
...πππ...
"Mama, suara apa tuh?" Rasya melirik lirik ke sekelilingnya.
Tisha dan Rasya berlari, lalu masuk ke kamar Ray. Tempat dimana suara itu berasal. Mereka melihat Ray sedang duduk di lantai, sambil memegang kepalanya.
"Kenapa kalian ada disini?" tanya Ray keheranan melihat Tisha dan Rasya berada di hadapan nya. Mereka bahkan bisa membuka pintu yang terkunci.
"Papa (kak Ray) gak apa-apa?!" tanya Rasya dan Tisha bersamaan, mereka berdua terlihat cemas dengan keadaan Ray. Terlebih lagi ketika melihat bajunya yang acak-acakan.
"Ah, aku gak apa-apa.. aku cuma mau ngambil air minum, tapi aku malah jatuh dan keningku kejedot meja" jelas Ray pada Tisha dan putranya.
Tisha dan Rasya membantu Ray untuk berdiri. Mereka meminta Ray untuk berbaring saja di tempat tidur. "Ma, papa badannya anget" kata Rasya cemas.
"Papa gak apa-apa sayang, cuma demam aja" Ray menenangkan Rasya yang cemas padanya.
"Apa kamu sudah makan?" tanya Tisha dengan wajah yang serius.
"Su-sudah"
PLAK
Tangan Tisha memukul bahu Ray dengan gemas. "Aduh! Sakit!" Ray merintih kesakitan.
"Mama, kenapa papa dipukul?!" tanya Rasya marah pada mamanya karena papanya dipukul.
"Papa kamu sudah berbohong, makanya mama memukulnya" Tisha menatap tajam pada Ray.
"Ya, maaf.. aku sudah bohong" Ray menciut di depan Tisha, dengan mudahnya dia meminta maaf pada wanita itu.
Tanpa bicara apa-apa, Tisha mengobati kening Ray yang terluka. "Biar aku saja" kata Ray.
"Diam saja! Mau ku pukul lagi?" Tisha melotot sambil menempelkan plester di kening Ray yang terluka.
"Galak banget sih" gerutu Ray sebal.
"Rasya, ambilkan air minum di dapur untuk papa mu!" titah Tisha pada putranya.
"Baik ma" jawab anak itu patuh.
Dia pergi keluar dari kamar itu, lalu pergi ke dapur untuk mengambil air minum. Di dalam kamar kini hanya ada Tisha dan Ray.
"Kamu menyuruh Rasya untuk keluar dari kamar agar kita bisa berduaan kan?" tanya Ray dengan senyuman menggoda.
__ADS_1
"Pikiranmu mesum sekali! Ada bahan makanan di kulkas tidak? Aku akan memasak" kata Tisha sambil beranjak dari ranjang itu. Namun, Ray menarik tangan Tisha dan memeluknya dengan lembut. "Kak Ray.."
"Aku tidak punya siapa-siapa lagi selain kamu dan Rasya. Jadi jangan tinggalkan aku ya"
"Aku sudah janji pada kakek untuk selalu bersama kakak, jadi aku tidak akan mengingkari janjiku" Tisha membalas pelukan Ray, sambil tersenyum lembut.
"Demi kakek, atau karena kamu cinta sama aku?" Ray masih memeluk wanita itu
"Jangan mulai deh!"
"Kamu mau jaim lagi?" Ray mengecup rambut Tisha dengan lembut penuh kasih sayang.
"Bukannya jaim, tapi aku tidak mau mengucapkan cinta pada orang yang tidak pernah mengucapkan cinta padaku" kata Tisha sambil mendorong pelan tubuh Ray.
"Tidak pernah? Aku sering mengucapkan cinta sama kamu, kenapa bilangnya tidak pernah?" tanya Ray terperangah mendengar ucapan Tisha, yang mengatakan bahwa dia tidak pernah mengucapkan cinta kepada wanita itu.
"Memang tidak pernah, hanya aku saja selama ini yang selalu mengucapkan cinta" kata Tisha dengan wajah kesalnya.
Rasya kembali dengan membawa gelas dan sebotol air minum untuk papanya. Tisha segera pergi dari sana, dia meminta Rasya untuk menjaga Ray sementara dia akan pergi memasak di dapur.
Seusai memasak bubur di dapur, Tisha membawa bubur itu dan meminta Ray memakan buburnya.
"Nih, aku bawakan bubur. Setelah makan bubur, kamu harus minum obat" Tisha mengingatkan.
Apa dia membantu papa nya lagi? Ataukah kak Ray yang memintanya?. Tisha menatap curiga pada Ray yang sedang duduk di ranjang dengan kepala bersandar ke ujung ranjang.
"Bukan aku! Sumpah, aku tidak meminta Rasya untuk melakukan nya!" Ray menggeleng-gelengkan kepalanya, dia takut dengan mata melotot yang terlihat di wajah cantik itu.
"Aku tidak bertanya apa-apa, kenapa kamu bicara begitu?" tanya Tisha tajam.
"Swear! Aku tidak menyuruh nya" Ray menggeleng-geleng.
"Gak ma, ini aku yang minta sendiri! Aku kasihan sama papa, papa kan lagi sakit" Rasya merengek pada mama nya.
Wanita itu menurut pada Rasya, dia menyuapi Ray dengan bubur. Tak lupa dia meniupkan dulu bubur yang masih panas itu, agar Ray tidak kepanasan saat memakannya. Ray tersenyum senang dengan perhatian Tisha padanya. Dia menjadi tidak sabar untuk melamar Tisha kembali, tapi dia menunggu waktu yang tepat untuk menciptakan lamaran yang romantis itu.
Serangkaian rencana sudah dia siapkan untuk melamar Tisha, dibantu oleh Gerry sekretaris nya yang serba guna. Hari itu sudah 2 bulan sejak pak Faisal meninggalkan dunia.
Pada hari itu Ray berencana melamar Tisha, pertama-tama dia mengajak nya makan malam berdua di luar. Tisha setuju dengan ajakan Ray, dia bersiap untuk pergi makan malam.
"Mama pasti mau ketemu sama papa ya? Mama cantik banget" Rasya memuji mamanya yang sudah mengenakan gaun berwarna ungu, dengan rambut yang digerai.
"Ini baju yang papa pilihkan untuk mama, memangnya mama cantik ya?" Tisha tersenyum, dia meminta pendapat anaknya untuk gaun yang dia kenakan.
__ADS_1
"Iya, mama sangat cantik! Tidak heran papa sangat mencintai mama" kata Rasya takjub melihat mamanya, "Kalau aku punya pacar nanti, aku mau punya pacar secantik mama tapi jangan yang galak"
Raut wajah Tisha berubah ketika anaknya menyebut kata galak, "Apa kamu mau bilang kalau mama galak?"
"Aku kan gak bilang gitu ma" Rasya menyangkal sambil tersenyum.
"Kamu mirip papa mu kalau sedang menyangkal seperti ini" gumam Tisha tidak habis pikir, bukan hanya wajahnya saja yang mirip dengan ayahnya, tapi sikapnya juga menurun kepada Rasya.
Fayra menatap Tisha dengan sedikit sedih, dia tau bahwa cinta tak bisa dipaksakan. Namun, Zayn sudah tidak punya harapan lagi. Fayra tidak bisa menghalangi jalan Ray dan Tisha untuk bersama.
"Kak, aku titip Rasya ya"
"Iya, kamu gak usah khawatir. Rasya aman bersamaku" Fayra tersenyum sambil memegang tangan Rasya.
"Mama! Semoga mama cepat jadian sama papa terus buat adik bayi" Rasya tersenyum lebar.
Tisha, semoga kamu bahagia.. Zayn, semoga kamu sembuh dari patah hatimu. Doa Fayra untuk Tisha dan Zayn.
Kata-kata Rasya sontak saja membuat Tisha malu dan wajahnya memerah. Dia pun berangkat di jemput oleh Gerry, menuju ke tempat makan malam mereka.
Mereka berdua sampai di depan sebuah restoran yang berada di dekat sana. Restoran yang dulunya sederhana itu kini menjadi restoran yang mewah.
"Pak Gerry, apa bapak yakin disini tempatnya?" tanya Tisha pada tempat yang sedang banyak pengunjung itu.
Ini kan restoran tempat ku bertemu dengan kak Ray pertama kali? Saat aku menerima pernikahan kontrak kita? Mengapa dia mengajakku bertemu disini?
"Iya Bu, ibu jalan saja ke ujung restoran ini"' jawab Gerry sambil tersenyum profesional.
"Baiklah" Tisha patuh.
Wanita itu berjalan masuk ke dalam restoran layaknya pengunjung biasa. Tisha terkejut ketika orang-orang yang berada di restoran itu memberikan nya bunga mawar pink disepanjang jalan nya.
"Ini bunga nya, Bu Latisha"
"Ini bunganya, selamat datang"
Orang-orang itu tersebut dan memberikan bunga secara bergantian pada Tisha.
"Eh? Ada apa ini? Mengapa semua orang memberiku bunga?" Tisha keheranan, dia sudah memegang banyak bunga mawar di tangannya.
Dia sampai di ujung restoran dan melihat tulisan di pintu kaca. Terus jalan! Lurus! Jangan belok, jangan berpaling dariku! *Latisha pemarah.
"Apa lagi yang dia rencanakan?" Tisha tertawa kecil melihat tulisan di pintu kaca itu.
__ADS_1
...---***---...