
...πππ...
Ray masih memeluk Tisha dengan erat, Rasya berdiri dengan wajah bingungnya, sementara Gerry tersenyum haru melihat nya.
Reuni keluarga itu benar-benar membuat hati Gerry tersentuh. Apalagi saat Gerry mendengar doa tulus Rasya untuk Ray di dalam mobil, Allah benar-benar telah membuka jalan dan mengabulkan doa anak itu. Gerry percaya pada keajaiban, contohnya adalah Ray yang mencari-cari Tisha dan anaknya ternyata anaknya ada di hadapannya.
Perjalanan bisnis yang sempat Ray tolak itu, membuatnya bertemu dengan Tisha dan Ray junior. Bayangkan saja jika pria itu menolak pergi ke New York, mungkin Ray tidak akan pernah bertemu dengan Tisha dan Rasya.
Tisha berdiri mematung mendapat pelukan yang tiba-tiba itu, perlahan-lahan ia mendorong Ray menjauh darinya.
"Syukurlah.. doa-doa ku ternyata sampai pada yang kuasa, Allah telah mempertemukan kita kembali. Kamu dan anak kita masih hidup, Tisha.. Aku sangat bahagia" ucap Ray pada Tisha sambil menangis haru
Ini bukan mimpi kan? ini benar-benar nyata.. Tisha dan anakku, Rasya.
"Apa yang kamu lakukan?" Tisha menampar Ray dengan keras di pipinya.
Kurang ajar sekali pria ini memelukku sembarangan! lalu apa maksudnya dia mengatakan kalau Rasya adalah anak kita?
PLAK
Perasaan Ray juga ikut tertampar oleh sikap Tisha padanya. Gerry terkejut melihatnya, Tisha bersikap seperti orang yang tidak kenal dengan Ray dan dirinya.
"Tisha, kenapa kamu menamparku?" tanya Ray tak mengerti
"Kamu siapa? main peluk peluk orang sembarangan!" Tisha terlihat emosi pada Ray yang baru saja memeluknya
"Haaah.. aku tau kamu masih marah padaku, aku akan jelaskan semua secara singkat.. Zefanya tidak mengandung anakku, dia berbohong! Tisha.. aku minta maaf karena selama ini aku..
"Bapak bicara apa sih? saya tidak mengerti apa maksud bapak?" tanya Tisha sambil mengernyitkan dahinya
"Ini tidak lucu Tisha, kamu boleh marah tapi kenapa kamu begini?" tanya Ray sambil memegang tangan Tisha, dan wanita itu menepisnya.
Tisha memegang tangan Rasya dan menjauhkan Rasya dari Ray.
"Anda sudah tidak waras ya? saya tidak kenal anda!" seru Tisha menegaskan bahwa ia tidak kenal dengan Ray
"Bu Tisha, apa anda tidak kenal juga dengan saya?" tanya Gerry pada Tisha, berniat memastikan apa Tisha berpura-pura atau tidak.
"Kamu juga siapa? kalian siapa sih?!" Tisha terlihat marah pada Gerry dan Ray
Terkejut, tercengang, bingung, itulah yang dirasakan oleh Ray dan Gerry saat melihat Tisha yang masih hidup tapi tidak mengingat mereka. Apa Tisha berpura-pura tidak ingat atau ia sedang bercanda? rasanya tidak mungkin! melihat wajah dan sikap Tisha, ia seperti nya benar-benar tidak mengingat Ray dan Gerry.
Mengapa? mengapa dia tidak mengingat ku?. Ray menelan ludah nya, lagi-lagi ia merasa kecewa. Hatinya bertanya-tanya apa yang terjadi pada Tisha selama ini sehingga ia tidak bisa melihatnya.
"Mama.. ini om eskrim yang nolong aku" kata Rasya pada mama nya
__ADS_1
"Om eskrim?" Tisha melihat ke arah Rasya
Rasya mengangguk, ia juga tak mengerti apa yang dibicarakan oleh Ray pada ibunya. Tapi Rasya tau kalau Ray mengenal mama nya.
"Maaf, saya tidak tau kalau anda yang sudah menolong anak saya. Saya berterimakasih, tapi saya tidak suka anda memeluk saya seperti tadi" kata Tisha tegas pada Ray, ia tersenyum pada Rasya.
Ray kehabisan kata-kata, ia hanya bisa menatap Tisha dengan bingung penuh pertanyaan. Mencari-cari siapa yang bisa menjelaskan semua keadaan ini padanya.
"Pak..." Gerry juga tak tau harus bicara apa, bibirnya mendadak beku dengan sikap Tisha seperti itu. Gerry juga yakin kalau Tisha tidak berpura-pura.
Saat itulah muncul Zayn, Fayra dan Farhan di lorong ruangan tempat Tisha di rawat.
"Zayn, kak Fayra, pak Farhan?" sapa Tisha pada ketiga orang itu
"Tisha, Rasya ternyata ada disini.. aku udah cemas" ucap Zayn sambil membawa keresek hitam ditangannya.
"Om Zayn!!" Rasya berlari dan memeluk Zayn dengan penuh kerinduan, ia belum bertemu dengan om nya itu sejak Zayn pergi konser.
"Eh, jagoannya om" ucap Zayn sambil mengusap kepala anak itu dengan lembut
Zayn?!
Ray membalikkan badannya dan menoleh ke arah Zayn, Fayra, Farhan. Kebenaran lain terungkap saat Ray melihat Zayn ada disana dan memeluk Rasya penuh kasih sayang.
Jadi selama ini dia yang sudah menyembunyikan Tisha dan anakku. Zayn, brengsek!
Kenapa Ray ada disini? bagaimana bisa?. Zayn keheranan melihat Ray ada disana.
BUK
BRUGH
"Om Zayn!!" teriak Rasya
"Zayn!!" seru Fayra, Farhan dan Tisha bersamaan.
Fayra, Gerry, Tisha, Farhan dan Rasya terkejut melihatnya. Tanpa ampun Ray memukuli Zayn, tidak peduli mereka sedang di rumah sakit. Ray sangat marah saat melihat Zayn ada disana.
"Bangun kamu, pria brengsek!!" Ray menarik baju Zayn dengan kasar, matanya menatap murka.
"Apa yang kamu lakukan?! lepaskan dia!" seru Tisha
"Tisha, kamu diam dulu! aku mau bicara dengan pria brengsek yang sudah menyembunyikan istri dan anakku!" seru Ray sambil melayangkan tinjunya pada wajah Zayn
Tisha dan Rasya membeku mendengar perkataan Ray, mereka sama-sama tak mengerti apa yang sedang terjadi antara Ray dan Zayn.
__ADS_1
Farhan dan Gerry berusaha melerai mereka. Namun Ray yang sudah terbakar emosi, terus saja memukul Zayn meski Zayn tidak melawannya. Ia membiarkan dirinya di pukuli oleh Ray.
Ini sudah berakhir Zayn, sekarang tidak ada yang bisa membuat Tisha terus di sisimu. Lalu bagaimana dengan janjiku pada Bu Fani dan kak Arya?. Batin Zayn sedih karena Ray sudah kembali bertemu dengan Tisha dan Rasya cukup cepat dari yang ia pikirkan.
Ray sakit hati, marah juga tidak dapat mendeskripsikan perasaan nya saat ini. Hari itu ia benar-benar terkejut dengan apa yang terjadi, fakta Tisha, Rasya dan Zayn membuat kepalanya penuh seperti hampir pecah!
Pantas saja selama ini aku kesulitan mencari Tisha dan anakku ternyata dia yang sudah menyembunyikan nya. Tidak akan aku biarkan!
"Hentikan ini pak! saya mohon anda untuk tenang!" Gerry memegangi Ray yang sedang emosi itu dan berusaha menenangkan nya.
"Zayn! jelaskan kepadaku apa yang sebenarnya terjadi?! atau kamu kan berurusan denganku di pengadilan!" ancam Ray pada Zayn
"Akan aku jelaskan semuanya, kamu tenanglah dulu" ucap Zayn pada Ray dengan wajah suram nya.
"Auchh.."rintih Tisha sambil memegang perutnya, ia jatuh terduduk di lantai
"Mama! mama kenapa ma!" Rasya terkejut melihat mama nya kesakitan dan memegangi perutnya, "Mama! perut mama berdarah!" seru Rasya panik
"Tisha?!" Ray dan Zayn kompak berlari menuju ke arah Tisha dan Rasya. Mereka berdua terlihat cemas pada Tisha.
"Kamu baru saja operasi, seperti nya kamu banyak bergerak! lihat luka mu terbuka!" Zayn cemas dan membantu Tisha berdiri
"Biar aku saja yang membawanya masuk ke dalam" Ray memegang tangan Tisha yang satunya lagi
"Maaf, tapi saya tidak kenal kamu. Saya dibantu oleh Zayn saja" ucapnya sembari menepis tangan Ray darinya.
Raut wajah Ray menunjukkan bahwa dia terpukul dengan sikap Tisha padanya.Ray sakit hati, ia merasa lebih baik kalau Tisha marah padanya saja daripada bersikap tidak kenal padanya.
Zayn memapah Tisha masuk ke dalam ruangan nya. Lalu dokter menjahit kembali luka Tisha yang terbuka. Sambil menunggu dokter menjahit luka itu, Fayra dan Rasya pergi untuk makan siang dulu, sementara Ray dan Zayn berbicara di tempat yang jauh dari sana. Mereka berdua berada di dekat balkon rumah sakit.
"Pertama-tama saya minta maaf karena sudah menyembunyikan keberadaan Tisha" ucap Zayn sedikit merasa bersalah pada Ray
"Pak Zayn, kamu tidak terlihat tulus meminta maaf" ucap Ray sambil menahan emosinya yang ingin menghabisi pria di depannya itu.
"Memang saya sedikit merasa bersalah karena sudah menyembunyikan fakta besar ini dan saya juga tidak tulus mengatakan maaf" Zayn jujur
"Kamu banyak bicara! seharusnya disini akulah yang bertanya, tugasmu hanya menjawab" ucap Ray sinis dan ketus pada Zayn, tahap Ray yang sebelumnya hanya marah sekarang berubah menjadi benci pada Zayn.
"Tanyakan saja apa yang ingin kamu tau" kata Zayn mempersilahkan dengan senang hati
"Apa Rasya adalah anakku?" tanya Ray
"Benar" jawab Zayn cepat
"Kenapa kamu menyembunyikan mereka dariku? dan apa kamu lah yang memalsukan kematian mereka?" tanya Ray dengan tatapan tajam menusuknya pada Zayn
__ADS_1
Zayn tercekat, ia menatap ke arah Ray.
...---***---...