
...πππ...
BRAKKK!!!
"Raymond Victor Argantara! Mati kau!" Tisha meremass dompet suaminya dengan kesal.
Pintu itu ditendang keras oleh Tisha, sampai suaranya terdengar oleh Ray yang masih berada di kamar. Pria itu celingukan sambil mengambil tas nya. Dia bertanya-tanya ada suara yang seperti gempa itu?
Bahkan Rasya yang sudah duduk di meja makan saja, bingung melihat mama nya secara langsung menendang pintu.
Melihat raut wajah ibunya yang masam dan suram, Rasya yakin pasti ada sesuatu yang membuat mama nya kesal.
"Rasya!"
"Ya ma!" sahut Rasya dengan cepat, dia langsung melirik ke arah Tisha begitu mendengar suara ibunya yang tegas.
"Habiskan makanan mu lalu berangkat ke sekolah bersama pak Joni!" titah Tisha dengan mata yang tajam menatap anaknya.
"Siap ma!" Rasya langsung menjawab patuh titah mama nya. Dia takut jika dia melawan, maka mama nya akan ngamuk.
Mama kenapa ya? Apa ada yang membuatnya kesal? Seperti nya bukan aku deh? Rasya memakan makanan nya dengan bingung.
Ray baru saja keluar dari kamarnya, dasinya masih belum dirapihkan. Seperti biasanya dia meminta Tisha untuk mengikat dasi dan memasangkan jas padanya. Namun kali ini Tisha tidak mengindahkan permintaan suaminya, dia menyuruh Ray untuk mengikat dasinya sendiri.
"Kamu punya dua tangan kan? Ikat saja dasi mu sendiri." ucap wanita itu ketus, sambil duduk di meja makan dengan cueknya.
Wah, seperti nya mama bukan marah padaku. Tapi, marah pada papa. Rasya menghela napas, dia lega karena Tisha tidak marah padanya, tapi marah pada papa nya.
Pria itu tidak bergeming setelah mendengar ucapan ketus istrinya, dia hanya mengerutkan keningnya. Dalam hatinya timbul pertanyaan, ada apa dengan Tisha? Apa dia sensitif lagi akan sesuatu? Terakhir kali wanita itu menangis karena nonton film India. Mungkinkah kali ini dia sedang kesal dengan salah satu film yang ditonton nya? Pikir Ray di dalam hatinya.
"Ya sudah kalau kamu gak mau." jawab Ray santai, dia masih belum menyadari kesalahannya. Dengan santainya dia duduk berhadapan dengan Tisha dan bersebelahan dengan anak nya. Ray mengikatkan sendiri dasi dan memakai jas nya.
Sementara itu Tisha memakan bubur dengan lahap nya, karena dia sedang ingin sarapan bubur ayam. Wajahnya masih terlihat masam dan kesal. Saat Ray melihatnya,
"Sst..sstt.. papa!" bisik Rasya pada papa nya yang akan makan sandwich buatan Tisha.
Ray menengok ke arah Rasya yang bicara berbisik-bisik, "Iyah?"
"Papa, kayanya mama marah sama papa tuh. Papa buat masalah apa lagi sih?" tanya Rasya sembari menaikkan alisnya.
"Mama marah sama papa? Enggak tuh, papa gak ada salah apa-apa." Ray merasa tidak berbuat salah pada istrinya, dia terlihat santai.
"Tapi kayanya mama lagi marah sama papa.. oh ya tadi tuh ada yang-"
BRAK
Tisha menggebrak meja tiba-tiba, membuat barang-barang yang berada di atas meja itu bergetar karena nya.
Dia menatap kedua pria di hadapannya dengan tajam. Seringai terlihat di bibirnya. "Bisa tidak kalian habiskan saja makanan kalian, bukannya bergosip seperti wanita??!"
Ray dan Rasya menelan ludah bersamaan, mereka terkejut dengan mode galak on Tisha. Ayah dan anak itu saling melirik satu sama lain, wajah mereka menyiratkan ketakutan pada Tisha.
Rasya mempercepat makanannya, dia ingin segera pergi ke sekolah. Dan benar saja, setelah meneguk susu dalam satu tegukan. Rasya langsung pamit pada mama dan papa nya, dia diantar pak Joni supir sekaligus bodyguard pribadi Rasya.
"Sayang, kamu juga harus menghabiskan sandwich mu. Aku sudah buatkan susah payah lho." Tisha tersenyum sambil menatap suaminya.
"I-iya sayang." Ray ngeri melihat senyuman Tisha.
__ADS_1
Huhuu, kenapa Tisha tersenyum seperti itu?
Ketika Ray menyuapkan sandwich itu ke dalam mulutnya, tiba-tiba saja dia langsung memuntahkan nya. "Hahh.. huuuhh...haah!!" Ray langsung mengambil air minum dan meneguknya sampai habis.
"Kenapa kamu memuntahkan nya? Apa rasanya tidak enak?" tanya Tisha sambil memasang senyuman sinis nya.
"Sa-sayang, kamu menambah sambal ya di dalam sandwich nya?" tanya Ray dengan lidahnya yang menjulur keluar, bibirnya berwarna merah.
"Iya, aku tambahkan sambal disana." jawab Tisha sambil tersenyum licik.
"Sayang, kamu tau kan aku gak bisa makan yang pedas?" protesnya pada Tisha, sembari mengeluh padanya. Ray sedikit kesal.
"Ya aku tau, tapi aku juga lagi makan pedas nih. Hatiku pedas banget!" Tisha meneguk air putih yang ada di gelas. Dia menatap tajam ke arah suaminya.
Ternyata benar kata Rasya, Tisha sedang marah padaku.
Ray sudah peka dengan sikap istrinya, dia pun ingin menuntaskan masalahnya dulu sebelum pergi bekerja. Ray bertanya baik-baik apa yang membuat Tisha marah padanya, ada salah apa dia pada nya?
"Kamu salah apa? Tanyakan saja pada dompet itu!" dengan kesal, Tisha menyerahkan dompet milik suaminya.
"Dompet? Memangnya dompet salah apa?" tanya Ray dengan polosnya, dia tidak menyadari bahwa dompetnya sempat hilang.
"Hah? Dompet salah apa? Aku juga gak tau, kemana dompet itu semalaman." sindir Tisha pada suaminya, kedua tangannya menyilang di dada.
"Dompet ini semalaman..." Ray terlihat berfikir, dia masih belum ngeh apa kesalahannya.
Kenapa Tisha main kode kodean segala? Aku kan jadi bingung. Apa salahnya dompet ini? Kemana dompet ini semalam? Aku benar-benar tidak tau.
"Sayang, dimana kamu menemukan dompet ini? Aku baru ingat kalau kemarin malam aku kehilangan nya dompetku!" Ray tersenyum santai, dan bertanya pada istrinya.
"Oh, tadi ada seorang wanita yang memakai baju kurang bahan datang kemari untuk mengantarkan nya. Katanya dia dari klub xxx." jelas Tisha sejelas-jelasnya pada Ray. Tersirat senyuman menyeringai di bibirnya, menandakan kemarahan.
Sikap Ray saat ini memperlihatkan seperti ketahuan selingkuh. Pria itu gelagapan, wajahnya menyiratkan sebuah tulisan. Keringat mulai bercucuran, dia menelan saliva nya kuat-kuat.
Apa dompet ku tertinggal di klub?
"Kenapa sayang? Di wajahmu tertulis sangat jelas lho, disana mengatakan kalau matilah aku! Mampus aku! Ya ampun, aku ketahuan! Yang mana yang benar, sayang? "
"Tisha ku sayang, kamu salah paham. I-ini tidak seperti apa yang kamu pikirkan! I-ini.." Ray berusaha meluruskan kesalahpahaman.
"Ini apa? Kamu gugup seperti ini, pasti mau mencari alasan kan? Apa kamu bosan padaku? Apa kamu mencari wanita di luar sana karena aku sedang hamil dan tidak memuaskan kamu?!" wanita hamil itu memukul-mukul tubuh suaminya dengan kesal. Matanya berkaca-kaca, berair.
Pria itu panik dan memegang tangan istrinya "Sayang, apa yang kamu katakan? Kenapa kamu berasumsi seperti itu? Itu tidak benar, kamu dengarkan dulu penjelasan ku sayang."
"Terus apa? Tadi malam kamu pergi ke klub kan? Kamu bertemu wanita-wanita cantik disana kan?!"
"Iya itu benar sayang, tapi-"
"Ternyata benar.. huuuhh.. aku tidak percaya ini, kamu mengkhianati aku lagi, kamu mencari wanita lain karena aku sedang hamil..." Wanita itu menangis tersedu-sedu lalu duduk di kursi.
Diantara ingin tertawa dan cemas, begitulah Ray ketika melihat istrinya saat ini. Tisha sangat sensitif sejak hamil, apa-apa banyak menangis. Padahal sebelum Fayra menghilang, Ray pernah bilang kalau Tisha sangat kuat ketika hamil Rasya dulu.
"Sayang, hei..hei.." Tangan Ray menyeka air mata Tisha dengan lembut.
"Huhuuuhuuhuu.. apa karena aku gendut dan tidak cantik lagi? Makanya kamu mencari wanita lain disana.. kamu itu benar-benar se-"
Bibir Ray mengecup lembut bibir Tisha, menutup bibir wanita itu agar tidak bicara lagi. Tisha pun terdiam, dia masih menangis. Pelan-pelan Ray meminta istrinya untuk mendengarkannya lebih dulu. "Sayang, kenapa kamu tidak mendengar dulu penjelasan ku?"
__ADS_1
"Lalu kenapa kamu tidak bilang kalau kamu semalam pergi ke klub?" tanya Tisha sambil menatap suaminya tidak percaya.
"Oke, pertama-tama aku minta maaf karena aku tidak bicara soal tempat pertemuan nya di klub. Ini karena si tua bangka itu mengajak bertemu disana. Percayalah, aku tidak kesana untuk bertemu dengan wanita-wanita seperti apa yang kamu pikirkan. Dan si tua bangka itu pak Andara yang membawa banyak wanita disisinya. Tisha kalau kamu tidak percaya, kamu bisa tanya pada Sam dan Andrew."
"Benarkah kamu gak main-main sama wanita lain? Lalu kenapa dompetmu bisa ada padanya?" Tisha bertanya lagi dengan nada interogasi, dia masih menaruh rasa curiga.
"Dompetku tertinggal disana, aku juga lupa. Mungkin dia yang memungutnya, sayang apa kamu tidak percaya padaku?" tanya Ray sambil tersenyum tipis dan membelai pipi istrinya.
Tisha mengatakan keresahan nya pada Ray, semalam dia habis menonton sebuah drama dimana si pemeran utama wanita nya sedang hamil dan ditinggalkan oleh istrinya karena istrinya dirasa tidak memuaskan nya. Suaminya pergi berselingkuh dengan wanita lain. Ray langsung tertawa mendengar nya, ternyata istrinya curiga karena menonton drama.
"Kamu menonton drama yang salah sayang. Aku tidak seperti itu, maksudku aku tidak akan seperti itu. Mau kamu sedang hamil atau tidak, kamu tetap cantik. Kamu istriku, mana mungkin aku berpaling darimu setelah aku mendapatkan mu kembali dengan susah payah dan penuh perjuangan. Tidak akan ada lagi perselingkuhan, atau masalah di dalam keluarga kecil kita. Aku sudah berjanji padamu, kan bahwa kita akan selalu bahagia? Kamu, aku dan kedua anak kita. Tidak akan drama lagi diantara kita. Selalu ada kepercayaan, kesetiaan, kejujuran, kita sudah berjanji di hari pernikahan kita." tutur Ray menjelaskan pada Tisha, tentang janji mereka di hari pernikahan sebelumnya. Janji tentang kepercayaan, kejujuran, kesetiaan satu sama lain.
Janji bahwa Ray akan selalu membuat keluarga kecil nya bahagia. Apalagi kebahagiaan Tisha, adalah yang terpenting baginya.
"Kamu...benarkah kamu tidak akan mengkhianati ku seperti Lee kang Joon?"tanya Tisha dengan
"Lee Kang Jun itu siapa sayang?" tanya Ray setengah tertawa. Dia juga tidak paham nama aneh yang diucapkan oleh istrinya.
"Dia pemeran utama pria yang aku ceritakan itu. Pria itu mengkhianati istrinya yang sedang hamil!" Tisha masih gemas sendiri dengan drama yang dia tonton semalam.
"Ya ampun aku pikir siapa, ternyata dari drama yang kamu tonton? Hahahaha" Ray menertawakan istrinya. Kemudian kecupan manis mendarat dari bibir nya pada kening, mata, hidung, pipi dan yang terakhir. Bibir panas itu menyentuh bibir istrinya. "Sudah marah nya sayang? Tidak salah paham lagi kan?" ucap Ray seraya memegang tangan istrinya.
"Iya, aku udah enggak marah lagi." jawab Tisha sambil tersenyum.
"Jangan nangis ya sayang, nanti bayi kita ikut nangis." Ray mengusap perut buncit istrinya dengan penuh kasih sayang.
"Iya sayang."
Pria itu tersadar ketika melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Buru-buru dia pergi ke kantor, karena ada banyak pekerjaan yang menanti.
"Sayang papa, papa berangkat dulu ya. Doakan pekerjaan papa lancar, muach.." Ray mencium perut buncit itu seraya berpamitan pada Tisha dan anak di dalam perutnya.
"Hati-hati papa!" Tisha melambaikan tangannya pada Ray.
****
Di sekolah dasar SD Cinta karya. Semua siswa kelas 1-A melakukan aktivitas seperti biasanya. belajar di kelas. Diantara semua temannya, Rasya adalah murid yang paling menonjol terutama dalam pelajaran matematika. Tapi dia sangat tidak menyukai hal hal berbau seni seperti mama nya, Tisha. Rasya lebih mirip ayahnya yang seorang pengusaha sukses.
Semua orang ingin berteman dengan Rasya, tapi Rasya sulit sekali diajak bicara. Rasya orang nya tidak mudah terbuka pada orang asing dan tidak dekat dengannya. Namun Rasya akan sangat ramah pada orang yang sudah kenal dekat dengannya dan menunjukkan dirinya terbuka. Karena itulah semua teman di kelasnya mengira Rasya adalah orang yang dingin dan sombong. Makanya Rasya tidak dekat dengan siapapun di kelasnya.
Dia hanya dekat dengan dua orang teman laki-laki nya, yaitu Athar dan Doni.
"Anak-anak! Perhatian semuanya, hari ini kalian kedatangan teman baru!" kata Bu Alya pada anak didiknya.
"Teman baru? Siapa ya?" anak anak di kelas itu heboh begitu mendengar dari wali kelas nya ada teman baru.
"Ayo masuk Risya!" Bu Alya mendekati seorang anak perempuan berkuncir dua, memakai seragam merah putih yang tengah berdiri malu-malu di depan pintu kelas.
Begitu nama Risya disebut, Rasya yang tidak pernah tertarik pada sesuatu. Kini mulai menunjukkan perhatian nya. Dia tercekat karena nama Tisha mama nya dan Risya sedikit mirip pengucapannya.
Semua orang melihatnya, anak itu terlihat cantik, kulitnya putih dan bersih. Dengan langkahnya yang malu-malu, dia masuk ke dalam kelas itu.
Lho dia kan anak yang ada di depan sekolah tadi? Jadi,dia sekolah disini? Rasya terpana melihat anak perempuan yang berdiri di depan kelas bersama Bu Alya, wali kelas nya itu.
Hah? Dia kan anak yang tadi di depan gerbang sekolah? Risya menatap Rasya dengan bingung, dia mengenali wajah Rasya.
...---***---...
__ADS_1
Hai Readers! Makasih untuk komen, like, vote, gift kalian ya buat karya author π€βΊοΈ Sambil nunggu up, mampir dulu ke karya author dyoka yuk ππ₯°