
...πππ...
"Matilah aku! orang bodoh itu sudah menyerahkan dirinya ke polisi, lalu bagaimana nasibku setelah ini? apakah aku akan mati ditangan Ray?" gumam Zee sambil menundukkan kepalanya di stir mobil.
Kini dia seperti berada di jalan buntu, atau mungkin berada di pinggir jurang dan tinggal menunggu untuk jatuh. Hancur sudah! bila pria itu membuka mulutnya, maka dirinya akan berakhir. Karir, masa depan, harga diri keluarga, dan tentunya Ray akan semakin membencinya. Belum lagi dia harus mendekam di penjara yang entah apa hukumannya, dia tak mau memikirkan itu.
Sekarang mungkin sudah tidak ada jalan lain baginya, tadinya dia mempunyai rencana dan berfikir untuk membunuh pria itu. Namun, terlambat sudah saat Zee menemukannya dia sudah dibawa oleh orang-orang nya Ray.
"Habis sudah, besok pagi aku pasti tertangkap!" Zee memukul mukul stir kemudinya dengan frustasi.
Tiba-tiba saja wanita itu tertawa tanpa sebab, entah apa yang ada di kepalanya. "Hahaha, benar.. aku masih punya senjata rahasia yang bisa menyelamatkan hidupku. Aku tidak mau masuk penjara" Zee tertawa sinis, seringai di wajahnya tampak menyeramkan. Entah apa rencana jahat yang sedang dia susun itu.
Zee memutuskan untuk pergi dari sana, karena dia menyadari bahwa ada orang-orang berpakaian hitam sedang memantau keadaan di sekitar sana. Dan dia yakin bahwa itu adalah orang-orang suruhan Ray..
****
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Tisha sudah bangun lebih awal dan membantu Bi Asih membuatkan sarapan untuk semua orang. Sementara putranya masih tertidur lelap di kamar, dia pasti lelah karena habis bermain dengan semangat di tempat permainan yang ada di dalam mall.
"Bu Tisha, biar saya saja yang sajikan makanannya. Bu Tisha kan sudah memasak" ucap Bi Ani merasa tidak enak karena Tisha yang masih dianggap sebagai nyonya nya melakukan pekerjaan rumah
"Tidak apa-apa bi, saya kan biasa melakukan ini" Tisha tersenyum tulus, tangannya sibuk menyajikan makanan di atas meja. Menu nya adalah nasi goreng telur ceplok dan sosis merah kesukaan Rasya.
Bu Tisha tidak pernah berubah, dia selalu sopan dan hormat pada orang yang lebih tua. Tidak membeda-bedakan derajat seseorang. Pantas saja tuan muda Ray sangat menyukai Bu Tisha sampai membawanya kembali ke rumah ini. Aku harap mereka bisa bersama-sama selamanya, bersama tuan muda kecil juga. Doa Bi Ani di dalam hatinya untuk kebahagiaan Tisha, Rasya dan Ray
Sudah lama aku tidak memasakkan sarapan untuk Rasya, dia pasti kangen dengan masakan ku. Sebaiknya aku bangunkan dia sekarang. ucap Tisha dalam hatinya
"Bi.."
"Ya Bu?"
__ADS_1
"Tolong selesaikan menyajikan minuman nya ya, saya mau ke kamar Rasya dulu" pamit Tisha sambil melepaskan celemek nya
"Iya Bu" jawab Bi Ani dengan senyuman ramah di bibirnya.
Mencium bau masakan yang familiar dan sudah lama tidak ia cium, membuat Ray turun ke lantai bawah untuk melihat masakan apa yang harumnya menyengat itu.
Dia berpapasan dengan Tisha yang akan naik ke lantai atas. Tisha tiba-tiba tercekat melihat Ray dan membalikkan badannya, melangkah pergi ke arah berlawanan dengan lantai dua. "Bodoh, apa yang aku lakukan sih? aku mau kemana? bukankah aku mau membangunkan Rasya?"
Tanpa sadar kakinya bergerak sendiri menghindari Ray yang sedang menuruni anak tangga. Ray sendiri juga merasa canggung, dia masih merasa bersalah atas kejadian semalam yang hampir membuat mereka kebablasan.
Ray juga terlihat salah tingkah, dia bingung mau bagaimana bersikap di depan Tisha. Ray celingukan kesana kemari, dia berjalan melewati Tisha tanpa bertanya padanya. Saat Ray berjalan tanpa melihat dan tanpa bicara padanya, Tisha mendelik kesal pada pria itu.
"Hah! apa apaan sikapnya itu? apa dia mengabaikan aku setelah apa yang dia lakukan semalam? setidaknya dia harus menyapaku duluan? minta maaf dengan benar, tapi dia malah seperti itu. Harusnya kan aku yang marah padanya?" gerutu Tisha kesal pada mantan suaminya itu.
Tisha menaiki anak tangga dengan wajah kesal nya mengingat Ray yang tidak menyapanya dan jalan melewati dirinya begitu saja. Setelah Tisha mencapai anak tangga terakhir di lantai dua, Ray merasa lega dan menghela napas panjang.
"Huhh syukurlah dia sudah pergi, hampir saja aku mati karena sesak" Ray terlihat seperti menahan sesuatu di hadapan Tisha. Padahal dia harus mengatakan berita tentang si pelaku penabrakan itu.
"Selamat pagi kakek, memangnya aku kenapa kek? aku baik-baik saja" ucap Ray sambil duduk di kursi meja makan. Ray melihat ke arah nasi goreng disana, ada satu nasi goreng yang spesial. Ray tergiur dan langsung mengambil nya.
Ini pasti untukku. Entah karena lapar atau memang dia tak sabar memakannya. Tanpa menunggu yang lain, Ray langsung melahap makanannya.
"Eh! kenapa kamu habiskan semuanya? kamu bahkan tidak tahu untuk siapa nasi goreng itu?" tanya Pak Faisal terkejut karena Ray menghabiskan makanannya dalam hitungan detik
"Ini sudah pasti untukku kek, nasi goreng spesial telur mata sapi dan sosis merah seperti kembang" kata Ray sambil meneguk air putih di dalam gelas. Dia tersenyum puas setelah menghabiskan makanan itu.
Eh, tapi setelah dipikir-pikir kok rasa nasi gorengnya sama dengan nasi goreng buatan Tisha?
Rasya dan Tisha sudah turun ke lantai bawah dan bersiap untuk sarapan. "Sayang, ayo makan dulu ya. Mama sudah buatkan sarapan kesukaan kamu" Tisha mempersilakan anaknya duduk di kursi
__ADS_1
"Iya ma, sudah lama aku tidak makan nasi goreng telur mata sapi dan sosis merah kembang buatan mama" kata Rasya semangat
GLEK
Pak Faisal dan Ray saling melirik satu sama lain. Pak Faisal mengisyaratkan agar Ray cepat pergi dari sana bila tak mau disalahkan.
Ternyata itu nasi goreng yang Tisha buatkan untuk Rasya, mampus aku. batin Ray deg degan, takut Tisha dan anaknya marah.
"Oh ya aku belum menyapa kakek dan papa. Selamat pagi kakek buyut, papa" Rasya tersenyum ceria pada kedua pria itu.
"Se-selamat pagi Rasya" jawab Pak Faisal dan Ray agak gugup
Ada apa dengan mereka berdua? kok rasanya ada yang aneh?. Tisha pun ikut duduk di samping Rasya.
Rasya terkejut karena di piringnya tidak ada nasi goreng spesial yang disebutkan oleh mama nya. Hanya ada nasi goreng dengan telur yang diacak, tanpa sosis merah kembang kesukaan nya.
"Mama.. bohong gak baik loh? mana nasi goreng spesial ku? ini sih nasi goreng biasa" protes Rasya pada mama nya karena merasa dibohongi.
Ray terlihat tegang karena merasa bersalah menghabiskan nasi goreng yang dibuat Tisha untuk anaknya. Dia pun beranjak dari tempat duduknya, berniat untuk segera pergi dari sana.
"Mama gak bohong kok.. eh? kemana tadi nasi gorengnya ya?"tanya Tisha bingung karena di meja itu tidak ada nasi goreng buatan nya khusus untuk Rasya.
"Mama pembohong!" seru Rasya ngambek
"Tisha sebenarnya nasi goreng itu.." Pak Faisal ingin menjelaskan tentang nasi goreng nya tapi dia ragu.
Kemudian mata Tisha tertuju pada piring kosong di depan Ray dan juga Ray yang hendak pergi dari sana.
"Kak Ray!" Tisha menyilangkan tangannya di dada, dia menajamkan pandangannya pada Ray
__ADS_1
"Hehe, ya ada apa?" tanya Ray sambil nyengir dengan wajah sok polos.
...---***---...