Tahanan Cinta CEO

Tahanan Cinta CEO
Bab 192. Ray kecelakaan


__ADS_3

πŸ€πŸ€πŸ€


Tisha terjatuh lemas, tubuhnya ambruk seketika mendengar berita yang membuatnya gemetar. Wanita hamil itu memegang dadanya, bulir air mata jatuh membasahi pipinya.


Fayra tercengang, dia buru-buru menghampiri Tisha dan membantunya berdiri. Tisha menangis, menatap kosong dengan linglung. Rasanya jantungnya seperti berhenti berdetak.


"Tisha, ada apa? Kenapa kamu seperti ini?" tanya Fayra kebingungan dan cemas.


"A-aku harus segera pergi kak! Aku harus" segera pergi!" Tisha kembali berdiri, dia mengambil jaket dan tas nya dengan panik.


"Sha, ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Fayra sambil memegang tangan Tisha yang gemetar.


"Kak Ray kecelakaan! Di-dia.." Tisha syok, bicaranya menjadi gelagapan. Air mata masih menyertainya. Dia sangat ketakutan, takut terjadi sesuatu kepada suaminya.


"Kamu tenang dulu ya, kita pergi bersama ya?" Fayra berusaha menenangkan Tisha dengan kata-kata. Dia mengambil tas nya dan menemani Tisha pergi dari apartemen itu.


Tisha dan Fayra masih menunggu taksi di depan apartemen yang sepi itu. Tak lama kemudian, sebuah mobil tidak asing berhenti di depan kedua wanita yang sedang hamil itu.


"Cepat masuk!" Ujar Derrick buru-buru.


Fayra langsung membuka pintu mobil bagian belakang, dia meminta Tisha masuk lebih dulu ke dalam mobil. Kini mereka bertiga dalam perjalanan menuju ke rumah sakit.


Badan Tisha gemetar, tak hentinya dia menangis, bahkan tangannya juga terasa dingin. "Hiks..hikss.."


Derrick dan Fayra kasihan melihat Tisha terus menangis, dia seperti nya syok mendengar berita kecelakaan suaminya. "Tisha, kamu tenang ya. Si Raymond itu pasti akan baik-baik saja, jangan panik dulu!"


"Aku salah kak.. aku seharusnya tidak pergi dari rumah, sikapku ini benar-benar salah! Aku bukan istri dan ibu yang baik, walaupun aku marah aku seharusnya tidak boleh pergi meninggalkan rumah..hiks.." Tisha menangis menyesali perbuatannya yang kabur dari rumah. Dia mengakui bahwa sikapnya sangat salah.


"Tenanglah Tisha, Raymond akan baik-baik saja. Tenang dulu ya, jangan menyalahkan dirimu seperti ini!" Fayra memegang tangan Tisha seraya menenangkan nya.


Beberapa menit kemudian, mereka bertiga sampai di rumah sakit. Di depan ruangan itu ada Gerry, seorang pria paruh baya tidak dikenal dan dua orang pria bertubuh tinggi tegap memakai seragam polisi.


"Pak sektretaris!" Tisha langsung memanggil Gerry yang sedang bicara dengan polisi.

__ADS_1


"Bu Tisha?" Gerry langsung membungkukkan setengah badannya, seraya memberi hormat pada istri bos nya itu.


"Ba-bagaimana keadaan suamiku?" tanya Tisha gugup.


"Dokter masih memeriksa nya bu, pak Ray masih berada di ruang UGD." Jawab Gerry dengan wajah sedihnya.


Tisha mengambil napas panjang, jantungnya masih berdebar kencang. Matanya melirik ke arah ruang UGD, dimana dokter sedang menangani suaminya. Dia resah gelisah tidak tahu bagaimana keadaan Ray di dalam sana.


Ya Allah, aku mohon selamatkan suamiku! Kumohon.. jangan sampai terjadi sesuatu pada suamiku. Tisha berdoa di dalam hatinya, mengharapkan Ray baik-baik saja.


"Maaf Bu, apa ibu istri dari bapak yang mobilnya di tabrak oleh saya?" tanya pria paruh baya itu dengan wajah yang berkeringat pada Tisha. "Maafkan saya Bu, saya benar-benar tidak sengaja menabrak suami ibu! Maafkan saya Bu!" pria paruh baya itu mengatupkan kedua tangannya, seraya memohon maaf pada Tisha.


Polisi menjelaskan apa yang terjadi pada Tisha melalui laporan saksi dan kamera CCTV jalan, bahwa mobil Ray yang hilang kendali dan berada disisi yang salah. Ray berada dalam kondisi mengantuk hingga menyebabkan mobilnya bertabrakan dengan truk milik pria paruh baya yang bernama pak Santo itu. Penjelasan dari polisi, membuat Tisha semakin sedih.


Ditambah lagi, cerita dari Gerry tentang Ray selama dua hari ini. "Maaf Bu, saya bukannya mau membela pak presdir atau menyalahkan ibu. Saya menceritakan ini hanya agar ibu tau apa yang pak Presdir alami selama dua hari ini. Beliau tidak tidur, tidak makan, bahkan tidak pergi bekerja, itu semua untuk mencari Bu Tisha. Bahkan tadi siang, pak Presdir demam tinggi dan muntah-muntah. Ketika saya menyarankan untuk pergi ke rumah sakit, tapi pak Presdir menolak. Apa ibu tau kenapa pak Presdir menolak? Itu karena beliau memiliki banyak pekerjaan menumpuk di ruangannya, bahkan beberapa rapat dibatalkan nya karena seharian itu pak Presdir memfokuskan dirinya mencari keberadaan bu Tisha sampai polisi pun ikut terlibat, seharusnya ibu jangan terlalu keras padanya, bagaimana pun juga pak Presdir sudah meminta maaf," Gerry terlihat bersedih saat menceritakan nya.


Tisha menangis mendengar cerita Gerry tentang suaminya. Gerry melanjutkan lagi ceritanya, "Jika saya tau kalau pak Presdir akan seperti ini, harusnya saya bersikeras mengantarnya pulang." Gerry menangisi Ray dengan tulus.


"Sha, tenanglah!" Fayra mengelus ngelus punggung Tisha, seraya memenangkan nya.


Diam-diam Derrick melihat Fayra penuh kekaguman. Padahal dia memiliki masalah hidup yang berat, tapi dia bisa tenang dan dewasa dalam menghadapi masalah. Bahkan dia bisa menghibur Tisha.


"Pak Derrick, apa saya bisa minta air? Tisha seperti nya membutuhkan nya saat ini," tanya Fayra kepada Derrick.


"Baik, akan aku belikan." Jawab Derrick patuh.


"Saya minta tolong ya pak," Fayra meminta tolong pada pria itu.


"Jangan panggil saya bapak, Derrick saja tidak apa-apa." Derrick tersenyum lembut pada Fayra. Kemudian dia berjalan pergi untuk membeli minuman.


Tisha masih resah menunggu dokter keluar dari ruang UGD, dia berharap dokter membawa kabar baik untuknya. Tak lama kemudian, Rasya datang bersama Joni setelah mendengar papa nya kecelakaan.


"Mama!" Rasya berlari menghampiri mama nya.

__ADS_1


"Rasya, sayang!" Tisha memeluk putranya sambil menahan tangis.


"Ma, gimana keadaan papa ma? Apa papa baik-baik aja?" tanya Rasya yang khawatir dengan keadaan papa nya.


"Mama gak tau sayang, dokternya belum keluar. Kita doakan papa mu baik-baik saja ya. Maafkan mama sayang, ini semua salah mama," Tisha menangis dan memohon maaf pada Rasya, dia menyalahkan dirinya. Bahwa karena dia lah Ray mengalami kecelakaan.


"Mama kenapa minta maaf sama Rasya? Mama minta maafnya sama papa aja ya," Rasya menyeka air mata mama nya.


Derrick datang dengan membawa dua botol minuman untuk Fayra dan juga Tisha. Tisha langsung meminum air di dalam botol itu, dia berusaha menenangkan dirinya. Bayinya yang ada di dalam perut itu terus menendang nendang, seperti nya dia merasakan apa yang dirasakan oleh Tisha saat ini. Anak itu khawatir dengan papa nya.


CEKRET!


Begitu pintu ruang UGD itu terbuka, Tisha dan Rasya langsung beranjak dari tempat duduk mereka dan kompak menghampiri dokter.


"Dokter, bagaimana keadaan suami saya?" tanya Tisha cemas.


"Alhamdulillah operasi nya berhasil dan beliau melewati masa kritis. Namun saya tidak tau kapan suami ibu akan siuman,"


"A-Apa maksud dokter?!" Teriak Tisha panik.


"Suami ibu koma." jawab Dokter dengan wajah sedihnya.


"Apa?!" Tisha tercengang.


BRUGHH!


Tubuhnya ambruk saat itu juga dan membuat semua orang yang berada disana panik melihatnya.


"Tisha! Tisha!" Derrick dan Fayra memanggil manggil Tisha yang tidak sadarkan diri. Derrick menopang tubuh Tisha.


"Mama! Mama!" Rasya juga panik melihat mama nya jatuh pingsan.


...---***---...

__ADS_1


__ADS_2