Tahanan Cinta CEO

Tahanan Cinta CEO
Bab 172. Papa mama jangan berpisah


__ADS_3

...πŸ€πŸ€πŸ€...


Milena jatuh pingsan. Hal itu membuat kedua orang tuanya panik. "Sayang! Milena, sayang!!" teriak Grace sambil memegang kedua pipi putrinya itu.


"Milena! Milena!" Sam menggendong putrinya, dia terlihat cemas padanya.


"Sam, tubuhnya dingin sekali!" Grace semakin panik ketika dia merasakan suhu tubuh putrinya yang terasa dingin.


Sam terperangah, dia langsung buru-buru membawa anak nya masuk ke dalam mobil untuk segera pergi ke rumah sakit. Grace juga ikut dengannya. Sesampainya di rumah sakit, Milena yang masih memakai seragam sekolah itu, dilarikan ke ruang UGD.


"Dokter! Tolong anak saya!" Grace mengatupkan kedua tangannya seraya memohon pada dokter itu untuk menyelamatkan anaknya.


"Ibu tenang dulu ya, saya akan memeriksa nya." ucap Dokter sambil tersenyum.


Dokter masuk ke dalam ruang UGD untuk melakukan pemeriksaan terhadap Milena yang tidak sadarkan diri. Sam terlihat sedih melihat putrinya, Grace juga tidak berhenti mondar-mandir di depan ruangan Milena.


"Duduklah, kamu tidak bisa berdiri seperti itu terus." pinta Sam pada Grace yang masih berstatus sebagai istrinya.


"Kenapa? Apa kamu peduli padaku? Aku sakit atau tidak kamu juga tidak peduli kan?" Grace terlihat emosi pada Sam. Dia bahkan tidak bisa bersikap lembut lagi kepada suaminya.


Sam terdiam sejenak, kemudian dia mulai bicara lagi. Dia menyalahkan Grace karena dia tidak bisa menjaga anak mereka dengan baik, hingga Milena jatuh sakit. Grace tentu saja tidak menerima disalahkan terus menerus oleh suaminya. Dia angkat bicara dan mengatakan bahwa ini adalah salah Sam juga, karena Sam selalu mengajaknya bertengkar setiap hari.


Mereka pun kembali berdebar di depan ruangan itu, saling menyalahkan satu sama lain dan tidak mau disalahkan. Beberapa menit kemudian, dokter keluar dari ruangan itu dan mengatakan bahwa Milena mengalami stress dan anemia.


Grace dan Sam masuk ke dalam ruang rawat untuk melihat kondisi anaknya. Milena masih belum sadarkan diri. Di dalam ruangan itu mereka malah berdebat kembali.


"Stress? Kenapa Milena bisa stress?" tanya Sam sambil melirik ke arah Grace seolah menyalahkan nya.


"Kenapa kamu tanya aku? Bukankah ini semua karena kamu? Gak sadar diri ya kamu!" seru Grace sambil menunjuk-nunjuk ke arah Sam dengan geram.


"Salah aku? Sejak awal ini adalah salah kamu, kamulah yang tidak sadar diri. Kalau kamu tidak memanipulasi malam pernikahan kita saat itu, ini semua gak akan terjadi." Sam mengungkit masalah yang sudah lama terjadi.


"Sumpah ya! Kamu benar-benar pria yang menyebalkan! Aku kan sudah minta maaf sama kamu, kamu masih saja mengungkit nya! Dan kamu, kenapa kamu tunjukkan cinta palsu padaku selama ini? Kamu memanggilku sayang, kamu memelukku, kalau kamu tidak cinta, lalu kenapa tidak bercerai dariku sejak dulu?" Grace menumpahkan semua kekesalan nya dalam kata-kata. Dia menusuk suaminya dengan tajam nya perkataan yang seperti pedang.


Deg!


Kedua mata pria itu membulat menndengar ucapan Grace. Cinta? Apakah dia pernah mencintai Grace? Selama hampir 13 tahun mereka menjalani bahtera rumah tangga, suka dan duka mereka jalani bersama. Apakah pernah ada cinta di antara mereka?

__ADS_1


Saat itulah terlintas di pikirannya, kata-kata Fayra di dalam surat sebelum dia pergi meninggalkan dirinya tanpa kabar. Di surat itu tertulis bahwa Fayra yakin Sam mencintai Grace dan bukanlah dirinya lagi. Rasa terhadap dirinya hanyalah sebuah obsesi belaka. Sam mencintai keluarga nya dan dia hanya khilaf untuk sesaat, itu karena kehadiran Fayra. Fayra memang marah pada Sam karena sudah mengambil mahkota nya, tapi dia tidak mau meminta pertanggungjawaban kepada pria yang sudah menikah dan bahkan memiliki seorang anak.


Mendengar orang tua nya berdebat, membuat Milena terbangun. Dia menatap kedua orang tuanya dengan mata berkaca-kaca seperti akan menangis. Dia tidak mau kedua orang tuanya berpisah. "Kenapa? Kenapa kalian selalu bertengkar?" tanya Milena dengan hati yang perih.


Di dalam usia remaja seperti Milena, dia masih membutuhkan kasih sayang orang tua. Kalau suatu saat nanti Grace dan Sam bercerai, dia akan menjadi anak yang broken home. Hal ini akan berbahaya untuk perkembangan psikologis dan mentalnya. Karena dia tidak menerima perceraian kedua orang tuanya.


Grace dan Sam dengan kompak menatap ke arah putrinya yang masih terbaring di ranjang pasien. Mereka lega melihat Milena sudah siuman, namun mereka juga sedih karena mereka mendapatkan kemarahan dari gadis itu.


"Sayang, kamu sudah bangun?" tanya Grace dan Sam kompak.


"Gimana bisa aku tetap tidur sedangkan aku mendengar suara kalian bertengkar begitu keras?!" teriak Milena emosi, gadis yang masih memakai selang infusan itu menangis melihat kedua orang tuanya.


"Sayang, maafkan papa sayang..papa tidak bermaksud bertengkar dengan mama kamu. Papa dan mama punya alasan kenapa kami bercerai." Sam berbicara dengan lembut para putrinya, memberikan dia pengertian dengan baik menurut dirinya sendiri.


"Sam, bukannya bertanya tentang keadaan anakmu, tapi kamu malah membahas perceraian kita? Dimana pikiran mu?!" tanya Grace sambil menatap tajam pada suaminya dengan murka.


"Alasan papa menceraikan mama, karena ada wanita lain kan? Papa mencintai wanita lain, Papa berselingkuh dari mama!" seru Milena sedih, bibirnya gemetar, air matanya mengalir.


"Sayang, mama mohon jangan menangis. Tidak, tidak seperti itu keadaannya. Mama dan papa bercerai bukan karena ada orang ketiga di antara kami. Kami bercerai karena kami sudah tidak cocok untuk hidup bersama lagi." jelas Grace sambil tersenyum, seraya menenangkan emosi putrinya yang masih labil dan tidak mampu menerima perpisahan kedua orang tuanya itu.


Sam melirik sinis ke arah Grace, "Grace, kamu sangat munafik ya? Di depan ku kamu bilang alasan perceraian kita karena ketidakcocokan..tapi di belakangku kamu bilang pada Milena, kalau aku berselingkuh! Aku tidak percaya, selain manipulatif kamu juga pembohong dan munafik!"


Grace menohok ke arah Sam, dia dituduh lagi melakukan yang tidak ia lakukan sama sekali. Ketika mulutnya mulai terbuka untuk semua yang terjadi, Milena sudah buka mulut terlebih dahulu. "Mama gak pernah bilang apa-apa soal papa! Tapi kalau papa menyukai wanita lain, Papa berselingkuh! Teman-teman ku melihat papa sedang berpelukan dengan seorang wanita cantik pemilik restoran! Aku tau pa! Aku tau!" Milena mengatakan segalanya, yang dia tau.


Milena menyalahkan papanya, padahal selama ini hubungan keluarga mereka baik-baik saja. Lalu kenapa tiba-tiba saja ada perceraian dan perpecahan? Karena siapa lagi? Kalau bukan karena orang ketiga.


"Kenapa pa? Apa kurangnya mama? Kenapa papa menceraikan mama? Bukankah selama ini kita baik-baik saja? Kenapa kalian mau berpisah? hiks...hikss.."


"Sayang, jangan menangis.. jangan menangis sayang.."ucap nya seraya memenangkan Milena yang menangis. Grace memeluk anaknya.


Pertanyaan Milena benar-benar membuat Sam termenung. Pria yang disebut egois ini benar-benar berfikir ulang, haruskah dia bercerai dengan istrinya? Pasalnya, dia juga tidak tega melihat Milena kasih sayang orang tua sama seperti nya yang tumbuh di dalam keluarga yang bercerai berai. Sam juga anak broken home, anak yang orang tuanya bercerai.


Rasanya tidak nyaman, memiliki orang tua yang bercerai. Sam tau benar rasanya. Setelah Milena tidur, Sam kembali berbicara kepada istrinya dengan kepala dingin. Dia mengatakan akan memikirkan baik-baik tentang perceraian mereka.


"Terimakasih, walau kamu melakukan nya bukan untukku." Grace tersenyum pahit pada Sam.


Kita masih terhubung Sam.

__ADS_1


"Hem iya." jawab Sam dengan wajah bingung.


"Sam, bagaimana pun juga kamu harus bertanggungjawab pada Fayra. Aku..." Grace terdiam sejenak, dia mempersiapkan mental dan hatinya untuk mengatakan sesuatu pada suaminya. "Aku siap, kalau kamu mau menikahi nya, tapi jangan ceraikan aku!" Grace menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca.


Semoga yang aku lakukan ini benar..


Rasa bersalah menumpuk di dalam hatinya, perkataan Grace telah membuat hatinya tergerak. Wanita yang selalu disebutnya sebagai wanita manipulatif, ternyata hatinya begitu besar.


Grace, kenapa kamu begitu baik?


****


Di Inggris, Fayra sudah berada di apartemen Zayn. Dia bersama Farhan dan Zayn disana, Zayn sudah memutuskan hubungan dengan keluarga kerajaan dan dia akan kembali ke dunianya sendiri. Dunia hiburan yang selalu menjadi mimpinya, cita-cita nya.


"Kakak kenapa kesini? Kenapa kakak meninggalkan Tisha dan Rasya? Bukankah sebelumnya kakak bilang, kalau kakak ingin tinggal menetap di Jakarta?" tanya Zayn yang sedang menyiapkan cemilan pagi untuk saudara sepupu nya dan Farhan.


"Setelah kupikir pikir, aku lebih suka tinggal di luar negeri." jawab Fayra sambil tersenyum.


"Baiklah, tapi kalau kakak mau tinggal denganku. Harus bayar sama kak Farhan ya." Zayn terlihat lebih ceria dari biasanya. Fayra tersenyum melihat Zayn sudah kembali bangkit setelah penolakan dari Tisha.


"Oke, aku bayar!" Fayra tersenyum lega setelah meninggalkan semua beban nya di Jakarta.


Semoga Sam, dan keluarga nya bahagia.


"Ayo Fay, kita makan cemilan dulu." kata Farhan sambil menyodorkan sebuah hamburger pada Fayra.


Deg!


Fayra melotot melihat daging yang berada ditengah tumpukkan roti itu. "Uhhm.... UWEKKK... uwekkk!!"


"Eh, eh, kak Fayra kenapa?" tanya Zayn terheran-heran melihat Fayra yang mual-mual.


Wanita itu berlari menuju kamar mandi. Zayn dan Farhan langsung melihat satu sama lain. Mereka bertanya tanya apa yang terjadi pada Fayra.


...---***---...


Hai Readers, mohon bantuannya ya untuk like, comment, vote, atau giftnya πŸ˜‚πŸ˜πŸ˜

__ADS_1


__ADS_2