, ia menggerutu mengira kalau yang memencet bel adalah Arya.
"Anak ini! udah ibu bilang berkali-kali langsung buka aja"
__ADS_1
Bu Fani membuka pintunya dan ia kaget melihat seseorang yang datang ke rumahnya itu. Bu Fani terlihat tidak senang melihat orang yang ada di depannya.
...---***---...