Tahanan Cinta CEO

Tahanan Cinta CEO
Bab 75. Ayah dan anak kompak


__ADS_3

...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Telpon itu membuat Tisha panik bukan main, bagaimana bisa ada penggusuran makam segala? apa yang sebenarnya terjadi?


"Maaf pak, tapi bisakah bapak menunggu penggusuran nya. Saya akan segera datang kesana untuk menjelaskan semuanya"


Aku harus bertanya pada Zayn.


"Baiklah Bu, kami tunggu dua hari. Jika ibu tidak datang dalam waktu dua hari, maka kuburannya terpaksa harus dipindahkan" ucap pria yang sedang bicara dengan Tisha di telpon itu


Dua hari? bisakah aku memesan tiket pesawat dengan cepat? perjalanan ke Jakarta saja sudah menghabiskan waktu lebih dari sehari semalam. Kalau aku harus pergi ke Jakarta, bukankah itu artinya aku harus memesan tiket pesawat sekarang juga dan pergi sekarang.


"I-iya baik pak, mohon tunggu saya" ucap Tisha memohon pada pria itu.


Tut..


Tisha menutup panggilan itu, wajahnya terlihat resah dan gelisah. Fayra yang akan berangkat bekerja melihat kekalutan di wajah Tisha. "Hey, Tisha ada apa?" tanya Fayra cemas.


"Kak, seperti nya aku harus pergi ke Jakarta hari ini juga" jawab Tisha


Fayra tersentak mendengar nya, "Mengapa tiba-tiba? Apa kamu mau pergi dengan Ray?" tanya Fayra menebak-nebak.


"Apa? pergi dengannya? itu tidak mungkin, aku pergi kesana karena ada kabar yang mengatakan kalau kuburan ibu dan kakak ku akan digusur kak!" Tisha panik, memikirkan makam ibu dan kakak nya yang katanya akan di gusur.


"Di gusur??" tanya Fayra mengernyitkan dahinya, ia heran dengan berita yang begitu tiba-tiba ini.


Penggusuran makam? bukankah ini agak aneh yah? disaat Zayn sudah pergi lagi malah terjadi hal seperti ini.


"Iya, jadi aku akan pergi kesana hari ini juga. Kakak, aku bisa titip Rasya sama kakak?" ucap Tisha memohon pada Fayra untuk menjaga Rasya selama dua hari dalam perjalanan ke Jakarta.


"Maafkan kakak.. bukannya kakak tidak mau menjaga Rasya, tapi hari ini aku ada perjalanan bisnis ke Singapura. Aku bisa saja membawa Rasya kesana tapi.." Fayra kebingungan, ia tak bisa membantu Tisha menjaga Rasya. Rasya juga belum dibuatkan paspor jadi belum bisa kemana-mana.


"Ah, jadi perjalanan itu hari ini ya? gak papa deh kak, aku akan titip Rasya pada Ray saja" katanya dengan terpaksa.


Terpaksa aku harus menghubungi nya untuk menjaga Rasya. Tapi dia tidak akan membawa kabur Rasya kan?. Tisha mengambil ponselnya dan terlihat bingung untuk menelpon Ray atau tidak.


"Ja-jangan, aku coba telpon Zayn deh" kata Fayra melarang.


Aku yakin ini pasti akal-akalan si Ray itu. Tidak mungkin secara tiba-tiba perjalanan bisnis ku di majukan dan Zayn juga ada acara mendadak. Mungkinkah dia melakukan itu? jika itu benar, maka si Ray ini adalah orang yang menyeramkan. Fayra mulai memikirkan segala kemungkinan tentang Ray.


"Tidak usah kak, dia baru saja pergi. Masa aku ganggu dia lagi kerja. Aku minta kak Ray saja, walau aku sebenarnya enggan" ucap Tisha malas sekali menelpon papa dari anak nya itu.


Fayra tidak bisa berbuat atau pun berkomentar lagi, karena lagi-lagi kesempatan datang untuk Ray. Entah ini rencana licik nya atau memang sebuah kebetulan. Fayra tetap mencurigai pria yang bernama Raymond Argantara ini.


Rasya yang sudah memakai baju seragam sekolahnya itu, duduk di meja dan memakan sarapannya bersama Fayra.


"Tante mau kemana? kok bawa-bawa koper?" tanya Rasya pada Fayra yang sudah siap berangkat dengan membawa koper nya.


"Tante ada perjalanan bisnis, haahh... tante pasti bakalan kangen kamu deh" Fayra cemberut, ia akan pergi untuk perjalanan bisnis. Dia pasti akan merindukan Rasya yang selalu menemani hari-hari nya itu. Fayra menyayangi Rasya layaknya keponakan nya sendiri.


"Hehe, aku juga bakalan kangen Tante. Tapi, aku senang Tante pergi" ucap Rasya sambil nyengir pada tante nya itu


"Loh kenapa?" tanya Fayra keheranan


"Karena kalau gak ada tante, aku bisa menghabiskan semua kue manis di coklat. Gak ada yang marahin aku lagi" jawab Rasya jujur. Selama ini Fayra selalu melarangnya makan makanan manis di malam hari, sampai menyembunyikan makanan itu dan menghabiskan nya sendiri agar Rasya tidak makan.


"APA?? ish dasar anak ini ya..Tante melakukan itu karena kamu suka sakit gigi!" Fayra mencubit pelan dengan gemas pipi chubby anak itu.


"Aduh duh.. Tante sakit.. Mama, ini tante Fayra nakal ma!!" Rasya berlari lalu mengadu pada Tisha yang sedang menelpon Ray.


"Sebentar ya sayang, mama lagi telpon papa kamu"


Kok dia belum angkat telpon nya? Tisha sudah menelpon Ray sebanyak 3 kali namun belum diangkat juga.


Mama telpon papa?


Tut... Tut ..


Sementara itu Ray sedang membereskan barang barang nya di hotel dan bersiap untuk check out.


Ray duduk di sudut ranjang nya, ia melihat ada panggilan dari Tisha di ponselnya, namun ia sengaja membiarkan nya. Ray malah senyum-senyum sendiri.


Drett...


Drett..


🎢🎢🎢


"Pak, semuanya sudah beres" Gerry melapor pada Ray bahwa semua yang diperintahkan presdir nya itu sudah selesai ia kerjakan

__ADS_1


"Paspor Rasya, sudah kamu atur kan?" tanya Ray pada sekretarisnya


"Sudah pak" jawab Gerry sambil tersenyum.


Ray tersenyum bahkan tertawa ketika melihat ponselnya yang terus bergetar dan berdering itu.


Apa pak presdir baik-baik saja? kenapa dia ketawa sendiri? Gerry memperhatikan tingkah aneh Presdir nya itu


🎢🎢🎢


Ponselnya terus berdering, Ray masih terus melihatnya dan tidak mengangkatnya. Entah apa yang ada di pikiran nya.


"Pak, hp anda terus berdering? apa anda tidak akan mengangkatnya?" tanya Gerry yang cemas mendengar dering telpon yang mungkin sangat penting itu.


"Haha, biarkan saja sampai dia menelpon 10 kali. Aku tidak akan mengangkatnya, kali ini aku akan jual mahal" gumam Ray pada ponselnya, lebih tepatnya pada Tisha yang menelpon.


"Maksud bapak? jual mahal pada Bu Tisha?" tanya Gerry


"Iyalah memangnya siapa lagi" jawab Ray sambil tersenyum


"Hehe, maaf pak tapi kalau bapak jual mahal seperti itu. Bu Tisha malah akan semakin menjauhi bapak, bukan semakin mendekat pada bapak. Dan juga kalau Bu Tisha kesal pada bapak, itu akan membuat tuan muda Rasya juga kesal pada bapak" Gerry berusaha mengatakan apa yang ada di pikiran nya


"A-apakah itu benar-benar akan terjadi? tidak mungkin kan?" Ray terperangah setelah mendengar isi pikiran Gerry.


Seperti nya Gerry benar juga, kalau aku jual mahal seperti ini. Tisha akan kesal padaku dan Rasya juga akan ikut kesal padaku. Tidak.. aku harus mengangkat nya, aku tidak boleh jual mahal.


Presdir ku yang licik dan kejam di dalam dunia bisnis ini ternyata memiliki sisi bodoh juga. batin Gerry mengejek Presdir nya.


"Aku harus cepat angkat!!" Ray panik sendiri, ia takut kalau hal yang dikatakan Gerry benar.


Begitu Ray akan mengangkat telpon dari Tisha, panggilan itu sudah berakhir. Kini Ray lah yang menelpon balik Tisha.


"Kenapa kamu baru mengangkat telpon ku sekarang?!" teriak Tisha marah-marah begitu telponnya tersambung.


Beberapa tahun tidak bertemu, sekarang dia menjadi wanita galak.


"Ada apa istriku? apa kamu merindukan ku? sampai kamu menelpon ku sampai 5 kali?" goda Ray pada mantan istri nya itu.


"Kamu punya waktu untuk melihat berapa panggilan telpon ku dan tidak mengangkatnya! dan sekarang kamu malah menggodaku!!" teriak Tisha kesal


Ray mengorek-ngorek kupingnya, ia tak percaya kalau suara Tisha bisa sekencang itu. "Seingat ku.. suaramu tidak sekencang ini. Dulu kamu wanita lemah lembut"


"Tapi, mau bagaimana pun kamu. Aku tetap mencintaimu karena kamu adalah Latisha Anindita, ibu dari anakku" ucap Ray tulus dari dalam lubuk hatinya.


DEG!


Tisha terdiam mendengar ucapan Ray padanya, hatinya berdebar. Hampir saja pertahanan di hatinya runtuh.


"Kamu bicara apa sih! aku menelpon mu untuk itu" Tisha ngambek begitu Ray mengatakan hal manis padanya.


Kenapa sekarang kamu seperti ini? kenapa dulu tidak begini?. Tisha merasa sikap Ray mulai berubah, mulutnya yang selalu pedas kini menjadi manis. Ray bahkan sabar menghadapi nya, tapi kenapa tidak dari dulu? Tisha sangat menyayangkan nya.


"Baiklah, kamu mau bicara apa?"


"Jaga Rasya untukku, dua hari saja" jawab Tisha dengan nada ketus seperti biasanya.


"Kamu mau kemana?" tanya Ray sambil senyum-senyum, ia bertanya seolah-olah dia tidak tahu apa-apa.


"Aku mau pergi ke Jakarta" jawab Tisha.


"Apa?! benarkah? kalau begitu kebetulan dong, aku juga mau ke Jakarta" Ray tersenyum penuh kemenangan, ia berakting pura-pura kaget.


"Apa?!" Tisha tercengang mendengar Ray yang mau ke Jakarta juga.


πŸ€πŸ€πŸ€


Segera setelah itu, Ray menjemput Tisha dan Rasya di rumah Fayra. Rasya senang sekali pada akhirnya ia akan pergi ke Jakarta bersama ibu dan ayahnya.


Tisha sibuk membereskan barang-barang nya dan Rasya dibantu oleh Gerry dan orang-orang Ray


"Asyik! aku akan tinggal di Jakarta, bersama mama dan papa" Rasya memeluk papa nya, ia tersenyum lebar. Mata polosnya memancarkan sinar kebahagiaan.


"Tidak sayang, bukan begitu. Kita tidak akan tinggal disana, kita akan kembali dua hari lagi kesini" jawab Tisha sambil membawa tas selempang nya.


"Apa? jadi aku tidak akan disana selamanya?? hiks.." bibir Rasya mengerucut, ia terlihat seperti akan menangis.


Mengapa dia terlihat sangat manja kalau ada kak Ray disini?. Tisha tak habis pikir dengan sikap Rasya yang lebih kekanakan dan manja di depan Ray.


"Sudahlah istriku, jangan menghancurkan kebahagiaan anak kita. Kita akan tinggal di Jakarta bersama" ucap Ray pada Rasya sambil berpelukan.

__ADS_1


"Lagi-lagi kata istriku, kalau kamu memanggilku begitu lagi aku akan pukul kamu?!" Tisha mengayunkan tangannya ke arah Ray


"Mama jahat..mama galak, aku jadi takut sama mama pah.." Rasya memeluk Ray seakan sedang bersembunyi dari Tisha yang sedang marah.


"Iya, papa juga takut dengan mama mu. Dia kalau marah sangat menyeramkan" Ray setuju dengan kata-kata anaknya yang mengatakan kalau Tisha galak.


"Mama galak ih, kita berdua saja pah" Rasya cemberut dan menjulurkan lidahnya pada Tisha.


"Iya sayang, hanya kamu yang papa miliki" Ray memeluk anaknya itu sambil tersenyum mengejek ke arah Tisha. Tisha terperangah, ia menaikkan alisnya terheran-heran dengan kelakuan dua orang itu.


"PFut.." Gerry menahan tawa melihat kelakuan Ray dan Rasya. Kini ia yakin seratus persen bahkan tanpa tes DNA pun kalau Rasya adalah putra kandung Ray. Mereka terlihat seperti kembar, Rasya seperti Ray versi junior.


"Kalian berdua benar-benar mengesalkan!" seru Tisha mendengus kesal melihat Ray Rasya yang kompak mengatai nya galak dan mengejeknya.


Mengapa ayah dan anak begitu mirip? mereka kompak membuatku kesal! batin Tisha gemas dengan Rasya dan Ray.


Alangkah indahnya bila kebersamaan ini adalah untuk selamanya. Aku tidak pernah berfikir sekalipun kalau memiliki keluarga rasanya akan sebahagia ini. Aku, Tisha dan anak kami Rasya.. kehangatan di dalam hidupku bersama. Akan sangat indah bila itu cepat terjadi, tapi aku harus bersabar.


"Sudah, ayo kita berangkat" ajak Tisha yang naik ke dalam mobil lebih dulu dan duduk di kursi belakang.


"Papa, rencana papa berhasil membuat mama setuju pergi ke Jakarta" bisik Rasya senang dengan ide papa nya.


Aku mau sama papa dan mama selamanya. aku pengen punya orang tua yang bersama. Untuk itu aku akan membuat papa dan mama kembali bersama. Rasya bertekad untuk menyatukan kembali mama dan papa nya bersama.


"Papa bisa diandalkan, bukan?" Ray bangga karena merasa di puji anaknya.


"Yaa, papa memang pintar, aku bangga pada papa" Rasya memeluk papa nya. Ray membalas pelukan anak nya itu dengan hati gembira, kini ia banyak tersenyum setelah ada Tisha dan Rasya di dalam hidupnya.


"Oh ya papa, setelah ini apakah aku dan mama akan berpisah dengan papa? dan tidak akan tinggal di Jakarta?" tanya Rasya dengan mata polosnya, ia berharap agar ibu dan ayahnya selalu bersama dalam keadaan apapun.


"Iya papa akan pastikan kalian tidak akan kembali lagi kesini. Mama mu akan memutuskan tinggal disana selamanya, kamu percaya saja pada papa" Ray tersenyum percaya diri, ia menepuk kepala anaknya dengan lembut, tatapannya memperlihatkan kasih sayang.


Kita lihat saja nanti..Tisha, setelah kamu sampai di Jakarta nanti. Apakah kamu dan Rasya bisa pulang kembali kesini? Ray tersenyum, seperti nya ia sudah memikirkan rencana untuk menahan Tisha.


"Hey! ayo cepat masuk! kita kan mau take off, bisa terlambat nih!" seru Tisha dari dalam mobil menatap kesal ke arah ayah dan anak yang terlihat kompak itu.


"Rasya ayo kita masuk, angry bird tampaknya sudah marah" bisik Ray pada anak nya, sambil tersenyum lebar


"Hihi mama kalau marah memang menakutkan pa, mirip angry bird" Rasya cekikikan menertawakan mama nya.


Ayah dan anak itu kompak mengejek Tisha dan menggoda Tisha yang cemberut dan tampak marah. Kemudian Ray dan Rasya mengekori Tisha dan duduk di kursi belakang juga. Sedangkan Gerry sendiri di kursi depan.


"Eh, kenapa kamu disini? kamu duduk saja di depan sana!" tunjuk Tisha pada bangku depan disebelah Gerry yang masih kosong


"Anak dan istriku disini, masa aku duduk di depan situ" ucap Ray dengan tidak tahu malu dan gaya santai rebahan nya.


Pria ini benar-benar menyebalkan. Selalu menggunakan Rasya sebagai alasan.


"Heh! aku gak mau tau, kursi depan masih kosong tuh! kamu harus mengisi yang di depan dulu" Tisha tidak mau kalah, ia tetap mengusir Ray yang tidak tahu malu itu untuk pindah ke kursi depan.


"Memangnya kenapa kalau kursinya kosong? aku mau nya disini" Ray menyilangkan tangannya di dada, ia melirik ke arah Rasya seolah mengisyaratkan sesuatu.


Gerak bibir Ray yang tanpa suara itu mengatakan pada Rasya, "Ban-tu-pa-pa"


Rasya tersenyum lalu mengangguk setuju. Ray juga tersenyum melihat ke arah anaknya yang imut itu. "Mama, aku mau duduk sama papa disini. Jangan usir papa ya ma.. " bujuk rayu Rasya pada mama nya. Rasya merengek dan memeluk Mama nya dengan manja.


"Tadi saja kamu mengejek mama, sekarang kamu mau membujuk mama?" Tisha tersenyum menatap ke arah Rasya, ia tak percaya kalau anaknya akan berubah secepat itu demi Ray.


Memang sifat anak-anak itu kadang berubah-ubah, jika mereka sedang menginginkan sesuatu dan Tisha tau itu adalah sifat Rasya. Persis seperti Ray yang ketika menginginkan sesuatu pasti akan terus melakukan segala cara untuk mendapatkan nya.


"Ayolah ma, aku mau duduk sama papa.." rengek nya lagi pada Tisha.


"Haihh.. terserahlah, tapi kak Ray duduk jauh-jauh dariku. Rasya duduk di tengah" titah Tisha pada Ray yang harus duduk di ujung dan Rasya duduk ditengah


Rasya langsung naik ke pangkuan papa nya, akal cerdik itu berhasil ditanggapi oleh Ray dengan duduk di samping Tisha.


"Aku bilang jangan duduk dekat-dekat denganku!" seru Tisha ketus pada Ray.


"Mama, udah gini aja duduknya. Aku mau dekat sama mama dan papa" Rasya menyatukan kedua tangan papa dan mama nya dengan sengaja.


Ray menggenggam tangan Tisha, namun Tisha tak menanggapi nya. Rasya kesal melihat itu, dan terus menyatukan papa dan mama nya.


Mereka berdua benar-benar deh. Tisha menghela napas panjang, ia seperti nya sudah kalah oleh ayah dan anak yang kompak itu


Rasya dan Ray saling melemparkan senyuman melihat Tisha yang akhirnya menurut memegang tangan Ray di depan Rasya.


...---****---...


Readers.. mohon maaf hari ini up nya agak malam πŸ˜˜πŸ™ author sibuk dengan RL.. terimakasih atas dukungan kalian ya, jangan lupa kasih like komen, dan gift nya juga boleh.. makasih πŸ˜πŸ™

__ADS_1


__ADS_2