Tahanan Cinta CEO

Tahanan Cinta CEO
Bab 108. Penyelamatan


__ADS_3

...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Suara sirene polisi bergema, terdengar keras sampai ke atas gedung. Ketiga orang anak buah Zevanya panik mendengar nya.


Zee juga mulai kalang kabut, kalau sudah membawa polisi habislah sudah dirinya. Melarikan diri dari sana dia pasti tidak akan bisa. Kalau dia menyerahkan diri, Ray tidak akan pernah melepaskan dirinya. Dia seolah berada di jalan yang buntu.


Hal itu di manfaatkan oleh Tisha untuk menghampiri Rasya dan melepaskan anaknya dari ikatan yang kencang itu. Dengan kaki terluka oleh api , Tisha berjalan terseok-seok ke arah Rasya.


"Bos, bagaimana ini? polisi sudah datang!" seru salah satu orang anak buahnya panik


"Saya tidak mau dipenjara bos!" seru seorang pria lainnya panik


"Bawa anak itu padaku, lalu kalian boleh pergi dari sini!" titah Zee pada anak buahnya mungkin untuk yang terakhir kalinya, entah apa yang dia rencanakan di kepalanya.


"Tapi bos, apa yang akan bos lakukan pada anak itu?" tanya anak buahnya


"Kalian hanya perlu melakukan apa yang ku suruh" jawab Zee dengan wajah dingin nya.


Ketiga anak buah nya terperangah melihat ekspresi wajah Zee yang menyeramkan. Seperti merencanakan rencana jahat.


Tisha baru saja memeluk putranya, dia melihat luka luka ditangan Rasya akibat ulah Zee. "Sayang, kenapa kamu nangis? luka lukanya sakit ya?" tanya Tisha sambil mengelus putranya dari kepala dan sampai tangan Ray dengan lembut.


Rasya menggeleng-gelengkan kepalanya, bibirnya cemberut dan pipinya masih tampak basah karena menangis.


"Terus kenapa kamu nangis?"tanya Tisha heran, dia masih belum bisa berdiri dengan tegap karena luka di telapak kakinya. Wajahnya berkeringat karena ikut merasakan hawa panas yang ada di kakinya.


"Kaki mama terbakar.. kasihan mama, demi aku mama terluka..mama pasti kepanasan...huhu...hiks" Rasya tidak tega melihat mama nya yang baru saja menginjak bara api demi dirinya.


Demi menyelamatkan aku, mama sampai melukai dirinya sendiri. Padahal aku selalu mengatakan kalau mama galak dan aku gak suka mama galak, aku juga selalu buat mama kesal. Tapi mama sayang banget sama aku. Aku anak yang jahat... aku anak durhaka. Rasya sedih melihat mama nya terluka.


"Mama gak apa-apa, kamu jangan nangis ya. Kita pulang ya sayang. Nanti kita obati luka kamu sayang" Tisha mencium kening anaknya dengan penuh kasih sayang.


CUP


Ketika Tisha dan Rasya akan kabur dari sana, salah satu anak buah Zee membopong, membawa Rasya dengan paksa.

__ADS_1


"Lepasin! lepasin aku!! ihh!" Rasya memberontak pada pria bertubuh kekar itu, dia memukul, mencubit bahkan menggigit pria itu. Namun, si pria itu tidak melepaskan nya.


"Lepaskan anakku! kumohon jangan lakukan ini! Bu Zee, ini masalah diantara kita.. jangan libatkan anak ku" pinta Tisha pada Zee. Kedua tangannya di tahan oleh anak buah Zee.


Zee membawa Rasya dan menyeret anak itu dengan paksa. Mereka berjalan ke sudut gedung, Zee juga membawa pisau di tangannya.


Tisha deg degan melihat anaknya berada di ujung gedung, Zee seperti memiliki niat untuk mencelakakan Rasya. "Hentikan! jangan!"


"Kalau kamu melangkah lagi, anak kamu akan mati!" seru Zee sambil menyodorkan pisau pada leher Rasya dan semakin menekannya.


"Mama!" teriak Rasya dengan mata terpejam saat pisau itu menyabet sedikit kulit di lehernya.


"Kamu sudah gila! lepaskan dia! urusan mu itu denganku! mari kita akhiri semua ini bersama, jangan libatkan dia dalam urusan ini!" teriak Tisha kesal, entah apa yang ada dipikiran Tisha dia membawa sebuah balok kayu ditangannya.


Kalaupun harus menjadi pembunuh, aku rela mendekam di penjara. Aku rela mati, asalkan Rasya baik-baik saja.


Saat itulah anak buah Zevanya berlarian dan kabur. Naas nya mereka tertangkap oleh polisi yang akan menangkap Zevanya. Polisi bersenjata lengkap, anak buah Ray, Gerry, Bu Lisa dan juga Ray datang ke tempat itu tepatnya ke atas gedung.


"Serahkan dirimu sekarang juga! anda sudah di kepung!" Seru seorang polisi mengancam sambil mengarahkan pistolnya ke arah Zevanya dari jarak jauh.


"Tisha, kamu gak papa?" tanya Ray sambil memegang tangan Tisha dengan erat, pria itu menatap Tisha dengan cemas


"Aku gak apa-apa, tapi Rasya.. dia disana" ucap Tisha dengan mengarahkan pandangan nya pada Rasya yang sedang berada di tangan Zevanya. Ray menatap Rasya dengan panik dan cemas.


"Haa.. jadi inilah akhir untukku" gumam Zee dengan suara pelan, seperti menunjukkan kepasrahan.


"Zee sayang, lepaskan anak itu! mama mohon nak, ayo kita pulang..hmm?" Bu Lisa membujuk anaknya untuk berhenti dari berbuat kejahatan.


"Aku gak bisa ma, aku gak bisa" Zee menggeleng, dia semakin berjalan mundur dan membawa Rasya bersamanya. Rasya semakin ketakutan karena dia tepat berada di ujung gedung yang tinggi. Mungkin hanya tinggal beberapa inci lagi, dia akan terjatuh.


"Lepaskan anak kami Zevanya! kalau kamu melepaskan nya, aku akan membantumu menebus dosa dosa mu!"


"Kalau kamu berjanji tidak akan bersama Latisha lagi, aku akan melepaskannya" kata Zee pada Ray


"Itu tidak mungkin, aku tidak bisa melepaskan mereka berdua" jawab Ray tetap teguh pada pendirian nya, dia tidak peduli di bilang egois atau keras kepala. Baginya Tisha dan Rasya sama pentingnya.

__ADS_1


Perlahan-lahan Tisha berjalan ke arah Rasya, saat Ray sedang bicara dengan Zevanya.


"Yang aku inginkan hanya cinta mu, yang aku inginkan hanya hatimu. Tapi kenapa kamu melukai ku begitu dalam Ray? aku mencintaimu.. Ray, aku mencintaimu.."kata Zee dengan mata berkaca-kaca


"Mungkin dulu aku pernah mencintai mu, tapi tidak untuk selamanya. Sekarang dan untuk selamanya, aku hanya mencintai Tisha dan anak kami" ucap Ray penuh kesungguhan.


Zee menangis, "Kalau begitu aku tidak punya pilihan lain"


Zee melayangkan pisau yang dipegang nya, itu dan mengarahkan nya pada Rasya. Dengan mata yang membunuh, dia benar-benar memiliki niat membunuh Rasya. Hal yang memperkuat hubungan Tisha dan Ray.


"JANGAN!!" teriak Tisha dan Ray bersamaan


DORRR!!!


Dengan terpaksa polisi melayangkan pelurunya tepat di kaki kiri Zee. Kelakuan Zee sudah sangat keterlaluan. Zee jatuh ke lantai dengan kaki yang berdarah-darah, dia melepaskan pegangan nya dari Rasya. Pisau yang dia pakai untuk membunuh juga jatuh ke lantai.


"Aughhh....!!" rintih Zee sambil memegang kakinya yang baru saja terkena timah panas


PRAK


"Zee!!" teriak Bu Lisa panik, sambil berlari menghampiri anaknya yang roboh itu.


"RASYA!!" Tisha dan Ray sama-sama berteriak dan berlari ke arah anak mereka dengan panik


Rasya sendiri yang sudah terlepas dari genggaman Zee, tubuhnya malah oleng ke arah bawah gedung.


"Mama! papa!!" Rasya takut, dia merasakan tubuhnya akan jatuh dari sana.


Dengan cepat Tisha mendorong anak itu dari sudut gedung dan memindahkan Rasya ke tempat aman. Tisha lah yang jatuh dari atas sana.


"Mama!!" teriak Rasya panik


"Tisha!!" teriak Ray berusaha menggapai tubuh Tisha.


Tubuh Tisha terjatuh dari atas gedung, dia menutup matanya. Apa aku akan mati? pikirnya dalam hati.

__ADS_1


...---***---...


__ADS_2