Tahanan Cinta CEO

Tahanan Cinta CEO
Bab 184. Mogok kerja


__ADS_3

...πŸ€πŸ€πŸ€...


Keesokan harinya, Tisha dan Ray masih berada dalam perang dingin. Pagi itu adalah pagi yang suram dan dingin di rumah Ray. Semua orang terdiam di meja makan, tempat dimana seharusnya keluarga saling bicara hangat satu sama lain. Namun, hari itu Ray sedang di abaikan oleh anak dan juga istrinya. Ray juga tidak bisa marah, karena dia menyadari bahwa dia salah.


"Sayang, biar hari ini aku yang siapkan sarapannya." Ray berusaha bersikap seramah dan selembut mungkin pada istrinya yang sedang hamil itu.


"Tidak perlu." jawab Tisha ketus sambil memindahkan nasi goreng dari penggorengan di atas piring kosong.


"Sayang,biar aku bantu ya?" Ray memaksakan dirinya untuk mengambil spatula itu dari tangan Tisha. Akan tetapi, Tisha memegang erat spatula itu erat-erat di tangannya. Dia tidak mengizinkan Ray untuk mengambilnya atau sekedar memegang tangannya.


Ray benar-benar diabaikan. Bukan hanya oleh Tisha, tapi oleh Rasya. Kedua orang itu sudah terlanjur salah paham padanya. Rasya bahkan mengatakan kekecewaan pada papanya, karena dia melihat sendiri papa nya berduaan dengan wanita lain di toko kalung, bahkan sampai melakukan hal yang tidak perlu, yaitu memasangkan kalung di leher wanita itu. Dan hal ini yang Tisha tidak tahu.


"Bayangkan saja oleh papa, bagaimana kalau mama tau juga tentang hal ini? Mama pasti akan lebih marah pada papa. Seharusnya, papa tidak berbohong." Bisik Rasya kesal kepada papa nya.


"Iya sayang. Papa tau kalau papa salah, tapi itu semua papa lakukan karena papa ingin membuat kejutan untuk mama kamu."


"Kejutan macam apa, sampai papa harus meminta pendapat orang lain untuk memilihkan kalung? Kesalahan papa, bukan hanya berbohong pa.." Rasya kesal juga pada Ray yang sudah membohongi mama nya.


Raymond, dasar bodoh! Bahkan anak kecil juga tau dimana letak kesalahanmu. Baiklah, karena aku sudah tau letak kesalahanku..maka aku akan memperbaikinya. Tisha berhati lembut, pasti dia akan memaafkan ku. Ray memaki dirinya di dalam hati.


"Rasya, apa kamu mau membantu papa? bantu papa baikan lagi sama mama,ya?" Tanya Ray seraya membujuk putranya untuk berada di pihaknya.


Rasya menggeleng, dia menolak untuk membantu papanya kali ini. "Maaf pa, tapi untuk kali ini papa selesaikan urusan papa sendiri, karena aku juga kesal sama papa, Papa kan sudah berbohong pada mama, demi tante tante itu." Rasya berkata ketus, bibirnya mengerucut menampakkan kekesalan.


"Rasya, itu gak benar..papa sama tante itu gak ada hubungan apa-apa, untuk apa papa membelanya." Ray mencoba menjelaskan apa yang terjadi. Tapi.Rasya tidak mau mendengarkan papa nya dan meminta Ray menjelaskan pada mama nya saja. jIka Tisha sudah memaafkan nya. maka Rasya juga akan memaafkan nya.


Presdir Argantara grup itu hanya bisa menelan ludah kepahitan, di rumah itu kini dia benar-benar telah diabaikan. Bahkan rasya tidak ada di pihaknya.


Setelah selesai sarapan pagi, Rasya segera berangkat ke sekolah diantar oleh Joni. Sementara Tisha berniat menyiram tanaman di halaman depan rumahnya. Wanita hamil itu sudah membawa teko air, dia bersiap untuk memulai aktivitasnya.

__ADS_1


"Bu Tisha, saya mau ke pasar dulu ya bu." Bi Ani berpamitan pada Tisha untuk pergi ke pasar, membeli buah-buahan yang sudah habis di kulkas.


"Iya bi, hati-hati dijalan ya." Jawab Tisha sambil tersenyum ramah pada pembantu rumah tangganya itu.


"Iya bu. Oh iya, ngomong-ngomong apa pak Ray sedang libur bekerja? Seingat saya ini baru hari Selasa, bu." Bi Ani terlihat bingung karena dia melihat Ray masih ada di dalam rumah.


Tisha yang sedang menyiram tanaman, langsung menghentikan aktivitasnya dan menoleh ke arah Bi Ani. "Memangnya kenapa bi?"


"Enggak apa-apa sih, cuma tuan masih ada di dalam. Tuan tidak memakai pakaian kerjanya, mungkin tuan libur kerja. Tuan juga sedang beres-beres di halaman belakang." Bi Ani tampak bingung.


Apa kak Ray tidak berangkat bekerja? Bukankah dia ada rapat penting hari ini? Hah! Apa peduliku!


Tisha mengerutkan keningnya, dia terkejut mendengar ucapan Bi Ani. Tak lama setelah obrolan itu, Tisha langsung masuk ke dalam rumah untuk melihat Ray. Dan benar saja, suaminya masih memakai baju biasa dan malah sedang beres-beres di halaman belakang rumah.


"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Tisha sinis.


"Eh sayang, aku sedang memotong rumput liar." Ucapnya sambil tersenyum. Ray sedang memegang gunting rumput, dia memakai topi fedora dan memakai kaos biasa. Pria itu terlihat sedang memotong rumput.


Akhirnya Tisha mau bicara juga padaku, aku tau dia memang masih peduli padaku.


Ray beranjak dari duduk jongkok nya, dia tersenyum lebar lalu berkata, "Aku meliburkan diri."


"Kenapa?"


"Aku mau membujuk istriku yang sedang marah." Jawab Ray sambil tersenyum dan berjalan mendekati istrinya.


"Apaan sih? Pergi kerja sana! Bukankah kamu ada rapat!" Titah nya pada Ray.


"Bagaimana bisa aku pergi bekerja, aku bahkan belum melihat senyuman di wajah istriku, aku jadi tidak semangat." Gerutu Ray sedih.

__ADS_1


"Terserahlah! Kamu mau bekerja atau tidak, aku tidak peduli!" Wanita hamil itu membalikkan badannya, dia tidak peduli Ray mau bekerja atau tidak.


"Hehe baiklah, hari ini aku akan di rumah saja. Seterusnya pun begitu, aku akan tetap berada di rumah sampai kamu tersenyum dan memaafkan aku." Dalam keadaan galau, Ray berusaha bersikap tidak tahu malu seperti biasanya.


"Tidak tahu malu! Huh!" Gerutu Tisha dengan suara pelan, ia mendesis kesal pada suaminya.


Dia pasti sedang berusaha meluluhkan hatiku. Kak Ray, kali ini aku tidak akan memaafkan mu dengan mudah. Aku belum puas dengan semua penjelasan mu.


Hari itu Ray benar-benar tidak pergi bekerja, hingga Gerry harus menyusul nya ke rumah karena ada rapat penting dengan pihak dari CY Fashion. Gerry berusaha membujuk Ray untuk menghadiri rapat, karena rapat itu hanya bisa berjalan kalau ada Ray disana. Tapi Ray menolak untuk pergi karena dia ingin melihat Tisha tersenyum dulu untuknya.


"Bu Tisha, maafkan saya..saya terpaksa datang kemari karena pak Presdir memiliki rapat penting dengan pihak CY fashion. Apa Bu Tisha bisa membujuk pak Presdir untuk pergi ke kantor?" Pinta Gerry seraya mengatupkan kedua tangannya, dia memohon pada Tisha.


"Kenapa pak sekretaris meminta pada saya? Minta saja pada Presdir mu yang sedang menyiram tanaman itu."


"Saya sudah membujuknya Bu, tapi pak Presdir bilang kalau beliau tidak akan pergi kalau beliau belum melihat Bu Tisha tersenyum."


"Aku sedang tidak ada mood untuk tersenyum, dan terserah lah dia mau kerja atau tidak." Tisha melirik kesal ke arah Ray yang sedang asyik menyiram tanaman. Ray malah melambaikan tangan dan tersenyum ke arah Tisha, namun wanita itu malah memalingkan wajahnya.


Apa Bu Tisha marah karena kejadian kemarin? Kalau begitu aku harus membantu nya menjelaskan.


"Bu, sebenarnya kemarin pak presdir tidak hanya berdua saja dengan Bu Stefani. Saya juga ada disana bu, dan pak Presdir pergi ke sana bersama Bu Stefani karena ingin melihat barang-barang fashion terbaru. Bu Stefani adalah perwakilan dari CY fashion, perusahaan pak Wiryawan. Dan pak Presdir pergi ke toko perhiasan untuk membeli kalung untuk Bu Tisha, beliau juga membantu memilihkan bu Stefani kalung untuk ibunya. Lalu-" Gerry menghentikan ucapannya ketika melihat raut wajah Tisha yang semakin marah.


"Apa? Kak Ray membantu wanita itu memilihkan kalung juga?" tanya Tisha tidak senang.


Oh tidak! Apa Bu Tisha tidak tau hal ini? Mengapa dia malah semakin marah setelah mendengar penjelasan ku? Gerry terperangah melihat raut wajah marah itu.


Selain makan bersama dengan wanita lain, dia juga pergi ke toko perhiasan bersama wanita lain dan memilih kan kalung untuknya? Bagus! Pantaskah seorang pria yang sudah menikah seperti itu?


"Terimakasih pak sekretaris, rasanya penjelasan itu sudah cukup." Tisha tersenyum menyeringai, dia menatap tajam ke arah suaminya.

__ADS_1


...---***---...


__ADS_2